Xaviera memasukkan beberapa rempah-rempah ke dalam tungku, hari ini ia yang bertugas memasak dan Xaviera memutuskan untuk memasak sepanci sup.
Aroma yang ditimbulkan dari bahan yang ia masak pasti akan menggugah siapa pun yang menciumnya.
Ia aduk sebentar lalu mengambil sedikit kuah dan ia masukkan ke dalam mulut, memeriksa apakah ada bahan yang kurang atau tidak.
"Lumayan lezat," katanya memuji diri sendiri. Ia mengambil beberapa kayu dari perapian dan mengecilkan api. Masakannya telah siap.
Xaviera mengambil piring dan meletakkannya di atas meja. Ia menuangkan sup buatannya ke dalam dua piring dan meletakkan piring tadi ke atas nampan.
Mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air mineral. Lalu membawanya menuju ke sebuah kamar.
Xaviera membuka kamar tersebut dengan kakinya, alangkah terkejutnya gadis itu ketika melihat pemandangan di hadapannya.
Dua orang lelaki yang tengah berkelahi, saling mencengkeram kerah masing-masing dan satu tangannya terkepal hendak meninju wajah lawan.
Keduanya terhenti ketika melihat Xaviera yang masuk. Ketiga manusia itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya si lelaki melanjutkan acara adu jotos mereka.
Xaviera hanya bisa menghela napas kasar lalu berteriak, "Apa yang sedang kalian lakukan!"
Meletakkan nampan yang ia bawa ke meja di dekatnya lalu menghentakkan kaki karena marah.
Sebuah dinding pembatas yang terbuat dari tanah muncul menghalangi keduanya untuk bertarung.
Xaviera menjentikkan jarinya dan akar-akar muncul dari bawah lantai. Melilit tubuh Luke dan Blake dengan cepat, bahkan kedua lelaki itu tidak sempat mengeluarkan kekuatan mereka untuk memotong akar dan sulur yang mengikatnya.
Xaviera kembali menjentikkan jari dan tembok penghalang tadi lenyap. Gadis itu berjalan ke arah kedua lelaki yang kini jatuh terduduk dengan keadaan terikat.
Membawa nampan yang tadi diletakkannya, menaruhnya di depan Blade dan Luke dengan langkah malas.
"Kalian baru sembuh dan ingin kembali bertarung? Apa kalian tidak kasihan pada kami? Semua orang menghkawatirkan kalian berdua karena tidak kunjung sadar padahal satu minggu sudah berlalu," marah Xaviera.
Tak lama beberapa orang membuka pintu dengan tergesa hingga menimbulkan suara bantingan yang keras.
"Apa yang terjadi? Kami mendengar suara gaduh dari sini," tanya Lavina dengan nafas terengah.
"Kalian sudah sadar?" pekik Delucia dan Airia secara bersamaan.
Kedua gadis itu langsung menghampiri Blade dan Luke, sementara Lavina berjalan ke arah Xaviera.
"Kenapa mereka berdua diikat?" tanya Delucia sambil memotong sulur dan akar pada tubuh Luke, begitu juga dengan Airia yang membantu Blade.
"Mereka belum lama tersadar, lalu aku menyuruh keduanya untuk menunggu di kamar selagi aku menyelesaikan masakanku, tetapi setelah aku kembali ke sini mereka malah kembali berkelahi karena itu aku mengikat mereka," jelas Xaviera.
Gadis yang berusia paling muda itu lantas berdiri. "Karena kalian sudah datang, bantulah Luke dan Blade untuk makan, aku lelah."
Xaviera berjalan keluar dari kamar. Ia mengambil piring miliknya dan menuangkan sup lalu berjalan menaiki tangga kayu menuju kamarnya di lantai dua.
Gadis itu membuka pintu kamar dan menguncinya, ia berjalan dan mendudukkan diri di lantai balkon, menikmati pemandangan alam di pagi hari mungkin bisa meringkankan pikirannya yang sedikit keruh beberapa hari ini.
Gadis itu mulai menyesap sup miliknya dengan perlahan. Menikmati lezatnya mahakarya yang tadi ia buat.
Sementara di lantai bawah, Lavina makan sendirian di meja makan karena Airia dan Delucia memilih untuk makan di kamar sambil menjaga Blade dan Luke.
