#R – Pertemuan dalam Bingung

1551 Kata
Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan sumber daya alamnya, banyak keindahan yang tercipta disetiap seluk pulau tanpa disadari kebanyak orang karena mata mereka sudah lebih dulu tergiur keindahan dibelahan dunia lainnya, mungkin bagi sebagian orang yang tinggal di Indonesia akan memiliki perasaan beragam dihati mereka, tapi bagi sebagian orang yang sudah lama meninggalkan negara Indonesia, negara itu akan menjadi negara yang sangat dirindukan. Kemarin, adalah hari pertamanya datang ke Indonesia, hari pertamanya menginjakkan kaki dan berjalan di kota Jakarta setelah bertahun – tahun dia meninggalkan tanah air tercintanya. Kerinduannya membuncah begitu saja saat dia sadar jika tanah yang diinjaknya setelah keluar dari dalam pesawat adalah tanah kelahirannya, tanah negeri ibu pertiwi, dan langit cerah yang menaunginya adalah langit Indonesia tempat dimana sang garuda mengepakkan sayapnya, membentangkan seberapa lebar sayap yang dia punya untuk mengisyaratkan seberapa luas dan lebar negara Indonesia. “Aku pulang Indonesia …” “Aku pulang Mamah, Papah, Kakak …” Muhammad Raga Angga, kerapkali disapa Angga, sejak memasuki sekolah menengah pertama Angga sudah diboyong kakek dan neneknya tinggal di Kairo, saat itu orang tunya hanya bisa mengizinkan ketika nenek dan kakeknya ingin mengajak cucu laki – lakinya tinggal bersama mereka. Kemarin setelah tiga pekan lalu dia mendapatkan surat kelulusan dari sekolah, Angga memutuskan untuk langsung terbang menuju tanah air. Angga memutuskan melanjutkan pendidikannya di Indonesia selain kerena keinginannya tapi karena permintaan ibunya juga. Di hari kepulangannya Angga tidak memberi tahukan siapapun, baik itu ayahnya, ibunya, ataupun kakaknya. Kehadirannya yang tiba – tiba berhasil membuat ibunya menangis antara karena bahagia dan terharu, karena melihat putra bungsunya yang 6 tahun tinggal di Kairo akhirnya pulang.  “Mamah, please jangan bilang sama Kakak kalau udah pulang, aku mau kasih dia kejutan, ya Mah ya” “Iya Mamah gak akan kasih tahu” “Aku sayang, Mamah” ujar Angga, sambil mengecup singkat pipi mamahnya kemudian berlalu pergi setelah mencium tangannya terlebih dahulu Setelah berangkat dengan drama berpamitan kepada mamahnya yang meminta agar jangan memberi tahukan keberadaannya kepada sang kakak, karena memang hari ini Angga berencana akan menemui kakaknya yang sekarang sudah menikah. Namun, sebelum pergi menemui kakaknya Angga memutuskan untuk mencari hadiah yang akan dia serahkan sebagai hadiah pernikahan sekaligus hadiah permintaan maaf karena tidak bisa datang di hari pernikahan kakaknya. Toko buku adalah tempat yang Angga pilih untuk mencari hadiah kepada kakaknya, karena Angga tahu jika kakaknya sangat menyukai buku. Matanya dengan cermat memilih buku – buku yang tersusun di atas rak. “Keteguhan Muhammad dan dan Sejatinya Cinta Fatimah Bersama Ali” batin Angga, membaca satu buah judul buku yang terselip dalam jajaran beberapa buku lainnya. Judul buku itu berhasil menarik perhatian Angga, dia sangat yakin jika kakaknya pasti akan sangat menyukai buku tersebut. Angga langsung mengambil bukunya, tapi belum sempat tangannya mengambil, ada tangan lain yang sudah berhasil mengambil buku itu lebih dulu. “Cantik,” satu kata itulah yang pertama kali Angga ucapkan di dalam hatinya saat dia melihat sosok gadis yang sudah lebih dulu mengambul buku yang ingin dia ambil. Tatapan matanya seakan mampu membuat Angga tersihir hingga laki – laki itu tidak sadar jika buku incarannya sudah dibawa pergi oleh gadis itu menuju kasir. “Saya yang bayar, berarti buku ini milik saya” ujarnya, saat Angga berusaha meminta buku itu yang memang sudah dia bayar di kasir. Kemudian, setelah mengucapkan kalimat yang menurut Angga terdengar menyebalkan dengan nada dingin dan ekspresi datar, dia berlalu pergi begitu saja. Meliha hal itu, Angga tentu merasa kesal, kekaguman Angga pada kecantikan gadis itu hilang seketika saat dia tahu jika gadis itu terkesan menyebalkan di mata Angga. Jika sudah seperti itu, Angga juga tidak bisa melakukan apapun kacuali berpasrah merelakan buku itu menjadi milik orang lain. Kehilangan mood mencari buku untuk kakaknya, Angga memilih untuk mencari hadiah lain untuk kakaknya, dia berniat berkeliling di area mall, mencari sesuatu yang sekiranya bisa dia berikan sebagai hadiah kepada kakaknya. Namun, baru saja Angga keluar dari dalam toko buku, tiba – tiba dari arah sebelah kanan ada seseorang yang berlari dan tanpa sengaja menabraknya. Tubuh Angga sempat hampir kehilangan keseimbangannya tapi beruntung dia tidak sampai terjatuh, berbeda dengan orang yang sudah menabraknya, dia justru terjatuh dan terduduk di lantai tepat dibawah Angga yang masih berdiri dengan keadaan baik – baik saja. “Maaf, tadi saya sedang melamun, apakah kamu baik – baik saja ?” tanya Angga, sambil berjongkok dihadapan orang yang masih duduk setelah dia terjatuh. Tidak ada jawaban dari sosok perempuan yang saat itu baru saja menabraknya, dia hanya diam sambil menunduk, membuat helaian rambutnya menutupi wajah, sehingga Angga tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kemudian, dengan tiba – tiba tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia berlari membuat dahi Angga berkerut bingung dengan sikap perempuan itu. “Bukannya ini buku yang di beli sama cewe es itu, ko di sini, apa jangan – jangan yang barusan nabrak cewe es itu ya” gumam Angga, sambil memungut novel yang sempat tadi dia perebutkan, tapi sekarang tergeletak dihadapannya, dan Angga yakin novel itu adalah novel perempuan yang beberapa saat lalu baru saja menabraknya.  Angga terkekeh kecil saat tanpa sengaja menemukan sebuah foto yang terselip dari novel yang dia temukan, sebuah potret gadis yang tadi dia temui sedang mengerucutkan bibir dengan mata jeleng dan rambut acak – acak, sepertinya dia baru saja bangun tidur karena di dalam foto dia terlihat sedang duduk diatas ranjang, dengan baju tidur dan setengah tubuhnya masih dibalut selimut. Selama beberapa saat Angga sempat tenggelam memandang wajah gadis dalam foto tersebut, dia terlihat cantik, manis, dan menggemaskan, hanya saja Angga tahu jika gadis itu tidak semanis yang terlihat di foto, karena aslinya dia terlihat dingin, kaku, dan datar. “Pinjem dulu bukunya ya, nanti kalau ketemu lagi janji aku balikin,” Angga bermonolog sendiri dengan foto yang masih berada dalam genggamannya, kemudian dia memasukkan foto itu ke dalam saku celananya bukan menyelipkannya kembali dalam buku seperti semula. Setelah itu, Angga memilih untuk menjelajahi mall mencari hadiah yang sekiranya bisa dia berikan kepada kakaknya. Namun, lama berkeliling tidak ada satupun ide yang muncul dalam kepalanya mengenai apa yang bisa di berikan, karena sejak kecil Angga tidak pernah mendengar kakaknya menyukai suatu hal kecuali buku. “Kenapa enggak kasih tasbe yang waktu aku beli sebelum pulang, kan beli dua,” Angga menepuk dahinya saat dia menyadari kebodohannya sendiri. Angga langsung bergegas hendak pergi menuju rumah kakak dan kakak iparnya, karena kebetulan hadiah tasbe yang ingin dia berikan ada di dalam tas kecil yang saat itu kebetulan dia bawa. Namun, baru saja dia menaiki motornya, suara adzan Dzuhur terdengar berkumandang, Angga memutuskan untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu di masjid terdekat dari mall. “Untung ada masjid yang deket” gumam Angga, tepat saat dia masuk ke dalam masjid setelah dia selesai mengambil wudhu. Tepat setelah Angga mengakhiri shalatnya, tanpa sengaja dia mendengar suara isak tangis, suara yang awalnya Angga pikir hanya perasaannya saja, tapi lama kelamaan suara itu terdengar semakin jelas masuk ke dalam indra pendengarannya. Karena penasaran, Angga memutuskan untuk naik dan memeriksa siapa yang ada di lantai dua masjid. Saat langkah kaki Angga sudah berada di undakatan tangga terakhir lantai dua, Angga mengedarkan tatapannya hingga akhirnya dia bisa melihat sosok perempuan sedang menangis dipojok sambil memeluk lututnya sendiri, dan saat itu dia lebih terlihat seperti, takut. “Siapa ? kamu baik – baik saja ?” tanya Angga, sambil melangkahkan kakinya dengan ragu. Saat Angga sudah berhasil berdiri tepat di samping perempuan itu, Angga tidak mengeluarkan kalimat apapun, dia hanya diam sambil menatapnya, berusaha memastikan dan memprediksi bagaimana keadaanya. Kemudian, Angga berjongkok menyamakan tingginya dengan perempuan yang masih terdengar terisak menangis. “Ada apa ?” tanya Angga, dengan penuh ke hati – hatian. Namun, tidak ada tanggapan apapun yang perempuan itu katakan. Wajahnya masih terlihat menunduk dengan isak tangis yang belum mereda. Hal itu, berhasil membuat Angga bingung dengan apa yang terjadi pada perempuan itu, dan apa yang harus dia lakukan. Tiba – tiba, perempuan itu beringsut terlihat berusaha menjauh dari Angga, hal itu tentu saja membuat Angga semakin merasa kebingungan. “Jangan, aku mohon pergilah.. pergi !!!”  “Aku tidak memiliki maksud jahat, jadi sekarang aku mohon tenangkan diri kamu,” Angga berusaha membuat perempuan itu merasa jauh lebih tenang.  “Tenangkan hati dan pikiran kamu, beristigfarlah, ingatlah Allah akan selalu ada bersama kamu jangan takut” ujar Angga, masih berusaha menenangkan perempuan itu. “Ini minum dulu, agar kamu bisa merasa lebih tenang” lanjut Angga, sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada sosok perempuan di hadapannya. Cukup lama Angga menunggu, sampai akhirnya perempuan itu pelan – pelan mau mengangkat wajahnya, dan hal itu berhasil membuat seulas senyuman terbit dari bibir Angga. Rambut yang sejak tadi menutupi wajahnya perlahan mulai mengurai dan memperlihatkan wajahnya yang jujur saja menurut Angga terlihat, cantik. Tepat saat melihat wajah perempuan itu, Angga baru menyadari juga jika perempuan yang sedang ada di hadapannya adalah gadis yang tadi berebut buku dan tanpa sengaja menabraknya. “Pergi.. jangan pukul aku lagi, pergi !!!” teriaknya, sambil kembali beringsut menjuahi Angga. Perempuan itu terlihat semakin menangis histeris, wajah dan tatapannya terlihat sangat ketakutan. Hal itu, semakin membuat Angga merasa khawatir, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, saat itu Angga tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa karena saat itu hanya mereka yang berada di dalam masjid, Angga juga merasa tidak mungkin harus meninggalkan gadis itu begitu saja.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN