Audrey membuka matanya perlahan, seberkas cahaya di pagi hari kontan membuat pandangannya terasa silau. Audrey lekas menghalangkan sebelah tangannya yang sedikit berbekas merah di bagian pergelangannya. Ia menghela napas getir saat bayangan Malvino semalam kembali mengelebat di dalam kepala.
Malvino Jackson memang bukan sembarang lelaki biasa yang memiliki banyak kekurangan, dia benar-benar lelaki berwajah bak dewa tertampan yang tak ada tandingannya. Selain itu, keahliannya saat berc*nta teramat mahir hingga membuat Audrey menggila sampai ia harus rela menyerah dalam perlawanannya.
Audrey lantas melirik ke sebelah, lelaki itu masih tertidur dengan posisi membelakangi. Menampakkan punggung lebarnya yang telanjang. Sementara Audrey langsung membuang muka karena tak ingin kembali mengingat peristiwa panas dan mengg*irahkan seperti tadi malam. Ya, sesuai perkataannya semalam, dia benar-benar tidur satu ranjang dengan wanita itu dan mengulangi p*rgumulan panas untuk kali kedua.
Kenapa nasibku harus seperti ini? Batinnya meratap miris.
Audrey mendesah panjang, ia mencoba bangun dari pembaringannya. Tak lupa, ia pun menahan selimut tipis yang menutupi tubuh t*lanjangnya agar tidak melorot. Sekilas, Audrey melirik jam minimalis di atas nakas. Sudah jam delapan, sebaiknya Audrey pergi membersihkan diri sebelum Malvino terbangun dan menerkamnya lagi.
Di saat ia hendak beranjak turun dengan gerakan mengendap, tiba-tiba lengan polosnya ditahan oleh tangan besar yang terasa halus dan hangat di kulit lengannya. Sontak, Audrey pun menolehkan kepala ke arah si pelaku. Dilihatnya, Malvino sudah terbangun dengan muka bantal yang menghiasi wajah tampan di pagi harinya.
Gawat! Siaga 1. Batin Audrey waspada.
"Kau mau ke mana?" tanya Malvino serak, bukan karena g*irah tapi karena efek bawaan sehabis terbangun dari tidur.
"Aku hanya ingin mandi," jawab Audrey dingin.
Sebuah keajaiban. Di saat Audrey berpikir bahwa Malvino akan menahannya, tetapi justru lelaki itu malah melepaskan pegangannya di lengan Audrey. Sedikit aneh, tapi itu merupakan keberuntungan bagi Audrey bukan?
"Pergilah ... aku ingin kembali tidur. Pukul sembilan nanti tolong bangunkan aku. Aku harus berangkat ke kantor untuk menemui relasi," pesan Malvino bersamaan dengan desahan lega diam-diam yang Audrey keluarkan lewat mulut. Audrey sangat bersyukur akan hal itu.
Sebelum Malvino berubah pikiran, Audrey pun buru-buru beranjak dari ranjang. Dia melilitkan selimut tipisnya menutupi seluruh tubuh, hanya bahu dan lengan saja yang tak tertutupi. Selimut itu tidak cukup muat untuk membungkus keseluruhan tubuh t*lanjangnya.
"Mau ditutup serapat apapun, aku bahkan sudah sangat tahu setiap detail tubuhmu itu...." celetuk Malvino bangga, mengejutkan Audrey yang baru saja hendak melangkah.
Sejenak, gadis itu menoleh sengit ke arah Malvino. Tapi, lelaki itu malah terkekeh geli seakan sedang melihat muka lelucon sang gadis.
Sebaiknya aku tidak usah menghiraukannya. Putus Audrey dalam hati
Lalu tanpa mau berniat menanggapi ucapan vulgar Malvino, ia bergegas melangkah lagi menuju pintu kamar mandi di sudut ruangan. Hanya saja, sebelum ia berhasil menggapai knop pintu, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang yang kontan membuatnya terpekik kaget. Matanya membesar saat menemukan wajah tampan Malvino yang tengah menatapnya penuh arti. Rupanya, ia sedang berada dalam gendongan Malvino sekarang.
"Kau! Apa yang kau lakukan?" bentak Audrey menyalang.
"Aku berubah pikiran. Sebaiknya, kita mandi bersama saja pagi ini...." tukas Malvino santai dan itu berarti, Audrey harus bersiap diri untuk tersiksa dalam kenikmatan lagi seperti semalam.
Malvino membawa Audrey masuk ke kamar mandi. Lantas mendudukkannya di pinggiran wastafel membelakangi cermin besar yang terpampang.
"Jangan harap kau bisa terbebas begitu saja dari terkamanku pagi ini, Nona Wilson...." seringai Malvino penuh hasrat. Tanpa diduga, ia juga menarik selimut di tubuh Audrey dalam sekali sentakan.
Dalam sekejap, tubuh molek Audrey pun kembali telanjang tak berpenghalang.
***
"Begini lebih baik," gumam Malvino tersenyum sensual. Untuk sesaat, Audrey pun hanya bisa menghela napas pasrah tanpa mampu berkutik sedikit pun.
Audrey tidak mengerti, kenapa pria ini begitu antusias sekali untuk menyentuh setiap inci yang ada pada tubuhnya. Seperti sudah menjadi candu saja, Malvino bahkan terlihat sangat anteng setiap kali membuai Audrey di dalam kenikmatan tiada duanya.
Wanita itu merasakan sensasi panas dingin tatkala mendapati setiap sentuhan yang Malvino telusurkan. Hingga setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera membersihkan diri terlebih karena Malvino memiliki jadwal pertemuan dengan relasi bisnisnya.
Seusai mandi bersama, Malvino pun kembali ke kamarnya sendiri. Sementara itu, Audrey hanya bisa menghela napas panjang di tengah dirinya yang kebingungan hendak mengenakan pakaian apa.
"Masa iya aku harus mengenakan lagi baju bekas semalam. Tentu saja rasanya tidak akan nyaman...." gumam wanita itu melenguh.
Lalu, di saat Audrey yang masih kebingungan sendiri sembari berdiri di depan cermin rias yang membuat tubuhnya membelakangi pintu kamar, tiba-tiba saja pintu yang semula tertutup rapat pun kembali didorong hingga terbuka oleh seseorang. Dengan masih berbalut handuk, Audrey sigap menolehkan pandangannya ke arah di mana saat ini Malvino sedang berdiri di ambang pintu.
"Aku sudah menduga, kau pasti akan merasa bingung karena tak ada pakaian yang bisa kau kenakan. Ini, pakai lah dulu kemejaku. Jika tidak sibuk, siang nanti aku akan membelikanmu sejumlah pakaian. Tangkap dan segeralah pakai! Atau aku akan kembali menyantapmu sebagai sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor," tukas Malvino menyeringai.
Tidak ingin jika hal tersebut kejadian, Audrey pun secepat kilat menangkap kemeja biru tua yang Malvino lemparkan ke arahnya. Dan hap! Kini kemeja itu pun sudah ada di tangan Audrey. Untuk sejenak, Malvino pun tersenyum miring seraya berkata, "Tangkapanmu oke juga! Baiklah, kalau begitu... aku akan memberimu waktu untuk berpakaian. Tidak usah lama-lama! Setelah kau mengenakan kemeja itu, segera keluar dan sarapan lah bersamaku. Tak lama lagi, kurir pengantar makanan yang kupesan pasti akan tiba. Cepatlah!" ujar Malvino memperingatkan.
Kemudian, ia pun segera bergegas meninggalkan kamar Audrey sembari menutup pintunya lagi dari arah luar. Sepeninggalnya Malvino yang sudah beranjak menjauh, Audrey pun mengembuskan napasnya cukup panjang. Sepintas, ia pun mengamati kemeja panjang berwarna biru tua yang kini sudah ada dalam genggaman tangannya. Sebelum benar-benar mengenakannya, ia pun melebarkannya terlebih dahulu seraya bergumam, "Apa harus aku memakai kemeja kebesaran ini? Lalu, bagaimana dengan dalamannya? Apa dia lupa mengenai pakaian dalam yang selalu seorang wanita gunakan? Oh tidak! Sepertinya, aku memang diharuskan mengenakan kemeja tipis ini tanpa menggunakan pakaian dalam sebagai penghalangnya."
***
Setelah beberapa saat mematut diri di depan cermin, akhirnya Audrey pun memberanikan diri untuk melangkah keluar dari kamarnya. Seperti yang sudah Malvino komandokan sebelumnya, selepas berpakaian dia harus segera menemuinya di meja makan. Dan sekarang, Audrey sedang berjalan menuju ke arah meja makan. Dilihatnya, Malvino sedang menyantap bacon di sela matanya yang menatap fokus layar ponsel yang digenggamnya.
Mendekati Malvino yang belum menyadari keberadaan si wanita, mula-mula Audrey pun berdeham pelan. Namun rupanya, dehaman itu tak cukup membuat Malvino menyadari kehadirannya. Hingga di kali kedua, Audrey pun kembali berdeham dengan volume dehaman yang sedikit lebih kertas dari sebelumnya.
Dan gotcha! Usahanya pun membuahkan hasil.
Kali ini, Malvino melirik ke sumber dehaman barusan. Beberapa saat, mata n*kalnya pun menelusuri postur tubuh si wanita tanpa terlewat satu inci pun.
"Hem, not bad. Kau sangat terlihat seksi dengan kemeja tanpa dalaman. Kemarilah, kau harus sarapan. Tadi malam kau tidak makan apapun, dan aku mengajakmu berolahraga sebanyak dua putaran. Ayo! Duduk dan segeralah kau santap menu sarapan yang ada," cetus Malvino mengomando. Akan tetapi, dibanding segera melakukan apa yang pria itu suruh, Audrey justru malah terlihat melongo di tempatnya berdiri.
"Memikirkan apa, huh?" tanya Malvino mengernyit.
"Apa yang kau maksud dengan berolahraga?" cicit wanita itu teramat polos. Mendengar dan melihat raut wajah Audrey yang benar-benar begitu polos, dalam sekejap Malvino pun tergelak.
"Astaga, Nona. Aku pikir kau sedang memikirkan apa. Nyatanya, kau tidak mengerti dengan maksud dari perkataanku. Sudahlah, cepat makan atau aku akan mempraktikkan kembali kata 'berolahraga' yang tadi kusebutkan," tukas Malvino mengerling nakal. Lalu di detik itu juga, Audrey pun langsung membelalak karena baru tersadar akan arti kata 'berolahraga' yang sudah sempat pria itu sebutkan.