Maisie berdiri tepat di depan pintu kamar Darren, sedari semalam pria itu tidak keluar sama sekali dari kamarnya.
Sampai pagi ini pun tetap tak terlihat gerak gerik aktifitas pria itu.
Kembali Maisie menghela nafas kasar, ia berjalan seolah tanpa tenaga, menuju ruang makan.
Mama Maria dan papi Dimas sudah duduk di ruang makan, menunggu putra putrinya untuk sarapan bersama.
"Pagi ma...pagi pi..."
"Pagi sayang..."
"Pagi Maisie..."
"Kak Darren gak ikut sarapan ma?"
"Mungkin dia belum bangun, sepertinya tidak ada jadwal kuliah. Kenapa? Kamu minta diantar kakakmu?"
Maisie menggelengkan kepalanya, lesu, seperti tak ada semangat di pagi hari tanpa melihat wajah Darren.
"Mau papi antar? Hari ini papi senggang."
Maisie tersenyum kemudian mengangguk, papi nya memang paling pintar mencairkan suasana.
***
"Darren baik sama kamu Mai?"
"Iya pi...kak Darren bahkan menawarkan mau ngajarin Maisie belajar pas dengar mama ngamuk ngamuk saat tahu nilai Maisie turun"
"Darren emang begitu Maisie, sebenarnya dia anak yang baik. Hanya saja sikapnya kadang kaku seperti itu."
"Iya pi...Maisie bersyukur sekali kak Darren sekarang bisa baik sama Maisie..."
Mobil papi Dimas telah sampai di depan sekolah Maisie, dan Maisie pun mencium punggung tangan papinya itu.
"Mai berangkat dulu ya pi..."
"Iya...belajar yang giat ya Mai..."
"Iya pi.."
"Gimana uang saku yang papi kirim masih kurang gak?"
"Masih banyak pi..."
"Nanti papi kirim lagi biar bisa buat kamu jajan sama teman teman..."
"Makasih banyak ya pi...."
Papi Dimas hanya tersenyum sembari mengangguk.
Di tutupnya pintu mobil, kemudian mobil papi Dimas berlalu meninggalkan Maisie yang berjalan menuju kelasnya.
"Ciiiieeeeee..."
"Makan makan doooonnnkkkkk"
Michele dan Thania yang mengetahui kalau Maisie menerima cinta Andromeda, meminta traktiran sahabat mereka itu.
"Apaan siiiihhhhh?"
Maisie tersenyum, ia pun menjelaskan alasan kenapa ia menerima Andromeda padahal sama sekali tak ada rasa pada pria itu.
"Hati hati loh Mai...bisa bisa kamu jatuh cinta sama kak Meda..."
"Iya...witing tresno jalaran soko kulino tahu..."
"Papi Dimas kasih uang jajan lebih, mau aku traktir gak?" seperti biasa Maisie mengalihkan pembicaraan dan pastinya kalau dengan sogokkan, kedua sahabatnya sukses melupakan aksi ledek meledeknya.
***
Maisie bisa bernafas lega, karena ia tak perlu melihat Andromeda sedang nongkrong di depan sekolahnya.
Ia bisa pulang dengan tenang tanpa harus menghindar.
Sambil bernyanyi riang, Maisie tersenyum berjalanan memasuki rumahnya.
Dan matanya tak sengaja menangkap sosok Darren tengah berjalan menaiki tangga.
"Kak..."teriaknya sembari setengah berlari kemudian meanrik lengan Darren.
"Kak..sibuk gak?"
"Kenapa?" Darren tak menoleh sedikitpun ke arah Maisie.
"Aku ada PR, bantuiiinnn..." rengeknya.
Dan kembali, karena rengekkan itu membuat perasaan kesal Darren hilang seketika.
"Nanti malam ke kamar kakak, kita kerjain sama sama."
"Kenapa gak sekarang aja kak?"
"Capek, mau tidur" Darren masuk ke kamarnya dan menutup pintu agak keras membuat Maisie tersentak.
"Balik lagi dinginnya...Kaya es balok" gumam Maisie kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Darren memegangi d**a sebelah kirinya yang tak hentinya berdetak sangat kencang sedari Maisie memanggilnya di tangga tadi.
Sesak nafas di dadanya membawa hawa panas menghampiri seluruh tubuhnya.
"Gila kamu Darren" gumamnya sendiri.
Pada malam harinya setelah selesai makan malam, Maisie mendatangi kamar Darren dengan membawa beberapa buku untuk mengerjakan tugas sekolahnya bersama Darren.
"Ka...aku masuk ya..." Maisie telah terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Darren.
Dilihatnya kakak tirinya itu sedang sibuk di depan laptop dengan kaca mata bertengger di hidungnya.
Kalau saja sikap Darren bisa lebih hangat, mungkin Darren sudah menjadi sosok yang sempurna di mata Maisie.
Waja tampan Darren yang di topang dengan tubuhnya yang atletis begitu terlihat sempurna.
Sepertinya disini Tuhan begitu tidak adil, kenapa bisa ada orang yang sempurna seperti Darren?
Sesaat Maisie sempat terpesona dengan ketampanan Darren, walau ia hanya berbalut piyama garis warna hitam, namun Darren tetaplah mempesona.
"Kak Darren..."
"Duduklah.."
Darren menyuruh Maisie untuk duduk di sampingnya.
Iapun menyingkarkan laptop serta buku buku yang ada dihadapannya, digantikan dengan buku yang di bawa Maisie.
Maisie menunjukkan banyaknya tugas yang di berikan oleh guru kelasnya, namun dengan sabar Darren membimbing Maisie agar bisa menyelesaikan satu persatu tugasnya.
"Ternyata ka Darren begitu pintar. Aku sampai mudah mengerjakan semua ini."
Darren sudah biasa mendengar orang memujinya, namun kali ini berbeda, pujian ini keluar dari mulut Maisie,adiknya, begitu terdengar merdu di telinganya.
"Baru sadar kamu?" Darren tanpa sadar tersenyum ke arah Maisie sembari mengacak pucuk kepala gadis itu.
"Apa kakak gak keberatan kalau aku mintai bantuan seperti ini terus?"
"Sama sekali tidak?"
"Kakak jadi gak ada waktu untuk hang out"
"Lebih baik belajar di rumah"
"Pacar kakak gak ngeluh gitu kak Darren belajar mulu?"
"Aku gak punya pacar."
Maisie terdiam, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Darren yang tampan dan sempurna tidak memiliki kekasih??
"Kakak suka perempuan?" dengan nada hati ahti Maisie bertanya dan di balas tawa oleh Darren
"Kamu pikir aku homo gitu?"
Darren bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju rak buku untuk mengambil sebuah buku di bagian paling atas, dan Maisie mengikuti Darren dari belakang.
"Kak Darren ganteng, masa gak punya pacar?"
"Apa harus pria tampan itu punya pacar?"
"Ya ...gak harus sih..."
"Kamu kebanyakan pacaran makanya gak fokus sama pelajaran"
"Aku gak gitu. Aku bahkan belum pernah pacaran."bantah Maisie
Darren tersenyum sinis, karena ia ingat jelas baru kemarin ia melihat Maisie di antar oleh seorang pria.
"Yang kemarin bukan pacar kamu?"
"Kak Darren liaaatttt?" Maisie merasa sedikit malu karena ucapannya mendapat sanggahan dan bukti dari Darren
"Sebenarnya Maisie terpaksa jadian sama dia kak...'"Maisie angkat bicara dan Darren melihat ke arah Maisie.
Darren melipat tangannya di depan d**a, siap mendengarkan cerita Maisie.
"Dia gangguin Maisie terus kak, ngajak Maisie jadian, ngirim hadiah lewat teman teman Maisie, dan nungguin Maisie pulang sekolah. Dari pada ganggu mending pura pura Maisie terima aja."
Darren terkekeh mendengar cerita adik tirinya yang begitu polos di matanya.
Ia tak menyangka gadis itu mau menceritakan kehidupan pribadinya padanya.
"Kakak ngledek?"
"Ya nggak.."
"Tuh ketawa!"
"Aku ketawa? Kapan?"
"Aaaahhh tuh kan kak Darren ngledek..." Dipukulnya pelan lengan kakaknya itu, membuat Darren kembali tertawa.
Ada perasaan lega mendengar cerita Maisie, setidaknya adiknya masih mau terbuka padanya.
***
Sudah beberapa hari setelah jadian dengan Maisie tak ada kabar dari gadis itu, membuat Andromeda yang sudah tergila gila padanya menjadi tak sabar untuk bertemu.
Tak ingin menunggu lebih lama akhirnya Andromeda kembali menunggu Maisie di depan sekolah.
Maisie yang sudah merasa lega karena sudah tak perlu bertemu lagi dengan Andromeda, kini merasa harinya akan suram setelah melihat seringai yang sangat ia kenali di luar sekolah.
"Mati aku..." gumamnya
"Kenapa Mai?" kompak dua sahabatnya bertanya karena melihat ekspressi Maisie yang sulit di jelaskan.
"Kak Meda jemput... Aku lupa kasih kabar beberapa hari..."
Dengan langkah gontai Maisie berjalan menghampiri Andromeda setelah sebelumnya mendapat dukungan dan semangat dari dua sahabatnya.
"Hallo kak..."
"Maisie...kakak kangen...kamu kok gak ada kabar? Katanya mau hubungi kakak tapi nyatanya..."
"Lagi banyak tugas ka...maaf ..."
"Kan kamu bisa hubungi kakak, jadi bisa kakak bantu kerjakan..."
"Maisie bisa kerjakan kok, kan kakak Maisie yang bantuin..."
"Bukannya kamu anak tunggal" gumam Andromeda lirih hampir tak terdengar oleh Maisie, kembali Andromeda tersenyum ke arah gadisnya, membukakan pintu mobilnya kemudian berputar arah meuju tempat duduknya sendiri depan stir.
Apapun itu yang penting sekarang ia bisa bertemu Maisie dan bersama dengan perempuan yang selama ini ia incar.
"Kakak apa kabar?" Maisie merasa sedikit bersalah karena mengacuhkan pria yang selama ini telah perhatian padanya.
"Kenapa? Kamu kangen kakak ya?" ANdromeda merasa berbunga bunga hanya dengan di tanyai kabar oleh Maisie.
Maisie terdiam, dia menyesal punya perasaan bersalah tadi.
"Mai, kapan kita bisa jalan berdua?"
"Ehmmm...entahlah kak..Maisie hampir ujian nasional sekarang, jadi sedang fokus belajar. Gak papa kan ka?"
Andromeda mengangguk, ia paham betul posisi Maisie sekarang.
Baginya asal gadisnya tak menolak bertemu dan di antar pulang seperti inipun sudah cukup.
Perjalaan mereka terhenti di depan pintu rumah kediaman Hartono, dan kembali Andromeda membukakan pintu untuk Maisie.
Namun saat Maisie keluar dari pintu mobil, Andromeda menarik tangan gadis itu dan hendak menciumnya namun belum sempat itu terjadi Maisie langsung mendorong tubuh Andromeda dengan keras hingga bertabrakan dengan pintu mobil.
"Kenapa? Bukannya kita pacaran? Salah kalau aku mencium pacar sendiri?"
Andromeda masih tertegun dengan reaksi Maisie yang menurutnya berlebihan.
"Maaf kak..aku belum siap"
Maisie berlari meninggalkan Andromeda yang masih menatapnya dengan tatapan penuh emosi.
Sementara Darren yang sedari tadi berdiri di balkon kamarnya dan memperhatikan gerak gerik dua insan yang berada di depan rumahnya itu mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku buku tangannya memutih.
Rahangnya mengeras dengan tatapan matanya yang tajam.
Nafasnya naik turun tak terattur seperti singa yang ingin segera menerkam mangsanya.
***