#R – Harap Dalam Perjuangan Terakhir

1212 Kata
Amel menatap wajah Risa yang masih terlelap tidur disampingnya, Amel kembali teringat dengan kejadian dini hari tadi, saat dimana dia melihat Risa menangis histeris dan terlihat sangat ketakutan, melihat keadaan Risa yang seperti itu Amel jadi berasa bingung dan khawatir dalam waktu bersamaan. Beruntung hari ini adalah hari libur, jadi dia masih bisa menunggu sampai Risa terbangun, karena dia tidak akan tenang jika pulang tanpa melihat dulu keadaan Risa, dan memastikan jika dia sudah baik – baik saja. Amel melirik jam dinding yang mengangtung dikamar Risa dan baru menunjukan pukul enam pagi, sambil menunggu Risa bangun Amel memutuskan untuk turun berharap didapur sudah ada Bi Imah jadi dia bisa ikut membantu. Tepat ketika kaki Amel menyentuh lantai dasar, dia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, dan benar saja di sana dia bisa melihat Bi Imah yang sudah mulai berkutat dengan bahan – bahan masakan yang akan dia buat  untuk sarapan. “Pagi Bi” sapa Amel, membuat Bi Imah yang sedang memotong beberapa sayuran menoleh kearahnya. “Pagi Non, sudah bangun ?” jawab Bi Imah, sambil kembali fokus pada kegiatan semulanya. Amel hanya menganggukan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan Bi Imah, kemudian gadis itu melangkah kakinya semakin mendekati Bi Imah, matanya menatap sekeliling mencari pekerjaan yang sekiranya bisa dia bantu. Namun, bingung akhirnya Amel menawarkan dirinya kepada Bi Imah secara langsung untuk membantunya, Bi Imah tentu saja sempat menolaknya, hanya saja Amel dengan segala keras kepalanya berhasil membuat Bi Imah mengalah dan membiarkan Amel membantunya. “Non Amel itu teman pertama yang Non Risa ajak main kerumah, sebelum – sebelumnya Non Risa enggak pernah ngajak temannya ke sini” ujar Bi Imah, berhasil membuat sebuah senyuman benar – benar merekah dari bibir Amel. “Ah masa Bi, aku seriusan teman pertama yang Risa ajak ke rumah ?”  tanya Amel, memastikan karena dia masih tidak percaya orang secerdas Risa tidak mempunyai teman yang mau datang bermain ke rumahnya. “Iya Non, sebenarnya Non Risa orangnya baik banget walaupun kadang sikapnya terlihat dingin dan acuh, tapi dia selalu peduli dengan lingkungannya ya walaupun tidak menunjukkannya secara langsung” jawab Bi Imah, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapanya dari kegiatan yang sedang dia lakukan. Amel mengangguk – anggukan kepalanya, menyetujui perkataan Bi Imah yang mengatakan jika Risa adalah sosok yang dingin dan acuh. Berbicara tentang Risa, Amel jadi teringat dengan kebiasaannya yang selalu mengkuti kemanapun Risa pergi, hingga membuat dia merasa risih. Apalagi yang paling lucu adalah ketika Amel sudah bicara panjang lebar, bertanya banyak hal tapi Risa hanya menatap Amel dengan tatapan tajam dan akhirnya membuat dia terdiam hanya menggunakan tatapan matanya. “Apa benar Sa, apa benar kamu enggak pernah mau memiliki teman di dalam hidup kamu, apa karena alasan itu juga kamu gak pernah ajak salah satu teman sekelas kamu datang ke rumah, tapi kenapa ?”  batin Amel, sambil melamun, ketika dia teringat memori – memori yang sudah dia lalui untuk mengganggu Risa. “Atau karena kelakauan kamu yang dingin, cuek, dan kakunya kebangetan jadi mereka takut temenan sama kamu”  lanjut batin Amel, sambil menahan tawa saat dia dengan lancang sudah meledek Risa. Amel melirik kearah jam yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, kemudian matanya melirik kearah tangga saat dia mendengar suara langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga. Ternyata, itu Risa yang sedang berjalan dengan penampilannya yang sudah jauh lebih segar, dia juga sudah tampak terlihat baik – baik saja. “Morning Sa” sapa Amel, saat dia sudah menghampiri Risa yang sedang duduk dikursi meja makan, dengan senyum ramah ceria yang tergambar diwajahnya. Tidak ada jawaban yang Risa sampaikan, gadis itu hanya melirik Amel sekilas kemudian meneguk air putih yang sudah dia ambil sebelumnya. Kemudian, tidak lama Bi Imah datang menyiapkan sarapan lalu setelah itu Bi Imah dan Risa duduk di meja makan yang sama untuk sarapan. Melihat hal itu, Amel tidak merasa heran, karena sebelum Risa datang Bi Imah sempat menceritakan jika Risa memang sering mengajak Bi Imah makan bersama dimeja makan, karena tidak ada teman. Awalnya Amel penasaran dengan keberadaan orang tua Risa, karena sejak kemarin dia datang, Amel tidak melihat keberadaan mereka. Hanya saja, menurut Amel terlalu tidak sopan jika dia harus menanyakan tentang keberadaan orang tua Risa baik kepada Risa langsung atau pun Bi Imah. Saat itu, Bi Imah sempat mengajak Amel sarapan bersama, hanya saja Amel tidak bisa karena supirnya sudah menjemput, jadi dia terpaksa menolak ajakan Bi Imah untuk sarapan bersama. “Sa, aku pulang ya makasih untuk izin nginep semalem” ujar Amel, saat dia sudah mendapat pesan dari supirnya jika dia sudah sampai didepan gerbang rumah Risa. Risa hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh atau memberi respon yang lain kepada Amel yang akan segera pulang, melihat hal itu Amel hanya tersenyum, dia sudah terbiasa dengan semua sifat dingin dan kaku Risa, jadi Amel tidak pernah lagi mempermasalahkannya. *** Hari ini adalah hari dimana Risa bersama siswa SMA diseluruh Indonesia melaksanakan Ujian Nasional, begitu pula dengan SMA GARUDA, seluruh siswa dan siswi kelas 12 diwajibkan mengikuti ujian nasional sebagai syarat kelulusan. Dihari pertama melaksanakan Ujian Nasioanal Risa tampak terlihat fokus mengerjakan soal – soal Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran pertama. Walaupun sebenarnya Risa tidak menyukai ujian Bahasa Indonesia, karena hanya untuk mendapat jawaban satu soal saja, dia harus membaca untaian kata yang panjangnya seperti Koran. “Aku gak tahu apakah ini akan menjadi akhir dari perjuangan ku atau justru setelah ini akan ada perjuangan selanjutnya, tapi di ujian kali ini aku akan bersungguh – sungguh  melakukannya, karena aku berharap bisa mendapat hasil terbaik, dan aku harap hasil itu yang akan membuat Mamah dan Papah berubah menjadi sayang pada ku” batin Risa, sambil menatap lembar jawabannya yang sudah selesai dia isi. Untuk pertama kalinya, Risa mempunyai harapan bisa mendapat hasil terbaik, karena biasanya dia hanya mempunyai harapan seperti itu saat akan melakukan olimpiade, karena saat itu dia sadar jika dia membawa nama sekolah. Namun, jika disekolah  Risa hanya akan melaksanakan ujian yang bisa disebut alakadarnya, tanpa persiapan dan tanpa keinginan seperti sekarang. Hanya saja diujian terakhirnya kali ini,  Risa berharap bisa mendapat hasil terbaik agar bisa dia tunjukan kepada orang tuanya. Setelah suara bel berbunyi sebagai tanda jika waktu ujian sudah selesai, Risa langsung mengumpulkan lembar jawabannya. Setelah itu, dia dan Amel segera bergegas pergi mengumpulkan tugas alat praga untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai tugas terakhir yang baru diberikan beberapa hari lalu sebelum weekend. “Bu Ini tugas akhir yang Ibu tugaskan kepada kami pada hari Sabtu kemarin” ujar Amel, sambil menyerahkan alat praga yang sudah berhasil dia dan Risa selesaikan bersama – sama. Ada senyuman yang menghiasi wajah Ibu Mila saat dia melihat tugas terakhir yang diberikan sudah ada yang mengumpulkan. Matanya terlihat memperhatikan alat praga yang saat itu dipegang oleh Amel hendak diserahkan kepada Bu Mila, senyumannya semakin terlihat merekah saat dia melihat hasil tugas karya Risa dan Amel sangat memuaskan di matanya. “Kalian langsung mengerjakannya ?” tanya Bu Mila, sambil menatap Risa dan Amel secara bergantian, dan dijawab sebuah anggukan kepala oleh Amel. “Okey, sepertinya kalian akan mendapat nilai tertinggi untuk tugas akhir ini” jawab Bu Mila, sambil tersenyum dan mata yang tidak lepas memperhatikan tata letak alat praga yang sudah Risa dan Amel kumpulkan. Setelah itu, mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena sudah tidak ada lagi urusan yang harus mereka selesaikan bersama Bu Mila.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN