Esa menyodorkan sebuah amplop cokelat di hadapan Kiara yang tengah makan malam seorang diri. Memelankan kunyahannya, Kiara mengangkat wajah. Menatap tanya pada Esa, dan enggan mengeluarkan suara. “Aku cuma bisa ngasih kamu segini tiap bulannya. Kalau kurang kamu tinggal bilang.” Kiara masih melanjutkan tatapannya untuk beberapa detik, lalu mengedip satu kali. Memandang amplop yang ada di meja dengan datar. Belum berminat untuk menyentuhnya sama sekali. “Oke, makasih,” ujarnya tanpa melihat Esa. Kiara kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Berusaha untuk tidak melakukan kontak apapun kecuali masalah urgent. “Listrik, air sama iuran RT, sudah aku yang tanggung,” lanjut Esa memberi penjelasannya. Karena bagaimanapun juga, mereka akan mengarungi hidup berdua selama sat

