Ada ayahku di sana... sedang duduk diam dengan tenangnya menyaksikan pertarungan. Berbeda dengan beberapa anggota dewan, dan beberapa pejabat lainnya yang nampaknya begitu larut dalam aksi hajar menghajar yang di lakukan oleh dua petarung yang sudah babak belur, tinggal menungguh salah satu yang akan jatuh dan tumbang saja kini. “Gadis...” Mataku menemukan dirinya yang terlihat beberapa kali mengerjapkan matanya, ngeri harus melihat tontonan brutal nan sadis itu. ‘Ahhh.... semakin besar saja rasa bersalahku kepadanya’ “Ah!” Karena sibuk memperhatikannya, aku sampai tak focus pada langkahku hingga menabrak seseorang di depanku. “Maaf” Ucapku langsung begitu, tak boleh aku membuat keributan di sini. Tapi kemudian ia malah hanya tertawa saja kepadaku, lalu berjalan dengan gembi

