MK — Lima

1517 Kata
Saling memberi hadiah-lah kalian, sehingga kalian akan saling mencintai. (HR. Bukhari) Tiga hari kemudian, dimana hari pada tahun ini Skylar berulang tahun yang ke 12. Ros berencana nanti malam mengadakan pesta syukuran kecil-kecilan, hanya anggota keluarga saja. Sekedar memperingati ulang tahun karena masih diberi kesempatan bernapas hingga usia ini.  Saat ini Ros sibuk membuat nasi kuning beserta lauknya. Iya, karena menurutnya kue tart terlalu biasa. Toh, tiup lilin bukanlah ajaran Islam. Dan Ros mengerjakannya sendiri, walaupun bi Ipah sudah kembali. Ini spesial untuk Skylar, jadi harus dirinya-lah yang membuat. Tapi, sedikit-sedikit Ros juga meminta bantuan Bi Ipah.  "Bi, tolong incip sambal gorengnya. Udah pas, belum?" ujar Ros saat sambal goreng yang dimaksud baru saja matang, dan ia menyisihkan sedikit agar lekas mendingin untuk dicicipi Bi Ipah.  Bi Ipah pun mendekat lantas mencicipi sambal goreng buatan majikannya. Ia tersenyum. "Udah pas, Bu." Ros tersenyum takjub lalu ikut mencoba hasil masakannya. "Nggak kurang asin, kan?"  "Ndak, Bu."                          "Kalau urap-urapnya?" Ros mengambilkan sedikit urap-urap agar dicoba oleh bi Ipah juga.  "Sama enaknya, Bu. Jos gandos.” Ros dibuat terkekeh. Ros pun segera menata nasi kuning beserta lauknya di sebuah wadah yang sudah disiapkan. Nasi yang dibentuknya kerucut lalu diletakkan di tengah kemudian lauknya dibagian pinggir mengelilingi nasi kuning.  Begitu selesai, Ros mengabadikan nasi kuning itu dengan kamera ponselnya. Walaupun tidak seperti jika membeli di tempat catering-an, tapi rasa dan bentuknya tidak mengecewakan.  Setelah itu menyimpannya, jangan sampai orang-orang tahu apalagi kucing tetangga. Bisa habis duluan.   ***   "Adek, mandi yuk!" ajak Ros setelah benar-benar selesai dengan pekerjaannya. "Gak mau.” Ros langsung melotot dengan berkacak pinggang. Yang dipelototi masih asik bermain mobil-mobilan, jadi tukang servis. Sesekali tangannya memukul mobil tersebut. Mobil remot besar yang bisa dinaikinya.  "Mau ikut jalan-jalan, nggak?"  "Adek!" Una tak merespon. Ros tak ingin menunggu lagi, ia langsung menggendong Una dan membawanya ke kamar mandi.  Tentu saja berontak, Una berteriak. "Gak mandi, gak mau." "Jorok."  "Gak mau mandi, Mama." "Bau asem gini, nggak mau mandi." ujar Ros setelah berhasil membawa Una ke kamar mandi. "Gak asem."  Ros berusaha melepas pakaian yang melekat pada tubuh Una yang terus memberontak, padahal lukanya beberapa hari yang lalu sudah mengering bahkan tersisa bekasnya. Lantas kenapa susah sekali disuruh mandi. Gemas. Begitu semua terlepas, Ros langsung mengguyur tubuh Una dengan air. Sangat pelan juga lembut, agar anaknya itu tidak gelagapan dan merasa nyaman. Tapi yang namanya malas mandi, tetap saja Una berteriak 'gak mau mandi,'. Saat selesai pun tetap sama, sampai ayahnya datang masih sama.  Romi menggelengkan kepalanya, heran. "Kenapa nggak mau mandi?" tanyanya saat Ros memakaikan baju, yang sebelumnya mengoleskan minyak telon pada tubuh Una.  "Gak mau."  Tidak punya alasan pun, tapi menolak mandi.  "Ayah punya...."  Una mengusap air matanya lalu menatap ayahnya lalu berkata, "Apa?" "Sesuatu."  "Suseatu apa?" dengan kata yang belibet membuatnya salah dalam berucap tapi tetap bertanya. Memang pada kenyataannya anak seusia Una banyak bertanya tentang hal yang belum diketahui. Tinggi penasarannya tinggi. "Dandan yang cantik dulu, terus kasih kiss Ayah."  Dan ampuh. "Mama pake bedak," pinta Una. Romi pun tersenyum gemas mendengar permintaan Una. "Iya." Padahal Ros sedang sibuk dengan dirinya, memakai body lotion pada tangan dan kakinya. Tapi anaknya itu tak sabar segera ingin memakai bedak. Karena menurutnya berdandan itu hanya memakai bedak saja. Una mengambil bedak dan menyerahkannya pada Ros yang langsung menerimanya. Kemudian menyapu wajah Una dengan olesan bedak. Langkah terakhir ia menyisir rambut Una. Selesai. "Pake fafum, Mama." ah, selain suka memakai bedak Una juga suka memakai parfum. Tidak tertinggal saat berbelanja ia akan meminta itu, jika sudah habis tentunya.  "Parfum," ralat Ros, sementara Romi yang memperhatikannya berdecak kagum. Putri bungsunya sudah dewasa sekarang, bayangkan seusianya sudah mengerti bedak dan parfum. Sayang, momen-momen seperti jarang sekali dilihatnya.  "Ayah, udah cantik?" ucapan Una membuat Romi tersadar dari lamunannya. Memandang putrinya yang sekarang sudah cantik. Romi tersenyum.  "Kasih kiss Ayah," katanya kemudian sambil menunjukkan pipinya yang langsung mendapat kecupan dari Una.  "Makasih."  "Makasyih.” "Sama-sama," ralat Romi dan Ros berbarengan. "Iya."  Kemudian Romi pun memberikan boneka Monyet untuk Una, seketika Una girang dan terus memeluk boneka tersebut. Koleksi boneka ada berbagai macam bentuk, warna dan ukuran. Itu ada yang tersimpan rapi di lemari etalase. Sebab, jika dipakai bermain semua yang ada malah lusuh dan kotor. Tak jarang Silmi dan Una saling berebut—mengakui kepemilikan boneka itu.   ***   Usai bermaghriban, seperti biasa Skylar dan Silmi akan belajar untuk persiapan hari esok. Kali ini Skylar belajar di ruang keluarga, setelah acara maaf-maafan itu ia kembali seperti semula.  "Ma, ada PR. Suruh kerjain ini." Skylar memberitahukan pada Mamanya soal tugas yang diberikan Guru padanya.  Ros pun melihat, membaca dan mencermatinya. Menit kemudian ia langsung paham. "Ini kan simpel, Bang."  Ros pun menyebutkan dan menjelaskan hewan apa saja yang dapat diambil manfaatnya lalu juga cara pelestariannya.  "Gajah itu diambil gadingnya, nanti gading itu bisa dibuat pipa, keris, pajangan dinding. Cara melestarikannya ya diternakkan. Tapi sekarang gajah udah punah. Terus hewan buaya, yang dimanfaatkan kulitnya yang nanti dibuat tas, ikat pinggang sama seperti ular." Ros menjelaskan, tapi lebih tepatnya menyebutkan jawabannya. Karena Ros itu tipe pemalas untuk masalah mengerjakan PR, tetapi barusan sedikit banyak Ros balik bertanya dan hanya menyebutkan hewan apa saja yang dapat dimanfaatkan.  "Mama, Kakak ada tugas ini." sama halnya dengan Ros, Silmi menunjukkan tugas rumahnya pada sang mama.  “Bikin kliping?” Ros bertanya untuk memastikan. “Iya, Ma.” Silmi. “Mama punya Koran?” tanya Silmi mengimbuhi. “Coba tanya sama Ayah.” Silmi langsung bergegas pergi ke ruangan sang ayah—tempat kerja ayahnya di rumah. Di sana ada Una yang sedang bermain Play Do dan puzzle—duduk meleseh di karpet puzzle bergambar. Anteng sekali bahkan bibirnya mengatup sempurna. “Ayah punya koran?” “Apa Kak Imi?” alih-alih mendapat jawaban dari sang ayah, Silmi malah ditanya oleh Una yang mendongak ke arahnya. “Kakak nggak ngomong sama Adek.” “Ya wis,” sahut Una kalem lalu kembali bermain. “Kakak ada tugas kliping, Yah,” kata Silmi. “Di rak itu Kak, coba liat.” Romi menunjukkan rak sebelah kanannya yang berjajar rapi oleh buku-buku. “Ada, Yah. Kakak ambil , ya?” Romi hanya menggangguk untuk memberikan respons. Kemudian Silmi langsung lari keluar dan menyerahkan koran pada mamanya. “Guntingin, Ma,” pinta Silmi manja. “Loh?” Mamanya pura-pura terkejut. “Yang sekolah Mama apa Kakak?” Silmi mengerucutkan bibirnya. “Bagi tugas Mama, nanti Kakak yang nempelin di buku tugas.” Kliping tentang mata pencaharian itu diharuskan ada 3 minimalnya. Tugas pun selesai, dengan Silmi yang terus-terusan tersenyum karena tugasnya selesai dengan sempurna. Apalagi mamanya turut membantu.   ***   Usai belajar, Romi pun menggiring keluarganya untuk shalat isya' berjamaah. Karena sebagai pemimpin bukan hanya menjadi kepala rumah tangga yang tertera di kertas Kartu Keluarga saja. Tapi juga mengarahkan kebenaran dengan cara yang baik. "Belajarnya udah selesai?" semua mengangguk dengan tangan yang sibuk memasukkan buku pelajaran besok ke dalam tas ransel masing-masing.  "Shalat isya' dulu, ayo!" begitu semua selesai dengan rapi pun bergegas untuk mengambil air wudlu, setelah itu mereka pun melaksanakan shalat berjama'ah. Selama shalat berlangsung, si kecil Ros berbuat ulah. Tiba-tiba mencubit kakaknya—Silmi yang belajar khusyu' itu diam saja. Kemudian menggigit tangan mamanya, lebih parah lagi menaiki punggung mamanya saat melakukan sujud. Lalu ia ikut shalat seperti yang lainnya. Begitu selesai pun ikut melakukan salam.  "Inum susu." ujarnya pada sang mama.  "Berdoa dulu."  "Gak oleh." tangan Ros yang menengadah pun ditarik paksa oleh Una. Tapi Ros terus melanjutkan kegiatannya—berdoa. "Inum s**u, Mama!"  Ros langsung melepas mukena dan melipatnya, karena jika tidak ia akan mendapat penuturan dari Romi. Mukena itu untuk shalat, berdoa kepada Allah. Harusnya diperlakukan istimewa, melipatnya dengan rapi jika perlu menyetrikanya agar tidak kusut. Mencucinya tiap pekan.  Kemudian setelah melipatnya, Ros menyimpannya di tempat lemari yang dikhusus untuk meletakkan mukena dan sajadah juga Al-Qur'an. Setelahnya Ros menggendong Una dan membawanya ke dapur untuk membuat s**u kemudian mendudukannya di kursi. Selama membuatnya Ros menuturi anaknya. "Tadi Kak Silmi diapain sama Adek?"  "Tak cubit." jawab Una jujur. "Nggak boleh, ya." "Ya wis ben." Ros sontak melotot. Siapa yang mengajari kata-kata itu.  "Nggak boleh diulangi, nanti temennya hantu iik." Una melongos saja. Begitu selesai membuatkan s**u Una, Ros pun menyiapkan nasi kuning yang tadi sudah dimasaknya. Membawanya ke ruang keluarga. Lalu memanggil keluarganya untuk segera berkumpul.  Skylar terkejut begitu melihat nasi tumpeng, ia jelas mengingat ini tanggal ulang tahunnya. Membuat ia langsung memeluk Ros yang tersenyum tulus terhadapnya.  "Makasih, Mama."  "Sama-sama."  Semua langsung merapat--mengeliling­i tumpeng kecil dan segera melakukan doa atas ucapan rasa syukur kepada Allah yang memberikan waktu hingga sekarang, semoga ada lagi di waktu depan.  Lagi-lagi, Una membuat heboh. Ia ingin memperebutkan potongan pertama, yang diberikan Skylar untuk sang mama. Tentu Ros tak bisa menolak untuk tidak memberikannya pada si bungsu. Setelah mengucapkan kata terima kasih pada Skylar. Kemudian Skylar meminta bantuan untuk memotong tumpeng itu dibagikan pada ayahnya dan Silmi.  "Nggak usah pake nangis." “Una minta kok, gak kasih-kasih.” “Yang sabar.” Semua sudah menyiapkan kadonya masing-masing, tanpa terkecuali.  Ros memberikan sarung dan sajadah, dengan deretan kata yang begitu bermakna. "Anak sholehnya Mama dan Ayah, belajar menjaga lima waktu dimulai dari sekarang, ya. Karena kelak Abang akan jadi pemimpin buat keluarga Abang." ya, karena Skylar sudah khitan jadi Ros memberikan kado tersebut agar Skylar bisa lebih giat untuk menjaga lima waktunya. Disisi lain, doa anaknya yang akan menolongnya kelak nanti di akhirat.  Sementara Romi memberikan mobil remot, sesuai permintaan Skylar waktu itu. Dengan catatan itu adalah mainan terakhir yang dibelikan untuknya. Silmi memberikan kado berupa kaos yang dipesannya melalui percetakan sablon, dengan tulisan di kaosnya itu "Skylar A" karena kaos tersebut bisa dipesan dan langsung jadi. Tapi Silmi membelikannya bukan untuk Skylar saja, Una pun juga dirinya. Sama seperti Skylar warna dan modelnya, yang membedakan adalah nama. Sementara Una memberikan jam tangan, agar Abangnya bisa disiplin waktu dengan melihat jam itu. Pilihan Una sendiri juga, bahkan uangnya hasil dari tabungan Una yang didapatkannya dari nenek-nenek mereka ketika berkunjung.   ***                                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN