Audrey berdiri di depan cermin wastafel. Kedua tangannya menggenggam erat pinggiran wastafel di tengah pikirannya yang berkecamuk. Setelah memikirkan banyak hal tentang konsekuensi yang akan ia dapat di kemudian hari, keadaan memaksa dirinya harus melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan. Walau sebenarnya Audrey merasa enggan, tapi apa daya jika pria itu sudah menyeret perihal keselamatan calon bayinya yang akan ikut tersiksa seandainya Audrey menolak keinginannya. "Maafkan aku, Malvin...." gumam Audrey lirih. Satu tetes air mata meluruh jatuh dari sarangnya. "Aku melakukan ini bukan karena ingin mengkhianatimu, tapi ... aku melakukannya demi keselamatan calon anak kita. Demi membuat bayi kita aman dari ancaman Tuan Dax yang berbahaya." Audrey terisak samar. Menatap lurus pada pantul

