Tre

1034 Kata
"Aline kau dari mana saja ha? Kami mencarimu kemana-mana aku hampir saja menelepon polisi!" aku tertawa dan meminta maaf untuk menenangkannya. Jessica Park, dia lebih tua dua tahun dari aku dan menjabat sebagai leader grup kami. Semenjak dia pindah kewarganegaraan, aku tahu ada sesuatu yang berusaha disembunyikan. Sesuatu yang berusaha dia lupakan. Aku dan dia sangat dekat mulai dari saat kami masih menjadi trainee. Aku dan empat gadis lainnya debut dengan grup TheA yang artinya matahari. Kami akan resmi debut satu minggu lagi dengan nama panggung internasional. Sesuai nama kami, TheA, kami berharap bisa menjadi matahari yang sangat ditunggu orang di belahan bumi manapun dan juga karena kami berasal dari negara yang berbeda dan memiliki bakat yang langka. Saat Direktur Kim memanggil kami dan mengatakan kami akan didebutkan bersama, perasaan kami bercampur aduk. Kami saling berangkulan, menghapus air mata haru dan menyemangati satu sama lain. Aku tidak akan pernah melupakan momen itu. Itu adalah emosi yang kurasakan setelah hari itu. Kami berjanji akan membuat orang mengenal kami sebagai Eklipse melalui musik. "Kenapa begitu sepi, kemana pergi mereka?" asrama kami terlihat kosong padahal tidak ada satupun jadwal hari ini. "Entah, mungkin mereka tersangkut di Pluto lagi mencari seseorang" aku tertawa. Jessica pasti sangat jengkel dan khawatir padaku. "Jadi kau tidak ikut mencariku? ahhh" aku menepuk dadaku, pura-pura terluka. Pintu asrama terbuka, mereka masuk bersamaan. Wajah mereka jelas terlihat menahan kesal melihatku, bahkan wajah mereka tidak terlihat sisa make up lagi. Ye Na langsung menimpukku dengan badannya yang beratnya sama denganku. Aku tertawa dan menjahili mereka. "Kau berlatih vokal sampai ke pluto ya? Pantasan di bumi batang hidungmu tak nampak" Hyeri meletakkan bungkusan makanan di depan dengan minuman coklat kesukaanku. Walaupun dia terkesan cuek, dia sebenarnya lebih mirip nenek-nenek. Diam-diam peduli. Itu kenapa aku memanggilnya nenek, awalnya dia tidak suka tapi lama kelamaan dia terbiasa. "Lain kali kalau kau dalam masalah, hubungi kami" tambahnya. Aku langsung menghentikan gerakanku membuka bungkus makanan. Bagaimana Ye Na tahu? "Apa dia terjebak masalah tadi Na?" mendengar pertanyaan itu Hyo Bin yang sedang meluruskan badannya di sofa langsung merapatkan badan ingin tahu. "Tentu saja, Kwon Won memberitahu semuanya" Aku mengerutkan kening, Kwon Won itu siapa ya? Dimana mereka bertemu? Apa dia salah satu member yang kutemui tadi? "Kami bertemu di Studio" Ye Na menjawab seolah tahu isi kepalaku. "Dia bilang apa Na? Hyeri sudah tak sabar mendengarnya. Tangannya menjulur mengambil cemilanku. Ye Na menjelaskan semua yang terjadi secara rinci bahkan dia sampai menirukan perkataan dan ekspresiku saat marah. Dia mengepalkan tangannya seolah menahan emosi, padahal realitanya, saat itu aku mengolah api menjadi kutukan. Jessica bertepuk tangannya heboh sambil mengacungkan jempol padaku. Aku mengangkat bahu tak mengerti. "Itu hebat Al! Si cowok angkuh itu pasti pucat saat itu. Ah seandainya saja aku disitu" dia tertawa puas senang sekali malah. "Ah Jessica kau masih kesal karena dia menendang botol airmu?" gantian Jasmine yang menertawakannya. "Kau kira aku bisa secepat itu lupa dengan ekspresinya yang angkuh itu? Aku ingin sekali meninju wajahnya itu! Tapi Alin sudah mewakiliku" katanya menepuk-nepuk bahuku, bangga. "Kapan kalian jumpa mereka? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?" "Aku sudah lama tahu tentang Seung Han, dia temannya temanku" Jessica mengalihkan pandangannya kearah lain. Selalu saja begitu, tiap kali dia berkata temannya, dia memalingkan wajahnya. "Siapa bilang? Aku hanya mengutarakan pendapatku. Kau balas sendiri sana" aku melanjutkan membuka bungkusku tanpa mempedulikan wajah Jessica yang geram sendiri padaku. "Tapi, serius kau tidak mengenal mereka? Kitakan satu agensi?" ternyata Hyo Bin masih tertarik dengan pembicaraan itu. "Aku tidak mengenal mereka, itupun aku tahu dia satu agensi kita karena melihat figuranya berlambang agensi dan hanya tahu manajernya saja" jawabku seadanya. Aku bukan orang sombong, aku berteman dengan banyak idol bahkan dari lain agensi. Karena, seseorang dulu memintaku untuk bergaul dengan dunia. "Itu wajar saja, mereka jarang datang ke studio dan Alien juga punya jadwal padat belajar bahasa asing dengan akting. Aku saja hanya melihat mereka beberapa kali" Ye Na menjawab pertanyaan Hyo Bin, aku mengganggukan kepala menyetujuinya yang dibalas Hyo Bin dengan ber-oh tanpa suara. "Sudahlah, lebih baik kita belanja skincare biar glowing sewaktu kita tampil!" aku berteriak setelah menelan suapan terakhir yang disambut teriakan bersemangat kami. Mendengar kata debut, diri kami seperti terbakar penuh energi. Meskipun dua tahun yang lalu, aku mengeluarkan sinar merah setiap mendengar kalimat itu. ... Aku tidak menghitung berapa jam kami berkutat di toko yang terkenal dengan kualitas skincare yang mereka jual. Kami semua sangat hobi melakukan perawatan. Meskipun dasarnya aku cantik dan tidak bisa terlihat kurang cantik, tapi saja aku menyukainya, terasa hangat ketika melakukan perawatan kulit bersama. Bukan hanya sebagai penunjang penampilan kami, kami melakukan ini lebih kepada merawat pemberian Tuhan dan mengapresiasi diri kami. Masker, lipstik dan yang lainnya sudah selesai kami pilih meskipun tadi Hyeri dan Hyo Bin berdebat soal merk lipstik yang mereka berdua pilih dan berakhir dengan membeli lipstik yang aku rekomendasikan. Setelah berbelanja skincare kami naik lagi untuk membeli beberapa pakaian. Kami memiliki jadwal sekali sebulan membeli pakaian. Kami sibuk menyapa beberapa artis dan penggemar yang sudah mengenal kami. Mall ini memang terkenal sebagai mall para artis dan keamanan disini sangat terjamin, jadi tidak perlu takut dikejar oleh penggemar. Meskipun kadang satu dua orang meminta tanda tangan ataupun berfoto. Pegawai pakaian disini sudah mengenal kami dan ikut mengobrol sembari membantu kami memilih. Mereka akan tertawa-tawa melihat kami saling bertengkar memilih dan merekomendasikan baju yang seolah kamilah yang membuatnya. Dan lagi-lagi baju itu berakhir di tangan Jessica yang membelinya sekaligus. Jessica anak orang kaya, tapi aku jarang melihatnya membeli barang untuk dia. Aku tahu, dia sengaja membeli baju itu bukan untuknya. Melainkan untuk kami. "Kenapa kalian berdebat, padahal kaliankan suka saling meminjamkan pakaian. Kalian ini aneh-aneh saja" kata petugasnya tertawa sembari memberikan baju yang sudah kami bayar. "Maklumin saja Kak, anak kecilkan seperti itu" Ye Naikut menimpali yang langsung dihadiahi cibiran serentak oleh Hyo Bin dan Hyeri membuat semuanya tertawa. "Kami sangat senang kalian datang, kami jarang melihat girl grup berkepribadian sehangat kalian, sering-seringlah berkunjung" kata kasir satunya lagi. "Seandainya saja uang juga sering berkunjung ke dompet" kataku sambil pura-pura sedih melihat dompet yang membuat mereka langsung tertawa. Selesai membayar, kami beranjak pergi ke restoran. Ketika berbalik, kami terkejut menemui kelima pria yang kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN