Karin mengalihkan pandangan lebih dulu, lalu berdiri. “Hari ini aku akan ke kantor sebentar. Kau bisa istirahat saja di rumah.” Karin spontan bertanya, “Boleh aku ikut?” Harris berhenti di langkahnya, sedikit terkejut. “Kenapa?” “Aku ... tidak mau sendirian di sini,” jawab Karin jujur, nadanya nyaris berbisik. “Tempat ini masih membuatku tak nyaman.” Harris menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. “Baik. Tapi kalau kau merasa belum siap bekerja, kita bisa langsung pulang.” Karin mengangguk. “Terima kasih.” Ketika Harris berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian, Karin masih menatap punggungnya —dan tanpa sadar, hatinya terasa aneh. Bukan nyaman, tapi juga bukan benci. Ada sesuatu di antara dua perasaan itu, sesuatu yang tak bisa ia namai. Dan di balik pintu kamarnya, Harris

