CHAPTER 9

1404 Kata
Darren menyadari sesuatu, perasaan sayangnya pada Maisie bukanlah perasaan sayang kakak pada adiknya, namun ia menyayangi Maisie layaknya seorang pria pada wanita. Pantaskah ia memiliki perasaan seperti itu padanya? Gila kamu Darren!! Dia adikmu!!! Kamu harusnya bisa menekan perasaanmu itu. Namun perasaan sayang tentunya manusiawi kan? Ia hanya bisa menjaga gadis yang ia sayangi dari jauh, berusaha agar Maisie tak dekat dengan pria yang menurutnya kurang baik, 'MENURUTNYA'. Entah bagaiman level penilaian Darren, mungkin hanya dirinya sendirilah yang tahu. Sementara Maisie yang masih dsibuk dengan tugasnya, nyaman saja saat Darren berada di sampingnya menemaninya saat belajar seperti saat ini. "Apa kau punya buku yang bisa k****a Mai?" "Ada kak." Maisie berjalan menuju tumpukkan buku yang berada di sudut kamarnya. "Banyak novel fiksi disini kak, pilihlah kalau ada yang membuatmu tertarik." Darren mendengus kesal, ia sama sekali tak tertarik dengan bacaan anak anak kecil seperti itu. "Jangan seperti itu kak...kakak belum membaca novel yang ini..Bagus loh." Maisie memberikan sebuah novel pada Darren. "Ceritanya menarik, aku bahkan bisa membayangkan bagaiman tokohnya mencium pasangannya dengan lembut." Darren menerima buku yang di berika Maisie tanpa semangat. "Kenapa perlu di bayangkan? apa kau belum pernah berciuman sampai harus membayangkannya?" Maisie menggelengkan kepalanya, ekspresi wajahnya benar benar polos dan imut, Darren merasa gemas melihatnya. "Mau berlatih denganku?" tiba tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibir Darren tanpa sadar. Sebenarnya Darren sempat kaget pada apa yang ditanyakannya pada Maisie, bahkan ia sempat untuk bersiap siapa tahu gadis itu tiba tiba menamparnya karena bertanya tidak sopan padanya. Namun reaksi Maisie di luar dugaannya, gadis itu menatap kedua manik mata Darren kemudian mengangguk pelan. Tak lama tangan sebelah kanan Darren meraih tengkuk leher Maisie dan tangan kirinya merangkul pinggang gadis itu hingga menepis jarak diantara mereka. Jantung Maisie berdetak begitu kencang, dan hampir tak bisa bernafas. Dapat dirasakannya nafas Darren yang hangat dan tak beraturan. Tanpa aba aba, Darren menyentuhkan bibirnya ke bibir Maisie, spontan gadis itu memejamkan matanya perlahan walau tangannya bergetar dan dingin. Darren melumat bibir Maisie dengan lembut,mencecap bibir atas dan bawahnya bergantian pelan pelan, membuat tubuh Maisie seperti melayang diantara bunga bunga, dan dapat ia cium aroma parfum maskulin dari tubuh sexy Darren. Seketika Maisie mengalungkan kedua tangannya ke leher Darren dan membalas ciumannya walau masih kaku karena bagaimanapun ini adalah ciuman pertama bagi Maisie. Darren memperdalam ciumannya, menggigit kecil bibir bawah Maisie agar gadis itu memberikan akses masuk untuk lidahnya menjamah gigi gigi Maisie yang tertata rapi, berbagi saliva dan menghisap lidah gadis itu derngan lembut. Darren sepertinya lupa siapa gadis yang ia cium sekarang ini. Terbuai dalam tiap cecapan dan dekapan hangat mereka yang semakin erat. Nafas Maisie tersengal kala Darren melepaskan tautan bibirnya, tanpa melepaskan rangkulannya pada tubuh gadis itu. Ia meletakan dahinya pada dahi Maisie dan menatap manik gadis itu. "Bisa merasakannya kan? Jangan hanya di bayangkan" ucap Darren masih terengah engah mengambil nafas. Maisie kembali mengangguk, namun tak sanggup untuk menatap kedua mata Darren, ia merasa malu karena ingin merasakan ciuman, dan tentunya karena Darren adalah kakaknya. Dan saat Darren memiringkan mukanya hendak mengecup bibir Maisie lagi, gadis itu malah menutup matanya, membuat Darren mengulum senyum kemudian membatalkan niatnya. Ia malah mengecup lembut dahi Maisie, kemudian melepas rangkulan gadis itu di lehernya. "Buka matamu, sudah malam, kakak kembali ke kamar dulu." Maisie tak berani melihat kepergian Darren, ia masih tak menyangka apa yang telah terjadi barusan. Seperti mimpi rasanya. Dulu ia hanya mampu melihat Darren dari jauh, lalu memandang Darren dari dekat karena status pria itu yang kini adalah kakak tirinya, dan sekarang bisa merasakan bibir Darren yang lembut, benar benar seperti mimpi. Hampir loncat rasanya jantungnya dari tempatnya kalau saja ia tak kembali sadar dari alam mimpinya. Maisie langsung menuju ranjangnya, tak mempedulikan tugas tugasnya yang belum ia selesaikan, lalu berguling di balik selimutnya. Sementara Darren yang berada di kamarnya hanya terdiam, tak percaya dengan apa yang di lakukannya pada adiknya. Bukankah ini sudah melebihi batas? Apakah ini sudah termasuk tindak kriminal? Ia meyakinkan dirinya kalau ia salah dan tak akan mengulanginya lagi. Namun bibir Maisie terlalu manis untuk di lewatkan. Darren sadarlah!! *** Suasana sarapan pagi terasa canggung bagi Darren dan Maisie, tak ada pembicaraan selain perbincangan kedua orang tua mereka yang sibuk membahas soal proyek baru papi Dimas yang akan mengeluarkan brand terbarunya atas nama Maisie, sebagai bentuk rasa sayang papi kepada putrinya. Maisie tentulah merasa bahagia karena ia benar benar dianggap sebagai putri keluarga Hartono. Sementara Darren seperti biasanya dengan sikap dinginnya tak menanggapi pembicaraan papi dan mama nya yang menurutnya sama sekali tak menarik. "Mai, berangkat sama kakak. Pi, ma, Darren berangkat kuliah dulu sama Maisie." Darren berpamitan pada kedua orang tuanya dan menarik Maisie untuk keluar bersamanya. Dalam mobli pun suasana canggung masih terasa. "Maafkan kakak Mai." nada bicara Darren datar, ia tetap fokus pada kemudinya. Maisie menoleh ke arah Darren kemudian tersenyum. Sebenarnya ini tak sepenuhnya salah Darren, ia juga merasa sedikit malu dan canggung dengan keadaan ini. "Maisie juga minta maaf kak..." Satu tangan Darren meraih tangan Maisie dan menggenggamnya lembut. "Kakak menyayangimu Maisie" Sebenarnya perkataan Darren terdengar ambigu di telinga Maisie, namun ia sama sekali tak mempermasalahkan, apapun ia tetap bahagia dengan Darren di sampingnya. *** Andromeda bertemu Darren di depan sekolah Maisie, Mereka saling mengenal karena memang satu sekolah dan satu angkatan, bahkan sekarang mereka satu kampus dan satu jurusan. Sungguh takdir tak pernah jauh berkutat pada mereka. Dulu mereka menyukai orang yang sama saat di SMA, walau yang di perebutkan sama sekali tak memilih diantara mereka berdua. Dan kini mereka mencintai orang yang sama lagi, Maisie Athenna Adam, adik tiri Darren. "Sedang apa kamu disini?" "Apa aku perlu melapor padamu setiap kali aku mau pergi?" Jawaban sinis Darren sudah biasa bagi Andromeda, pria di hadapannya memang sedingin dan sekeras batu es. Sebenarnya dulu mereka bersahabat, hanya karena seorang gadis mampu menghancurkan persahabatan mereka yang erat melebihi persaudaraan. Tatapan mereka berpindah ke arah seorang gadis yang sedang berjalan ke arah mereka. Maisie tertegun dengan pemandangan dihadapannya. Dua pria tampan sedang berdiri di hadapannya tengah menjemputnya. Sebenarnya ia ingin sekali pulang dengan Darren, namun melihat senyum manis Andromeda ia merasa kasihan. Bagaimanapun pria itu sudah jauh jauh datang untuk menjemputnya. Akhirnya Maisie pun menghampiri Darren dan meminta ijinnya untuk pulang dengan andromeda. Dengan wajah kesal, Darren meninggalkan adik tersayangnya berdua dengan pria yang selama ini menjadi musuhnya. "Kamu kenal Darren Mai?" Maisie hanya mengangguk, sepertinya ia gtak perlu menjelaskan hubungan seprti apa antara dirinya dengan Darren pada Andromeda yang menurutnya orang asing. "Kak Meda, bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk menguhungiku terlebih dahulu bila ingin ke sekolah." "Aku tidak sabar menunggumu menghubungiku sayang." Kata 'sayang' yang terucap dari bibir Andromeda sebenarnya dsedikit membuat perut Maisie merasa mual. Pria tampan ber iris biru itu sepertinya sudah terbiasa dengan ucapan mesra pada gadis gadis. "Aku pasti akan menghubungimu kak..." "Setelah kamu selesai dengan Darren? Begitu maksudmu Maisie?" Maisie menghela nafas kasar, ia sedang tak ingin menjelaskan papaun pada Andromeda. Di otaknya terus terekam tatapan mata Darren yang begitu menakutkan sampai membuat bulu kuduknya merinding. "Sampai ketemu lagi kak Meda." "Aku akan menjemputmu lagi besok." "Aku yang akan menghubungimu kak" Maisie pun berlalu menuju ke dalam rumah dengan setengah berlari. Ia berharap Darren sekarang berada di kamarnya dania bisa bicara baik baik pada pria itu. "Mai...jangan lari lari di dalam rumah, nanti kamu jatuh sayang.."teriak mama Maria yang melihat putrinya tergesa gesa. "Iya ma..." 'Makan dulu" "Nanti Ma...Maisie ganti baju dulu. Kak Darren udah pulang ma?" "Sepertinya dia di kamarnya. Jangan dekat dekat Maisie, Darren sepertinya sedang kesal." Maisie hanya tersenyum kemudian berlalu. Kini ia sedang berdiri di depan kamar Darren, tanpa permisi seperti biasanya Maisie nyelonong masuk ke kamar Darren yang tak di kunci. Darren tak ada di kamarnya, Maisie memutar matanya melihat sekeliling, dan ia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Maisie pun duduk di sofa dekat ranjang Darren, memutuskan menunggu pria itu selesai mandi dan mengajaknya bicara. Tak lama kemudian Darren keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Maisie dengan jelas melihat betapa sexy perut Darren dengan roti sobek yang tertempel di perutnya dan air yang menetes dari ujung rambutnya menambah kesexyan pria itu. Maisie menelan salivanya. Bagaiman bisa ia berpikiran yang tidak tidak soal kakaknya. "Jangan melihat ku seperti itu terus. Kamu nanti gak bisa tidur." Dengan santainya Darren menghampiri Maisie dan duduk di sampingnya tanpa berniat memakai pakaian terlebih dahulu. Maisie mebuang mukanya, tak ingin berdosa semakin dalam, menikmati pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN