Sepuluh: Lebih Dulu Pergi

2189 Kata
"kak Dio di mana?" tanya Aurora saat sambungan teleponnya dengan Dio telah terhubung. "aku di cafe Ra, kenapa?" "gak apa-apa. Tumben aja seharian ini gak chat" "kangen?" "biasa aja" "kangen juga boleh kok Ra" "apasih kak, udah malem loh ini. Kok masih di cafe?" "iya, masih banyak kerjaan" "banyak banget?" "lumayan" "hmm, oke deh" "kenapa Ra?" "gapapa" "beneran gak apa-apa atau lagi ada apa-apa?" "beneran gak apa-apa" "yaudah. Kamu kenapa belum tidur?" Aurora diam, terlalu malu jika dia langsung berterus terang kepada Dio jika dia belum tidur karena tengah menunggu kabar Dio "belum ngantuk aja kak" jawab Aurora akhirnya. "tidur Ra, besok kamu kuliah pagi" "hmm" "Ra, beneran gak ada apa-apa?" "iya kak, yaudah. Aku tidur" "iya Ra. Jangan mimpi ya, biar tidurnya nyenyak" "hmm" Aurora menutup sambungan telepon dengan Dio. Dia menghela napas dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Pandangannya fokus menatap langit-langit kamar yang polos. Ucapan Sinta selalu muncul di kepalanya. Menebak dan mengira-ngira apakah dia juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah Sinta alami sekarang. Satu sisi, Aurora merasa percaya, percaya jika suatu saat hal apa yang terjadi kepada Sinta juga dapat terjadi kepadanya. Tapi sisi lain dia juga menentang, baginya, Dio berbeda dengan laki-laki yang meninggalkan Sinta. Beda laki-laki, beda kelakuan kan? Tapi, bukahkan tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini? Aurora mengacak rambutnya kasar. Dia kesal! kesal karena otaknya harus memikirkan hal itu. Sudah berusaha di arahkan ke pikiran positif, malah belok lagi ke pikiran negatif. Sebal! Bangun dari tempat tidur, Aurora memutuskan untuk pergi ke dapur, dia perlu membuat s**u hangat agar lebih tenang dan bisa tidur. "Ra, lagi apa sayang?" Aurora langsung menoleh, tersenyum menatap papanya "bikin s**u pa, papa mau?" "papa gak minum s**u vanila Ra" Aurora tertawa pelan "iya pa, tahu. Papa cuma minum s**u mama aja" "Ra! hush! Kedengeran mama kamu, papa bisa auto tidur di luar" Aurora tertawa lebih keras "muka papa lucu banget" ledeknya. "lagian kamu, gak ada hujan gak ada angin, tapi omongan kamu kaya petir" "papa mau kopi? Rara bikinin sekalian" "makasih sayang" Aurora mengangguk, menggeser gelas berisi s**u miliknya ke samping dan lanjut membuat kopi untuk Ega. Sedangkan sang papa menunggu di kursi meja makan. "kenapa gak bisa tidur, Ra?" tanya Ega kemudian. "papa tahu?" Aurora menoleh sebentar sebelum memasukkan air panas ke dalam cangkir yang sudah berisi kopi. "apa sih yang gak papa tahu tentang anak kesayangan papa" Aurora tersenyum di balik punggungnya, setelah selesai, dia membawa kopi dan s**u miliknya ke meja makan, meletakkan kopi ke hadapan Ega. "mau cerita sama papa?" tanya Ega lagi setelah Aurora duduk di hadapannya. "bingung mau cerita apa" "terlalu banyak yang menuhin kepala Rara?" Aurora mengangguk, lalu meneguk s**u vanilanya. "salah satunya?" "bingung" Ega tersenyum hangat "anak papa ternyata udah besar ya. Kayanya baru kemarin papa gendong kamu, bantu mama gantiin popok kamu, gak sengaja jatohin kamu pas lagi main kuda-kudaan" "papa ih, jahat!" Aurora langsungg protes. Ega tertawa pelan "gak sengaja Ra, kamu gak bisa diem abisnya" Aurora menghela napas "pa, kalau aku nikah muda, gimana?" "siapa Ra? siapa yang lamar kamu?!" nada suara Ega langsung berubah panik. Aurora berdecak "gak ada pa, Rara cuma iseng aja tanya" "jangan-jangan Dio lamar kamu? iya?!" tuduh Ega. "apasih pa, ngaco banget" boro dilamar, hubungan aja gak ada status jelas. Lanjut Aurora dalam hati. "bagus deh kalau begitu. Awas aja kalau dia sampe berani lamar kamu" Aurora mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pernyataan sang papa "emang kenapa pa?" "gapapa" Aurora masih diam, menatap Ega. "gak apa-apa sayang" ulang Ega dengan yakin. "jadi pa, kalau aku nikah muda gimana?" Aurora kembali ke pembahasan sebelumnya. Meskipun belum puas dengan respon sang papa mengenai Dio. Ega menghela napas, lalu menggeleng "engga deh, sayang. Papa gak akan setuju" "kenapa? aku padahal pengen nikah muda loh pa" "gak. Gak ada. Papa gak setuju kalau kamu nikah muda" tolak Ega. "Pa, tahu gak? katanya nih ya pa. Kalau perempuan, pendidikannya semakin tinggi, apalagi dokter, bakal semakin susah cari cowok, alias suami, soalnya laki-lakinya pada minder duluan. Kalau gitu, nanti aku jadi perawan tua gimana? aku gak mau loh pa" "mana ada. Itu artinya cowonya aja yang lemah dan gak cocok sama kamu. Anak papa ini cantik, pinter, baik. Pasti bakal gampang cari jodoh." "jadi gak boleh nikah muda?" "jangan dulu deh, sayang" "terus, kira-kira, kapan aku bisa dapat lampu hijau?" "setelah kamu dapet gelar dokter. Baru papa kasih lampu hijau" Aurora mengangguk, mengerti. "jadi, hal itu yang bikin Rara gak bisa tidur?" Aurora hanya tersenyum. "engga juga, itu Rara cuma iseng aja nanya" "kirain udah ada yang lamar Rara" "mana ada!" "yaudah, sekarang abisin susunya, terus ke kamar, gosok gigi dan tidur" "iya pa. Papa mau kerja lagi?" Ega mengangguk "iya, masih ada satu berkas yang harus papa periksa" "semangat papa!" Ega tersenyum hangat "terima kasih sayang" *** Aurora menghela napas, lalu memasukkan ponselnya kembali kedalam tas. Kuliahnya sudah selesai, tapi sejak dia bangun hingga kini pukul tiga sore, Dio belum mengirimkan pesan apapun kepadanya. Intensitas komunikasi dia denga Dio mulai menurun sejak dua hari yang lalu. "kenapa sih, lagi ada masalah sama mas pacar?" tanya Sinta, kondisi Sinta sudah jauh lebih baik, dia sudah mau tersenyum dan bercanda seolahh dia tidak pernah menghadapi badai sebelumnya. Aurora senang melihatnya. "mana ada. Gak ada" "awas, kalau berantem jangan lama-lama, nanti di gondol orang" "apasih Sin, gak ada yang berantem" "yaudah, mending kita ngemall, gue lagi pengen makan yang manis-manis nih, biar makin happy" Aurora mengangguk, lalu melangkah ke parkiran bersama Sinta. "tumben banget hari ini bawa mobil, lo mau ke mana emang?" tanya Aurora sambil memasang sabuk pengaman. Dia sudah berada di dalam mobil Sinta. "mau balik ke rumah. Udah kangen emak" jawab Sinta lalu mulai menjalankan mobil. Karena lokasi kos dan kampusnya dekat, Sinta memang jarang menggunakan mobilnya, bahkan hampir tidak pernah. "tumben kangen emak, biasanya lo ngomel kalau emak lo udah spam chat nyuruh pulang" "tobat gue Ra." jawab Sinta dengan santai lalu tertawa, begitupun dengan Aurora yang juga ikut tertawa. "kejadian kemaren tuh bener-bener bikin gue banyak introspeksi diri Ra. Gue yang biasanya weekend lebih milih jalan sama si k*****t daripada pulang ke rumah. Lebih banyak cerita ini dan itu ke si k*****t. Lebih perhatian ke si k*****t. Eh ujung-ujungnya di tinggal. Padahal emak gue selalu berusaha untuk ada, selalu nawarin diri buat jadi temen curhat, tapi guenya aja buta. Bulol banget alias bucin t***l" "jadi balik ke rumah mau minta maaf nih?" "yomsss." "sorry to say. Berarti, si mantan lo itu bawa pengaruh kurang baik ya Sin?" "mana ada mantan, pacaran aja kaga" "mantan demen, Sin. Bukan mantan pacar" "kutil lo! tapi setelah di pikir-pikir. Emang iya sih, gue sama orang tua gue jadi gak terlalu deket kaya dulu karena apa-apa pasti sama dia. Pokoknya Ra, jangan sampe lo juga ngerasain kaya gue. Gak lucu Ra kalau kita senasib." "iya Sin, semoga setelah ini, lo menemukan laki-laki yang tepat buat lo" "gak dulu deh, mau sendiri aja dulu" "yaudah. Terserah. Pokoknya yang terbaik buat lo" Tiba di mall, Aurora dan Sinta langsung pergi ke salah satu restoran Jepang untuk makan siang. Sebenarnya saat di kantin kampus mereka sudah mengisi perut dengan beberapa cemilan. Tapi karena energi mereka kembali di pakai untuk berpikir di kelas lagi. Perut mereka kini kembali lapar. "sumpah ya, ini otak kebanyakan mikir jadi gampang laper" keluh Sinta setelah pelayan yang mencatat makanan mereka berdua pergi. "emang. Mana tadi gue susah banget ngerti. Fokusnya harus double biar itu ilmu nyerep ke otak" "bener banget Ra. Ternyata ambil kedokteran susah ya. Harus banyak tobat gue biar otak gue bersih dan pelajaran bisa masuk dan menetap. Gak cuma punten doang di kepala gue" "lo kenapa dah Sin pilih kedokteran?" Bukan langsung menjawab, Sinta malah tertawa terlebih dahulu. "kocak sih, gue gak pernah bilang ini sama siapapun. Termasuk orang tua gue" "lah kenapa?" "malu anjiiiirrr" "jadi?" "gue milih masuk kedokteran gara-gara liat dokter ganteng" Sinta kembali tertawa, pandangannya seolah menerawang ke masa lalu. "lah kocak" "emang. Jadi waktu itu gue sakit, di bawalah gue ke rumah sakit sama my emak. Eh diperiksa sama dokter ganteng bangeeeet. Anjir, gue yang sakit jagi gak kerasa apa-apa alias gue langsung ngerasa sehat,salting banget gue waktu itu. Abis itu, gue nunggu emak gue di taman, emak gue ada urusan dulu sama temennya yang kerja di Rs itu. Eh terus ya, gue liat itu dokter ganteng jalan sama dokter cewek, lah anjiiirr. Gue langsung sedih, terus bertekad kalau gue harus masuk kedokteran, biar kaya dokter cewek itu, bisa dapet dokter cowok ganteng. Terus apesnya, kemaren gue malah nyantol ke anak ekonomi yang kelakuannya begitu." jelas Sinta dengan penuh semangat. "Fix. Gak jelas sih, kocak lo. Tapi Sin, siapa tahu next jodoh lo dokter ganteng, kaya impian lo dulu" "emang! Se random itulah gue. Tapi gue aamiin aja deh kalau soal jodoh" sahut Sinta dan mereka berdua kembali tertawa. "pantes lo gue tanyain alasan masuk kedokteran gak pernah jawab bener, cuma bilang adalah, adalah" "malu anjir, lo sama gue baru kenal. Terus gue cerita begitu, apa gak bakal di anggap freak? jaga reputasi lah gueee" "iya sih. Aneh banget soalnya" "tapi kalau di pikir lagi. Banyak sih yang aneh kaya gue. Banyak juga yang ambil kesehatan kaya perawat atau bidan buat gebet cowok berseragam" "gak boleh gituuu" "gue liat di medsos begitu Ra, liat komen netijen" "ya mau karena apa mereka pilih kesehatan, gue harap, saat ketemu pasien, mereka bisa melaksanakan tugas dengan sepenuh hati." "bener. Kaya gue" "dih, sapa lo?" "dihh, meskipun alasan masuk kedokteran gue aneh. Sekarang gue sudah bertekad untuk menjalaninya dengan baik. Thank to dokter yang jadi pemacu semangat gue buat masuk kedokteran. Karena dia juga, gue bisa bikin emak sama papa gue seneng anaknya milih kedokteran." "iya. Sin. Semoga di masa depan nanti, kita bisa menjadi dokter yang hebat ya" "yomaan" Makanan pesanan mereka datang, keduanya makan dengan lahap sambil sesekali mengobrol hal ringan. Hubungan Aurora dan Sinta memang belum bisa dikatakan sahabat yang selalu berbagi cerita, berbagi perasaan suka dan duka dan selalu ada. Tapi hubungan keduanya juga tidak bisa di katan tidak dekat. Satu hal yang Aurora rasakan setelah Sinta mengalami patah hatinya. Hubungannya dengan Sinta semakin dekat, apakah Sinta bisa menjadi sahabatnya? Selesai makan, mereka lanjut pergi ke bioskop. Sinta yang memaksa, dia ingin menonton salah satu film horor. Setelah mendapatkan tiket dan membeli beberapa cemilan, Aurora dan Sinta menunggu di kursi yang berada di depan teater. Sayangnya, mood Aurora yang tengah bagus langsung merosot tajam setelah melihat Dio bersama dua orang wanita keluar dari teater lain. Aurora tidak tahu siapa wanita itu, tapi mereka terlihat cukup akrab dengan Dio. "kenapa Ra?" Aurora langsung menoleh ke arah Sinta "gapapa" "lo takut?" "biasa aja. Lo takut?" Aurora balik bertanya. "setelah di pikir-pikir, gue mulai takut Ra" "dih, gak jelas. Mau ganti film?" "engga deh, sayang anjirr tiketnya. Gas aja" Aurora mengangguk. Dia kembali menoleh mencari sosok Dio, tapi tertanya sosok itu sudah tidak terlihat lagi. *** Dio menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah terlalu larut untuk dia menghubungi Aurora. Pekerjaannya benar-benar padat, kepalanya terasa ingin pecah. Tapi tidak tidak boleh menyerah. Ada banyak tanggung jawab di pundaknya. Pintu kamarnya di ketuk, lalu terdengar suara lembut sang bunda yang meminta izin masuk. "masuk bun" ucap Dio sambil mengubah posisinya menjadi duduk. "udah mandi kak?" tanya Qiana yang masuk sambil membawa segelas s**u putih. Dio mengangguk "bunda kok belum tidur?" Qiana tersenyum hangat, lalu duduk di sisi tempat tidur, menghadap Dio "minum dulu susunya. Kakak pasti capek" Dio meneguk habis s**u yang di buatkan sang bunda. Bunda Qiana, wanita kuat yang menjadi salah satu semangatnya. "kerjaan kakak banyak banget ya?" Dio mengangguk "lumayan bun" "jadwal makan kakak juga pasti gak bener. Sesibuk apapun, kakak tetep harus makan" "iya bunda" "makasih ya kak" "untuk?" "untuk menjadi kakak yang hebat. Bunda bangga banget sama kakak. Kakak sudah menjadi contoh yang begitu baik untuk adik-adik kakak. Kakak juga sudah menjadi harapan untuk bunda dan papa. Maaf kalau bunda dan papa memberikan tanggung jawab yang besar ke pundak kakak" "bunda. Jangan minta maaf, aku yang mau. Bunda dan papa selalu kasih waktu untuk aku memilih apa yang ingin aku jalani dan aku memilih untuk melanjutkan apa yang sudah papa dan bunda jalani." Qiana tersenyum lembut "terima kasih ya kak. Bunda dan papa benar-benar tenang. Kalau nanti kita berdua pergi, bunda dan papa percaya, kakak pasti akan menjadi pengganti bunda dan papa yang hebat" "bunda. Bunda dan papa pasti berumur panjang. Sosok bunda dan papa juga sampai kapanpun gak akan pernah tergantikan. Jadi, daripada overthinking, mending bunda istirahat ya, papa pasti rewel kalau tahu bunda gak ada di sebelahnya" goda Dio. Qiana tertawa pelan, lalu bangkin dari duduknya, meraih gelas kosong bekas s**u untuk dia bawa keluar "kakak juga istirahat ya" Qiana mengusap lembut kepala Dio. "iya bunda" Qiana keluar kamar, lalu Dio kembali menghempaskan tubuhnya, menatap kosong langit-langit kamar. Dia selalu tidak suka jika sang bunda menyinggung tentang kepergian. Tidak, sampai kapanpun, dia tidak akan siap. Dia ingin egois, meminta kepada Tuhan agar umur kedua orang tuanya panjang. Dia tidak siap di tinggalkan, tapi jika memang mereka harus berpisah, dia memilih untuk menjadi pihak yang lebih dulu pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN