19.

1262 Kata
Mika mendudukkan tubuhnya didepan lobby kost, manic kelamnya terangkat, menatap jam dinding yang terpasang di dinding. Sudah jam 8 malam tapi Marco belum juga kembali. 'Harusnya Marco sudah pulang jam 5 tadi.' gadis itu menarik nafas berat sembari berusaha menahan kantuk. "Maaf Nona, apakah orang yang anda tunggu sudah datang?" penjaga kost datang menghampiri Mika, bertanya dengan wajah sungkan. "Dia belum pulang." geleng Mika tipis dengan wajah kecewa dan lelah. "Ehm, gimana ya. Masalahnya inikan sudah malam jadi selain penghuni kost dilarang berada di area kost ini." meskipun perkataan itu diucapkan dengan sopan, Mika paham betul dari ucapan penjaga kost itu kalau Mika diusir secara halus. Mika lantas bangkit dari atas sofa sembari membawa tas punggungnya namun sebelum Mika pergi, gadis itu sempat bertanya pada penjaga kost, "Maaf kalau boleh bertanya, apakah anda tahu kost-kostan murah di daerah ini? Kamarnya tidak besar dan kamar mandi di luar tidak masalah." Sebenarnya Mik bisa cari kost yang setara dengan kost yang ditempati Marco saat ini tapi untuk saat ini, dia ingin terlihat sangat menderita. "Hm." wanita penjaga kost akhir 30 tahun itu mengerutkan alisnya, mengingat-ingat sesuatu, "Sepertinya ada. Mau saya antar sekarang mumpung jam kerja saya sudah selesai." "Ya." angguk Mika dengan senyum lebar di bibir. Mika mengikuti langkah penjaga kost itu, menelusuri gang-gang sempit sebelum akhirnya berhenti didepan sebuah bangunan lantai dua model bangunan lama dengan cat yang pudar. "Ayo masuk." "Ah iya." Mika mengikuti langkah penjaga kost yang mengetuk rumah induk tempat itu dan tak lama kemudian seorang wanita akhir 50 tahunan dengan perut buncit keluar hanya dengan memakai dasternya. "Bu katanya ada kost yang masih kosong? Ini saya bawa orang yang mau kost disini." "Ada, tinggal satu kamar." si pemilik kost mengambil kunci dan membawa dua orang tamunya itu melihat tempat yang disewakan. Begitu kamar dibuka, Mika langsung melotot lebar sembari menahan umpatan kesal dalam hati, bagaimana tidak, kamar yang disewakan hanya seukuran 2x3 meter dengan plafon sangat rendah hingga terkesan sumpek dan fasilitas kamar itu hanyalah sebuah kasur lantai tipis dan sebuah meja. 'Ya Tuhan, yang benaran aja?!' Mika menatap bangunan itu sembari menelan ludah serat, 'Cosplay sih cosplay tapi masa seperti ini?!' "Kamu bisa sewa kamar ini 500 sebulan. Dan saya mau kamu bayar diawal." 'f**k!' Makian Mika hampir keluar dari bibir namun gadis itu urungkan niatnya, Karena Mika sadar dia berada di Jakarta dan kost 500 di pusat kota itu sudah sangat murah. "Iya." Mika lantas mengambil uang dari balik tasnya dan memberikan wanita itu sesuai dengan nominal yang diminta. Mika langsung terduduk diatas kasur diatas lantai, menarik nafas panjang dan lelah sembari menatap ruangan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia tempati kemudian menundukkan kepalanya, menatap lembaran uang yang berada di tangan. Hanya tersisa lima juta rupiah dan Mika tidak yakin uang segitu cukup atau tidak untuk sebulan ke depan. "Ayah cepat cari anakmu ini. Bunda please buka hatimu untuk sayang lagi pada Mika." ucapnya dengan bibir mencebik. "Kuat-kuat, Mika! Ingat ini demi masa depanmu sendiri." ucapnya sebagai penyemangat diri sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur tipis nan keras itu. Sebelum tidur, Mika menyempatkan diri membuka ponselnya, mengecek apakah ada panggilan dari ayah ataupun ibunya namun sayang nihil. "Huft!" desahnya sedih, "Apa aku beneran dibuang? Apa mereka sudah tidak sayang aku lagi? Apa mereka tahu rencanaku dan tak Sudi menjemputku?" Mika mencebikkan bibirnya, menahan tangis sesak yang tiba-tiba datang. Dan dugaan Mika benar, setelah hampir dua minggu, tidak ada satupun orang yang mencari keberadaannya. Jangankan mencari, menelepon Mika untuk sekedar bertanya kamu dimana saja tidak. "Mungkin ini sudah jalan hidupku." ucapnya sembari menatap nasi bungkus yang dia beli di depan gang. "Coba aku tidak nekat pura-pura kabur, pasti aku masih di rumah, tidur nyaman tanpa khawatir apapun dan masih bisa makan enak." Ya, Mika harus irit karena uangnya kini menipis. Beberapa waktu lalu dia sempat berjumawa bahwa keluarga Bayu akan mencarinya paling lama dalam kurun waktu 3 hari hingga membuatnya tanpa pikir panjang beli apapun yang dia lihat di depan mata. "Cari kerja Mika! Ingat kamu adalah dirimu yang sekarang tanpa embel-embel nama Bayi dibelakang namamu." Beruntung Mika membawa berkas pentingnya hingga Mika bisa melamar pekerjaan esok harinya berbekal lowongan kerja yang dia dapatkan dari situs loker yang dia buka lewat ponsel. Sebelum pergi cari kerja, Mika sempat mencoba menghubungi Marco namun sayang nomor pria itu tidak aktif. Namun sayang, meskipun pintar, Mika tidak lolos seleksi karena yang dibutuhkan adalah lulusan S1 semua jurusan sedangkan Mika hanya punya ijazah SMA. Gadis itu menarik nafas panjang, menatap makanan serta minuman yang hari ini dia beli. "Uangku semakin berkurang tiap detiknya tapi aku belum dapat kerjaan juga." Mika menyesal telah membeli makanan siap saji di minimarket, "Harusnya aku makan mie saja tadi." Gadis itu lantas mengangkat kepalanya, menatap deretan pegawai dengan seragam perusahaan yang berbondong-bondong masuk ke dalam minimarket itu dengan tatapan iri. 'Padahal aku bisa mengerjakan pekerjaan mereka tapi kenapa aku tidak diterima?' bibir Mika bergetar dengan manic mengembun, siap menangis. "Ayah Bunda kalian tidak rindu padaku?!" Mika menutup wajahnya dengan telapak tangannya, menangis keras tanpa peduli pada orang lewat yang menatapnya aneh. Mika akhirnya memutuskan pulang dengan menaiki angkot karena kebetulan baterai ponselnya habis. "Maaf, bisa geser sedikit?" Seorang pria masuk dan Mika mau tidak mau menggeser duduknya hingga membuatnya terjepit. Mika duduk kaku sembari sesekali menahan nafas serta menahan mulut untuk memaki karena bau badan orang yang berada disebelahnya. Beruntungnya Mika segera turun dari angkot itu hingga membuatnya bisa menarik nafas lega. Sebelum pulang, Mika mampir di warung nasi yang ada di depan gang dengan lauk sederhana. Setelah masuk kamar kost, gadis itu meletakkan nasi bungkus serta tasnya diatas meja kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum makan, gadis itu membuka tasnya, berniat mengisi daya ponselnya yang mati. "Loh?" tangannya meraba isi tas dan tak menemukan apapun, "Bukannya tadi ku taruh didalam tas." Mika mengobrak-abrik isi tasnya namun nihil. "Ponselku kemana?" Mika langsung merebahkan tubuhnya diatas lantai, menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Masih ada hari esok Mika! Dan keesokan harinya berjalan lebih buruk lagi karena Mika susah lolos seleksi tahap 2 dan harus gugur begitu saja karena Mika berkata dia tidak punya ponsel pribadi untuk dihubungi. "Kalau kamu tidak punya ponsel, bagaimana cara perusahaan menghubungimu?" pernyataan itu membuat Mika diam seribu bahasa. 'Jika aku beli ponsel, katakanlah ponsel paling murah lalu bagaimana hidupku satu bulan ke depan? Akomodasi cari pekerjaan...' Mika menarik nafas panjang, menguatkan hatinya yang ingin menangis keras tentang keadaan. "Hiks!" Sekuat-kuatnya Mika, tangisan itu lolos juga, tangan itu terangkat, menutup kedua matanya sembari terisak keras. Dalam situasi sulit seperti ini, tidak ada satupun yang ada disekitarnya untuk menguatkannya bahkan Marco, sang kekasihpun seolah menghilang, Mika pernah mencoba mendatangi kost pemuda itu namun kata penjaga kost, Marco tidak pulang selama beberapa hari. Tok!Tok!Tok! Pintu kamarnya diketuk berulang kali dengan irama tidak sabar dan Mika segera menghapus air matanya dan menarik nafas panjang demi menghentikan Isak tangisnya. "Ya, Bu. Ada apa?" ternyata ibu kostlah yang mengetuk pintu kamar Mika. "Kamu cari kerja?" "Iya, Bu." angguk Mika tipis. "Kebetulan kenalan saya ada yang nyari pegawai dan saya rasa kamu cocok kerja disana." "Maaf kalau boleh tahu, pekerjaan apa?" "Di Club' malam. Katanya jadi pengantar minuman." Mika terdiam mendengar penuturan wanita itu. "Kalau tidak mau ya sudah. Saya akan kasih tahu yang lain." ucapnya sembari menatap Mika sinis, "Sayang banget, padahal disana gajinya besar." kerudungnya keras agar Mika mendengar suaranya. 'Uangmi tipis Mika. Kamu juga butuh makan.' "Bu, saya terima tawaran pekerjaannya." ucap Mika lantang hingga membuat paruh baya itu berhenti melangkah. "Yakin kamu?" "Iya." angguk Mika cepat tanpa ragu. "Baguslah kalau begitu. Besok jam 9 malam tunggu di sini nanti akan ada yang menjemputmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN