"Eugh ...." Azriya melenguh seiring dengan kelopak matanya yang mengerjap seakan berusaha menormalkan cahaya yang masuk. Perlahan, kelopak mata itu terbuka sempurna, hingga ia bisa melihat Silvana duduk di sisi ranjangnya. "Sayang ... ada yang sakit?" tanyanya lembut. Azriya menggeleng. "Sebentar, Kakak ambilkan minum dulu." Silvana bangkit dan meraih segelas air putih yang tersedia sedari tadi di atas nakas, kemudian wanita cantik itu dengan perlahan membantu Azriya untuk minum. "Makasih, Kak " "Masih pusing nggak?" Azriya mengangguk sembari memegangi pelipisnya yang masih terasa berdenyut. "Tadi air apa yang diberikan Aurell, Kak? Kenapa kayak ada bau sesuatu yang aneh?" tanyanya berterus-terang. Silvana sama sekali tidak terkejut, bahkan ia juga tidak merespon berlebihan. Wani

