Chapter 2

1265 Kata
Tak lama kemudian aku teruskan langkahku pergi seorang diri, aku menoleh sejenak ke arah adikku, dia sedang menangis. Aku tahu aku pahami itu, sesungguhnya adikku sama seperti yang aku rasakan, saling mengasihi tapi di larang oleh orangtua kami. Kini, aku sudah tiba disebuah tanah lapang tak jauh dari rumah kami. Disana banyak anak-anak yang sudah lebih besar dariku, mereka sedang asik bermain bola. Sedangkan aku bermain air di parit sendirian tak mungkin aku ikutan main bola karena saat itu aku masih kecil di banding mereka semua. Ketika hujan lebat datang seperti ini debit air dari parit pasti meluap dan aku sangat senang bermain-main air disana. Aku bermain sebuah kapal-kapalan yang kubuat dari pelapah pohon pisang, semua itu sangat menyenangkan. Bahkan membuatku melupakan sejenak rasa sakit dihatiku akibat dimarahi oleh ayah tadi. Tak lama kemudian hujan semakin mereda, tapi masih merintik deras, aku masih saja bermain di parit itu dengan sangat gembira. Lokasi parit tempat ku bermain itu dekat dari jalan raya. Tetapi jalan raya di kampung kami tidak begitu ramai seperti di jalan raya utama desa kami. Tatapi kendaraan yang melintas udah cukup banyak sih, para pengangkut hasil panen. Keasikan ku bermaian menjadi terhenti ketika terdengar suara teriakan seorang anak perempuan semakin mendekatiku. "Kakak ..." Perlahan aku menoleh ke arah sumber itu membuatku sedikit senyum melihat suara anak perempuan itu adalah adikku sendiri. Tapi, senyumanku secepat kilat berlalu dari bibirku saat aku melihat adikku akan berjalan menyebrang jalan mendekat kepadaku tanpa melihat kanan dan kiri dulu. "Vivi tunggu! Jangan menyebrang dulu dik!" Teriakku saat aku lihat ada sebuah mobil Pick up melaju kencang dari arah kejauhan. Viviana tidak mendengarkanku, dia malah sudah berlari aja. Dan .... Nahas pun akhirnya terjadi, Brrak! Adikku tertabrak dan terlindas oleh mobil itu hingga tubuhnya hancur berantakan! "Vivianaaaa!" ku teriak sekencang-kencangnya membuat perhatian anak-anak bermain bola melihat semua ke arahku. Mobil yang melindas adikku langsung kabur, tak lama kemudian banyak orang yang berkumpul, menyaksikan kejadian itu. Tubuhku mematung, air mataku sudah mengalir deras di pipiku, perlahan aku mendekatnya. Sebelum aku mendekat ke adikku, kedua orangtua ku datang, karena rumah kami hanya berada disebrang jalan dari lokasi parit tempatku bermain ini tak heran kalau mereka juga langsung menyaksikan. Setelah ku melangkah semakin dekat aku lihat Ibuku langsung menangis histeris seperti orang gila. "Tidakkk! Putrikuuu!" ____ Miris! aku sendiri malah langsung di halang-halangi oleh ayah ketika aku mau mendekat ke adik. Akhirnya aku menyaksikan itu dari arah kejauhan, aku menangis sesegukan sendirian. Saat pemakaman adikku, aku malah di kurung sama ayah di kamar, tidak dikasih makan tidak di kasih minum, lampu kamarku juga gak di nyalakan karena kebetulan saklarnya berada di luar kamar. Aku hanya sesegukan sendirian, mengetuk/merengek ke pintu minta di bukaka'an pun aku tak memiliki keberanian. Karena sebelumnya ayahku udah mengancam, supaya aku gak mengetuk pintu selagi ada tamu yang berbelasungkawa. Aku gak tau tamu-tamu yang datang ada yang menanyakanku apa enggak, atau malah ayahku udah punya alasan sendiri? Entahlah. Setelah pemakaman adik selesai, serta sudah tidak ada lagi orang yang berbelasungkawa dirumah kami, sebuah perkara yang sampai saat ini teringat dalam ingatanku pun dimulai, ayahku masuk kedalam kamarku, aku langsung dipukuli, aku di tendang, di jambak dan segala kekerasan fisik lainnya aku rasakan. Ya Tuhan, itu ... Sakit sekali, Kawan! Aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya merintih kesakitan dan menangis. Ayah mengomeliku dengan kalimat-kalimat yang sungguh menyayat hatiku, dia berkata bahwa aku anak iblis anak tidak berguna, anak pembawa sial, dan segala cemoohan selalu ku dengar saat tangan dan kaki beliau terus menghujam tubuh kecilku. Lisanku diam seribu bahasa, hanya bisa berkata-kata didalam hatiku saja, 'Ayah, Ibu ... Maafkan aku gak bisa menyelamatkan adik, maafkan aku bu ...' Jujur saja aku menyesali, andai saja saat itu aku langsung lari mendorong adik, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. ____ Beberapa hari kemudian, aku melihat ibuku seperti orang yang tidak waras, dia selalu menyebut-nyebut nama Viviana dan berpolah seakan-akan dia sedang berbicara dengan adikku itu, mungkin bisa di katakan- berhalusinasi. Dia sedang duduk termenung di kursi menghadap ke jendela, sementara saat itu ayahku sedang pergi keluar gak tau kemana. Atau mungkin lagi kerja? Entahlah. Akhirnya aku memberanikan diri mendekat ke ibuku, walau jantung ini berdebar tak menentu tetapi aku tau toleransi kekerasan yang siap ku terima nanti. Sesudah aku sampai didekatnya, akupun mengusap pundak ibu seraya memanggilnya lirih. "Ibu ..." Ibuku menoleh, aku sungguh kaget saat dia menoleh ke arahku, Degup jantung ini berdebar-debar hebat, karena walau dia ibu kandungku aku tidak pernah sedekat ini dengannya. Tapi ... Tunggu! Rupa-rupanya ada yang aneh saat ibuku menoleh ke arah ku, seraut wajah dia gak seperti biasanya saat memandangku, kini dia tersenyum dan malah tiba-tiba langsung memeluk tubuhku erat. "Vi … Viviana anakku sayang, akhirnya kamu pulang, Nak? Jangan pergi lagi ya sayang, ibu tidak ingin pergi lagi" Ibu ku mengusap lembut pundak dan kepalaku. Apa! Aku ... dipanggil Viviana? Aku diam mematung, dan sedikitnya udah tahu tentang halusinasi, jadi aku mikirnya mungkin ibuku sedang berhalusinasi akibat depresi kehilangan adikku sehingga melihatku seperti melihat Viviana. Karena kenyataan tidak bisa dipungkiri kalau wajahku ini benar-benar Mirip dengan Viviana. Ya, itu semua karena kami kembar identik. Jujur, aku terhanyut dalam suasana kasih sayang yang belum pernah aku rasakan saat ibuku memeluk tubuhku. Aku meneteskan air mata, karena aku sungguh mengharapkan kasih sayang oleh ibu seperti ini, tetapi kenyataannya sangatlah pedih. Ibuku memelukku karena menganggapku sebagai Viviana, bukan sebagai diriku sendiri sebagai Viandra! "Kenapa rambut kamu pendek seperti ini, Nak? Ibu kan pernah bilang ke kamu, kamu jadi perempuan harus feminin. Jangan pernah memotong rambut kamu sampai sependek ini, Nak" ibuku mengusap-usap lembut rambutku seperti yang pernah ku lihat saat ibu memeluk adikku selama dia masih hidup. Lidah ini sangat kaku mau berkata-kata untuk menyatakan bahwa aku ini bukan Viviana! "Bu, Ak-ku ... A-ku ..." Hingga akhirnya kalimatku terpangkas oleh ayah yang tiba-tiba nongol entah dari mana, datang menghampiri kami, sambil mengatakan, "Ayah yang tadi memotong rambut bidadari kecil kita, Bu. Maafkan Ayah ya sayang?" mengusap lembut rambut ibuku dan tersenyum kepadaku. Apaaaa! Aku sangat kaget dong, Kenapa ayah berkata seperti itu? Ingin sekali aku menyeka kata-kata ayahku karena aku ini Viandra, Bukan Viviana! Selagi aku terdiam, Ibu dan ayahku sedang berbicara mengenai rambut Viviana yang dikira di pangkas itu, padahal mah ... ini aku Viandra, bukan Viviana! Setelah mereka berdua selesai membicarakan aku yang di anggap Viviana, Ayah meraih tanganku lalu membawaku masuk kedalam ruang kamar. Saat masuk kedalam ruang kamar pun, aku di lempar sampai aku menabrak lemari. Braak! "Aarggh" Sakit bukan main Men! Seraut wajah Ayahku terlihat sangat sangar dan menyeramkan, perlahan dia mendekat ke arahku, setelah sampai dia mengulurkan tangan dan mencengkram kuat rahangku. Aehh ini lebih parah sakitnya bukan maen lagi Men! "Hei, kau tau ibu kau seperti itu semua kesalahanmu! Jadi, jangan pernah kau mengatakan kau bukan Viviana, paham!" What! Apa maksudnya itu? Aku diam, lalu ayahku mengulangi kata-katanya lagi, melotot semakin tajam. "Paham atau enggak kau hah!" Akhirnya aku mengangguk saja, karena mau bicara pun susah, lagian gimana aku mau jawab coba? mulutku aja mengkrot-mengkrot karena rahang sampai di kedua pipiku di cengkram kuat sama dia! Air mataku sempat mau mengalir karena aku harus menerima kenyataan pahit ini untuk menjadi adikku. Tapi, ayahku semakin mencengkram kuat rahangku pertanda aku tidak boleh nangis. __ Yap, Sejak saat itulah aku memulai hidupku menjadi seorang wanita yaitu sebagai adikku, Viviana. Dan sejak saat itu pula orangtuaku langsung menjual tanah sekaligus rumah peninggalan kakek dan nenekku untuk pindah ke Ibu kota. Inilah yang menjadi pertanyan yang tak kunjung usai aku pikirkan, apakah ibuku benar-benar depresi sehingga menganggapku sebagai Viviana atau memang sebenarnya dia sudah sadar tetapi dia tetap menginginkanku hidup sebagai Viviana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN