***
Aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk kamu tapi semoga kamu merasa senang dengan adanya mereka hari ini
***
“Gimana rasanya nginep di glamping bareng Bhanu?” Rindu yang sibuk dengan berbagai macam masakan di dapur menatap Karlita yang duduk di meja makan miliknya. Siang ini Rindu, Karlita dan Khalila memang sedang sangat sibuk dengan berbagai jenis masakan. Rindu ingin membuat syukuran kecil-kecilan untuk Bhanu. Dia juga ingin melakukan sesuatu untuk Bhanu karena selama ini Bhanu yang selalu melakukan banyak hal untuknya.
“Gimana apanya?” tanya Rindu, dia sedang membuat banana cake kesukaan Bhanu sedangkan Karlita dan Khalila bagian membersihkan bahan untuk di olah saja sedangkan Rindu akan berperan menjadi chef hari ini. Selain banana cake Rindu juga akan memasak gulai ayam dan udang saus padang yang menjadi menu kesukaan Bhanu. Ada juga puding untuk makan pembuka.
“Ya berduaanya, lo ngapain aja sama Bhanu semalaman penuh?” tanya Karlita dengan tatapan menggodanya yang berhasil membuat Rindu menghentikan kegiatannya dan menatap Karlita dengan sengit. Khalila hanya mengulum senyumnya berusaha tidak terseret karena awal mula dari liburan menginap di glamping itu adalah dia dan Angga. Mereka yang menyarankan Bhanu untuk mengajak Rindu ke sana.
“Nggak ngapa-ngapain, cuma ngobrol sambil ngopi,” jawab Rindu jujur, dia memang hanya melakukan itu bersama Bhanu tidak melakukan hal lain.
“Seriusan cuma ngobrol dan ngopi, lo nggak kiss-kiss gitu?” tanya Karlita, gadis itu bahkan menonyong-monyongkan bibirnya, Khalila memilih berdehem dan berjalan ke arah wastafel untuk membersihkan tangannya. Dia sudah selesai dengan kegiatannya.
“Pikiran lo jorokk mulu ya, Kar. Gue bukan lo yang selalu nyosor’. Gue merasa prihatin sama mas Pra!” seru Rindu ngegas, tawa Karlita langsung meledak begitu saja.
“Jangan bilang ciuman lo sama Bhanu di apartemen waktu satu-satunya ciuman kalian sampai hari ini, serius mbak Rindu? Bhanu setahan itu untuk nggak nyosor sama lo?” tanya Karlita tidak percaya, Rindu sekarang merasa mendadak menyesal menceritakan ciuman amatirnya dan Bhanu saat ada di apartemen Bhanu kala itu. Ciuman yang membuat Bhanu dan Rindu canggung setengah mati bahkan Rindu berusaha keras menghindari Bhanu untuk beberapa hari karena bingung harus bersikap seperti apa.
“Kalau iya kenapa?” tanya Rindu sengit tapi tangannya sedari tadi sibuk dengan semua masakannya yang hampir matang.
“Gila…gila, benar-benar kuat ya iman lo sama Bhanu, kalah noh lo sama Khalila dan Angga. Ya, nggak La?” tanya Karlita, Khalila menghembuskan napasnya pasrah, nyatanya dia tidak bisa lolos sedikitpun dari Karlita, walau jarak umur mereka cukup jauh tapi Khalila tidak pernah merasa terbebani atau canggung ketika berbicara dengan Rindu ataupun Karlita karena dua orang gadis yang menurut Khalila sangat keren ini selalu bersikap layaknya seorang teman padanya. Baik Rindu maupun Karlita, keduanya tidak pernah gila hormat sama sekali.
“Gue nggak ngapa-ngapain juga kali, Mbak!” seru Khalila, dia memilih beberapa cemilan dari dalam kulkas Rindu lalu kembali duduk di meja makan.
“Tapi pasti lo sama Angga, kiss-kiss, kan? Ngaku sama gue!” seru Karlita. Khalila memalingkan wajahnya yang mendadak memanas. Oh ya, for you information guys, Khalila ini masih dua puluh dua tahun, anak teknik sipil yang sedang sibuk-sibuknya sama skripsi.
“Mbak, harus banget gue ceritain di sini? Dapur gue sama mas Angga tuh!” seru Khalila sambil merengut membuat tawa Karlita langsung lepas begitu saja.
