Donna melepaskan tangannya dari lengan Edoardo, lalu segera mendekati Araf, kemudian mengambil tas berisi bekal makanan dari tangan Araf, tersenyum ke Araf.
“Donna ambil ya bekal dari Mas.” Donna bicara dengan tulus ke Araf, “Maafin sikap Mas Edo ya tadi ke Mas.” Dia juga minta maaf untuk Edoardo.
Edoardo merenggut mendengar ini, segera mendekati Donna, ditariknya Donna dari hadapan Araf,
“Don, kamu ngapain minta maaf ke dia? Dia itu mantan suamimu. Ngga perlu lah baik-baik ke dia yang menelantarkanmu dan ketiga anakmu selama 16 tahun.” Ditegurnya Donna untuk bersikap memusuhin Araf.
Araf mendengar ini merasa emosi, tapi ditahannya, tidak mau serendah Edoardo di Tanidy Boutique ini. Araf menggepalkan tangannya, menahan emosinya agar tidak meledak di depan Donna khususnya. Diliriknya Donna, ingin tahu apa tanggapan Donna atas sikap kurangajar Edoardo ke dia.
“Mas,” Donna memandang Edoardo dengan kesal, “Meski Mas Araf sudah mantan suamiku, tetap aku menghormatinya, terutama sebagai ayah dari ketiga anak kami.” Ujarnya tegas mengatakan bahwa selamanya dia menghormati Araf, “Aku sangat tersinggung, Kamu berani bersikap tidak sopan ke Mas Araf.” Donna mengemukan isi hatinya yang tersinggung atas sikap kurangajar Edoardo ke Araf, “Dan, Aku tidak jadi lunch sama Kamu. Aku mau makan bekal dari Mas Araf di ruanganku.” Lanjutnya membatalkan lunch bersama Edoardo.
“Donna?!” Edoardo terperanjat mendengar ini, “Oke..Oke, Aku salah. Aku minta maaf.” Dia terpaksa mengaku bersalah membuat Donna tersinggung, “Please, kita pergi lunch ya.” Dibujuknya Donna.
“Tidak mau!” sahut Donna tegas. Donna kalo sudah tersinggung mampu bersikap tegas dan galak. “Silahkan Mas pergi dari sini.” Diusirnya Edoardo.
“Donna, kamu mengusirku? Hanya demi mantan suamimu?”
“Iya, kenapa? Aku sudah bilang tersinggung kamu bersikap tidak sopan ke Mas Araf, yang selamanya aku hormatin, terutama sebagai ayah ketiga anakku. Dan ini kantorku, aku berhak penuh mengusir siapa pun yang bersikap tidak sopan, terutama ke Mas Araf.” Tuturnya tegas dan jelas.
Araf tersenyum, ada haru dihatinya dengan sikap Donna menanggapi sikap kurangajar Edoardo ke dia. Tapi dia akui, Donna memang tetap menghormatinya sebagai mantan suami, terutama sebagai ayah dari ketiga anak mereka. Donna akan tersinggung jika ada yang berani bersikap kurangajar ke Araf. Begitu juga sebaliknya, Araf akan tersinggung jika ada yang bersikap kurangajar ke Donna.
Pablo keluar dari lift, tampak tergesa. Satpam menghubunginya, menceritakan singkat kejadian di sini. Pablo tergesa menuju tempat kejadian. Pablo bertanggungjawab menjaga kedua atasannya ini yang dikenal baik selama sepuluh tahun.
“Nyonya Donna.” Pablo segera menegur Donna sambil mendekati Donna, “Maaf, biar saya yang menghandel Tuan Edoardo.” Ujarnya segera mengambil alih keadaan, sebab matanya melihat Edoardo geram memandang Araf. Dan Araf tersenyum sinis ke Edoardo. Jangan sampai kedua pria ini adu tinju di depan Donna. Apalagi saat ini jam lunch, dimana Direksi dan staff melihat kejadian ini.
“Hei!” Edoardo memandang Pablo, “Ngapain kamu ikut campur urusan kami?” ditegurnya Pablo dengan ketus, seolah Pablo Assistennya.
Donna mau mendamprat Edoardo yang kurangajar ke Pablo, tapi cepat Araf meraih tangan Donna, ditempatkan Donna dibelakangnya, bisik pelan,
“Biar Pablo mengatasi hal ini.”
