Kebohongan itu terus berlanjut hingga Satria berada di masa-masa terakhirnya Sekolah Menengah Pertama. Tim basket sekolah Satria dikenal sebagai tim yang sangat tangguh. Beberapa medali berhasil mereka raih. Terakhir adalah kompetisi nasional basket junior yang berhasil membawa nama sekolah mereka ke dalam jajaran sekolah elit nasional. Sekolahnya mengadakan pesta perayaan untuk tim basket yang telah bekerja keras. Satria menikmati pesta itu hingga lupa waktu.
"Hari ini kamu pulang terlalu larut," ujar Dimas dingin. Hari itu Dimas memang sengaja menunggu Satria pulang.
Satria menatap wajah saudara kembarnya. Dimas terlihat lebih kurus dengan mata cekung dan pipi tirusnya yang hanya menyisakan tulang dan kulit saja.
Satria mencoba meredam kegugupannya. "Ada pelajaran tambahan di sekolah untuk siswa kelas IX."
Dimas tersenyum miring dan terlihat sangat mengerikan. "Seharusnya kita merayakan kemenanganmu. Juara nasional, kan?"
Satria menelan ludahnya dengan susah payah. Hancur sudah semua kebohongannya selama ini. "Dim, aku—"
"Tidak usah memikirkanku," potong Dimas cepat masih dengan senyum asimetrisnya. "Aku tidak apa-apa."
Satria tidak percaya begitu saja. Dimas kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Satria tahu jika saudara kembarnya itu tengah sakit hati, marah.
"Seharusnya kamu jujur," ujar Dimas dengan air mata yang mengalir deras dari matanya tanpa isakan. "Rasanya sakit ketika saudaramu tidak mempercayaimu. Hal sebesar ini seharusnya kita rayakan bersama."
"Maaf." Satu kata yang mampu keluar dari mulut Satria. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa melihat saudaranya yang begitu rapuh.
Dimas mengusap kasar pipinya yang telah basah karena air mata lantas tersenyum lirih kepada Satria. "Aku senang melihatmu sehat dan berhasil. Setidaknya, sekarang aku menyadari satu hal." Dimas menjeda ucapannya. "Selama ini, akulah penghalang semua keberhasilanmu. Aku yang membuat kebebasanmu terenggut. Seharusnya aku memang tidak pernah dilahirkan. Seharusnya anak Ayah dan Ibu hanya kamu. Kamu yang sehat dan pintar, tanpa aku."
"Kamu bicara apa, Dim? Kami menyayangimu. Aku menyayangimu," kata Satria lantang. Ada ketakutan besar dalam suaranya.
"Benarkah? Seharusnya kamu membenciku karena aku membencimu. Aku membencimu karena kamu selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku membencimu karena kamu bisa melakukan apa yang kuinginkan. Aku membencimu karena kamu lebih sehat. Aku membencimu. Aku benci," ujar Dimas penuh amarah dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.
Satria terdiam, Baru kali ini ia melihat Dimas semarah itu. Dimas lebih sering memendam perasaannya. Namun, kali ini ia meledak-ledak seolah tak bisa menahannya lagi.
"Ada apa ini?" Suara lantang ayah Satria dan Dimas tiba-tiba datang dengan kepanikan yang sangat kentara dari wajahnya. Ibu yang mengekor di belakang pun menampakkan kecemasan yang sama.
Baru saja Satria membuka suara menjawab pertanyaan ayahnya ketika tiba-tiba Dimas ambruk dengan memegang dadanya. Semuanya panik. Ayah berusaha membangunkan Dimas dengan mengguncangkan tubuhnya, ibu menangis sejadi-jadinya, sedangkan Satria hanya bisa diam mematung. Kakinya tiba-tiba kaku tanpa bisa digerakkan dan otaknya sangat lama mencerna kejadian yang ada di hadapannya itu.
Satria tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja dia sudah di rumah sakit dengan ibu yang masih menangis dan ayah yang masih setia di sampingnya. Satria melihat Dimas terbaring lemah dengan semua peralatan penunjang hidup yang terpasang di sekujur tubuhnya.
Satria mendekati Dimas dengan langkah tertatih. Satria seperti melihat dirinya yang terbaring lemah di sana. Wajah Dimas begitu pucat tanpa rona. Satria hendak meraih jemari Dimas ketika tangan ayah menampiknya.
"Jangan sentuh Dimas," ujar ayah dengan tatapan tajamnya. "Semua ini terjadi karena kamu. Seharusnya kamu bisa menahan diri. Kamu pasti sengaja melakukannya, kan? Kamu ingin saudaramu pergi agar kamu bisa hidup bebas, iya kan?"
Mata Satria berkaca-kaca mendengar segala tuduhan ayahnya. "Satria tidak pernah punya maksud seperti itu," kata Satria membela diri.
"Stop kalian berdua! Hentikan!" ujar Ibu lantang dengan air mata yang mengalir deras. "Tolong hentikan semua ini!"
Setelah malam itu, ayahnya mengabaikan Satria tanpa mengajaknya bicara sama sekali. Satria menerima semua itu. Hal itu bukan masalah bagi Satria karena sebelumnya pun ayahnya menganggap Satria seolah tak ada.
Kondisi Dimas mulai membaik hingga diperbolehkan pulang. Karena tidak ingin mengulang kesalahan, Satria memutuskan keluar dari tim basket sekolah. Semua orang terkejut dengan keputusan Satria. Mereka menyayangkan bakat Satria dalam basket. Pelatih dan semua lawan mereka mengakui kemampuan Satria. Semua orang mengira jika Satria nantinya akan menjadi pemain basket yang sukses. Namun, keputusan telah diambil tanpa bisa ditarik kembali.