“Buset udah mas Angga aja bahasanya perasaan kemarin-kemarin lo masih manggil Angga dengan nada super ngegas!” Khalila ini hampir sejenis dengan Rindu dan Karlita, selalu santai dalam berpenampilan walau hal-hal yang menempel pada tubuh Karlita adalah barang branded dengan harga selangit bahkan kaos yang di pakai gadis itu saat ini bisa untuk membayar cicilan mobil.
“Di paksa gue mbak, dari pada itu orang merengek mulu dan bikin kuping gue panas mending gue lakuin aja,” jawab Khalila apa adanya. Karlita langsung mengangguk paham, Pra juga melakukan hal yang sama dulu, awalnya Karlita merasa keberatan tapi sekarang dia sudah merasa terbiasa memanggil Pra dengan ‘mas’.
“Ndu, beneran itu ciuman pertama dan terakhir lo sama Bhanu, kalian nggak pernah melakukannya lagi bahkan saat menginap di glamping?” tanya Karlita kembali pada objek utama yang masih sibuk dengan masakannya yang hampir selesai semuanya. Satu hal yang membuat Karlita dan Khalila senang menginap di rumah Rindu adalah ini, Rindu sangat suka memasak dan mencoba hal-hal baru. Karlita dan Khalila tentu sangat senang di jadikan kelinci percobaan karena walau pertama kali Rindu mencoba resep baru, rasanya tidak pernah mengecewakan sedikitpun.
“Kar berhenti bahas cium-mencium deh, gue bukan maniak kayak lo!” seru Rindu kembali ngegas, Karlita sama sekali tidak tersinggung, dia mana bisa tidak mendapat satu kecupan di bibir tunangannya itu, Prasetyo Adipura. Karlita mendadak merindukannya.
“Hahaha okeh-okeh mbak Rindunya mas Bhanu, btw Ndu, di glamping kan cuma ada satu ranjang tuh, peluk-peluklah minimal lo boboknya, iya nggak?” tanya Karlita tidak menyerah, dia merasa gemas dengan Bhanu dan Rindu yang sangat pandai dalam mengendalikan diri tapi tetap terlihat sweet dan romantis tanpa skinship berlebihan.
“Mana ada, ada dua guling yang jadi pembatas gue dan Bhanu, lagian gue dan Bhanu tidurnya kalem nggak muter kayak jarum jam yang membuat bantal guling aman sampai pagi di tempatnya!” seru Rindu.
“Mbak lo sama mas Pra kapan nikahnya?” tanya Khalila tiba-tiba. Karlita tersenyum lebar. Walau Pra itu tipe-tipe pria kutub utara tapi dia selalu punya sisi romantis yang berhasil membuat Karlita mabuk kepayang.
“Dia pasti maunya hari ini di seret ke KUA sama mas Pra.” Celetuk Rindu begitu saja membuat Karlita langsung mengerucutkan bibirnya.
“Tahu aja lo!” seru Karlita sambil cengengesan.
“Bahkan di jidat lo tertulis dengan jelas pengen di kurung mas Pra di kamar!” seru Rindu membuat pipi Karlita memanas, Rindu memang begitu, sekali niat membully orang pasti ngegas parah.
“Jadi mas Pra kapan mau nikahin lo mbak?” tanya Khalila, dia cukup penasaran, walaupun Khalila baru sekali bertemu dengan Prasetyo tapi Khalila tidak bisa untuk menahan diri untuk tidak kagum. Pra gantengnya luar biasa sekali. Di tambah lagi sentuhan blasteran yang membuat pesona Prasetyo semakin memikat.
“Nunggu gue selesai S2 dulu padahal gue mah siap-siap aja nikah sambil kuliah,” ucap Karlita yang membuat Rindu langsung mendengus.
“Hari ini mas Pra gabung sama kita, kan?” tanya Rindu, Prasetyo itu orang yang sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan.
“Tadi sih bilangnya gabung. Lo tahu nggak sih, mas Pra mau jadi dosen gitu di beberapa kampus termasuk kampus kita, untung bagian teknik S1 kalau FEB bisa meninggal gue!” seru Karlita. Rindu bergabung duduk di meja makan, aktivitas rumpi mereka sepertinya akan segera di mulai. Kalau sudah ada lambe Karlita tidak ada kata sepi ketika berkumpul seperti ini.
