Tujuh puluh satu Bibi mengetuk pintu kamar Gabrian, dua orang yang sedang bicara empat mata di dalamnya sontak terkejut dan menatap daun pintu dengan terbelalak. “Bibi..” lirih Jelita. “Yaudah biarin, Ta. Emang kenapa?” “Ish, enggak ih.. aku malu, Gab!” “Lho, malu kenapa? Jutsru Bibi bakalan seneng kalau liat kita akur.” “Akur kan enggak berarti berduaan di kamar, Gab.” “Berduaan di kamar? Emang kita habis ngapain?” goda Gabrian. “Ish..” Jelita memalingkan wajahnya. Rasanya malu sekali. “Hayo habis ngapain sama aku di kamar?” ledek Gabrian. “Ish, sana keluar duluan.” Bisik Jelita. “Terus kamu? Mau tunggu sampe aku balik ke kamar?” Gabrian terus saja menggodanya meski Jelita sangat malu, wajahnya masih sudah memerah sejak tadi. Pintu terus saja diketuk, Bibi rupanya tak sabaran.

