13.

1423 Kata
Wajah rapuh itu penuh dengan air mata, berusaha berjalan tegak dengan kedua kaki tuanya meskipun berulangkali hampir terjatuh karena sekujur tubuhnya melemas setelah mendengar kabar mengenai bungsu kesayangannya. "Hati-hati, Luna." Sang suami pada akhirnya memapah sosok rapuh itu, menuntunnya menuju ruangan dimana si bungsu kini dirawat. "Selamat pagi, Tuan Nyonya." seorang bodyguard yang duduk di lorong langsung berdiri, menyambut kedatangan sang Tuan sembari menundukkan kepala sopan. "Bagaimana putriku...?" Luna menggigit bibirnya keras dengan air mata mengalir di pipi, menatap bodyguard besar itu dengan rapuhnya. "Nona sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan sampai detik ini, Nona belum juga sadar." Bodyguard itu lantas membuka pintu, mempersilahkan Tuan dan sang nyonya untuk masuk. Luna langsung melepaskan tuntunan sang suami begitu melihat bayi mungilnya terpejam erat diatas brankar. Kaki tuanya melangkah sebelum akhirnya jatuh terduduk disamping brankar. Menangisi kondisi Mika yang menyedihkan dengan luka di kepala sebelah kiri yang menjalar sampai ke pipi cantiknya serta serta luka lecet di tangan sebelah kiri. "Bagaimana bisa jadi seperti ini, Nak?" Tangan Luna terangkat, menyentuh tangan Mika yang kini teramat dingin di kulit hangatnya, mengecupinya perlahan dengan air mata tak henti mengalir. "Ceklek!" Pintu terbuka dan Alex yang sedari tadi berdiri dibelakang sang istri mengalihkan pandangannya. "Kita bicara diluar, Damian." ajak paruh baya itu pada si sulung. Keduanya memutuskan pergi ke kantin rumah sakit, duduk dengan ditemani satu cangkir kopi didepan masing-masing. "Bisa kamu jelaskan kenapa Mika sampai seperti itu?" Alex bertanya setelah menyesap kopinya, manicnya menatap si sulung tajam, minta penjelasan. "Hal buruk menimpa Mika saat dia pergi ke club' beruntung Damian bisa menyelamatkannya dan membawanya pulang. Dia mengamuk dan pergi dari rumah saat Damian menyita barang-barangnya. Bodohnya Damian tidak segera menyusul Mika saat dia pergi karena Damian pikir Mika tidak mungkin pergi jauh tanpa membawa apapun." Damian menarik nafas lelah, "Harusnya Damian bisa mencegah hal itu terjadi pada Mika jika Damian menyusulnya lebih cepat." "Dimana kejadiannya?" "Masih di area kompleks perumahan, mobil yang menabrak Mika tertangkap CCTV kompleks namun sayangnya saat mobil itu berhasil terlacak, kami menemukan mobil itu hancur dan pengemudinya tewas." Alex mendesah, tersangka yang menyebabkan Mika sampai masuk rumah sakit ditemukan tewas tidak menutup kemungkinan pria itu memang sengaja dibunuh untuk menutup pintu dalang sebenarnya. "Tidak ada clue lain?" "Tidak ada. Keluarga pria itu juga bersih. Mereka hanya keluarga biasa, keluarga yang mengaku tidak punya hutang yang bisa membuat orang nekat melakukan apapun untuk dapat uang." Damian sempat meminta seorang temannya yang bekerja di kepolisian untuk meminta pihak bank mengakses data keuangan tersangka yang sudah almarhum itu, dan catatan keuangannya bersih, normalnya pekerja yang mendapatkan gaji dari jerih payahnya bekerja. "Jadi menurut Ayah, apakah kecelakaan Mika hanya kecelakaan biasa tanpa unsur kesengajaan karena bisa saja pria itu ketakutan oleh rasa bersalah hingga mencelakai dirinya sendiri?" "Bisa jadi seperti itu. Tapi apapun yang terjadi, kita harus selalu waspada, Damian." ucap Alex pelan, "Pulanglah, istirahat. Masalah Mika, biar ayah yang urus." Alex menepuk pundak Damian pelan sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi. Sedangkan Alex sendiri menghabiskan kopinya sebelum kembali ke ruang rawat Mika, meneguk cairan hitam pahit itu agar matanya tetap terjaga. "Selamat Malam, Tuan Alex." bodyguard menyapa sang tuan begitu Alex datang, pria itu menganggukkan kepalanya singkat sebelum membuka pintu ruang rawat. "Luna..." "Apakah Mika akan cepat sembuh?" Luna yang sedari tadi duduk membisu dengan tatapan kosong pada putri kecilnya itu mulai bersuara. "Saya akan mengusahakan yang terbaik untuknya, jangan khawatir." "Kamu memintaku untuk jangan khawatir sedangkan putriku sedang tidak baik-baik saja saat ini?" Luna menggigit bibir, menahan tangis di pelupuk matanya yang perih. "Luna..." "Ingatkah kamu kalau hari ini adalah ulang tahun Mika?" Luna tersenyum dibalik tangisnya, "Dia seharusnya tidak ada disini. Dia seharusnya di rumah, merayakan ulang tahunnya!" "Mas tahu, hal ini harusnya tidak terjadi pada Mika. Tapi kita tidak bisa mencegah atau melawan takdir." Alex menyentuh pundak Luna lembut, "Kamu pasti lelah saat ini Luna, setelah semalaman tidak bisa tidur dan harus melakukan perjalanan jauh dari Solo ke Jakarta. Kamu bahkan belum makan sedikitpun. Mika tidak akan senang jika tahu ibunya ikut sakit saat menjaganya." Mereka tidak bisa langsung pulang saat menerima kabar mengenai Mika dan harus menunggu pagi karena jadwal kereta maupun pesawat menuju Jakarta hanya tersedia di pagi hari. "Mas pikir aku masih bisa istirahat, masih bisa makan dengan keadaan putriku seperti ini?" sentak Luna marah dan langsung menepis tangan Alex kasar. "Keluar Mas.! Aku hanya ingin berdua dengan putriku." "Luna..." "Keluar!" "Baiklah." akhirnya Alex mengalah, pria paruh baya itu mengecup puncak kepala Luna sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan. "Huft!" Alex menarik nafas lelah setelah sebelumnya menguap lebar, pria itu berusaha membuka matanya yang lelah. Alex butuh kopi dan udara segar untuk otaknya untuk tetap terjaga. Mungkin Alex akan duduk di taman RS 10 atau 15 menit kemudian kembali ke ruang rawat sang Putri. "Saya pergi sebentar. Tolong jaga istri dan anak saya." pesannya pada sang bodyguard. "Baik, Tuan." sosok besar itu menganggukkan kepala setelah sang tuan pergi. Sedetik setelah Alex pergi seorang pria dengan jas dokter, bermasker medis dan berkacamata tebal datang, menundukkan kepalanya sejenak pada sang bodyguard. "Maaf, anda tidak bisa masuk sembarangan, dokter." sang bodyguard mencegah sang dokter masuk. "Saya dokter Chandrawinata, dokter yang menangani Nona Mikaila sejak semalam. Bukankah anda melihat saya saat pasien dipindah ke ruang rawat?" ucapnya sembari card id kemudian mengangkat berkas rekam medis yang dia bawa. Sang bodyguard tahu dokter Chandrawinata yang menangani sang nona. Tapi ada yang berbeda, karena salah satu dari dua bodyguard itu sempat bicara dengan beliau. Suara dokter didepan mereka itu, berbeda. Lebih serak dan berat. Sedangkan kemarin lebih ramah. "Bisakah anda buka masker anda?" "Maaf, saya sedang batuk dan flu." "Oh, maaf dokter." Baiklah, hal itu cukup menjelaskan semuanya karena postur tubuh maupun warna rambut dang dokter masih sama, rapi dan klimis. Baiklah kalau begitu, silahkan masuk." sang bodyguard membukakan pintu dan sang dokter masuk. "Selamat pagi, Nyonya." sang dokter basa basi dan wanita paruh baya itu segera bangkit dari duduknya, memberikan ruang bagi sang dokter untuk memeriksa putrinya. "Bagaimana putri saya dokter?" Luna mengangkat suara, menatap sang dokter dengan pandangan kosong tanpa nyawa. "Putri anda sepertinya tidak pantas hidup, Nyonya." perkataan yang keluar dari balik masker itu membuat Luna tersentak. "Apa maksud anda?" Luna bergetar, takut, dengan keringat mulai mengalir di sekujur tubuhnya yang dingin. "Dia harusnya mati. Apa anda paham ucapan saya?" tangan pria itu terulur, mengelus wajah Luna pelan tanpa peduli wajah paruh baya itu pucat seperti mayat. "Jangan macam-macam pada kami!"Luna menepis tangan pria itu dan mundur beberapa langkah, meraih apapun sebagai pegangan untuk menguatkan dirinya, "Suamiku dan bodyguard ada didepan sana, aku bisa teriak dan membuatmu tamat detik itu juga!" "Jangan harap mereka dengar suara anda Nyonya." tangan besar itu bergerak dengan cepat, memukul tengkuk Luna hingga tubuh paruh baya itu tak sadarkan diri dan menghantam lantai dengan keras. "Kenapa sekarang kau menyusahkan sekali, Luna." Manic itu menatap Luna dengan tatapan kosong sebelum akhirnya mendekat kearah brankar dimana Mika masih setia memejamkan matanya dengan damai. "Hai anak pungut. Saya lihat hidupmu nyaman sekali sejak dibawa ke keluarga Bayu." wajah pria itu menunduk, menatap Mika dengan tatapan tak suka, "Mereka terlalu baik pada anak pungut tak tahu diri sepertimu. Sekarang sudah saatnya kau pergi dari dunia ini." Tangan pria itu mencabut infus yang menancap di pergelangan tangan Mika hingga membuat darahnya secara perlahan mengalir lewat luka itu. "Sepertinya kau butuh luka yang lebih lebar supaya darahmu keluar lebih banyak." Pria itu lantas merogoh saku jas dokternya, mengambil pisau lipat disana. Pria itu mengelus pisau tajam yang ada di tangannya, "Sepertinya cukup tajam untuk merobek dagingmu, Nona pungut." "Crash!" satu kali goresan tepat di nasi dan setelahnya darah Mika mulai mengalir. "Saya harus pergi sekarang anak sialan. Semoga setelah ini kau langsung mati." bisik pria itu di telinga Mika. Sebelum pergi, pria itu mengangkat tubuh Luna dan mendudukkan wanita paruh baya itu disamping brankar. Pria itu mengelus surai Luna dengan lembut sembari berbisik lirih di telinganya, "Selamat tinggal Luna, semoga saat kau bangun nanti, anak sialan yang kau sangka anakmu itu sudah mati karena kehabisan darah." pria itu memajukan wajahnya, mengecup pelipis Luna sebagai bentuk perpisahan. "Ceklek!" Pria itu membuka pintu ruang rawat dan menyapa sang bodyguard dengan senyum ramahnya, "Terima kasih sudah mengijinkan saya masuk untuk mengecek kondisi pasien saya." "Sama-sama, dokter." sang bodyguard tersenyum tipis dengan kepala mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, saya harus pergi karena masih banyak pasien yang harus saya cek kondisinya. Permisi." pamitnya ramah sembari berlalu dari hadapan sang bodyguard. Pria itu tersenyum lebar dibalik maskernya, "Semoga kau suka dengan kejutan yang kuberikan Alex. Semoga kau dan istrimu semakin hancur saat melihat pengganti putri kandungmu itu mati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN