Aku membatu, mataku terbeliak saking terkejutnya. Seluruh tubuhku yang kebas kembali berada dalam kuasaku, tapi aku tidak bergerak sedikit pun. Semua suara lenyap sepenuhnya, satu-satunya yang menusuk indra pendengaranku hanya entakan napas Noel yang semakin pelan dan berat. Tubuhnya benar-benar terselimuti oleh darah hingga kalau aku tidak melihat sejumput rambut dan sepasang tatapan iris peraknya, aku akan kesulitan menyadari itu dia. “Noel,” ratapku, meraihnya dengan tanganku yang tak bertenaga. “Aku senang,” katanya, “aku akan mati, aku senang. Akhirnya ... kebebasan.” “Tidak! Tidak! Kau akan hidup, kau akan hidup.” Aku menjanjikan sesuatu yang semu. Sebab aku sendiri yakin dia tidak akan bertahan lebih dari lima menit dalam kondisinya. Mataku perih dan panas, aku menggapainya hin