“Serius gue nanya mbak, sebenarnya mas Pra itu kerja apa aja deh mbak? Perasaan lo tiap bulan dapet jatah barang-barang terbaru mulu yang harganya selangit?” tanya Khalila.
“Dia mah keturunan ningrat kali La, terus kerja apa aja di lakuin sama itu orang, manajer proyek di salah satu perusahaan yang sialnya gue baru tahu itu perusahaan punya bokapnya, terus Pra juga sering ngomongin investasi sama saham ke gue kayaknya dia juga main bidang itu terus minggu lalu dia mengatakan bakal ngajar di beberapa kampus dan setahu gue mas Pra juga sering di udang jadi pembicara di beberapa seminar—“ ucapan Karlita mendadak terhenti, matanya mengerjab perlahan dan menatap Rindu dan Khalila juga melakukan hal yang sama, “kok gue baru nyadar ya, jadwal mas Pra makin padat, kemarin ketemu seminggu sekali sekarang gimana nasib gue?” tanya Karlita mendadak panik. Rindu dan Khalila kompak menggeleng pelan.
“Nggak ngerti deh gue mbak, gue sekarang ngerti kenapa mas Pra bisa memberikan apapun buat lo!”
“Udah sore nih, Angga datang jam berapa La?” tanya Rindu. Angga selain membantu di kafe, pria itu juga bekerja di salah satu firma arsitektur yang ada di Yogyakarta.
“Mas Angga udah di jalan katanya mbak, paling setengah jam lagi sampai,” jawab Khalila. Rindu mengangguk.
“Kalian pakai kamar yang biasa kalian gunakan di sini untuk siap-siap. Kar hubungin calon suami super sibuk lo itu. Gue mau ke kamar dulu, mandi, gerah banget!” seru Rindu, dua orang itu langsung mengangguk cepat.
“Siap mbak Rindu!” seru keduanya. Karlita memilih kehalaman belakang rumah Rindu yang sangat asri untuk menghubungi mas Pra yang super sibuk sedangkan Khalila memilih masuk ke kamar untuk rebahan, masih cukup waktu untuk istirahat sampai waktu makan malam.
***
“Malam, Sayang,” gerakan tangan Rindu yang sedang sibuk menata segala jenis masakannya di meja makan terhenti dan dia langsung tersenyum lebar pada Bhanu. Pria itu sepertinya baru saja datang.
“Ada acara apa, kok rame di depan bahkan ada mas Pra yang super sibuk juga malam ini,” ucap Bhanu, dia membantu Rindu menata piring di meja makan begitu pula dengan gelas.
“Ini kamu masak sebanyak ini sendirian?” tanya Bhanu karena dia tahu betul Karlita dan Khalila bukan orang yang senang bereksperimen di dapur.
“Bawel banget sih, satu-satu dong nanyanya,” ucap Rindu. Para tamunya malam ini sedang sibuk mengobrol di ruang tengah, walau di sana hanya ada Angga, Khalila, Karlita dan Prasetyo tapi ramainya udah kayak orang satu RT.
“Kamu lagi ada acara apa? Kok bisa-bisanya aku orang terakhir yang tahu?” tanya Bhanu.
“Syukuran kamu ke terima di NUS,” jawab Rindu dengan santai. Walau dia hanya mengundang sahabat terdekatnya saja tapi Rindu yakin orang-orang itu juga sangat berarti bagi Bhanu walau pria itu tidak pernah mengatakannya secara langsung.
“Seharusnya kamu nggak perlu repot kayak gini, Sayang. Kan bisa bilang saya dan kita pesan makanan aja, capek banget ya pasti seharian ini masak?” tanya Bhanu, jelas sekali dari nada suaranya bahwa pria itu merasa sangat khawatir.
“Ini acara aku yang buat, aku nggak ngerasa capek sama sekali. Aku senang bisa melakukan sesuatu untuk kamu, jadi nikmati saja waktunya malam ini ya, jangan bawel!” seru Rindu. Bhanu tersenyum lalu mengangguk, bahkan Bhanu tidak berpikir sama sekali untuk membuat syukuran seperti ini tapi Rindu melakukan untuknya, Bhanu sekarang benar-benar merasa sangat senang dan bersyukur di pertemukan dengan sosok seperti Rindu Hafshayu.
“Makasih ya,” ucap Bhanu dengan tulus yan di balas Rindu dengan senyum tulus andalannya.
“Kamu panggil yang lain gih untuk makan malam,” ucap Rindu, Bhanu mengangguk dengan cepat.
***
“Masakan mbak Rindu emang nggak pernah mengecewakan sih!” seru Angga di sela-sela makan malam mereka.
“Bungkus Ga bungkus!” seru Karlita yang langsung di sambut oleh kekehan penghui meja kecuali Pra yang sedari tadi menjadi kaum super kalem.
“Berangkat kapan, Nu?” suara berat itu mengintrupsi membuat Bhanu langsung menoleh pada pria dua puluh delapan tahun itu.
“Dua minggu lagi, Mas,” jawab Bhanu kalem. Prasetyo adalah orang yang sangat enak di ajak ngobrol apalagi tentang dunia kerja, pria itu tahu segalanya, Bhanu sering mengobrol dengan Prasetyo ketika ada kesempatan.
Prasetyo langsung mengangguk saja tanpa bertanya lebih. “Mas Bhanu nanti tinggal di asrama gitu atau tinggal sendiri?” tanya Khalila. Dia sangat antusias ketika mendengar kabar dari Rindu jika Bhanu di terima di NUS.
“Tinggal sendiri La, repot kayaknya kalau harus asrama,” jawab Bhanu.
“Duit Bhanu mah nggak berseri La, jadi udah beli apartemen dia di SG,” celetuk Angga yang berhasil membuat semua orang menatap ke arah Bhanu.
“Serius beli Apartemen?” tanya Rindu, dia tidak tahu soal ini. Bhanu menatap Angga dengan sengit sedangkan sahabatnya itu hanya cengengesan tidak jelas.
“Buat investasi,” jawab Bhanu kalem, dia sudah berjanji akan membicarakan ini dengan Rindu tapi sudah ke buru bocor duluan dari mulut ember Angga.
“Emang lebih enak di apartemen sendiri sih Nu kalau punya duit,” celetuk Karlita. Pasetyo juga mengiyakan ucapan tunangannya itu.
“Hidup di Singapura lumayan mahal dengan punya apartemen sendiri akan bisa menghemat biaya sewa karena nggak ingin asrama, lagian harga properti di sana akan meningkat setiap tahunnya. Nggak ada yang perlu di khawatirkan,” ucap Prasetyo. Entah kenapa Bhanu sekarang merasa sedikit lega. Walau dia harus mengorek hampir semua tabungannya namun itu tidak masalah. Apartemen itu bisa di jual kapan saja jika Bhanu memang tidak akan menetap lagi di Singapura.
Makan malam itu terus berlanjut dengan obrolan santai ala mereka, Karlita dan Angga tentu saja orang yang paling heboh dan ceriwis yang selalu membuat suasana meriah.
***
Hanya tersisa Bhanu dan Rindu yang duduk di kursi teras belakang rumah Rindu. teman-teman mereka sudah pergi karena memiliki urusan penting. Karlita dan Pra yang ingin menghabiskan waktu bersama setelah seminggu tidak bertemu sedangkan Angga harus mengembalikan Khalila ke rumah karena besok gadis itu ada bimbingan bersama dosennya.
“Makasih untuk malam ini, mbak Rindu,” ucap Bhanu. Rindu yang duduk di samping pria itu tersenyum.
“Maaf, aku nggak bisa melakukan banyak hal untuk kamu tapi aku yakin, kamu akan merasa sangat senang dengan kedatangan mereka,” ucap Rindu. Bhanu langsung mengangguk. Dia sangat senang dengan teman-temannya yang ada di sini. Mereka sangat peduli dan saling mengerti.
“Saya senang sekali hari ini, terimakasih,” ucap Bhanu. Rindu kali ini mendengus.
“Bilang makasih sekali lagi, aku diemin kamu!” seru Rindu. Bhanu terkekeh pelan.
“Hapsari rewel minta video call dari tadi, aku VC dia, ya?” tanya Rindu meminta izin, kalau Bhanu melarang dia tidak akan melakukannya.
“Boleh, silahkan aja,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk dan menghubungi Hapsari, hanya butuh beberapa detik saja sampai panggilan video itu tersambung dan wajah Hapsari langsung memenuhi layar. Rindu mengatur posisi ponselnya di atas meja sehingga wajahnya dan Bhanu terlihat. Hapsari sepertinya juga melakukan hal yang sama, wajah Hera dan Gentara kemudian muncul di layar.
“Bumil apa kabar?” tanya Rindu santai, hubungan Rindu dan Hapsari memang sedekat ini sekarang. Mereka berteman dengan baik.
“Baik banget, seminggu lagi gue lahiran loh, kalian harus ke Jakarta lah, minimal sehari buat nengokin gue sama bayik!” seru Hapsari, suaranya terdengar sekali sedang merajuk. Rindu melirik Bhanu yang bersikap tenang sejak tadi. Setahu Rindu hubungan Bhanu dan keluarga yang ada di Jakarta sudah membaik sebelum pria itu kembali ke Jogja.
“Gue ngikut Bhanu aja deh, kalau dia acc gue otw Jakarta,” ucap Rindu.
“Bhanu, kamu, mbak suruh telpon ke rumah nggak telpon-telpon ya, jahat banget kamu!” seru Hapsari, tatapannya kini tertuju pada Bhanu.
“Belum sempat mbak, sibuk,” jawab Bhanu kalem.
“Kamu kapan mau berangkat ke Singapura. Dari Jakarta atau Jogja?” tanya Hapsari.
“Dari Jogja,” jawab Bhanu masih kalem membuat Hapsari mengerucutkan bibirnya di seberang sana.
“Kapan berangkatnya?”
“Dua minggu lagi.”
“Tuh kan! Pokoknya minggu ini kamu harus pulang ke Jakarta dulu, temenin mbak lahiran, terus kita makan-makan, kangen banget pasti tuh sama kamu. Lihat keponakan dulu lah Nu sebelum kuliah, ih sedih banget!” cerocos Hapsari, mata wanita yang sedang hamil besar itu terlihat berkaca-kaca membuat Rindu langsung menyenggol lengan Bhanu.
“Iya, mbak, nanti juga pulang ke Jakarta dulu. Nggak usah mewek, kasihan itu mas Genta, kelihatan banget kurang tidurnya!” seru Bhanu membuat tangis Hapsari langsung pecah.
“Mas Genta nggak keberatan sama sekali tahu jagain mbak! Kamu pokoknya harus pulang ya! Kalau kamu nggak pulang nggak akan pernah mbak kasih lihat wajah anak mbak ke kamu!” seru Hapsari, wanita itu masih menangis segukan.
“Iya mbak iya, nanti pulang!” Obrolan mereka berlanjut, Hera memberikan banyak nasehat pada Bhanu yang di iyakan oleh pria itu tanpa bantahan sedikitpun sedangkan Rindu tanya tersenyum saja dengan pikiran yang mulai berandai-andai namun Rindu sadar betul, perjalanannya dan Bhanu masih sangat panjang.
“Saya pengen banget nginep di sini tapi belum waktunya,” celetuk Bhanu ketika Rindu mengantarnya ke depan. Bhanu akan kembali ke apartemennya.
“Udah nggak usah ngomongin hal random. Kamu hati-hati di jalan,” ucap Rindu.
“Kamu jangan lupa kunci pintu, cek semua jendela, matiin lampu sebelum tidur!” seru Bhanu mengingatkan
“Siap!”
“Saya pamit pulang ya, abis ini langsung istirahat ya, kamu pasti capek banget.”
“Iya Bhanu.”
“Besok saya jemput agak pagian, kita ke lokasi kafe yang baru.”
“Oke.
“Kamu nggak mau peluk saya dulu sebelum saya pulang?” tanya Bhanu. Malam ini Bhanu datang dengan vespa hitam metaliknya.
“Nggak enak sama tetangga. Kamu pulang ya. Hati-hati dan kabarin aku kalau udah sampai Apartemen!” seru Rindu dengan sedikit mendorong Bhanu ke motornya.
“Selamat malam mbak Rindu.” Bhanu tersenyum lebar sembari memberikan kiss jauh pada Rindu membuat Rindu terkekeh pelan bahkan di moment perpisahan seperti ini saja Bhanu selalu berhasil membuat Rindu merasa sangat berharga dan bahagia.