“Tapi Mas?”
“Ayo kuantar ke ruanganmu, biar Kamu bisa segera makan bekalmu, jadi kamu tidak masuk angin.” Araf menggandeng tangan Donna, dibawanya meninggalkan Edoardo.
“Donna!” Edoardo terperanjat sebab Araf membawa Donna darinya, “Kamu minggir!” serunya sebab Pablo menghalanginya mau mengejar Araf untuk merebut Donna.
“Security!” seru Pablo lantang memanggil para Satpam yang ada di sini. “Antar keluar Tuan Edoardo dari Tanidy Boutique.” Ujarnya memberi perintah saat para Satpam mendekatinya.
“Kamu berani lakukan itu, Pablo? Saya ini temannya Donna atasanmu.”
“Sangat berani Saya lakukan itu, Tuan.” Sahut Pablo berani, dipandangnya Edoardo tanpa gentar. “Saya bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan Nyonya Donna Syafar dan Tuan Araf Syafar di mana pun, terutama di Tanidy Boutique ini.” Dipandangnya Edoardo yang tercengang dengan sikapnya ini, “Anda sudah membuat kedua atasan saya tidak aman dan tidak nyaman.” Lanjutnya berani, “Security!” serunya ke para Satpam di dekatnya, “Lekas antar Tuan Edoardo keluar dari sini!”
Sementara Araf membawa Donna menaiki anak tangga menuju ke Lantai dua. Araf tetap menggandeng tangan Donna. Diliriknya Donna yang tampak masih kesal. Pelan diremas lembut tangan Donna. Donna melihat ke dia. Dia hentikan langkah mereka, dipandangnya Donna.
“Terima kasih Kamu membelaku tadi.”
“Mas ngga perlu berterima kasih.” Donna menghela nafas, “Mas sangat tahu gimana Donna.”
“Aku tahu. Tapi kupikir kita sudah berpisah, kamu tidak lagi menghargaiku.”
“Hais sembarangan Mas bicara.” Donna mengerucutkan bibirnya, “Mas, Aku bukan mantan istri kebanyakan. Meski kita pisah, selamanya aku menghargaimu.”
Araf tersenyum mendengar ini, pelan diraih tekuk Donna, lalu cium mesra sejenak bibir Donna. Disampaikan rasa bahagianya. Donna tersenyum, hatinya yang risau dari kemarin mencair. Dibalas ciuman Araf. Mereka beradu bibir sejenak, lalu Araf melepasnya lebih dulu. Ditempelkan kening mereka, ditatap Donna penuh cinta. Donna membalas tatapan itu dengan malu-malu.
“Dah yuk, kita ke ruanganmu.”
“Mas, Aku mau pulang.”
“Kenapa? Lalu lunch kamu gimana?”
“Nanti kumakan di rumah.” Donna menghela nafas, “Untung Mas datang, kalo tidak aku benar-benar lupa kalo ketiga anak kita butuh lunch. Di rumah sudah tidak ada ART, hanya Odoy yang bisanya masak mie instan doang.”
“Kamu beli diluar saja makanan untuk mereka, minta resto mengantar ke rumah.”
“Ngga Mas. Aku dah janji ke Kamu, sesibuk apa pun aku, akan mengurus ketiga anak kita dengan baik.”
“Ya sudah kuminta Benny bawa mobilmu ke teras basement.”
“Mas kemari pakai mobil atau motor?”
“Motor. Kenapa?”
“Mas antar Donna dengan motor ya. Biar cepat sampai ke rumah.”
“Sayang, kamu butuh lunch. Kamu pakai mobilmu, jadi bisa lunch di mobil.”
“Please Mas.” Donna keukeuh minta Araf mengantarnya pulang pakai motor Araf.
“Iyalah.” Araf mengalah, selalu tidak tega menolak rengekan Donna, dibawa mereka kembali ke Basement.
Pablo melihat ini segera menghampiri.
“Tuan,” Pablo menegur Araf, “Perusuh sudah dikeluarkan dari sini.” Dilaporkan ke Araf bahwa sudah mengeluarkan Edoardo dari Tanidy Boutique.
“Kamu laporannya ke Donna kale.” Tukas Araf menunjuk Donna, “Donna pimpinan tertinggi di sini, sedang saya sudah resign. Sudah pula jadi mantan suaminya.”
“Hais Mas ini,” sela Donna tidak suka mendengar ini, “Meski Mas sudah resign, sudah mantan suami, Donna tidak ada melarang Mas kemari. Donna juga tetap minta Direksi dan staff tetap menghormati Mas. Jadi wajar kalo Pablo melapornya ke Kamu. Karena selamanya Mas pasti tetap menjaga keamanan di sini demi Donna.”
TUING-TUING
Pablo mengerucutkan bibirnya, ‘Hadeuh Nyonya, kalo gitu kenapa juga Nyonya menceraikan Tuan? Nyonya tetap bergantung sama Tuan.’
Araf tersenyum geli mendengar ini, dijawil sayang hidung Donna, lalu bicara ke Pablo.
“Makasih laporannya, Pablo. Makasih kamu tetap sigap menjaga keamanan Donna khususnya.” Araf menepuk ramah salah satu pundak Pablo. “Ya sudah, saya mau antar Donna pulang dulu. Tolong jaga baik-baik kantor ini. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan Ranto Assisten saya. Ranto jago kungfu kek kamu.”
“Beres Tuan.” Kekeh Pablo setuju. Dia dan Ranto sudah seperti saudara, “Tuan antar Nyonya pakai mobil tuan?”
“Motor saya.” sahut Araf singkat, “Saya pergi dulu ya.” Dia pamitan, lalu membawa Donna pergi. Tas bekal yang ditenteng Donna dibawanya.
Pablo mengawasi keduanya, sambil mengelus dadanya.
“Hadeuh Nyonya. Udah tahu Nyonya lengket kek lem Wan Aibone ke Tuan, pake dicerai pula tuan. Untung tuan punya cinta tiada bandingnya ke Nyonya.”
+++
Kasep yang ditugaskan Nita mengintai pagar rumah, melihat Araf menurunkan Donna dari atas motor. Di sana juga terlihat Odoy membukakan pagar rumah, mengira Araf akan masukan motor ke garasi depan. Kasep tampak senang melihat Araf dan Donna datang bersama, bergegas menemui Nita yang sedang lunch masakan Araf di Taman belakang bersama Dido dan Tami.
“Non Nita!” serunya riang, “Good new, Non. Good new.” ujarnya pakai bahasa Inggris.
TUING-TUING
Nita bengong mendengar ocehan Kasep.
“Good new, Kang?” tanyanya memandang Kasep, “Akang baru beli barang baru yang bagus?” tanyanya mencoba mengartikan bahasa Inggris yang diocehan Kasep itu.
“Aduh bukan, Non.” Kasep duduk di antara Nita dan Dido. Mereka semua pada duduk di rerumputan. Nita, Dido, dan Tami masih menggenakan seragam sekolah. “Akang punya good new untuk Non Nita, Den Dido, dan Non Tami.”
“Apa sih maksud Akang?” Dido ikutan bingung seperti Nita dengan ocehan Kasep, “Good new artinya kan baru bagus, atau barang baru yang bagus.” Diterjemahkan good new yang diocehkan Kasep.
“Aduh bukan Den Dido.”
“Ya terus apa, Kang?” tanya Tami gemas.
“Akang lihat Nyonya Donna pulang.”
“Terus good new itu apa?” tanya Nita masih meraba ke arah mana Kasep bicara.
“Good new nya, Nyonya di antar Tuan Araf pakai motor beliau.”
TUING-TUING
Nita, Dido, dan Tami barengan mengerucutkan bibirnya. Baru ketemu maksud good new yang diocehkan Kasep.
“Jadi good new itu,” Dido memandang Kasep, “Akang melihat Mama pulang di antar Papa pakai motor Papa?”
“Iya itu, maksudnya Den.”
“Itu bukan good new, Kang.” Desau Nita sedikit mengelus dadanya.
“Lalu apa, Non?” Kasep bertanya ke Nita, sebab dia yang lulusan SMU, bahasa Inggris sampai sekarang tidak bisa.
“Good news, Kang.” Nita membetulkan bahasa Inggris yang diucapkan Kasep, dimana Kasep memberi kabar baik ke Nita, Dido, dan Tami.
“Lha sama itu, Non. Good new.”
“Beda!” sahut Dido cepat, “New ini dibelakangnya pakai huruf s, jadi news. Dibacanya nius.”
“Jadi good nius, Den?”
“News, Kang, news!” sela Nita, “Ah udah nanti aja Nita kasih bimbel soal itu ke Akang.” Dia cepat mengakhiri pembicaraan ini, “Do, Tam, ngintip Mama ama Papa yuk.” Diajak kedua adiknya mengintip orangtua mereka yang dikabarkan bersama saat ini.
“Hayuk Kak!” sahut Dido dan Tami kompak dan riang.
Lalu ketiga anak manis ini ditemanin Kasep, mengintip dari balik pohon besar di taman dekat pagar.
“Mas.” Donna masih bersama Araf di luar pagar, di dekat motor Araf. “Sekali lagi makasih ya.” Dia pelan meraih tangan Araf, dicium pucuk tangan Araf, dan dapat cium sayang dikening dari Araf. Wajah Donna bersemu merah setelah dicium Araf, hatinya semakin tenang.
Apalagi tadi diperjalanan, Donna yang memaksa duduk menghadap punggung Araf, tidak perduli Araf terpaksa merobek sedikit sisi kiri kanan rok spannya, Donna merapat dipunggung Araf. Kedua tangannya memeluk erat perut Araf. Lalu juga dia memakai jaket Araf, sebab Araf tidak membawakan Donna jaket. Donna merasa bahagia banget dibawa Araf naik motor. Donna jadi ingat saat mereka masih suami istri. Araf sering membawanya dengan motor, dan Donna selalu bahagia jalan bersama Araf.
Odoy mengerucutkan bibir, ‘Nyonya mank aneh ini. Diceraikan, tapi tetep mesem seneng dicium Tuan mantan suami Nyonya. Tau gitu kenapa dicerai, Nyonya? Perempuan oh perempuan, ngga jelas isi pikiranmu ke kaum lelaki. Dicerai tapi bahagia dicium mantan.’
Sedangkan ketiga anak Araf dan Odoy melihat adegan mesra ini, bisik-bisik pula.
“Kak, Mama sebenernya cinta atau ngga sih ke Papa?” tanya Dido ke Nita, “Kan Mama ceraikan Papa, artinya ngga cinta Papa. Tapi kok Mama seneng dicium Papa? Seneng dicium artinya cinta Papa.”
“Kakak juga ngga jelas soal itu, Do.” Sahut Nita, “Mama suka ngga jelas maunya apa. Cuma Papa yang ngertiin ngga jelas maunya mama.”
Dido manggut-manggut, “Jadi Mama cinta ngga cinta, Kak?”
TUING-TUING
Nita mengerucutkan bibir, dipandang Dido dengan gemas, sebab Dido bertanya soal isi hati Donna lagi ke dia. Dia saja ngga tahu jelas apa isi hati Donna ke Araf.
“Dido,” Nita memegang wajah Dido yang tembem, digoyang-goyang sedikit wajah itu dengan gemas, “Kakak mau tahu soal itu. Kamu kalo mau tau, tanya ke Mama aja.”
Dido cengegesan sebab Nita gemas ke dia.
Kembali ke Araf dan Donna.
“Sama-sama, sayang.” Araf tersenyum, “Mau kubantu masak lunch untuk anak-anak?” ditawarkan bantuan ke Donna.
“Ngga Mas, makasih. Donna bisa kok masak wat anak-anak. Donna udah mulai belajar masak kok.”
TUING-TUING
Odoy mengerucutkan bibirnya lagi, ‘Kapan Nyonya mulai belajar masak? Boro belajar masak, ngidupin api di kompor gas aja, Nyonya tidak paham. Untung tadi pagi Tuan Araf mengirimin sarapan wat kalian. Untung juga Tuan Araf mengirimin lunch wat ketiga anak kalian. Kalo tidak, pasti pada mati kelaparan, nunggu Nyonya mulai belajar masak yang entah kapan dimulainya.’
“Oke.” Araf paham Donna gengsi minta bantuan lagi ke dia. “Aku pulang ya. Kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai kelelahan.” Diusap sayang wajah Donna. Ditatap Donna dengan penuh cinta.
Donna membalas tatapan itu dengan malu-malu.
Odoy, Nita, Dido, Tami, dan Kasep, semuanya mengelus d**a masing-masing, berasa sedang melihat adegan pendekatan cinta anak remaja.
+ TO BE CONTINUE +