Chiko

1156 Kata
   “Anjingmu yang dari Rusia sudah sampai, Keana. Aku menaruhnya di halaman belakang karena aku tidak menyukai anjing” Kata Kak Vero. Aku memekik girang setelah mengetahui hal itu. Akhirnya penantianku terbayar juga. Sejak dulu aku memang ingin memiliki anjing. Sayang sekali, aku baru bisa menemukan anjing yang aku suka ketika sedang berkunjung ke Rusia. “Dia sangat menggemaskan, tahu! Kalian harus mulai terbiasa dengan keberadaannya!” Ucapku sambil berlari ke belakang rumah. “Hey! Jangan berlari seperti itu! Kamu bisa menabrak sesuatu, Keana” Ucap Kak Dean yang berpapasan denganku di ujung tangga yang berbatasan dengan halaman belakang rumah. Dia melambaikan tangannya sambil berusaha untuk membuat aku berhenti. “Maaf, aku sedang senang” Aku langsung berlari meninggalkannya. Kulihat dia mengikutiku karena sekarang dia sedang ikut ternganga ketika melihat Anjing dengan bulu seputih salju dan mata secerah matahari sedang berada di kandang. “Astaga Keana! Kamu jadi membeli anjing itu??” Tanyanya sambil bergidik ngeri. Mereka memang sedikit tidak menyukai hewan. Sejak kecil kami biasa hidup bertiga tanpa teman lain. Ketika usiaku 17 tahun, aku ingin memiliki teman lain. “Iya. Apa Kakak keberatan?” Tanyaku sambil mengeluarkan anjing lucu itu dari kandang. “Jangan dilepaskan, Keana. Dia bisa menggigit!” Ucap Kak Dean sambil berjalan menjauh. “Tidak. Dia masih kecil.. Aku ingin melatihnya agar dia jinak” Jawabku sambil tersenyum senang. Ini adalah kali pertama aku memiliki hewan peliharaan. Ini menyenangkan sekalipun cukup kasihan melihat kedua Kakakku seperti ini. Ah, tapi beberapa saat ke depan mereka pasti terbiasa. “Kamu sudah membawanya ke dokter? Aku takut dia terinfeksi virus rabies atau semacamnya” Kata Kak Vero yang juga jadi ikut nimbrung bersama kami di halaman belakang. Untung ini hari minggu jadi kami tidak perlu terburu-buru berangkat ke sekolah. Oh, sebenarnya hanya aku yang berangkat sekolah. Kedua Kakakku sudah lulus dari universitas ternama dan sekarang sedang belajar memimpin perusahaan keluarga bersama Papa. Kata temanku, beberapa perusahaan keluarga biasanya dipegang oleh beberapa orang. Tapi hanya perusahaan keluargaku yang dimiliki oleh satu orang yaitu Papa. Dia pemilik tunggal dan menjalankan segala pekerjaan sendirian. Itu karena sebenarnya kami tidak memiliki keluarga lain. Hanya ada aku, Mama, Papa, dan kedua Kakakku ini. Aku tidak punya Paman atau Bibi seperti kebanyakan orang. “Tidak, Kak. Dia sehat. Kamu bisa menyentuhnya jika mau” Kataku sambil menggendong anjing lucu berbulu lebat ke arah Kak Vero. “Coba sentuh dia, Kak! Aku ingin tahu seberapa beraninya dirimu!” Ucap Kak Dean sambil tertawa geli. Mereka ini sama-sama takut saja masih bisa saling mengejek. “Apa yang membuat kalian ribut di Minggu pagi seperti ini??” Tanya Papa yang akhirnya juga ikut berkumpul di halaman belakang. Untung tempat ini luas sehingga kami tidak perlu berebut oksigen. “Anjingku sudah sampai..” Kataku sambil tersenyum senang. “Kamu jadi membeli anjing itu??” Tanya Papa. Aku mengangguk dan menggendong anjing putih ini semakin tinggi untuk menunjukkan pada mereka. Ketiga lelaki yang bersamaku kini tengah bergidik ngeri sambil menatapku. Dasar.. padahal anjing ini terlampau lucu. “Namanya Chiko. Kalian harus berbaik-baik dengan dia..” *** Makan malam kali terasa menyenangkan. Eh, tidak-tidak. Ini seperti makan malam yang biasanya, selalu menyenangkan. Ada Mama yang akan membagikan nasi dengan porsi yang selalu pas dengan perutku. Kak Dean dan Kak Vero yang suka bertengkar karena berebut lauk. Lalu, Papa yang akan selalu menyisikan lauk terbanyak untukku. Padahal.. lauk di rumahku tidak akan pernah kehabisan. Kalaupun habis, tinggal menyuruh tukang masak yang selalu siap di dapur. Oh, hidup di keluarga kaya seperti ini memang selalu menyenangkan. Aku tidak tahu hari esok karena memiliki mereka di sisiku. Aku percaya, mereka akan selalu menjagaku dan menyayangiku.. Tapi.. di antara semua kesenangan ini, yang paling membuat aku bahagia adalah Chiko yang sedang tidur di pangkuanku. Anjing kecil ini sepertinya kelelahan karena sejak pagi terus membuat keributan, dia mengejar Kak Dean seakan sangat menyukai Kakakku itu. Come on, Girl! Dia tahu mana cowok tampan sehingga hanya mau diam ketika tangan Kak Dean kupaksa mengusap kepalanya. Dan jangan lupakan beberapa vas bunga kesayangan Mama yang harus hancur berkeping-keping karena tingkahnya. Oh, aku jadi ingat kejadian tadi siang ketika Mama terus marah dan mengomel karena kesalahan Chiko. Lalu saat ini, ketika Kak Dean terus menatap ngeri ke pangkuanku.. “Keana, lepaskan dulu anjing itu! Kamu mau makan, jangan buat kotor tanganmu” Kata Mama memperingatkan aku. Aku menghela napas, kenapa sih mereka sulit sekali menerima Chiko? Anjing pintar yang kubeli dengan harga mahal, dia tentu terbebas dari beberapa virus yang sering menyerang hewan termasuk anjing. “Tidak Ma, dia bersih kok” Jawabku sambil menatap mereka meyakinkan. Mama menatapku sebentar lalu menghela napas. Baiklah-baiklah, dia pasti kesal pada Chiko. Jadi, aling-alih membuat dia kembali marah, aku memilih untuk melepaskan Chiko. Membangunkan anjing malang ini dan segera menyuruhnya berjalan menjauh. “Kalau makan, sebaiknya kamu jangan menyentuhnya dulu, Keana” Kini ganti Papa yang memperingatkanku. Aku memberengutkan bibirku. Selalu saja menyudutkan Chiko. Padahal, harus berapa kali kukatakan jika Chiko itu bersih. Dia terbebas dari virus.. Tapi yaa sudahlah, aku tentu tidak bisa memaksa seseorang menyukai apa yang aku suka. Semua orang punya selera yang berbeda jadi.. jika mereka tidak suka pada Chiko, kurasa aku harus mempertimbangkan untuk mengurung Chiko di dalam kamarku. “Iya, Pa.. ee, bolehkah aku membawa dia ke kamarku saja??” Tanyaku sambil menyuapkan nasi goreng kecap kesukaanku. Nasi goreng ini, sekalipun tampak seperti nasi goreng biasa, rasanya tentu tidak kalah dengan nasi goreng yang ada di rumah makan kelas atas. Kelihatannya saja nasi ini biasa, tapi rasa tidak pernah menipu lidahku. Aku sungguh tidak bisa memakan makanan yang tanpa rasa. Lidahku terbiasa dimanjakan dengan masakan enak. “Tidak. Jangan di bawa ke kamarmu, dia bisa saja buang air dan membuat seluruh ruangan kamarmu jadi bau” Kata Mama sambil menatapku sekilas. Aku jadi menyuapkan nasi gorengku dengan tidak semangat. Ide memiliki anjing memang buruk karena mereka tidak suka pada binatang. Tapi, jika sudah terlanjur kubeli, mau bagaimana lagi? aku juga terlanjur menyukainya.. Jadi, yang kulakukan hanya terus mencoba menjejalkan nasi sekalipun aku sudah tidak selera makan. Hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh tanganku. Satu-satunya orang yang diam saja ketika aku bilang ingin memelihara anjing, juga orang yang sekalipun masih takut pada anjing dia terus membiarkan aku bermain dengan Chiko. Kak Vero menatapku sambil tersenyum seakan dia memberikan dukungan padaku. Jadi, aku juga harus ikut tersenyum. Membuat Kak Vero menganggukan kepala seakan dia mengatakan jika masalah ini akan segera berlalu ketika mereka mulai menyukai Chiko. Ya ya, aku tahu.. mereka masih baru mengenal Chiko, wajar jika tidak langsung suka. Orang juga tidak akan langsung jatuh cinta pada pertemuan pertama, pasti ada prosesnya terlebih dulu. Aku yakin jika Chiko adalah anjing yang tidak sulit untuk dicintai.. Jadi yang Chiko perlu lakukan adalah berusaha untuk dicintai oleh semua orang. “Kami bukannya tidak suka pada anjing itu, hanya saja.. sekalipun kamu menyayanginya, kamu harus tahu batasnya, Keana” Kata Papa. Aku mendongak, menatap Papa yang berucap sambil tersenyum. Papa adalah yang terbaik, dia tidak pernah membiarkan aku bersedih. Eh, sebenarnya semua orang di rumah ini juga melakukan hal yang sama. Mereka selalu menjaga agar aku tidak bersedih. Jadi, aku sungguh tidak mengenal rasa sedih ketika berada di rumah ini. Tapi.. aku yakin tidak ada Papa yang lebih baik dari Papaku. Aku jadi kembali menundukkan kepalaku sambil mengangguk. “Benar sekali, bagaimana jika Chiko terus di kurung di kandangnya saja??” Kali ini terdengar suara Kak Dean yang menatapku seperti.. oh, Tuhan, aku sungguh tidak tahan untuk tertawa. Dia yang paling takut pada Chiko! “Sudah, biarkan saja dia bebas berkeliaran di rumah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN