Part One

983 Kata
"Coba sekarang,buat ikan kertasnya ya. Nanti kalo ada yang kesusahan angkat tangan." Ucap Sena kemudian duduk pada kursi guru yang berada diujung ruangan. Sepasang matanya memperhatikan seluruh muridnya satu persatu. Tatapan tertuju pada seorang gadis kecil yang terlihat kesusahan. Gadis itu memang terlihat paling pendiam. Hanya ada beberapa teman yang mau mengajaknya mengobrol. Tetapi pengamatannya selama ini gadis itu menjauhi para temannya. Sena berjalan mendekati gadis kecil itu yang terlihat kesusahan. "Luna kesusahan ya? Kenapa enggak angkatan tangan." Ucap Sena pada gadis kecil yang bernama Luna itu. Luna tersenyum. Gadis itu bertubuh kecil,rambutnya yang panjang diikat setengah lalu diberi pita berwarna merah muda. "Miss.Sena ajarin ya" Luna melihat sambil mengikuti gerakan yang diajarkan Sena. "Nah,udah jadi" ucap Sena kemudian mengelus kepala Luna. Terlihat lesung pipi milik Luna. Sena membantu para murid lainnya yang terlihat kesusahan. "Patrick,sudah bisa?" Tanya Sena pada muridnya yang bertubuh gemuk berkulit sedikit hitam. "susah miss,patrick capek ah" ucap Patrick kemudian menaruh kertasnya diatas meja. "Eh ayo Patrick dicoba lagi,miss.Sena bantu ya." Sena mengajarkan caranya melipat ikan dengan sabar. "Yesssss. Udah jadi miss.Sena." seru Patrick. "Jangan menyerah dulu makanya,Patrick pasti bisa" kemudian Sena berjalan kedepan kelasnya. "Coba diangkat ikan kertasnya." Ucap Sena sambil mengangkat origami ikan. "Sekarang ditempel di buku kalian masing masing ya." Para murid membuka bukunya kemudian menempel ikan kertas pada buku. -_-_-_-_- "Selamat pagi" suara dingin Arsen menggema di ruangan yang cukup besar ini. Arsen mendengarkan satu persatu investor dengan bosan. Sesekali terlihat dia melihat pergelangan tangannya yang dililit jam mahalnya itu. "Bagaimana Mr.Herlambang?" Tanya salah satu investor meminta pendapat Arsen. "Ya saya setuju." Ucap Arsen asal. "Oke,rapat saya akhiri." Ucap Arsen kemudian segera meninggalkan ruangan rapat dan kembali pada ruangan mewahnya yang berwarna putih dan abu abu. Arsen duduk di kursi ke besarannya. Menyampirkan jas mahalnya pada kursi yang berdiri gagah ditengah ruangannya. "Arsen.." sapa Adit,sahabat sekaligus pegawai Arsen,yang entah kapan sudah masuk ke ruangannya "Ngalamun mulu lo,ada apa bro?" Tanya Adit kemudian duduk dihadapan Arsen. "Bosen gue hidup gini gini aja. Monoton." Ucap Arsen sambil memijat keningnya. "Harusnya lo bersyukur,lo bisa mimpin perusahaan yang besar. Bahkan karena lo perusahaan ini semakin maju. Lo itu pemilik dan pemimpin,jadi wajar kalo lo sibuk dan hidup lo monoton. Atau mungkin lo perlu nikah biar gak kesepian lagi." Arsen menatap sahabat didepannya ini dengan tatapan datar. "Lo kapan nikah?" tanya Arsen balik. "Nunggu jodoh gue dateng." Ucap Adit. "Burung lo karatan lama lama gak dibelai." Arsen menunjuk s**********n Adit dengan matanya. "Sialan lo!" Arsen tertawa kecil kemudian membuka macbooknya. "Kerja sana,gue gaji lo bukan buat nongkrong di Ruangan gue" ucap Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari macbook yang berisi seluruh data keuangan perusahaannya. "Gue lupa kalo sahabat gue CEO. oh iya satu lagi,jangan kebanyakan bagi bagi s****a lo." arsen menatap Adit dengan tatapan tajam. Adit meringis kemudian segera keluar dari ruangan Arsen. -_-_- Arsen merenggangkan kedua tangannya yang terasa pegal akibat bermain dengan angka angka yang berada didalam macbooknya. Baru beberapa saat iPhone miliknya berdering. Segera Arsen mengangkatnya. "Kenapa kak?" Tanya Arsen pada penelpon diseberang sana. "Tolong jemputin Luna dong,sen. Aku lagi sibuk nih." "Iya,nanti aku jemput dia sekolah." Ucap Arsen dengan malas. "Sibuk apaan sih kak? Arisan? Nyalon?" Wanita diseberang hanya tertawa cekikikan. "Udah ah pokoknya. Makasih ya,nanti aku kasih kamu miniatur super hero yang kamu mau itu" Arsen tersenyum kecil. Wanita itu adalah kakak iparnya,Selyna. Wanita cantik bertubuh seksi itu telah menikah dengan kakaknya beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena memiliki suami CEO tentu saja kakak iparnya itu menjadi wanita sosialita. Mengikuti kegiatan sosial dimana mana,berkumpul dengan para istri CEO,nyalon,arisan. Dan berbagai kegiatan lainnya. Kakak Arsen, Anvito Putra Herlambang. juga pemilik suatu perusahaan besar dan terkemuka di Dunia. Tidak kalah dengan perusahaan yang Arsen pimpin. "Iya,bye kakak ipar seksi" goda Arsen. Wanita di seberang nya mencibir. Arsen melihat pergelangan tangannya,sejam lagi keponakannya itu pulang dari sekolah. Luna memang sengaja dimasukan pada sekolah yang berada ditengah perumahan. Selyna memang sengaja menaruh putri kesayangannya itu pada sekolah sederhana,bukan sekolah yang berisi para anak pejabat. Melihat sifat Luna yang sulit bergaul,Selyna tidak mau anaknya itu di ejek para temannya jika dia menyekolahkan anaknya pada sekolah anak pejabat. Arsen segera mengemudikan Audi R8 miliknya menuju salah satu perumahan elit yang didalamnya ada fasilitas Taman Kanak Kanak. Perumahan Elite itu memang memfalisitas taman kanak kanak. Tapi Tk itu sederhana untuk para kalangan atas seperti Arsen dan keluarganya. Arsen tiba didepan gedung berwarna warni dengan gambar gambar hewan,dan segala permainan anak. Arsen memakai sunglasses miliknya,kemudian ia turun. Jasnya ditinggal didalam mobil. Arsen melipat lengan kemejanya hingga mencapai siku. Kemudian rambutnya sedikit acak acakan. Para ibu muda yang melihat Arsen saling berbisik,sesekali tertawa kecil sambil melirik Arsen. Para murid telah keluar dari kelasnya. Arsen mencari cari keponakannya itu. Para anak kecil berlari dengan riangnya menghampiri para ibu mereka. Arsen melihat gadis kecil yang berjalan dengan langkah kecilnya menghampirinya. "Hai,princess" sapa Arsen pada gadis kecil itu. Sifatnya yang pendiam memang sedikit menyulitkan keluarga untuk memahami apa yang Luna inginkan. "Mama mana?" Tanya Luna sambil mencari keberadaan mamanya. "Mama lagi ada acara,Luna sama Uncle Arsen ya. Luna mau makan es krim?" Tanya Arsen kemudian mengelus kepala Luna. Luna mengangguk kecil. Memang sifat Luna ini diwarisi dari kakaknya. Anvito memang pendiam,berbeda dengan Selyna yang sangat banyak bicara. "Luna,pensil warnanya ketinggalan." Suara seorang gadis membuat Arsen mendongak. Ditatapnya gadis yang begitu cantik di matanya. Gadis itu membeku seketika menatap Arsen. Secepat kilat gadis itu segera sadar dari terkejutnya. "Ini pensil warna Luna ketinggalan." Ucap gadis itu kemudian memberikan pensil warna kepada gadis kecil itu. "Makasih,miss.Sena." ucap Luna. Arsen menegang. Dia merasa familiar dengan nama Sena dan wajah gadis ini. Namun dimana dia melihat gadis ini. Sena tersenyum kepada Arsen dan Luna kemudian segera kembali memasuki gedung berwarna warni itu. ~ to be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN