Aca tergesa menuju ruangannya, ia agak terlambat bangun karena semalam ia sulit tidur, entah mengapa ucapan Razel terngiang terus ditelinganya bahwa Reyhan memiliki wanita lain selama tiga tahun menjalin hubungan dengannya, meski kini sudah tidak ada jalinan kasih lagi, tapi rasa sesal karena dibohongi membuat sakit di dadanya semalam menjalar ke perutnya hingga ia sulit tidur.
Aca akhirnya bernapas lega saat ia telah duduk di kursinya.
"Tumben ngepas banget datangnya bu?" tanya Ryan sementara yang lain hanya saling pandang saja.
"He'eh, sulit tidur semalam, jadinya bangun kesiangan," jawab Aca dan segera mengajak anak buahnya ke ruang meeting karena ia akan menjelaskan aplikasi terbaru dalam penyusunan laporan keuangan.
****
"Ya pak, bapak memanggil saya?" tanya Tenti dengan senyum manisnya menatap bosnya yang pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, sulit tersenyum.
"Panggilkan Bu Anataya, suru segera ke ruangan saya, saya mau menanyakan pekerjaan anak buahnya yang tumben amburadul," ujar Fariq dengan tatapan dingin.
"Bu Anataya masih meeting dengan anak buahnya pak, nanti saya kabari jika sudah selesai," ujar Tenti lagi.
"Baiklah, bisa minta tolong ke pantry, pagi ini saya ingin kopi saya pakai creamer," ujar Fariq.
"Baiklah pak, dengan senang hati," sahut Tenti segera menuju pintu namun Fariq memanggilnya lagi dan ia berbalik.
"Iya paaak?"tanyanya dengan suara dibuat disemanja mungkin.
"Satu lagi, kalau kamu masih betah kerja di sini, rokmu harus lebih panjang, dan buatlah blouse yang agak longgar, kasihan badanmu seolah menjerit terjepit minta tolong, cepat ke pantry, dan suruh OB yang mengantarkan kopiku," ujar Fariq dengan pandangan menakutkan. Tenti buru-buru ke luar dari ruangan Fariq.
"Ih dasar bos nggak waras, wajah sih tampan di atas rata-rata, otaknya aja yang agak miring, semua pada ingin ngelus aku, eh dia malah ngata-ngatain aku, heh tunggu saatnya, akan aku buat kau tergila-gila padaku," ujar Tenti melangkah menuju pantry dengan wajah kesal.
****
"Bapak memanggil saya lagi, untuk urusan pribadi lagi?" tanya Aca setelah duduk di depan Fariq.
"Caaa formal lagi, kita cuman berdua, ini ruanganku, hanya ada aku dan kamu, pintu aku kunci begitu kamu masuk," ujar Fariq memperlihatkan remote di tangannya. Aca menghela napas berat.
"Berkacalah Ca, mata pandamu tampak mengerikan, wajahmu terlihat jika kurang tidur, ada apa, apa masih mikir laki-laki b******k itu?" kemarahan Fariq terlihat jelas.
"Saya tidak peduli pada mata panda dan lain-lain pak, tugas saya di kantor harus bekerja dengan baik, wajah saya seperti setanpun, saya tak peduli, saya hanya memikirkan perusahaan ini, tidak yang lain, permisi," Aca bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu, Fariq menyusul dan menarik Aca dalam pelukannya, memegang rahang Aca dan menciumnya sangat dalam. Fariq melepaskan ciumannya saat ia mulai tersenggal.
PLAAAAKKK
Mata Aca berair dan ia menatap Fariq tak percaya.
"Kau...," Aca tak percaya Fariq melakukan itu, secepatnya Fariq memeluk Aca lagi, meski awalnya meronta tapi karena Fariq yang tinggi besar akhirnya Aca kalah dan diam saja.
"Aku mengkhawatirkanmu Ca, aku tidak menyuruhmu bekerja mati-matian untuk perusahaan ini, jika sibuk kamu jadikan alasan untuk melupakannya, itu salah Ca, salah, kamu hanya lupa saat di sini, tapi ingat lagi saat di rumah, lakukan hal lain untuk mengalihkannya Ca, aku menyayangimu Ca, aku tidak ingin kamu sakit," suara Fariq terdengar kawatir.
Fariq melonggarkan pelukannya, menatap wajah dengan mata sembab di depannya, meraih tisu dan mengusap air mata Aca yang masih meleleh.
"Lalu mengapa bapak mencium saya?" pertanyaan Aca membuat Fariq bingung, ia melepas pelukannya dan membuka pintu.
"Terima kasih bu, nanti kita lanjutkan diskusinya," ujar Fariq terbata dan menyugar rambut dengan jarinya, segera menutup pintu ruang kerjanya. Terlihat Tenti yang melirik pada mereka berdua dengan tatapan curiga.
Ia kembali ke meja kerjanya dan mengutuki dirinya yang lancang mencium Aca. Meremas rambutnya dengan kasar dan menggeram tertahan.
****
Seharian setelah peristiwa ciuman kecelakaan, Fariq tidak berani bertemu Aca, ia lebih banyak berada di ruangannya dan saat makan siang, terlihat ia ditemani oleh klien perusahaan mereka yang baru saja melakukan kerja sama.
Sampai saat pulang Fariq hanya melihat Aca yang ke luar menuju mobilnya dan melaju pelan, ia amati pergerakan Aca di parkiran dari jendela lantai 3.
Fariq menghembuskan napas berat dan meraih tasnya, ia menuju lift khusus dan turun menuju lobi, di sana ia melihat Tenti seorang diri seperti sedang menunggu sesuatu.
"Menunggu seseorang Ten?" tanya Fariq tanpa senyum.
"Iya pak, ini papa menjemput, janjinya mau di jemput, bapak tidak menawarkan tumpangan, eh maaf pak, lancang," ujar Tenti takut-takut.
"Pesan ojol saja, nanti bapak kasi uang untuk ongkosnya," ujar Fariq memberikan uang namun Tenti menolak mati-matian. Dan Fariq berlalu meninggalkam Tenti.
"Heh dasar makhluk nggak peka, sudah tahu aku cewek seorang diri di sini, sudah nggak ngajak malah nyuru pesen ojek, dasar," ujar Tenti mengeluarkan sumpah serapahnya.
****
Aca berusaha memejamkan matanya, setelah mandi dan sholat isya', ia berusaha tidur, tapi bayangan ciuman Fariq yang terasa amatir membuat Aca menggelengkan kepalanya, meski ciumannya tidak sepanas Reyhan, namun gigitan Fariq tadi menyisakan perih di bibirnya. Aca tidak merasakan apapun selain perih.
Apa maksudnya, mengapa tiba-tiba menyerangku, sudahlah Ca, tidurlah, toh hatimu sudah tak mau menerima siapapun...
Aca berusaha memejamkan matanya.
Sementara Fariq di rumah besarnya, ia duduk di balkon dan meraba bibirnya, memejamkan mata dan merasakan rasa manis bibir Aca yang tertinggal di bibirnya.
"Heh ngapain pegang-pengang bibir sendiri sambil senyum-senyum, pasti habis ciuman sama Aca ya?" Razel mengagekan Fariq yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Ah kakak sok tahu, aku hanya membayangkan saja," ucap Fariq dan terdengar Razel yang terbahak.
"Kamu laki-laki, ingat, sangat mengenaskan kalau hanya pingin, gerak cepat dan lakukan, keburu Aca balik ke mantannya yang b******k itu," ujar Razel geram.
"Nggak segampang itu, kak, Aca benar-benar sakit hati, ia tidak ingin jatuh cinta lagi," suara Fariq terdengar pasrah.
"Ya Allah, kamu laki-laki apa bukan sih, mental kok kayak krupuk kena air," Razel terlihat marah.
"Atau aku yang akan membuat Aca lupa pada laki-laki itu?" Razel mendekatkan wajahnya pada Fariq.
"Kak...," Fariq tak melanjutkan tapi Razel tahu maksud adiknya.
"Jika bersaing denganmu, aku akan kalah sebelum bertanding, kakak sudah expert sedang aku pemula, bukan levelnya kalau kakak ngajak aku bersaing," ujar Fariq pasrah mengaku kalah.
Tiba-tiba ponsel Fariq yang berada di atas meja berbunyi dan terlihat nama Aca di sana.
"Riq, angkat Riq, speaker aja, biar aku bisa ngasi tahu kamu harus ngomong apa ke Aca?" Razel melihat tangan adiknya bergerak cepat dan mengangkat ponsel mendekati bibirnya.
Halo Ca, ada apa, tumben?
Emmm kenapa kamu tiba-tiba cium aku tadi
Mata Razel terbelalak dan menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar, terlihat wajah Fariq yang memerah menahan malu dan menyugar rambutnya dengan jarinya.
****