Dua puluh dua Tian sudah mengurus semua keperluan untuk keberangkatan Gabrian dan Jelita, meski gabrian merasa segalanya begitu aneh dan ganjil. Gabrian mondar-mandir di depan kamar Jelita. Saat gadis itu keluar, dengan sigap dia memotong langkah Jelita. “Jel, coba kamu pikirin deh.” “Soal apa ya?” “Soal Patagonia!” “Ehm?” “Patagonia itu jauh lho, jauh banget! Mending, kamu minta Papi suruh ubah destinasinya, jangan kesana. Kan di sini juga banyak tempat menarik. Misalnya puncak, atau pantai dekat sini.” “Aku mana berani ngomong gitu, Gab.” “Yah, kenapa harus enggak berani?! Papi itu cinta banget sama kamu! Pasti dia bakalan dengerin apapun maunya kamu.” Deg! Jelita tertegun, ada yang mengoyak perasaannya. “Jel! Malah bengong!” tegur Gabrian tak sabaran. Bibi yang mendengar oce

