Bab 5. Demi Hati Nurani

1114 Kata
Tiara turun dari mobil dan segera mencari minimarket terdekat. Dia berusaha menjalankan perintah bosnya dengan segera membeli pembalut, celana dalam sekali pakai, dan juga tisu. Hanya itu yang bisa Tiara beli saat ini. Tiara ragu jika harus membeli rok juga karena harganya cukup mahal untuk kantongnya. Tiara memilih mampir ke toilet dan mencuci bagian yang kotor di roknya. Tak lupa ia juga mencuci dalamannya dan menggantinya dengan yang baru, pembalut pun sudah terpasang. Cukup puas dengan keadaannya, Tiara yang sudah merasa nyaman akhirnya kembali ke mobil Arya. Dia mengeluarkan tisu basah, kemudian menyeka jok kursi tempat dia duduk dengan penuh kehati-hatian. “Untung aja ini kulit, jadi nggak meresap,” gumam Tiara berbicara sendiri sambil membersihkan noda yang dia tinggalkan. Setelah bersih, ia pun kembali duduk di dalam mobil sambil menanti sang bos datang kembali. Tak lama dari itu, Arya berjalan mendekat ke arah mobil dengan tatapan yang kosong. Pria ini masih terdiam, bahkan ketika memasuki mobil, Arya masih saja memikirkan ucapan Arnold. Pak Arya kenapa? Tiara tak berani mengucapkan pertanyaannya ini. Padahal, dia tahu jika ada yang tak beres dengan bosnya. Mobil pun kini kembali menyala. Arya meraih setir mobilnya dan memulai perjalanan. Selama perjalanan Arya masih saja diam. Dia hanya fokus menatap jalanan. Namun Tiara ternyata masih merasa tak nyaman dengan keadaannya. Rok yang dia kenakan masih terasa basah, bahkan menembus dalamannya. Rasanya ragu jika harus kembali seperti ini ke kantor. Melihat jalan yang mereka lalui akan melewati rumah kontrakan Tiara, gadis ini langsung berteriak demi menghentikan mobil yang ditumpanginya. “Pak! Depan belok kiri! Mampir bentar, Pak!” Sontak hal ini membuat Arya–yang tadinya lupa jika ada Tiara di sampingnya–langsung membelokkan setir ke kiri seperti yang diperintahkan, dan menghentikan mobilnya sejenak. “Kamu? Kenapa kamu masih ada di sini?” Arya mendadak emosi kembali. “I-itu, Pak. Ta-tadi kan…” Tiara yang ketakutan lagi-lagi jadi gagap. “Apaan, sih? Ngomong gagu mulu!” Tiara menundukan kepala, tak berani memandang Arya lagi, ataupun mengatakan apa-apa. “Hiisshh! Terus ini ngapain saya disuruh belok kiri? Mau mampir ke mana emangnya?” Tiara kembali mengangkat kepala sambil menunjukan arah rumahnya kepada Arya dengan jari telunjuk. Pandangan mata Arya pun mengikuti arah telunjuk Tiara, tapi dia tak paham maksud wanita ini. “Apa sih? Ngomong, dong! Punya mulut ‘kan?” Suara Arya masih saja terdengar nyaring. “Sa-saya… mau ganti dulu, Pak. Ini basah. Boleh nggak, mampir ke rumah sebentar?” ucap Tiara dengan begitu hati-hati sambil mencekram erat roknya. Mendengar ucapan Tiara barusan, pikiran Arya malah jadi ke mana-mana lagi membayangkan sesuatu tentang wanita ini. Mampir? Dia … ngajak aku mampir? Ini dia lagi godain aku apa gimana, sih? Mau … ngajakin aku gituan di rumahnya? Cih! Berani banget nih cewek. Pikiran Arya kembali melantur. Tubuhnya bahkan jadi merasa panas membayangkan adegan dalam pikirannya yang mungkin saja terjadi. “Pak? Gimana? Boleh, ya? Sebentaarr … aja,” pinta Tiara dengan penuh permohonan. Tak tahan dengan pikirannya yang semakin kacau, Arya akhirnya memutuskan untuk mengusir Tiara. “Udah, ya, Tiara. Mending kamu pulang sendiri aja. Enak aja kamu nyuruh-nyuruh saya mampir ke rumahmu. Memangnya saya cowok apaan?” “Ma-maaf, Pak. Bukan begitu maksud saya.” “Udah, deh! Mending kamu turun dari mobil saya sekarang! Sana pulang ke rumah sendiri!” “Ta-tapi Pak …” “Nggak ada tapi tapian! Udah sana pergi, atau kamu saya pecat sekarang juga!” “Ja-jangan, dong, Pak …” “Ya udah sana turun!” Melihat begitu tegas bosnya mengusir dirinya, Tiara akhirnya mengalah dan menuruti perintah Arya. Dia segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke rumah kontraknya. Sayangnya, nasib sial kembali menghampiri Tiara. Saat sampai di depan rumah, ia pun dikejutkan dengan hal yang tidak disangka-sangka. “Astaga! Bu Dini! Jangan, Bu…!! Tolong jangan seperti ini!” Tiara berlari menghampiri sang pemilik rumah dan berusaha menghentikan tindakan wanita paruh baya itu. Dia tidak menyangka, jika pemilik rumah ini tega mengeluarkan barang-barang miliknya dari dalam rumah, sebagai tanda pengusiran. “Minggir kamu Tiara! Sekarang kamu nggak boleh tinggal di sini! Sudah telat bayar sewa! Berani ganggu suami orang lagi! Bikin saya nggak tenang saja!” “Tapi, Bu… Saya nggak menggoda suami Ibu…” “Alah alasan!” Bu Dini menepis tangan Tiara. “Bu, justru suami ibu…” Tiara hendak melaporkan perbuatan Pak Jamal–suami Bu Dini. Tapi pria itu memelototinya dari jauh, sambil memberi gerakan tangan seolah sedang mengancam akan menggoroknya. “Kamu mau nuduh suamiku? Dia sendiri bilang katanya kamu godain dia kemarin waktu dia mau nagih uang sewa. Kamu tu bener- bener gak tau diri!” sentak Bu Dini tegas. “Saya akan bayar uang sewa bulan ini, Bu. Saya baru kerja. Saya janji akan melunasinya,” ucap Tiara yang kini berlutut sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia memohon-mohon dengan perasaan putus asa. Saat kejadian berlangsung, Arya yang baru saja menjalankan mobilnya kembali, tanpa sengaja melihat keadaan Tiara. Dia jadi menghentikan mobilnya lagi, dan menurunkan kaca mobil untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. “Saya mohon, Bu… Ijinkan saya tinggal di sini, untuk bulan ini saja… Saya akan pindah setelahnya,” ucap Tiara dengan penuh tangisan, bahkan sampai bersujud di kaki Bu Dini. Arya kembali melajukan mobilnya, melewati rumah tersebut. Dia berusaha untuk tak peduli dengan keadaan Tiara saat ini. Hanya saja, lama kelamaan hatinya merasa tak tenang sendiri. “Hais! Lagian kenapa, sih, dia sampe mohon-mohon kayak gitu? Nggak ada harga dirinya sama sekali!” oceh Arya, kesal sendiri. Arya pun menyadari ada seorang pria tua bangka bertubuh bogel, dengan perut menggembung memperhatikan Tiara dengan senyum m***m. Hal ini semakin membuat Arya merasa terganggu. Merasa hati nuraninya ternodai jika pergi seperti ini, Arya memutuskan memutar arah dan kembali menuju ke rumah Tiara. Tanpa berpikir panjang, Arya segera turun dari mobil dan langsung mengambil koper-koper yang terbuang di halaman rumah kontrakan Tiara. “Heh! Siapa kamu? Berani-beraninya ambil barang orang! Kang rosok, ya? Kok gaya banget mobilmu?” oceh Pak Jamal mengomentari tindakan Arya yang datang tak diundang. Rasanya tak suka dengan pria yang terlihat kaya raya ini. Tiara refleks menoleh, menatap orang yang dimaksud. “Pak Arya?” gumamnya, sambil berdiri. Arya yang sedang menenteng dua koper kanan kiri kini jadi menghentikan langkahnya. Rasanya tak terima dibilang Kang Rosok oleh pria bogel jelek itu. Arya segera memasukan koper ke dalam mobilnya, kemudian kembali menghampiri pemilik kontrakan. Tanpa berkata-kata, Arya mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengambil uang yang bisa diraihnya, lalu menghamburkannya ke wajah pasangan suami istri tersebut. “Itu untuk bayar uang sewa! Jangan berani-berani ganggu Tiara lagi. Kalau kalian berani ganggu dia lagi, kalian yang bakal jadi rongsokan! Dasar sampah masyarakat!” tegas Arya sambil menarik tangan Tiara, membawanya pergi dari tempat ini. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN