Selama berhari-hari, Xaviera dan saudaranya kembali berlatih setelah kejadian Xaviera yang diserang oleh iblis wanita tempo hari.
Sejak saat itu pula, Blade menjadi semakin protektif jika terhadap Xaviera. Bahkan keduanya menjadi lebih dekat, sejujurnya Xaviera sedikit merasa sungkan dan tidak enak pada Airia karena gadis itu pasti akan segera menjahilinya karena ia cemburu.
Kini mereka berenam tengah berlatih di bawah air terjun yang sering didatangi oleh Xaviera jika akan bertemu dengan sang naga dan belatih dengannya.
Mereka membawa pedang masing-masing dan saling bertarung. Xaviera dengan Delucia, Airia dengan Lavina dan Blade dengan Luke.
Lavina merasa senang karena dipasangkan dengan Airia, sudah berhari-hari ini ia selalu mencuri kesempatan untuk mengganggu gadis yang seumuran dengannya itu.
"Kita mulai!" kata Lavina sambil menyunggingkan senyum nakalnya.
Airia dan Lavina mulai saling menyerang dengan gerakan yang cepat. Keduanya bertarung dengan dua pedang kecil yang memang di desain untuk petarung wanita.
Pergerakan tangan Lavina begitu cepat, ia mendesak Airia dengan serangannya yang hanya bisa ditangkis oleh gadis itu. Suara desingan pedang terdengar memekakkan di telinga keduanya.
Airia menahan serangan yang ditujukan padanya dengan kedua tangan, namun salah satu tangan Lavina berhasil memukul wajah Airia dan menggores pelipisnya dengan pedang runcing.
Sedikit perih meski tidak banyak mengeluarkan darah. Sedetik setelahnya, Lavina berhasil menjepit leher Airia dengan lengannya karena gadis itu lengah setelah terluka.
Namun bukan Airia jika langsung menyerah. Ia melompat dan menendang kepala Lavina hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
Airia yang geram kini membalas, ia menyerang Lavina dengan brutal karena kesal. Sudah beberapa hari ini ia menahan amarah karena godaan yang dilemparkan Lavina padanya.
Namun karena amarah, gerakan Airia menjadi kacau dan Lavina memanfaatkan celah untuk menyerang balik, ia bergerak dan memutar tangan Airia serta menahannya. Menohok ulu hati gadis itu dengan siku dan menendang kakinya hingga terjungkal.
Tubuh Airia rasanya remuk setelah menabrak tanah dengan punggungnya. Kepalanya tanpa sengaja terbentur batu yang cukup besar.
Ia memegang kepalanya yang nyeri. "Sebenarnya apa masalahmu denganku? Kita sedang berlatih, bukan bertarung sungguhan!" kesalnya.
Airia berdiri sambil memegangi ulu hatinya yang nyeri. Kepalanya yang terbentur ternyata berdarah.
"Aku hanya ingin bermain sedikit dengan saudara kembarku," kata Lavina dengan senyum polos.
"Aku bukan saudara kembarmu. Orang tua kita berbeda!" Lavina tertawa mendengar jawaban logis yang keluar dari bibir Airia.
Mereka memang terlahir di rahim ibu yang berbeda, namun kelahiran keduanya bertepatan sehingga banyak yang menyebut Airia dan Lavina adalah saudara kembar.
Lavina kembali menyerang Airia, gadis itu terpental karena belum siap. "Kupikir kau akan cemburu melihat kedekatan Blade dengan Xaviera, tetapi apa yang kulihat? Airia hanya diam dan memilih pergi? Ada apa dengan saudara kembarku ini?"
Lavina sengaja mengompori Airia agar gadis itu menjadi marah. Emosinya yang tidak stabil akan membuatnya kacau dan memudahkan Lavina untuk menang.
Airia masih diam. Ia hanya fokus untuk menyerang Lavina dan gerakannya semakin cepat. Lavina sedikit kesulitan memgimbanginya.
"Apa ini? Kau melampiaskan kemarahanmu padaku? Jika kau cemburu kenapa tidak mengungkapkan isi hatimu pada Blade?"
Mendengar hal itu, Airia melotot. Ia kembali mengarahkan pedangnya untuk menusuk Lavina, namun selalu berhasil ditepis oleh gadis itu.
Lavina tertawa lepas mendengar deru nafasnya yang tidak teratur, menandakan bahwa Airia kini memang tengah dilanda amarah yang besar.
Gadis itu menyerang Lavina lagi dan lagi. Ia selalu meningkatkan seranganya dua kali lipat lebih cepat dibanding serangan yang lalu.
Desingan dari suara pedang yang beradu kembali memekakkan telinga. Bahkan tanpa keduanya sadari, empat orang yang tengah berlatih bersama mereka kini menghentikan sesi latihannya dan melihat pertempuran antara Lavina dan Airia.
"Kenapa mereka terlihat seperti sedang bertarung sungguhan?" tanya Xaviera khawatir.
"Tenang saja, mungkin Airia tengah kesal karena Lavina selalu menggodanya akhir-akhir ini," balas Delucia santai.
"Tidak bisa begitu, Lavina atau Airia bisa terluka jika mereka bertarung dengan sungguh-sungguh!" Xaviera hendak maju dan memisahkan kedua kakaknya, tetapi tangannya dicekal.
"Jangan ke sana, kita nikmati saja pertandingan hari ini." Blade menariknya dan memaksa Xaviera duduk di depannya.
Delucia juga sepertinya setuju dengan usulan Blade. Ia duduk di atas bebatuan yang dekat dengan posisi duduk Luke saat itu.
Blade memeluk Xaviera dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu gadis termuda itu.
"Ayo bertaruh, siapa yang akan menang di pertandingan kali ini. Airia atau Lavina?" bisiknya di telinga Xaviera.
Gadis itu menoleh dan memelototkan kedua bola matanya. "Kau gila? Mereka tengah bertarung dan bisa aja meregang nyawa, tetapi kau di sini dengan santainya mengajakku bertaruh?"
Blade mengacak rambut Xaviera. "Mereka akan berhenti ketika lelah, seharusnya kau sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Kita sudah melihatnya selama lebih dari sepuluh tahun."
Xaviera hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya. Airia memang sering berdebat dengan Lavina dan berakhir dengan keduanya bertarung, tetapi tetap saja ia khawatir.
Sementara di sisi lain, Airia dan Lavina masih sibuk bertarung. Kini keadaan berbalik, Airia sedikit unggul dibanding Lavina.
Gadis itu memelintir dan memukul kedua pergelangan tangan Lavina hingga pedangnya terlepas.
Airia berjalan mendekat dan mengarahkan kedua pedangnya ke wajah Lavina. "Kau kalah!" katanya dengan nada bangga.
"Baiklah aku mengaku kalah." Lavina mengangkat kedua tangannya dengan senyuman.
Keempat orang yang sedari tadi menonton langsung bertepuk tangan riuh. "Lakukan lagi!" kata Luke dengan lantang.
Airia melotot. "Apa-apaan ini? Kalian malah menonton kami dan bukannya berlatih?" marahnya.
Airia membuang senjatanya kemudian berlari menjauh. Entah mengapa ia benar-benar kesal pada semua orang.
"Airia? Kau mau ke mana?" teriak Lavina.
Xaviera berlari dengan cemas, hendak menyusul Airia, namun dirinya dicegah oleh Lavina.
"Biarkan aku saja yang menyusulnya. Ini salahku karena menggodanya, sepertinya candaanku sudah sedikit keterlaluan."
Lavina langsung melesat menyusul Airia, namun Xaviera tidak mendengarkan perkataan kakaknya, ia ikut berlari menyusul Airia dan Lavina.
Delucia ingin menghentikannya, namun ketiga gadis itu terlalu cepat, ia tak bisa menyusulnya.
"Bagaimana?" tanya Blade. Delucia hanya menggelengkan kepala.
"Sebaiknya kita bertiga kembali pulang dan menunggu mereka di rumah saja. Aku yakin mereka akan baik-baik saja."
Luke mengangguk setuju, awalnya Delucia ingin mencarinya lagi namun akhirnya ia mengalah dan menuruti kakak tertuanya.
Ketiganya membawa s*****a yang tadi ditinggalkan dan kembali ke rumah.
Delucia membersihkan s*****a yang kotor dengan Luke sebelum akhirnya disimpan kembali ke dalam ruang penyimpanan.
Blade? Lelaki itu berdiri di depan rumahnya sambil menyandarkan punggung di tembok, menunggu kepulangan tiga adiknya.
*****
Xaviera tengah merendam dirinya sendiri di bawah guyuran air terjun. Gadis itu menutup kedua netranya, merasakan derasnya air yang mengenai puncak kepala dan seluruh tubuhnya. Dinginnya suhu air membuat ototnya sedikit rileks dan tenang.
Gadis itu berenang menjauh dari bawah air terjun, menenggelamkan seluruh tubuhnya beberapa saat kemudian berdiri. Pakaiannya yang basah karena menyerap air membuatnya sedikit berat.
Xaviera sedikit kesusahan ketika berjalan menjauh. Ia duduk di salah satu batu besar yang ada di pinggir sungai, otaknya terus saja mengingat kejadian tadi.
Ketika ia menyusul dan mengintip percakapan kedua kakaknya, siapa lagi kalau bukan Airia dan Lavina.
"Airia tunggu!" Lavina mencekal lengan saudaranya tersebut agar Airia menghentikan langkahnya.
Gadis itu menghempaskan cekalan tangan Lavina dan menatapnys dengan sorot yang penuh luka. Lavina tertegun, tak biasanya Airia bersikap seperti itu dalam menanggapi candaannya.
"Apa? Sudah puas bercandanya? Kau pikir bercanda dengan perasaan manusia itu lucu? Kau pikir semua orang akan tertawa melihatnya?" Nafas Airia terengah ketika mengatakannya.
"Maaf, aku tahu candaanku sudah keterlaluan dan menyinggung perasaanmu, tapi jangan marah seperti ini. Saudara kita yang lain cemas karenamu." Lavina berkata dengan nada menyesal.
Airia hanya diam tidak menanggapi, gadis itu kemudian menangis. Meneteskan ribuan air matanya dalam diam.
Lavina yang melihatnya terkejut. Ia dengan cepat memeluk Airia dan menepuk punggung saudaranya beberapa kali guna menenangkannya.
"Ini terlalu menyakitkan untukku, Lavina," katanya disela tangis.
Pertahanan yang dibuat Airia runtuh. Ia terisak, pundaknya bergetar hebat. Xaviera yang sedari masih mengintip hanya bisa memandang kedua kakaknya dengan bingung.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tengah mereka berdua bicarakan? Kenapa Kak Airia menangis?" batinnya kebingungan.
"Maafkan aku, aku sudah keterlaluan. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, menahan cemburu melihat orang yang kau sukai bersama dengan orang lain memang menyakitkan."
Xaviera membelalakkan kedua matanya, kini ia paham alasan dari tangis Airia. Itu semua salahnya, beberapa hari ini memang ia terlihat dengan dengan Blade, bahkan lelaki itu tak segan menunjukkan perhatiannya yang lebih pada Xaviera.
Namun gadis itu tidak menyangka hal itu akan membuat Airia begitu tersakiti. Ia jadi merasa bersalah pada kakak perempuannya tersebut.
Airia mengelap bekas air matanya, tersenyum tulus pada Lavina. "Tidak, bukan salahmu sepenuhnya. Aku memang terlalu cengeng, meski sudah kucoba ratusan kali untuk mengubur perasaanku pada Blade, tetap saja itu sulit dilakukan."
Lavina kembali menepuk punggung Airia. "Tidak masalah, kau sudah berusaha sebisa mungkin. Hati memang tidak bisa dipaksa, jadi mau bagaimana lagi?"
Keduanya saling melempar senyum setelahnya. Airia mengucapkan terima kasih pada Lavina karena ia yang selalu bisa mengerti keadaannya selama ini.
"Lebih baik kita kembali, yang lain pasti khawatir karena kau tiba-tiba pergi begitu saja. Apalagi Xaviera, ia yang paling mencemaskanmu tadi." Airia mengangguk.
Keduanya melesat cepat ke arah mereka datang. Kembali pulang ke rumah sementara Xaviera masih termangu di sana.
Diam dan menyesali perbuatan yang sebenarnya tidak salah dilakukannya.
Sejak awal dirinya dan Blade memanglah sepasang kekasih, namun setelah mengetahui jika Airia menyukai Blade, Xaviera memilih menjahui lelaki itu dan bersikap sewajarnya.
Sudah bertahun-tahun Airia menjauhinya karena gadis itu cemburu hingga akhirnya keduanya bisa akur lagi.
Dan kini hal yang sama kembali terjadi. Xaviera tidak ingin dirinya kembali bermusuhan dengan sang kakak.
"Haruskah aku melepaskannya lagi untuk kali ini?" batinnya.
Xaviera menggelengkan kepalanya pelan, ia kembali meceburkan diri ke dalam air, melompat dengan gaya indah dan berenang dengan anggunnya.
Ia tidak ingin memikirkan hal semacam itu sekarang. Lebih baik ia kembali berlatih agar menjadi semakin kuat agar bisa mengalahkan raja iblis dan melindungi keluarga satu-satunya.
to be continue ....