Satria sekarang menikmati hari-harinya bersama Dimas. Setiap pulang sekolah, Satria menemani Dimas yang senang bersantai di halaman belakang sembari membaca buku atau sekadar mendengarkan musik. Satria senang melakukan semua ini. Setidaknya, ia bisa melihat senyum manis Dimas setiap hari.
Hujan deras tiba-tiba turun di akhir bulan Mei. Satria mendengkus keras melihat hujan yang turun tidak semestinya itu. Dimas tersenyum melihat tingkah saudaranya yang uring-uringan hanya karena hujan.
"Kita di sini menikmati hujan saja," ujar Dimas sembari mengisyaratkan Satria agar duduk di sofa ruang keluarga yang langsung menghadap taman belakang rumah.
Satria menurutinya lantas duduk di samping Dimas. Berbeda dengan Satria yang mulai membaca bukunya seperti biasa, Dimas hanya duduk dan memandang Satria. Sesekali ia tersenyum melihat ekspresi serius saudara kembarnya itu. Hal tidak biasa itu pun membuat Satria menghentikan aktivitasnya karena merasa risi.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Satria.
Dimas tersenyum menatap wajah Satria. "Aku merasa senang setiap memandang wajahmu. Aku seperti melihat diriku sendiri tetapi dengan versi yang berbeda."
Satria menautkan alisnya. "Bukankah itu aneh? Aku tidak suka terlalu lama memandangmu. Aku bahkan tidak suka melihat diriku di cermin karena ...."
"Karena akan melihatku di dalam cermin," ujar Dimas melanjutkan kalimat menggantung Satria. "Aku tahu karena aku mengalami hal yang sama. Setiap kali bercermin, aku selalu melihat bayanganmu. Namun, aku menyukainya. Bayanganmu jauh terlihat lebih sehat dan bahagia daripada bayanganku sendiri."
"Kamu sekarang juga jauh lebih sehat," ujar Satria dengan senyum semringah. "Aku sangat bahagia melihatmu seperti ini."
"Kamu terlalu banyak berkorban," ujar Dimas lirih. "Maafkan aku karena sering merepotkan."
"Kamu bicara apa, sih?" ucap Satria tak suka. "Tidak ada yang merasa direpotkan atau merepotkan di sini. Kita adalah keluarga. Memang sepantasnya seperti ini."
"Terima kasih," kata Dimas dengan senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk apa? Sudahlah," jawab Satria malas kemudian berdiri dari posisi duduknya. "Aku mau membuat teh. Kamu mau?"
Dimas menggelengkan kepalanya. "Kamu saja."
"Ya sudah." Ujar Satria lantas berlalu meninggalkan Dimas sendirian di ruang keluarga.
Satria tidak tahu jika itu adalah percakapan terakhir dengan saudara kembarnya. Karena setelahnya, Satria hanya menemukan Dimas yang terbaring kaku di kamarnya dengan bekas sayatan di pergelangan tangannya. Tidak ada yang tahu alasan Dimas mengakhiri hidupnya seperti itu. Pesan terakhir yang ditinggalkannya hanyalah selembar kertas bertuliskan 'Terima Kasih'. Satria mengenali tulisan tangan Dimas dan pesan itu benar-benar ditulis oleh Dimas.
Sejak saat itu keluarganya benar-benar tercerai berai. Ayahnya semakin jarang pulang dengan seribu satu alasan, ibunya sering menangis sendiri di tengah malam, dan Satria lebih banyak berulah daripada berprestasi seperti dulu. Satria melakukan semua kenakalan di sekolahnya demi melupakan semua kenangan buruk dan yang paling penting adalah untuk mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. Jika bisa memilih dan memutar waktu, Satria ingin menukar semua kehidupannya asalkan Dimas bisa kembali. Satria selalu merasa orang tuanya akan lebih bahagia bersama Dimas daripada bersamanya. Namun, semua hanya harapan. Ia sadar jika ada hal-hal yang tidak bisa kembali setelah pergi.
Satria meremat rambutnya kuat. Kenangan masa lalu yang mengerikan itu selalu menghantuinya. Ia tidak tahu sampai kapan harus seperti ini. Hidupnya terlalu rumit.
Satria mengangkat kepalanya ketika lampu kamar Dimas tiba-tiba hidup. Ibunya memasuki kamar Dimas kemudian bersimpuh di samping Satria.
Tatapan wanita paruh baya itu mengarak pada punggung tangan Satria yang berdarah. "Pasti sakit sekali," katanya lantas mengambil kotak PPPK yang ada di kamar Dimas.
Ibu Satria mengeluarkan beberapa kapas dan cairan antiseptik untuk membersikan luka putranya. Satria mengernyit ketika cairan pembunuh kuman itu menyentuh kulitnya,
"Tidak usah, Bu," ujar Satria sembari menarik tangannya. "Satria akan melakukannya sendiri."
Ibu menatap Satria cemas. "Ibu sangat menyayangimu," ujar Ibu dengan mata berkaca-kaca.
Satria mengusap air mata ibunya dengan tangannya yang tak terluka. "Tolong jangan menangis," ucap Satria lembut yang justru membuat tangis ibunya pecah.
"Ibu merindukannya," ujar Ibu dalam tangisnya.
"Satria juga merindukannya. Kita semua merindukannya," jawab Satria sendu.
***