Bab 14. Hasutan Laura

956 Kata
"Aku dengar kamu habis sakit, Baby. Sekarang bagaimana kondisimu, apa sudah mendingan? Maaf, aku tidak berani menjenguk langsung, kamu tahu sendiri gimana posisi aku," jelas Laura. Wanita itu mendatangi tempat kerja Zein, tapi pria itu tampak tak tersanjung sama sekali. Dia tidak peduli, meski kemudian dia juga tak mengusir Laura dari sana. "Hm, keliatannya kamu sudah baik-baik saja," jelas Laura kembali sambil kemudian meletakkan buahnya di atas meja kerja Zein. Pria itu masih tak bicara dan hanya melirik sekilas dan membuat Laura gemas. "Apa kamu masih kepikiran soal kejadian waktu itu, ya? Baiklah, aku berjanji tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Aku berjanji, maaf aku, Baby," jelas Laura nekat meraih telapak tangan Laura. Zein menghela nafasnya kasar, dan mengangguk singkat. Ini yang dia suka dari Laura dan membuatnya mempertahankan wanita itu disisinya. Dia bisa diatur dan sangat patuh. "Tapi kau pulanglah sekarang, aku masih mempunyai banyak pekerjaan," jelas Zein mengusir halus. "Tapi aku juga mempunyai sesuatu yang membuat kamu senang!" ucap Laura tiba-tiba antusias. Zein mengerutkan dahi dan penasaran. "Kamu masih mau bersama gadis itu? Aku punya rencana brilian," jelas Laura. Berikutnya inilah yang Zein sukai dari Laura. Wanita itu tahu diri dan tidak lupa daratan. Dia selalu profesional dalam hubungan mereka. Hanya sebatas transaksi bisnis, sehingga dia tak pernah menuntut lebih akan hubungan mereka itu. "Perusahaan keluarga kamu, Abhimayu Company. Aku dengar adik kamu Gio akan direkrut menjadi CEO!" ungkap Laura serius. Zein menganggukkan kepalanya. "Lalu?!" "Kenapa bukan kamu saja. Maksudku kau ini adalah anak sulung dan tertua. Kau lebih berhak di posisi itu. Aku tahu kau senang dengan pekerjaanmu sekarang. Menjadi seorang pengacara, tapi dengan menjadi CEO bukankah kamu bisa menekan posisi Gio? Kamu akan semakin mudah merebut Mila!" jelas Laura sambil menyeringai. 'Tapi sebelum itu, aku lebih dahulu memilikimu Zein. Tentu saja dengan semua kekayaanmu!' batin Laura. Wanita itu mana mungkin benar-benar tulus, tapi dia menginginkan sesuatu. "Ide bagus! Baiklah aku akan mengajukan diri menjadi CEO," jelas Zein tersenyum. "Baiklah, tapi sekarang aku sudah memberimu ide brilian. Apa kamu tidak berpikir untuk memberiku hadiah?" tuntut Laura. "Kau boleh belanja sepuasnya hari ini," jawab Zein membuat Laura kesenangan. Tepat saat Laura keluar, Raga masuk dan menghampiri Zein. Dia sepertinya sudah rutin mengajak Zein bermain ke lapangan olahraga. Namun, saat pas-pasan dengan Laura, wajahnya langsung menunjukkan ketidaksukaannya. "Aku pikir ingin mengajakmu main bola, tapi ternyata kamu sudah mengeluarkan keringat di sini!" cibir Raga membuat Zein yang hampir serius dengan pekerjaannya, mengangkat kepala dan menatapnya tajam. "Aku tidak sebrengs*k itu, bajing*n!" umpat Zein terdengar kesal. Raga mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku tahu, karena kamu memang lebih brengs*k dari yang dibayangkan. Merebut kekasih adikmu sendiri, padahal kamu sudah punya istri!" cibir Raga tanpa takut. "Kami sudah akan menikah, dan seharusnya Mila yang menjadi istriku, bukan Maudy!" terang Raga. "Tapi perempuan itu kabur, Zein. Mau sampai kapan kamu berharap? Sudahlah, lupakan Mila, tinggalkan jala*g itu, dan perbaiki pernikahanmu. Mungkin sekarang semuanya belum terlalu terlambat!" nasehat Raga. "Pergilah jika kau cuma ingin bicara omong kosong!" kesal Zein. "Ch, kau selalu begini Zein!" ucap Raga tak habis pikir. ***** Sementara itu, Maudy yang bekerja shift pagi, tidak segera pulang, mampir ke pusat perbelanjaan bersama Jihan. Mereka belanja pakaian. "Kayaknya ini cocok sama aku, Han? Gimana menurut kamu, tidak terlalu terbuka bukan ...." Maudy menunjukkan pakaian yang lumayan tertutup. "Bagus, tapi agak sedikit ngepas," komentar Jihan dengan jujur. "Jadi aku pilih yang mana?" tanya Maudy bingung. "Gaya elite, ekonomi sulit. Chh! Lebih cocok belanja pakaian yang yang di jual dipinggir jalan sana. Itu lebih cocok sama kasta gembel sepertimu!" cibir Laura tiba-tiba sudah berada di sana. Maudy dan Jihan kompak menoleh, dan jadi jengkel sendiri menyadari kehadirannya. "Dia bukankah wanita waktu itu, Dy?" tanya Jihan memastikan. "Benar sekali. Inilah wanita simpanan yang aku jambak kemarin. Kamu dengar sendiri gimana bicaranya, tidak tahu mau!" jelas Maudy membuat Laura geram. "Apa maksudmu, hah?!" tuntut Laura sambil kemudian menaikkan nada suaranya. Maudy tersenyum dan tak takut sama sekali. "Maksudku kamu benar. Seharusnya aku belanja pakaian yang dijual di pinggir jalan, selain lebih murah, kualitasnya juga tak kalah, tapi sebelum itu gimana sama kamu? Kapan belanja pakai uang sendiri?!" Jihan langsung tersenyum puas dan menatap bangga Maudy. Namun, Laura langsung mengepalkan tangan. Urat lehernya bahkan sampai menonjol, dan wajahnya sedikit memerah akibat menahan amarah. "Bilang aja iri! Kamu mungkin istri dari seorang Zein Abhimayu, tapi aku yang dinafkahi!" sarkas Laura tidak mau kalah. Dia tampak bangga saat mengatakan itu. Bahkan Maudy tak mengelak bahwa dirinya pun sedikit tersinggung. Ya, dia dan Zein sudah menikah, namun sekarang tak ada nafkah apapun selain tempat tinggal dan makan gratis. Namun, diapun tak mau kalah dari wanita simpanan suaminya itu. "Nafkah seperti apa? Nafkah keluarga, nama kamu sendiri tidak tercantum ke kartu keluarga, saudara bukan, kerabat juga tidak, apalagi istri. Jadi nafkah seperti apa?!" balas Maudy sengit. "Oh, aku tahu!" Jihan tiba-tiba menyahut. "Nafkah pada bi*atang peliharaan, bukannya itu ada?!" "Tutup mulutmu dan tidak usah ikut campur!" Maudy cuma tersenyum, tapi Laura sudah seperti kesetanan. Dia tak terima disamakan dengan binat*ng. "Asal kalian tahu saja, Zein memberiku nafkah karena dia mencintai aku!" jelas Laura percaya diri. "Bukan kamu, tapi tubuhmu. Bukan nafkah, tapi membelimu!" ralat Maudy dengan tajam. Jihan sampai meringis mendengar ucapan sahabatnya itu, tapi begitulah Maudy. Dia memang sedikit barbar. "Awas kamu! Liat aja nanti, kau pasti akan menyesali ucapanmu ini. Aku akan membalasmu perempuan bus*k!!" umpat Laura memilih berbalik dan meninggalkan keduanya. Bukannya mengalah, tapi teringat janjinya pada Zein. Bagaimanapun juga untuk sementara dia tak mau menciptakan sesuatu yang membuat Zein sampai marah. "Lah kok ginian aja, kalian nggak jadi jambak-jambakan ulang?!" tanya Jihan polos, membuat Maudy melotot kesal pada sahabatnya. "Jadi kamu mau kami kayak yang sudah-sudah?!" sarkas Maudy membuat Jihan cengengesan. "Nggak kok, becanda Dy. Udah ah, tadi kamu mau yang mana?" jelas Jihan mengalihkan pembicaraan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN