Tiga puluh delapan Jelita melamun sambil duduk di kantin, pikirannya melayang entah kemana. Memikirkan banyak hal yang tak sanggup dia selesaikan sendiri. “Aneh, sampai sekarang Om Ferdy sama sekali enggak bahas soal pernikahan. Kira-kira kenapa ya? Kalau dia begitu, aku jadi merasa semakin tidak enak. Tapi, di sisi lain aku juga takut kalau tiba-tiba dia mulai membicarakan tentang pernikahan. Huft..” gumamnya. “Ngomong sama siapa lo, anak baru? Siapa yang mau nikah?” suara seorang gadis membuyarkan lamunannya. Jelita mengangkat dagu, Rere berdiri tepat di depannya. Dia kemudian duduk di kursi seberang. Menopang dagu dan menohok Jelita dengan tatapan anehnya. “Heh, ditanya malah bengong aja!” ujarnya kasar. “Aku Cuma ngomong sendiri kok.” “Gila?” Jelita menunduk dalam, tak ingin ba

