Maisie harap harap cemas.
Bagaimana tidak?
Ujiannya yang sudah berakhir seminggu yang lalu kini tinggal menunggu hasil pengumumannya.
Sebenarnya ia tak kuatir soal kelulusan, ia yakin betul kalau dirinya pasti lulus.
Hanya saja karena Darren berjanji akan mengajaknya menginap di apartemennya kalau nilai Maisie bisa naik beberapa point dari hasil try out nya sebelum ujian.
Tentunya itu hal yang sulit menurutnya.
Bisa mendapatkan hasil di atas rata rata dengan kerja kerasnya sendiri.
Mungkinkah?
Namun iming iming dari Darren tetap memberikan semangat tersendiri bagi Maisie.
Dan akhirnya hasil yang ia tunggu pun keluar.
Maisie meloncat kegirangan.
Nilainya benar benar melesat naik jauh dari hasil try outnya.
Jantungnya bahkan hampir loncat dari rongga d**a nya karena tidak percaya dengan deretan angka di lembar kertas yang berada di tangannya.
"Selamat ya adikku sayang..." sebuah kecupan kecil di dahi Maisie dan sebuket bunga terutama kedatangan Darren ke sekolah adalah sepaket hadiah terbaik yang ia terima siangnya ini walaupun mama dan papi nya tak sempat datang karena ada urusan di rumah sakit.
"Kakak gak lupa sama janji kakak kan?"
"Janji apa ya?? Memang kakak pernah menjanjikan sesuatu?"
Maisie memonyongkan bibirnya, sedikit kesal karena Darren menggodanya.
Pria itu hanya tertawa, sikap adiknya yang kadang konyol dan menggemaskan selalu mampu mencerahkan hatinya kini.
Tawa Darren terhenti, matanya menatap tajam pada sosok pria tampan dengan setelan kemeja warna putih dan celana jeans hitam lengkap dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
Pria yang tak kalah tampan dari Darren itu tak lain adalah kekasih yang tak dianggap sang adik, Andromeda.
"Hai Maisie..."
Maisie menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"Kak Meda..." ia tertegun sesaat, melupakan seseorang yang seharusnya bersamanya di hari kelulusannya.
"Long time no see. Miss you so baby"
Pelukan Andromeda yang tiba tiba tak bisa di bantah Maisie, sukses membuat rahang Darren mengeras dan merngepalkan tangannya dengan kuat.
"Selamat atas kelulusanmu ya sayang. Kakak bangga padamu. Sampai ketemu di universitas" Bisik Andromeda di telinga Maisie, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Jangan lama lama." Darren dengan sedikit keras melepaskan pelukan Andromeda dari tubuh Maisie.
"OW...ada Darren ternyata. Hai Darren, apa kabar? Lama tidak bertemu" Andromeda dengan smirk smile nya menyodorkan tangannya mengajak Darren bersalaman.
Namun Darren langsung menepis tangan pria itu dengan kasar, tatapannya tajam seolah menusuk ke manik mata Andromeda.
"Jangan bercanda. Kita baru bertemu kemarin di kampus" Darren sinis.
Andromeda tersenyum kecut.
"Aku pikir kau tidak melihatku."
"Aku tidak ingin menyia nyiakan mataku untuk melihat makhluk kasat mata" Darren membuang pandangannya, merasa muak melihat pria di sampingnya yang sedang melipat tangannya di d**a.
Tatapan mereka bertemu, seperti ada medan listrik diantara sorot mata kedua pria tampan yang berdiri di hadapan Maisie.
"Ada perlu apa kak Meda kemari?" Maisie mencoba mencairkan suasana yang sudah menegang.
Andromeda tersenyum ke arah gadisnya kemudian menggenggam sebelah tangan Maisie.
"Tentunya untuk menghadiri acara kelulusan gadisku. Untuk apalagi menurutmu?"
Maisie mendengus kesal.
Cara bagaimana lagi untuk menghindari pria tampan tapi menyebalkan yang terobsesi dengannya itu?
Darren melihat kekesalan di wajah adiknya, langsung di tepisnya tangan Andromeda dari genggaman tangannya pada Maisie.
"Bicara saja jangan pegang pegang"
Tatapan sengit kembali terjadi diantara dua pria itu.
"Apa salahnya? Maisie pacarku?" Bentak Andromeda pada Darren
"Tapi dia adikku" balas Darren, Andromeda tertawa sumbang.
"Dia cuma adik tirimu"
Maisie menatap Andromeda tidak suka, namun jawaban pria itu memang tidak salah, ia mencintai Darren namun ia hanya adik tiri pria itu.
"Kak Darren, bisa kita bicara di rumah saja? Aku akan pulang dengan kak Meda." Maisie berbicara tanpa menatapa wajah Darren, tatapannya tetap tertuju pada Andromeda yang menyebalkan.
Darren mendengus kesal, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu meninggalkan Maisie berdua dengan Andromeda.
Senyum kemenangan terurai di wajah tampan Andromeda.
Kembali di raihnya tangan Maisie, menggenggamnya erat seolah tak ingin terlepas.
Mereka kini berada di dalam mobil Andromeda, berkendara menyusuri jalanan yang tak begitu ramai, entah tujuannya kemana karena Andromeda tak kunjung menepikan mobilnya.
"Kita mau kemana kak?"
"Akhirnya kamu mau bicara juga"
"Aku sedang tidak bercanda kak."
Andromeda hanya tersenyum, menyeringai lebih tepatnya, membuat Maisie bergidig sesaat.
"Kak Meda..."
"Hmmmm.."
"Kita kemana?"
"Ke tempat yang tak di datangi oleh kakakmu Darren."
Maisie terdiam, sesaat ia punya pikiran buruk, namun segera di tepisnya dan di jawab tawa kaku oleh Maisie.
"Kakak lucu."
"Aku sedang tidak melawak."
Kembali Maisie terdiam, kemana pria ini akan mengajaknya?
Maisie meraih telephone genggamnya dengan tangan satunya yang menganggur tak di genggam Andromeda, mencoba menghubungi seseorang.
Namun Andromeda telah merebut benda pipih itu dari tangan Maisie kemudian melemparnya ke jok belakang, dan kembali fokus pada kemudinya.
Maisie memekik.
"Kenapa di lempar kak?"
"Kenapa? Mau menghubungi kakak tersayangmu? Jangan harap. Hari ini waktumu dengan ku."
Tak seperti biasanya, nada bicara Andromeda yang hangat berubah dingin.
Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dari marabahaya apapun yang akan datang padaku.
Aku masih muda Tuhan, cita cita ku belum sepenuhnya tercapai.
Mama akan sedih kalau aku hilang atau terjadi sesuatu padaku.
Tak berapa lama mobil Andromeda berhenti, di sebuah rumah mewah di tepi bukit.
Rumah yang sepenuhnya sepertinya terbuat dari kayu semua itu, terlihat mewah dan elegan.
Maisie bertanya dalam hati, rumah siapa ini?
Dan kenapa Andromeda mengjaknya kemari?
Apakah?
Oh tidak!!!
Dia masih perawan, dan tak sedang ingin melakukannya, terlebih dengan Andromeda.
Diakuinya kalau Andromeda memang tampan, namun cinta bukan soal ia tampan atau tidak.
Ini soal hati dan kenyamanan.
Dan hatinya tak bersama dengan pria yang berstatus sebagai kekasihnya ini.
Andromeda turun dari mobil, memutari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Maisie yang masih menatap dengan tatapan bingung.
Pria itu merangkul Maisie dengan lembut, mengajaknya keluar dari mobil.
"Ini rumah siapa kak? Kenapa kita disini?"
"Menurutmu?" Kembali Andromeda menyeringai, membuat Maisie semakin ciut nyalinya.
Langkah kakinya seolah berat melangkah menaiki tangga menuju pintu masuk.
"Tunggu kak, aku ada ide, bagaimana kalau kita cari makan dulu?"
Andromeda menghentikan langkahnya menatap kedua manik Maisie.
"Tidak perlu" kembali dengan setengah menyeret Maisie, tangan Andromeda menggenggam erta pundak gadis itu.
Maisie sudah kehabisan akal.
Ingin kabur dari tempat itupun sepertinya percuma, karena rumah yang kini berada di hadapannya terletak di tepi bukit dan sangat jauh dari pemukiman warga terakhir yang dijangkaunya.
Gadis itu sepertinya pasrah, tak mungkin bagi Andromeda untuk membunuhnya, apapun yang terjadi ia kembalikan lagi pada takdir Tuhan.
Tangan Andromeda tengha meraih gagang pintu kayu yang terlihat kokoh menjulang tinggi di hadapannya.
Maisie menutup matanya erat, tak ingin menerima kenyataan apapun yang akan terjadi setelah ini.
Pintu pun terbuka.
Daaaannnnnnnn...surprise....
***