Fre 2. malu tapi mau

853 Kata
“Awwww!” teriak Fre ketika kran air di kamar mandi kamarnya terbuka dan menyemburnya. Tak lama kemudian, Stenly sigap datang ke kamar Fre dan melihat Fre hanya mengenakan handuk putih dari dadanya dan hanya sampai diatas pahanya, memperlihatkan kulitnya yang putih. Stenly lalu menarik Fre dan membawanya menjauh dari air yang disembur itu. “Kamu di sini dulu, nanti aku panggil tukang.” “Baik,” jawab Fre. “Kamu baru mau mandi atau sudah mandi?” “Baru mau mandi,” jawab Fre. “Kamu mandi di kamar saya saja,” kaa Stenly. “Tapi—” “Tidak apa-apa, kamu nanti terlambat ke kampusnya.” Fre mengangguk lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pamannya. Fre merasakan detak jantungnya yang semakin tak karuan saja. Karena ia terlihat seksi sekali didepan pamannya. Fre memegang dadanya dan masuk ke kamar pamannya, wangi sekali di sini, rapi dan menenangkan, Fre tersenyum melihat setiap posisi furniture di kamar pamannya. Isi kamarnya seolah memberi penilaian kepada dirinya bagaimana pamannya. Fre lalu masuk ke kamar mandi dan menanggalkan handuknya, menyalakan shower dan berdiri dibawa air yang mengalir. Beberapa menit kemudian, Fre keluar dari kamar mandi dengan handuk yang sama, Fre terkejut melihat pamannya sudah duduk di tepi ranjang dengan menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Pa-paman?” “Sudah mandi?” Fre menganggukkan kepala. “Ya sudah. Kamu ganti baju, aku antar ke kampus.” Fre mengangguk lalu melangkah buru-buru keluar dari kamar pamannya, hal ini benar-benar menggodanya, Fre tidak tahu apakah jantungnya akan terus tak aman seperti ini? Setiap berdekatan dengan pamannya, ia terlihat sangat gelisah. *** Kini mereka tengah diperjalanan menuju kampus, Stenly mengemudikan mobilnya dan melintasi macet, ya Jakarta memang terkenal dengan macet, apalagi di pagi hari seperti ini, jadi sudah wajar jika Fre lebih awal ke kampus agar tidak terlambat. Fre menoleh sesaat melihat pamannya. “Ada apa?” tanya Stenly. “Heem?” “Kamu melihatku. Ada apa?” tanya Stenly lagi. “Nggak ada, Paman.” “Oke.” “Paman, Bibi mana? Biar aku juga mengenal Bibi.” Fre belum tahu pamannya sudah menikah atau belum, namun ia harus memancing Stenly agar ia tahu apakah pamannya jomblo atau memang sudah ada yang memiliki? “Aku sudah bercerai.” Stenly menjawab. “Bercerai? Jadi, Bibi sudah nggak ada?” “Iya. Aku sudah berpisah.” “Terus anak Paman dan Bibi?” Fre jadi semangat menanyakan hal yang seharusnya tak perlu ditanyakan. “Kami tak punya anak, karena menikah hanya sampai 5 bulan.” Stenly menjawab pertanyaan Fre. “Kok bisa, Paman?” “Ya. Bisa saja. Jika semua dipaksakan.” “Terus Bibi?” “Dia sudah menikah lagi.” Stenly menjawabnya dengan cukup santai. Fre mengangguk, akhirnya ia paham, pantas saja di rumah pamannya tidak ada siapa pun selain ART itu pun ART akan datang dan pulang di waktu yang sudah ditentukan. Fre memilih diam, ia tidak enak lagi jika harus bertanya. Butuh waktu hampir 20 menit perjalanan sudah dengan macet, mereka akhirnya sampai di depan pelataran parkir kampus. Fre duduk diam dan memejamkan mata, lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Stenly tersenyum melihatnya. “Paman, terima kasih sudah mengantarku,” ucap Fre. “Kamu pulang jam berapa?” “Jam 2 siang.” “Baik. Aku akan menjemputmu jam 2 siang.” “Jika Paman sibuk, nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” “Kantorku searah dengan kampusmu, jadi aku bisa langsung mampir kemari jemput kamu. Kalau sempat,” sambung Stenly. “Oh iya.” Stenly meraih dompetnya dan memberikan satu kartu debit untuk Fre. “Apa ini?” tanya Fre. “Ini kartu debit, seperti yang kamu lihat.” “Tapi, ini untuk apa?” “Kamu gunakan untuk jajan atau beli apa pun yang kamu mau. Aku tahu, ayahmu tidak memberimu uang jajan setelah kejadian itu, ‘kan?” “Paman tahu darimana?” “Aku tahu segala hal tentang kamu, aku juga tahu bagaimana sikap ayahmu.” Fre mendesah napas halus. “Apakah paman harus memberikannya?” “Tentu. Kamu keponakanku, jadi aku memiliki kewajiban seperti ayahmu.” Fre mengangguk, lalu berkata, “Aku terima ya, Paman, dan terima kasih karena akhirnya aku bisa jajan.” “Jajan sepuasnya, traktir teman-temanmu jika diperlukan. Tak perlu berpikir jika habis bagaimana, isinya tak akan pernah habis, jadi gunakan saja sesuka hati kamu.” “Apa ada batas jumlahnya yang harus aku belanjakan?” “Sudah aku bilang, gunakan sepuasnya dan sesuka hatimu.” “Terima kasih ya, Paman,” ucap Fre. Stenly mengangguk dan kembali membelai rambut Fre. Ada rasa nyaman yang Fre rasakan setiap kali sentuhan Stenly menyentuh kepalanya. Fre lalu turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Fre lalu melangkahkan kakinya masuk ke Gedung kampus, sementara Stenly sudah meninggalkan area kampus. Fre menjadi bahan tontonan oleh semua mahasiswa yang tahu kasusnya, namun Fre tak akan goyah hanya karena tatapan semua orang, Fre mengingat pesan pamannya, ia cuek saja, semua orang pasti akan melupakannya. Tak lama kemudian, seorang wanita datang dan memeluknya. Fre tertawa kecil dan menggelengkan kepala, ia mengira temannya saat ini tidak akan mengenalnya lagi karena kasusnya, ternyata orang pertama yang menyambutnya adalah Jema, temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN