"Menurutmu bagaimana, apakah saya mau menikah denganmu?"
"Pertanyaan yang Lo ajuin seolah-olah gue naksir berat sama Lo?!" ekspresi jijik terbit di wajah Mika sebelum gadis itu mengalihkan wajahnya, memutus kontak mata yang sempat terjalin selama beberapa detik diantara mereka.
"Dari gelagatmu yang seperti ini, Saya rasa kamu yang suka pada saya."
"NGIMPI!" suara Mika langsung naik satu oktaf, tangannya mendorong keras tubuh Damian hingga pria itu menjauh dari tubuhnya.
"Lo kali yang suka sama gue!" wajah Mika melotot, menatap Damian berani, "Secara tadi Lo bilang gue cantik dan menarik." Mika menaikkan wajahnya angkuh.
"Yang seperti ini disebut cantik jeleknya bagaimana?" ejek Damian dengan tangan bersendekap, "Sudah jelek attitude minus, bodoh...Ckckck."
"Heh Damian b*****t! Asal Lo tahu ya, orang yang Lo sebut jelek ini setidaknya punya pacar, masuk jajaran cewek cantik di kampus." Mika lantas menatap Damian remeh, "Daripada situ, ngaku ganteng tapi tak pernah punya pacar. Cuih."
"Setidaknya saya tidak pernah dimanfaatkan siapapun."
"Apaan maksud Lo?!"
"Pacar mana yang diam saja saat pacarnya kesusahan? Pacar mana yang selalu minta-minta dibiayai pada pacar perempuannya?" sudut bibir Damian naik tipis, "Namanya Marco, pacarnya si t***l Mika."
"Lo tuh!" Mika mengangkat tangannya, menunjuk wajah Damian dengan tangan kirinya, marah.
"Kenapa? Benar begitu,kan?"
Rasanya aneh, jijik! Yang aku tahu selama ini kita adalah saudara. Gimana mungkin Bunda nyuruh kita berdua nikah?! Sumpah gue nggak sudi! Biar aja gue dicap sebagai anak pungut durhaka daripada nurutin permintaan Bunda!"
"Kamu yakin selama ini saya menganggapmu sebagai adik?" tawa Damian mengalun lirih, "Ingat Mika, saya tidak Sudi punya saudara jalang sepertimu."
"Lo bilang gue apa?!" suara Mika naik.
"Jalang." sudut bibir Damian naik, "Darah murni keluarga Bayu tidak pernah dan tidak akan berbuat hal menjijikkan yang sering kau lakukan bersama pemuda miskin yang kau sebut pacar itu, Mika." Damian mendekatkan wajahnya kearah Mika dengan seringai memuakkannya.
"Ambil keputusanmu sekarang."
"Apa?" Manic Mika melotot lebar, "Jadi gue yang harus mengambil keputusan, bukan Lo?!" Mika mengeram marah, "b******k!"
Mika tahu bahwa Damian menyuruh dia mengambil keputusan karena jika Mika menolak maka Mikalah yang dianggap anak tak tahu terima kasih.
"Ok kalau itu mau Lo!"
Mika tersenyum, 'Gue pastiin kalau hidup Lo sebagai suami gue nggak bakalan bahagia. Gue bakalan bikin hidup Lo bagai di neraka!' tangannya terulur, menggenggam erat jemari Damian kemudian memaksa pria itu untuk ikut dengannya menghadap kedua orang tua mereka yang saat ini sedang duduk di ruang tengah.
"Tuan Nyonya..." Mika mulai membuka suara, mengabaikan tatapan protes sang ibu karena memanggilnya dengan sebutan tersebut, "Saya menerima permintaan anda." Mika mengetatkan jemarinya yang saling bertaut dengan milik Damian sembari menatap wajah mantan kakaknya itu.
"Saya bersedia menikah dengan kak Damian..." perkataan Mika belum selesai saat Luna tiba-tiba bangun dari duduknya dan memeluk gadis itu erat.
"Terima kasih, Mika. Terima kasih kamu telah mau menerima permintaan Bunda." wajah Luna tersenyum, tangan paruh baya itu terulur, menyentuh wajah sang putri angkat dengan sayangnya.
"Seharusnya Mika yang berterima kasih karena Nyonya masih mau menerima Mika setelah semua perbuatan buruk Mika dan jati diri Mika yang sebenarnya terbongkar."
"It's Ok. Tidak apa-apa. Itu adalah masa lalu, lupakan yang buruk dan ambil hikmah dari semua yang pernah terjadi untuk bisa hidup lebih baik lagi." Luna tersenyum, "Dan yang terpenting adalah kamu tetap berada di sini, bersama keluargamu, bersama Bunda yang merawatmu sejak kau bayi. Bunda tidak mau menyesal dan kehilangan putri Bunda untuk yang kedua kalinya."
"Bunda..." wajah Mika berembun, siap untuk menumpahkan air matanya.
"Jangan menangis." Bibir Luna bergetar diikuti dengan senyum tipisnya sebelum akhirnya membawa tubuh gadis itu dalam pelukan hangatnya.
Melihat pemandangan yang ada disampingnya membuat Damian menipiskan bibir, menatap mantan adiknya itu dengan tatapan muak karena actingnya yang menjijikkan.
"Apa Lo?" bibir Mika bergerak tanpa suara diikuti dengan seulas senyum licik setelahnya.
"Lalu bagaimana denganmu Damian, kamu tidak terpaksa dengan permintaan ibumu, kan?" suara Alex mengalun, memecah tatapan sengit antara Mika dan Damian.
"Ayah tidak mau kamu menyesal dikemudian hari." suara Alex mengalun lirih, "Ingat, menikah itu adalah sesuatu yang sakral, harus ada cinta dan kasih untuk memperkuat biduk rumah tangga kalian nanti."
"Damian yakin dengan keputusan Damian dan Damian akan belajar mencintai Mikaila selayaknya lelaki mencintai wanitanya."
"Syukurlah, Ayah lega. Sebelumnya Ayah sempat khawatir kalau kamu terpaksa menyanggupi permintaan Bundamu." senyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya, "Ayah dan Bundamu akan segera menyiapkan pernikahan kalian berdua."
"Hah?" Mika langsung lepas dari dekapan sang ibu, kaget dengan ucapan sang ayah, "Kenapa buru-buru sekali? Maksudnya apa tidak tunggu tahun depan atau..."
"Tidak." geleng sang ibu tegas, "Kalian harus segera menikah karena kami tidak bisa meninggalkan kalian tanpa ikatan setelah kalian tahu status kalian yang sebenarnya." ucap Luna lembut.
"Memangnya Bunda dan Ayah akan pergi kemana?" Mika menatap orang tua angkatnya itu bingung.
"Kami akan berkeliling Indonesia, mencari Mikaila kami yang sesungguhnya." bibir Luna menipis dengan wajah wajah penuh harap, "Sudah saatnya Bunda terjun langsung untuk mencari keberadaan nya. Bunda yakin jika Bunda ikut mencari, putri kandung Bunda akan segera ditemukan."
"Tapi..." bibir Mika terbuka, siap membantah.
"Tidak ada penolakan, Mika. Ingat kamu sudah menerima tawaran yang telah Bundamu ajukan." ucap Alex dengan nada tegas dan mengintimidasi.
"Kamu jangan khawatir. Segala persiapan pernikahan kalian akan diurus oleh orang-orang kepercayaan ayahmu. Kamu hanya tinggal bilang apapun yang kamu inginkan untuk pesta pernikahanmu nanti."
'Hah?' Saat itu juga Mika merasakan kepalanya berdentum keras seolah ratusan palu berlomba-lomba memukuli kepalanya yang kecil.
Mika mulai linglung, dia butuh pegangan untuk bisa menapakkan kaki di lantai dan ditengah kacaunya pikiran Mika, sosok pria disamping gadis itu tersenyum lebar sembari melirik reaksi sang mantan adik.
'Permainan belum dimulai Mika, siap-siap saja!'