Bab 16. Terjebak Badai Hujan.

1175 Kata
"Gimana kalau ada begal, atau penjahat. Terus mereka menemukan kita. Mereka mendekat, menghampiri, lalu mengancam, dan paling buruk membunuh kita. Atau-at--" Zein memutar matanya kesal, ucapan Maudy sepertinya selalu salah di telinganya. Kemudian tangannya pun mendekat ke arah dahi Maudy dan .... Peletak! "Otakmu kejauhan berpikir sampai sana, putar balik!" ucap Zein setelah menyentil dahi istrinya. Maudy langsung cemberut dan reflek mengusap dahinya itu yang kini terasa sedikit sakit. Dia mau membalas, tapi Zein segera menatapnya dengan tatapan mematikan, yang membuatnya tak berani. "Jauh, tapi itu fakta. Kamu sadar kita berada di mana sekarang? Bagaimana tempat ini, dan keadaannya ... Ckckck, kita bahkan cuma berdua di sini, ditengah hujan. Di saat yang sama belum ada kendaraan lainnya yang berlalu lalang melewati tempat ini," jelas Maudy setengah mengomel. Wanita itu serius dan sedikit gemetar. Mungkin ketakutan akibat pikirannya sendiri atau mungkin karena kedinginan. Zein menyadari hal itu, dan langsung membuang nafasnya kasar. "Sudah, tidak apa-apa. Tidak ada begal atau penjahat di daerah ini. Walaupun sepi, aku ingat jalanan ini cukup aman. Lebih baik kamu pikirkan saja nasibmu, dan kembali takut padaku. Sadar kita sekarang berdua? Bagaimana jika aku melakukan sesuatu padamu seperti dugaanmu sebelumnya?" goda Zein dengan sengaja. Dia sebenarnya pusing menghadapi kerewelan Maudy. Apalagi wanita itu mulai membahas yang lebih jauh. "Nggak bisa gitu, aku akui kamu memang mes*m, tapi sepertinya kamu nggak mungkin mau melakukannya di sembarangan tempat, apalagi di tempat seperti ini. Sebentar lagi juga mau malam, tapi apa kamu berpikir gimana kalau tiba-tiba genderuwo muncul?" tanya Maudy mulai melantur kemana-mana. "Astaga Maudy!!" Zein meremas telapak tangannya sendiri. Istrinya itu benar-benar berpikir semakin jauh. Dari takut pada Zein, penjahat dan sekarang Genderuwo. "Kamu kayaknya capek, lebih baik berbaringlah dan tidur" saran Zein berpikir itu dapat mengurangi kerewelan istrinya. Maudy menurut meski sedikit ragu. "Tapi gimana kalau kamu nanti ngapa-ngapain aku?!" Sial, padahal mereka baru membahas itu. Zein memilih tak menjawab, dan cuma memelototi Maudy. Akhirnya wanita itu sedikit tenang, meski dia tidak berbaring dan cuma bersandar. Karena menurutnya repot menurunkan sandaran kursinya. Zein turun sebentar, dan segera memeriksa keadaan mobilnya. Ternyata mengalami beberapa kerusakan yang tidak bisa di perbaikannya seorang diri, terlebih alat yang terbatas. Dia kembali masuk ke mobil, dalam keadaan basah. Namun, tidak masalah, ternyata pria itu selalu menyediakan baju cadangan di mobilnya. Zein pindah ke kursi belakang untuk berganti. "Kalau kamu mau mengintipku, silahkan," jelas Zein santai. Maudy langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Padahal dia menghadap depan dan tidak menoleh ke arah Zein. "Gimana mobilnya, apa kita bisa pulang?" tanya Maudy. "Tentu saja bisa pulang, tapi dengan berjalan kaki," jawab Zein usil. "Ck, jadi mobilnya beneran rusak?" tanya Maudy lagi. "Menurutmu?" balas Zein bertanya balik. "Tidak disangka mobil mahal seperti ini ternyata lemah!" cibir Maudy, dia kesal karena jawaban yang Zein berikan sedikit menggantung, dan membuatnya tidak puas. "Kita tidak akan pulang dengan jalan kaki, ta kalau tidak salah aku ingat dua kilo meter dari sini ada penginapan," ungkap Zein. "Jadi, maksudmu kita akan ke sana sekarang juga dengan berjalan kaki?" tanya Maudy memastikan. "Tunggu hujannya reda," jelas Zein. "Tapi kapan hujannya reda?" tanya Maudy lagi. Sebenarnya Maudy bukan orang yang rewel, tapi panik bisa membuatnya demikian. Sementara itu Zein cuma meliriknya dengan tatapan tajamnya. Dua jam kemudian hujan lumayan reda meski masih gerimis. Namun, Zein sudah mengajak Maudy menyusuri jalan. Dia takut mereka terlalu malam jika terus di sana. "Cepatlah atau genderuwo akan menculikmu!" cibir Zein sedikit kesal. Menurutnya langkah Maudy terlalu lambat, dan pendek. Sehingga tidak bisa menyamai langkahnya. Wanita itu bahkan sampai berjalan beberapa meter di belakangnya. Namun, saat Zein mengungkit