"Mama akan menikah" aku dan mama sedang duduk berdua di ruang tengah, dengan wajah gembira mama memberi tahuku kalau beliau akan menikah lagi.
Aku tersenyum ikut bahagia mendengar kabar dari mama, setelah sekian lama hidup sendiri akhirnya mama mau membuka hatinya dan memutuskan untuk menikah lagi.
Ku peluk tubuh mama erat, "Selamat ya ma...semoga mama bahagia."
Perkenalkan, namaku Maisie Athenna Adam, aku anak tunggal dari pasangan Maria Purnomo dan almarhum Adam Saroso.
Ya, papaku memang telah tiada sejak aku duduk di bangku sekolah dasar karena kecelakaan, dan sejak itu mama membesarkanku seorang diri.
Untung saja mama punya sebuah butik , yang cukup untuk menafkahi kehidupan kami berdua.
Mama bercerita bahwa saat kemarin beliau mengikuti reuni SMA beberapa bulan yang lalu, ia bertemu dengan teman sekelasnya yang diam diam menyukai mama.
Dan dalam kesempatan itulah, akhirnya mama bisa menjalin hubungan dengan pria yang ku ketahui bernama oom Dimas Hartono, yang berstatus sebagai seorang duda beranak satu.
Mama ku sangatlah cantik, walau tak muda lagi dan tubuhnya sedikit berisi, namun pesona mama tetap memancar.
Beliau selalu berpakaian anggun dengan rambut pendeknya yang ikal sebahu yang selalu di gerai, menambah pesona kecantikan mama.
Saat bersanding denganku, kerap kali kami di sangka kakak beradik, walau aku sadar, mama pastinya lebih cantik dari aku yang biasa saja ini.
Dan malam ini, mama dan oom Dimas mengadakan pertemuan agar aku dan dia bisa saling mengenal.
***
Mama tampil anggun sekali malam ini, dengan memakai blezer dan rok sepan di bawah lutut dengan warna senada.
Tak lupa mama meng grai rambut ikalnya dengan sedikit poni, sempurna.
Aku tersenyum senyum sendiri melihat tingkah mama yang sepertinya harap harap cemas, seperti anak gadis mau bertemu kekasihnya saja.
"Mama udah cantik Mai?" Aku mengangguk
Sebuah mobil sedan warna hitam dengan seorang supir menjemput kami, oom Dimas yang mengirimkannya.
"Berangkat pak"
Mobil pun melaju menuju sebuah restorant dengan privat room di dalamnya.
"Kenapa kamu pakai dress yang ini sayang? Yang mama belikan kemarin kan bagus..."
Mama mengomentari dress putih selutut tanpa lengan yang aku pakai.
"Kalau Maisie pakai baju yang di belikan mama, Maisie takut kalau oom Dimas malah jadi ngelirik Maisie karena lebih mencolok dari mama" gurauku.
Aku dan mama sama sama tertawa.
Kami telah sampai di tempat yang sudah di tentukan, dan oom Dimas sudah datang terlebih dahulu.
Seorang pria yang sudah matang, dengan setelan jas warna navy, wajahnya lumayan rupawan untuk pria seusianya.
"Sudah dari tadi mas?"
"Baru sepuluh menit"
Oom Dimas tersenyum ke arah mama dan aku, ia mengulurkan tangannya dan di sambut oleh mama.
Gantian aku menyambut tangan oom Dimas, ku cium punggung tangannya, menghormati.
"Ini Maisie?"
"Iya oom, saya Maisie."
Aku dan mama duduk bersebelahan , berhadapan dengan oom Dimas.
"Darren mana mas? Gak ikut?" mama memutar matanya mencari.
"Dia ke kamar mandi tadi"
Baru selesai oom Dimas bicara, seorang pria muda masuk ke privat room.
"Sini Darren, kenalkan. Ini tante Maria dan ini putrinya Maisie." oom Dimas memperkenalkan aku dan mama pada pria muda yang baru masuk ke ruangan kami tadi.
Ia hanya menyalami aku dan mama satu persatu tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu duduk di samping oom Dimas.
Aku tertegun tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Bukankah ini Darren Benjamin Hartono???
***
FLASH BACK ON
Maisie dan beberapa temannya mendatangi Sekolah Menengah Atas dengan masih mengenakan seragam SMP nya, hari ini ia akan menyerahkan ijasah aslinya karena telah di terima di sekolah tersebut.
Dan tanpa sengaja di ruang tata usaha, ia melihat pemandangan yang menarik matanya.
Seorang pria tinggi, dengan rambut hitam kecoklatan, matanya tajam, hidungnya mncung dan berbibir sexy, tengah berada di sampingnya untuk meminta legalitas pada fotokopi ijasahnya
Merasa di tatap oleh anak kecil bau kencur, pria itu melirik ke arah Maisie, membuatnya salah tingkah dan langsung membuang arah pandangnya.
Namun sebelum itu, ia semapt membaca nama yang tertera pada fotokopi ijasah yang di bawa pria itu.
Darren Benjamin Hartono, begitu yang tertulis.
Dan nama itu selalu terngiang di benak Maisie, ia berjanji dalam hati untuk menyelesaikan SMU nya dan melanjutkan kuliah agar bisa mengenal seorang Darren.
Menurut teman teman Maisie, Darren sangat populer saat masih SMA, tak sulit mencari informasi tentang pria itu.
Wajah tampan dengan prestasi yang gemilang, tak sepadan dengan sikapnya yang cuek dan dingin dengan orang orang yang tak akrab dengannya.
Mungkin juga ini menambah nilai plus seorang Darren.
Karena ini pula Maisie akhirnya berkecil hati, tak mungkin dia yang hanya gadis biasa bisa dekat dengan Darren, walau tanpa menjalin hubungan apapun.
FLASHBACK OFF
***
"Makan yang banyak Maisie...'
"Iya oom..."
"Kok oom sih? Kan sebentar lagi kita akan jadi keluarga. Panggil papi saja...sama seperti Darren"
"Iya papi.."lidah ku masih kaku, sudah lama kata ayah, papa atau papi tak keluar dari mulutku.
Sementara ku lihat Darren membuang muka sembari menyantap makannya asal, sepertinya ia tak suka dengan kehadiranku dan mama masuk ke keluarganya.
"Aku sudah selesai." Darren meletakan sendok dan garpunya agak keras di atas meja, membuat kami melihat ke arahnya kaget.
"Saya permisi pergi dulu."
"Mau kemana Darren? Makan malam kita belum selesai"
"Darren ada urusan di kampus pi...Darren pamit" Darren membungkukkan tubuhnya ke arah kami kemudian berlalu.
Oom Dimas menghela nafasnya kasar, kemudian tersenyum ke arah mama.
"Maafkan sikap Darren ya Ri, Maisie, Darren sebenarnya baik kok anaknya. Tapi kadang memang seperti itu. Sejak mama nya meninggal waktu dia duduk di bangku SMP karena sakit, dia berubah menjadi dingin."
"Gak papa mas, saya ngerti"
"Semoga kamu bisa menghadapi sikap anak saya Maria. Saya harap kamu bisa sabar."
"Anak kamu anak saya juga mas, kita bisa bimbing mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik"
"Iya semoga"
Aku hanya terdiam memperhatika dua orang dewasa di hadapanku saling menguatkan.
***
Dua bulan setelah pertemuan pertamaku dengan oom Dimas, akhirnya mama dan oom Dimas resmi menikah dan sah menjadi suami istri.
Panggilanku pada oom Dimas pun lambat laun sudah berubah, sekarang aku fasih dan lancar untuk menyebutnya dengan sebutan 'papi'.
Papi orang yang hangat dan sangat lembut, terlihat sekali kalau ia sangat mencintai dan menyayangi mama.
Walau bagaimanapun mama adalah wanita yang dulu diam diam sangat dicintai papi, dan sekarang barulah kesampaian.
Kami akhirnya di boyong ke rumah papi, sebuah rumah megah nan mewah dengan halam yang sangat luas.
Aku mendapat seorang ayah tiri yang kaya raya ternyata.
Papi Dimas adalah seorang pengusaha sepatu, tas, dompet, dan jaket yang sukses.
Brand nya bahkan sudah sampai ke manca negara.
Dan disinilah aku sekarang, di kediaman keluarga Dimas Hartono.
Walau aku hanyalah seorang anak tiri, papi memperlakukan aku tak beda dengan Darren.
Bahkan aku mendapat fasilitas mobil pribadi untuk antar jemput kemanapun, serta sebuah ATM tanpa limit.
Aku semakin menghormati papi Dimas, tentunya ini tak lepas karena mamaku yang cantik yang begitu digilai papi.
Namun sikap papi yang lembut berbanding terbalik dengan putrang, Darren.
Sepertinya ia tak pernah menganggap keberadaanku dan mama di rumah.
Sekalipun tak pernah memulai pembicaraan, dan lebih memilih mengurung dirinya sendiri di kamara ataupun hang out dengan teman temannya.
"Sabar ya ma...dekati saja Darren pelan pelan. Ia hanya merindukan sosok ibunya, ia sudah menerima kehadiran kamu dan Maisie di rumah kok"
Terkadang ku dengar papi menenangkan mama yang selalu hanya terdiam saat menerima sikap dingin Darren.