Kedua gadis itu menyuapi masing-masing lelaki dengan sabar. Luke awalnya menolak, ia ingin makan sendiri tetapi tangannya masih terasa sakit jika digerakkan akibat berkelahi sebentar dengan Blade tadi, jadi mau tidak mau ia terpaksa dibantu oleh Delucia.
Sementara Blade, lelaki itu masih sibuk memandangi pintu kamar yang tertutup, berharap Xaviera akan kembali datang dan membantunya makan, bukannya Airia.
Setelah menyelesaikan acara makan paginya, Xaviera beranjak dari tempatnya duduk. Ia melompat turun ke bawah dan berlari menjauh dari rumah.
Bahkan dirinya lupa tidak meminta izin untuk pergi sejenak pada semua saudaranya di rumah. Semoga saja Xaviera hanya pergi sebentar dan tidak ada yang menyadari bahwa adik termuda mereka menghilang.
Gadis itu berlari dan sesekali melompat dari satu dahan pohon ke dahan lain agar cepat sampai. Tujuannya kali ini adalah puncak dari air terjun, ia sudah lama tidak ke sana.
Gadis itu melompati satu batu ke batu lain untuk naik ke atas air terjun yang cukup terjal. Ia sesekali terpeleset, tetapi tak dihiraukannya.
Xaviera mendudukkan diri setelah sampai, kakinya lumayan pegal dan sedikit sakit karena beberapa kali terpeleset.
Gadis itu memasukkan dua jarinya ke dalam mulut, bersiul cukup kencang dan angin kencang mendadak menghampirinya.
Langit yang cerah tiba-tiba berubah mendung, awan hitam datang dan kilat mulai menyambar. Awan hitam mulai bergerak memutar dan muncullah sebuah lubang di atas sana.
Tak lama sesuatu dari dalam awan mulai keluar, sesuatu yang bercahaya dan menyilaukan mata. Xaviera sampai harus menutup kedua netranya karena tidak sanggup melihat.
Awan hitam perlahan mengilang dan langit kembali normal, disaat itulah seekor naga yang besar dan yang sisiknya berwarna keemasan muncul. Terbang semakin rendah dan akhirnya mendarat tepat di depan Xaviera.
Berdiri dengan keempat kakinya, naga itu terlihat gagah perkasa dan kuat. Ia menundukkan kepalanya pandangannya menatap ke arah Xaviera.
"Ada apa memanggilku, Sierra?" tanya naga yang berwarna emas tersebut.
Xaviera hanya menggeleng. "Tidak, aku hanya bosan. Bisakah kau membawaku terbang dan jalan-jalan ke sekitar sini?" tanyanya.
Sang naga berdecak kesal. "Kau memanggil seorang raja dari klan naga emas hanya untuk menemanimu berjalan-jalan?"
"Tidak, aku ingin kembali belajar mengendalikan kekuatan Sierra yang ada di tubuhku. Jika aku belum bisa mengendalikannya maka aku tidak akan pernah bisa mengalahkan raja iblis dan merebut kembali kerajaanku," jelasnya dengan suara lirih.
"Mengaktifkan benda itu saja sudah sangat susah, apalagi mengendalikannya. Aku perlu bantuanmu," imbuhnya.
"Baiklah, kita akan mencari tempat yang jauh dan aman dari sini. Naiklah ke tubuhku!" titah sang naga.
Xaviera naik ke atas, tepat di belakang leher sang naga. Mencengkeram tubuh naga yang besar itu agar ia tidak terjatuh nantinya.
Sayap sang naga terkepak dan perlahan tubuhnya naik ke atas. Sang naga membawa Xaviera terbang ke atas langit.
Mereka terbang tinggi agar tubuh sang naga tidak terlihat dari bawah karena tertutup awan. Baru setengah perjalanan, Xaviera melihat sesuatu yang aneh dari bawah.
"Berhenti!" katanya sambil menepuk tubuh naga yang ia tumpangi.
"Ada apa, Sierra?" tanya naga yang penasaran.
"Bisakah kau mendekat ke bawah? Aku melihat sesuatu di bawah sana. Seperti kumpulan kapal dan perahu."
Sang naga mengangguk mengiyakan, mereka berdua mulai turun ke bawah dengan perlahan. Sang naga mendarat di tempat yang sedikit jauh lalu Xaviera turun dari tubuhnya.
"Aku akan memeriksanya, kau tunggulah di sini aku akan kembali sebentar lagi," pesan Xaviera.
"Tunggu, biarkan aku ikut denganmu!" protes sang naga.
"Badanmu terlalu besar, kita bisa saja ketahuan." Xaviera berdecak.
Sang naga mengecilkan tubuhnya, wujudnya sekarang menyerupai cacing emas. Ia merambat naik ke pergelangan tangan Xaviera dan berubah menjadi gelang.
Setelahnya Xaviera berjalan dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia mulai mendekat. Gadis itu bersembunyi di balik batu dan melihat beberapa kapal yang terparkir rapi di tepi pantai.
Xaviera kembali berjalan mendekat dan alangkah terkejutnya ia melihat ratusan iblis dari banyak jenis itu adalah sang pemilik kapal.
Sepertinya mereka baru sampai dan tengah berpindah. Xaviera yang penasaran kembali mengikuti langkah para iblis itu.
Mereka mendirikan tenda dan rumah kecil untuk tempat istirahat. Banyak sekali iblis yang bermukim di sana, mulai dari iblis berkasta rendah yang sepertinya dijadikan pelayan sampai iblis berkasta tinggi.
Dengan perlengkapan yang mereka bawa, Xaviera bisa memastikan jika mereka akan memulai sebuah pertempuran di pulau ini.
hidung Xaviera berkerut. "Bagaimana mungkin iblis bisa masuk ke dalam pulau ini sementara di pulau ini telah dipasang mantra suci untuk menghalau iblis?" batinnya bertanya.
Melihat situasi yang tidak aman baginya untu berlama-lama di sana, Xaviera beranjak pergi sebelum ketahuan mengintip.
Setelah agak jauh dari tempat ia mengintip tadi, Xaviera memanggil sang naga untuk kembali ke wujudnya yang semula dan mengantarkannya pulang.
"Sepertinya latihan kita harus ditunda lagi. Aku harus memberitahukan hal ini pada seluruh saudaraku. Aku yakin iblis itu diutus kemari untuk mencari kami. Antarkan aku pulang sekarang."
Sang naga mengangguk mengerti. Ia langsung melesat ke atas. Terbang dengan kecepatan tinggi dan menghilang di atas langit.
Xaviera melamun, ia masih bingung bagaimana cara iblis itu bisa masuk. Apakah sihir yang dibuat oleh leluhurnya telah lenyap? Atau memang benar dugaannya selama ini jika salah satu dari kelima orang yang ada didekatnya ternyata berkhianat?
Namun ia masih tidak paham, siapa yang akan tega mengkhianatinya dan apa tujuannya? Bagi Xaviera mereka semua adalah sama. Tujuan mereka sama-sama melindungi Sierra sampai kekuatannya bangkit dan merebut kembali tahta kerajaan dari cengkeraman raja iblis.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Xaviera tidak sadar jika ia telah sampai. Sang naga menurunkannya di hutan yang tak jauh dari rumahnya.
"Ambil ini untuk berjaga-jaga. Hanya ini yang bisa kuberikan untukmu. Jangan lupa panggil aku jika keadaanmu terdesak." Sang naga memberikan sebuah kalung pada Xaviera. Liontinnya berbentuk seperti rubik namun memiliki lima sisi. Setiap sisi dari liontin tersebut memiliki warna yang berbeda, ada merah, biru, cokelat, putih dan yang terakhir hijau.
Xaviera berterima kasih lantas memakai kalungnya. Ia menyembunyikan kalung tersebut di balik baju.
Sang naga menghilang setelahnya. Sepeninggal sang naga, Xaviera berlari menuju ke rumahnya dengan langkah lebar.
Ia membuka pintu dengan kasar dan berhenti tepat di tengah-tengah pintu dengan nafas terengah karena lelah.
Semua saudaranya yang berada tak jauh dari pintu masuk terkejut melihat Xaviera yang datang dari luar.
"Xaviera, kupikir kau ada di kamar. Kenapa wajahmu pucat? Kau baru kembali dari mana?" tanya Lavina sembari mendekati adiknya tersebut.
"Aku tidak bisa memberitahukan ini pada semuanya, salah satu dari mereka bisa saja adalah pengkhianatnya. Siapa yang harus kupercaya?" batinnya gundah.
Semua orang melihat Xaviera dengan raut penasaran karena gadis itu hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan kakaknya.
to be continue ....