Genderuwo, Maudy langsung setengah berlari, dan menghampirinya. "Dasar lemah, kita baru berjalan sebentar, tapi kau sudah seperti itu!" omel Zein menghentikan langkahnya. Dia menghela nafasnya kasar, kemudian mengamati penampilan Maudy. Rambut wanita itu sudah mulai basah, diakibatkan gerimis, bibirnya pucat, dan tatapannya mulai melemah. Zein mendekat untuk memastikan sesuatu, memegang kedua lengan Maudy, bergantian dengan dahi wanita itu. Sialnya, Maudy sepertinya mau demam, karena suhu tubuhnya mulai terasa panas. Turun pada telapak tangannya, Zein langsung merasakan telapak tangan Maudy seperti membeku. Dingin dan sangat pucat. Mendapati hal seperti itu, Zein sedikit mengumpat, tapi dia justru melepas jas miliknya, dan segera memakaikannya pada Maudy. "Dasar lemah baru ditimpa gerimis udah loyo seperti ini. Naik ke punggungku, aku akan menggendongmu!" itu bukan tawaran, tapi perintah. "Tapi kamu tidak kedinginan?" cicit Maudy yang tampak pasrah. Kini dia sudah digendong Zein. Pria itu berjalan dengan membawa beban tubuhnya. "Dinginlah, kau pikir udara seperti ini masih panas, hah?!" ketus Zein galak. "Dasar merepotkan, sudah begitu tubuhmu juga berat. Jangan-jangan kebanyakan dosa!" Maudy mendengus tak terima, kemudian memukul bahu suaminya itu. Melampiaskan perasaan kesalnya. "Ya, dosaku memang banyak, tapi itu semua karena menghadapi suami brengs*k sepertimu!" balas Maudy tak kalah ketus. "Lama-lama aku tinggal kamu di sini supaya di bawa genderuwo!" ancam Zein tak serius. Karena dia tak mungkin melakukan itu. Ibunya Utari bisa mengamuk habis, jika Zein sampai nekat. "Kalau aku sampai dibawa genderuwo, aku juga tidak akan mengampuni kamu. Jika setelah itu jadi hantu, maka aku akan menghantuimu mati!" Akan tetapi, setelah mengatakan itu Maudy langsung melotot dengan wajah yang bersemu malu, dan ternyata Zein membalas ucapannya dengan sesuatu yang tidak dia duga. "Padat juga," ungkap Zein tanpa dosa. Ternyata pria itu barusan menampar pant*t Maudy. "Jangan macam-macam!" tegur Maudy, tapi Zein malah tersenyum puas. "Macam-macam itu apa? Seperti ini?" ucapannya sambil mengulangi aksinya. Begitulah sampai mereka menyusuri jalanan tersebut lebih dari satu jam lamanya. Sambil terus bertengkar, tapi sekarang Maudy sudah tertidur dalam gendongan Zein. "Kita sudah sampai, kamu turun sebentar dan duduklah di sana. Aku pesan kamar sebentar buat kita. Maudy membuka mata dengan tampak menggemaskan bagi Zein, terlebih saat wanita itu mengangguk dan menurut. "Ternyata kamu manis juga!" ungkap Zein, tapi Maudy belum sepenuhnya sadar, sehingga tak terlalu memperdulikan ucapan Zein. ***** "Mama tidak perlu khawatir, Maudy baik-baik saja dan sekarang dia sudah beristirahat dengan pulas," jelas Zein di telepon. "Tapi dia tidak sakit kan, Zein?" tanya Utari Ibunya. Membuat Zein sedikit kesal. "Tidak!" jawabnya sedikit ketus. "Kamu marah sama Mama Zein?" tanya Utari Ibunya yang merasakan perbedaan dari nada bicara putranya, walaupun dari telepon. "Sejak tadi Mama terus menanyakan Maudy, padahal jelas-jelas dia tidak apa-apa. Mama mencemaskan dia, tapi tidak denganku," keluh Zein langsung membuat Utari Ibunya langsung tertawa geli. "Jadi anak Mama sedang cemburu pada istrinya sendiri? Ckckck, kamu udah dewasa Zein. Dari nada suaramu, dan firasat Mama. Mama tahu kamu baik-baik saja, Nak. Beda dengan Maudy, perempuan biasanya lebih lemah dan juga rentan sakit," ucap Utari Ibunya menjelaskan. "Hm, yasudah. Aku tutup teleponnya, Ma. Aku mau beristirahat," jelas Zein. Sebenarnya mereka bisa pulang setelah teleponnya mendapatkan sinyal, atau bahkan setelah menghubungi ibunya. Namun, badai hujan kembali terjadi, dan lebih buruk, karena disertai petir. Jadi, pria itu memilih menginap di penginapan itu bersama Maudy. "Sial! Sepertinya aku mengambil keputusan yang salah!" ucap Zein setelah menutup teleponnya. Dia melihat ke arah tempat tidur, dan baru menyadari sesuatu. Tempat tidur itu ternyata terlalu sempit untuk berdua. "Lebih baik bertengkar besok daripada tidur di lantai!" dengus Zein sambil kemudian melepaskan atasannya, kemudian berbaring di sebelah Maudy. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN