Bab 8

2593 Kata
“Everyone’s trying help me move on. They say it gets better in the long run.   –Against the current- AUTHOR POV “Saya sudah berusaha mengetuk pintunya, tapi dia tak menjawab sama sekali, Tuan. Saya khawatir,” kata Mrs. Jones saat menelepon tuan mudanya karena cemas Eliza tak kunjung keluar dari kamar mandi hampir tiga jam.”Saya khawatir dia akan hipotermia … atau.…” “Aku akan kembali Mrs. Jones,” kata Andre memotong kalimat Mrs.Jones.”Tolong anda suruh Maxx untuk mendobrak…” dia terdiam sejenak mengingat kondisi Eliza yang masih tidak stabil jika melihat pria, ”jangan Maxx, tolong telepon Ibuku saja, jika Anda berkenan.” “Baiklah, Tuan,” kata Mrs. Jones. Andre menutup sambungan teleponnya. Dia memutar kursinya menghadap meja kerja lalu memijit keningnya yang begitu pening. Pria itu sungguh frustrasi mengingat satu masalah belum diselesaikan sudah datang masalah lagi. Bahkan dia tak menyangka jika dampak yang dilakukannya pada Elizabeth hingga seperti ini. Dengan perasaan gelisah, jemari kanannya mencari nomor kontak Dokter Albert mencoba bertanya untuk mencari psikiater terbaik untuk gadis itu sembari menanyakan hasil darahnya kemarin malam karena tak sempat membuka email. “Kau bisa carikan psikiater wanita untukku? Yang terbaik di kota ini bahkan di Amerika,” kata Andre setelah mendengar suara Dokter Albert dari seberang. “Ada apa?” tanya dokter Albert dengan nada bingung,”apa kejiwaan gadis itu juga berdampak?” Andre mengangguk. ”Kurasa, kumohon tolonglah aku.” Dokter Albert menghela napas.”Baiklah, aku ada rekomendasi seorang psikiater. Aku akan menghubungi secepat mungkin, Andre.” “Aku butuh sekarang, gadis itu tak mau keluar kamar mandi. Aku takut dia bunuh diri karena dia percaya aku memperkosanya,” kata Andre dengan nada frustrasi sambil mengusap wajahnya dengan gusar.”Bagaimana hasil laborat gadis itu? Apa benar memang ada obat perangsang?” “Iya, untung saja kadarnya tidak terlalu tinggi, Andre,” kata Dokter Albert,”jika kadarnya tinggi aku tidak bisa membayangkan bagaimana sistem tubuh gadis itu.” Andre mengernyitkan kedua alisnya. ”Kenapa? Beritahu aku, agar aku bisa membunuh pelakunya.” “Dengar, ini bukan masalah kau membunuh pelaku itu atau tidak Andre, tapi jika sampai ada seseorang yang memberinya obat perangsang itu lagi dengan dosis yang cukup banyak … bisa dipastikan jantung Nona Granger tidak kuat dan akhirnya dia bisa mengalami henti jantung secara mendadak.” Andre terkejut bukan main. Dia mengeratkan genggaman ponselnya dengan amarah yang kembali memuncak.”Bisakah kau datang ke penthouse-ku dengan psikiatermu? Aku ingin kau memeriksa gadisku lagi.” “Baiklah, satu jam lagi aku akan datang.” #### Dengan kecepatan tinggi, Andre membelah sepanjang jalanan Centre St menuju penthouse-nya di sekitar 432 Park Avenue dengan audinya membuat sopir pribadinya―Jo―menampakkan ekspresi tegang seolah tak ingin kehilangan nyawanya dengan sia-sia untuk hari ini. Dia tahu jika tuan mudanya itu sedang dilanda rasa gelisah sejak kejadian yang menimpa penthouse Abraham Jhonson. Namun yang membuatnya sedikit terkejut adalah sikap tuan mudanya yang baru pertama kali seperti ini pada seorang gadis. Jo senang namun cukup khawatir jika gadis itu bukanlah gadis biasa dalam arti gadis itu memiliki sebuah rahasia lain yang disimpan begitu rapat. Jo bisa melihatnya dari dalam kedua mata gadis itu. Audi mewah itu berbelok dengan cukup tajam ke arah kanan menuju 6th Ave membuat beberapa kendaraan membunyikan klaksonnya dengan cukup keras. Andre hanya bisa mengumpat kesal sambil sesekali memaki. Perjalanan dari Worth Street menuju kediamannya bisa memakan waktu 15 menit jika lengang. Namun kali ini dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya sama sekali, jika biasanya Andre begitu santai menghadapi sesuatu kali ini tidak. Dari tadi jantungnya berpacu dengan detik jam yang berputar seolah mengejarnya untuk cepat menyelamatkan gadis itu bagaimana pun caranya. Oh sial! Dia akan menghajar siapa pun yang tidak berhasil membawa Lisa keluar dari kamar mandinya itu. Akhirnya setelah memacu andrenalin dengan kecepatan hampir 100km/jam, Andre menghentikan laju mesin mobilnya di depan bangunan tinggi penthouse lalu melesat keluar tanpa mengatakan satu kata pun kepada Jo. Sedangkan Jo sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menahan sabar terhadap sikap tuan mudanya itu lalu dia menggeser posisinya di bagian kemudi dan menghidupkan mesin mobil untuk diparkir di basement. “Mrs.Jones!” teriak Andre sambil membuka pintu penthouse sembari melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya. “Tuan,” panggil Mrs.Jones dari dalam kamar Andre. “Apa dia baik-baik saja?” Mrs. Jones menghela napas dengan raut wajah sedih memandangi wajah tuannya.”Dugaan saya benar, dia pingsan di dalam kamar mandi akibat hipotermi tuan. Saya tidak bisa menunggu lama Nyonya Jhonson untuk datang kemari, jadi saya memanggil Maxx untuk mendobrak pintu. Untung saja kami bertindak cepat jika tidak….” “Sial!” umpat Andre lalu dia menerobos tubuh wanita paruh baya itu tanpa menghiraukan kalimat terakhir Mrs. Jones. Dilihatnya gadis itu terbaring lemah dengan tubuh pucatnya di atas kasurnya dengan selimut tebal serta penghangat ruangan yang telah dinyalakan. Andre kembali mengusap wajahnya lalu mendekati tubuh lemah gadis itu. Diraihnya tangan kanan Elisa yang pucat dan keriput akibat terlalu lama berendam di bath up. Andre menangis, merutuki dirinya sendiri bisa membuat gadis di depannya ini lemah tak berdaya. “Berapa suhu terakhirnya, Mrs.Jones?” “Sekarang sudah tiga puluh tiga derajat, Tuan,” kata Mrs.Jones,”tadi suhunya hampir tiga puluh derajat. Maxx melakukan pijat jantung saat kami mengeluarkannya dalam kondisi tak sadarkan diri.” “Ya Tuhan …” lirih Andre sambil mengusap wajahnya dengan cemas dan pasrah. Kemudian dia meraba denyut nadi Eliza di lehernya yang begitu lemah. Andre yakin jika tekanan darah gadis itu semakin turun selain dari efek obat perangsang itu. Pria itu menoleh ketika mendengar suara langkah Dokter Albert dengan seorang wanita yang sama yang datang kemarin malam untuk mencabut infus gadisnya. “Dia hipotermi,” kata Andre to the point,”kau harus menyelamatkannya, Albert. Aku bisa gila jika dia mati seperti ini!” Tanpa membalas perkataan Andre, dokter pribadi keluarga Jhonson itu memeriksa detak jantung Eliza dengan stetoskop yang diambil dari dalam tas cokelatnya lalu berlanjut memeriksa pupil gadis malang itu. Sedangkan perawatnya melakukan pengecekan suhu di telinga kiri Eliza dengan thermometer. “Suhunya 33,6 derajat, Dok,” kata perawat itu lalu memasukkan alat oxymetri ke jempol kiri gadis itu.”Saturasi 95%.” Perawat itu pun mengambil simple mask  lalu disambungkan ke tabung oksigen yang telah dia taruh di samping bed setelah melepas infus kemarin atas perintah Dokter Albert. Kemudian ia memasang masker itu menutupi hidung dan mulut  Lisa dan mengatur flowmeter hingga sekitar 4 lpm. Perawat itu pun memeriksa tekanan darah Lisa.”Apa kita harus memberinya obat untuk menaikkan tekanan darahnya? Dia mengalami hipotensi 50/40.” “Pasang infus segera dan syringe pump!” perintahnya pada perawat.”Jangan lupa pasang blood warmer, please,”lanjutnya diikuti anggukan perawat itu. “Dia baik-baik saja, kan?” tanya Andre cemas melihat perawat mulai memasang selang infuse di punggung tangan kanan Lisa. “50/40 Andre, apakah tekanan darah seperti itu menurutmu baik?” dengus dokter itu sambil menyiapkan obat norepinefrin ke dalam spuitt berukuran 50 cc.”Kuharap kondisinya tidak semakin menurun. Apa yang sudah kau lakukan padanya?” “Aku … berpura-pura memperkosanya,” jawab Andre dengan ragu membuat pria paruh baya itu terkejut.”Dan … setelah itu ….” “Dan dia memercayai hal itu?” tanya Dokter Albert membuat Andre mengangguk.”Kau gila tuan Jhonson.” Dokter itu menyerahkan spuitt besar itu kepada perawat lalu berkata,”Buat 2ml/jam saja, please!” Pria berkacamata itu melepas kacamatanya memandangi Andre sambil menghela napas. ”Sudahkah kau membaca email-ku? Ada hal lain yang kutemukan dalam darah Ms. Granger.” Andre mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti. “Apa dia mengkomsumsi obat … ehm … antidepresan?” tanya Dokter Albert.”Apa dia … memiliki suatu trauma atau penyakit tertentu? Kau tahu bahwa obat antidepresan itu bisa mengakibatkan hipotensi, bukan? Dan obat perangsang juga memberikan efek yang sama maka … dia akan mengalami hipotensi yang bisa menyebabkan henti jantung, Andre.” “Jujur, aku tidak tahu apa -apa tentang gadis ini, Albert,” kata Andre sambil melihat gadisnya yang sudah terpasang infuse dan alat blood warmer ditengah selang infus itu.”Tapi … dulu aku pernah melihat maksudku kami berpapasan saat dirinya magang di perusahaanku. Waktu itu aku tidak sengaja menabrak dirinya. Dan kau tahu? Seketika dia pingsan begitu saja.” “Hapephobia?” Andre menggeleng.”Dokter di perusahaanku mengatakan bisa jadi dia memiliki phobia itu tapi ada faktor lain yang membuat dirinya seperti itu bukan?” “PTSD?” “Mungkin.” “Aku sudah memanggil psikiater yang akan menemani Nona Granger, Andre,” kata Dokter Albert lalu dia mengecek alat syringe pump miliknya.”Agak susah jika mendiagnosa langsung bahwa Ms. Granger memiliki phobia atau PTSD. Untuk sementara, aku memberinya obat untuk menaikkan tekanan darahnya secara bertahap, Andre.” “Aku tidak tahu harus bagaimana terhadap kebaikanmu.” “Ini tugasku menyelamatkan nyawa seseorang,” kata dokter Albert sambil membereskan alat-alatnya. ”Tugasmu membuat gadis itu melupakan ketakutan dalam dirinya, Mr. Jhonson. Kau yang memulainya maka kau juga harus menjalani bahkan mengakhirinya.” ##### Eliza POV “Daddy?” panggilku di hamparan rumput di belakang rumah kami saat kulihat Ayah sedang menerbangkan sebuah layangan dan menoleh ke arahku dengan senyum lebarnya. Aku berlari kecil menghampiri pria itu. “Daddy?aku sayang padamu,” kataku sambil memeluk tubuhnya. “Benarkah” tanyanya sambil menarik benang layangan itu lalu mengulurnya kembali mengikuti desiran angin yang cukup kencang.”Jika daddy pergi…” “Don’t go!” seruku dengan cemberut.”Lizzie akan mengikuti Daddy ke mana pun.” Ayah tertawa lalu menancapkan kayu pemberat benang itu ke tanah dan jongkok menghadap diriku. “My little girl, jika Daddy tua dan Eliza menemukan pria yang menyayangi Eliza seperti Daddy,  maka ikutlah dia, Sweetheart.” “Jika tidak?” “Eliza gadis yang kuat, kau akan menemukannya walau kadang harus mengorbankan dirimu sendiri, Nak.” “Eliza tidak paham,” kataku. “Kau akan paham pada waktunya. Berjanjilah Eliza akan menjadi kuat meski sebesar apa pun badai ingin menghancurkanmu. Promise me?” Dengan senyum, aku mengangguk menuruti perkataan Ayah yang sebenarnya tak kumengerti. Seperti ada kekuatan yang datang entah dari mana atau mungkin Tuhan masih belum memberiku kesempatan untuk bertemu dengan Ayah di surga. Kubuka kedua mata perlahan sambil mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil. Setelah diriku sadar penuh, ternyata aku masih di tempat yang sama. Lalu aku pun mengangkat tangan kiriku yang tertancap infuse entah sejak kapan. Bahkan wajahku tertutup oleh masker oksigen yang mengalirkan udara lembab di hidung. Pikiranku terlintas pada terakhir kali aku berdiam diri di bath up di bawah guyuran air dingin dari shower. Kuhela napas, harusnya aku mati bukan terbaring di atas kasur seperti ini. Lalu kudengar pintu di ujung kananku terbuka, dari ekor mata kiri, kulihat seorang wanita berambut hitam legam dengan setelan jas putihnya menghampiri diriku. “Oh, astaga!” serunya terkejut,”kau sudah sadar.” Dia berlari keluar kamar dan aku yakin dia pasti memanggil pria itu. Andre. Aku mengembuskan napas sekali lagi dengan air mata yang kembali menetes jika mengingat bahwa pria itu telah merenggut apa yang kupertahankan selama 22 tahun hidupku meski―aku pernah mendapat pelecehan seksual itu. Tak berapa lama dugaanku benar, pria itu datang tergopoh-gopoh menghampiriku dengan raut wajahnya yang begitu cemas. Dokter yang menghampiriku tadi pun langsung memeriksaku dengan stetoskopnya. “Elizabeth” panggil Andre dengan suara seraknya menahan tangis sambil meraih tangan kananku. Namun aku berhasil menghindarinya dengan tenaga yang masih lemah. ”Ma’afkan aku,”lirihnya. Aku terdiam entah harus mengatakan apa dan berbuat apa sekarang. Tubuhku lemah setelah tak sadarkan diri di kamar mandi pria itu. Pikiranku melayang  kenapa aku tidak bisa mati atau setidaknya sekarat setelah dengan mudahnya Andre merampas keperawananku. Bukankah ini hal yang memalukan, mendapati tubuh telanjang tanpa tahu apa yang terjadi? “Bisakah kau tinggalkan kami berdua, Tuan?” pinta dokter wanita itu. Andre terdiam namun dari raut wajahnya dia ingin protes sambil memandangiku sayu.Tanpa mengucapkan kalimat, dia pun melangkah pergi meninggalkan kami ini berdua. “Aku senang kau sudah sadar, Ms. Granger,” kata dokter itu.”Kau tak sadarkan diri hampir empat hari.” Aku hanya tersenyum kecut. Harusnya aku mati bukan malah pingsan selama empat hari. Ah … apa mungkin hidup setelah mati segalanya akan menjadi mudah? Jika ya, aku ingin pergi menemui Ayah di surga. “Aku Stephani,” katanya memperkenalkan diri,”aku sungguh sedih atas apa yang menimpamu.” Kusunggikan seulas senyum tipis melihat sekilas dokter yang wajahnya hampir sama dengan Dokter Margaretha. Apakah dia juga psikiater? Atau anaknya Dokter Margaretha? Seingatku Dokter Margaretha memiliki dua anak laki-laki. Wanita itu pun duduk di sofa cokelat di samping kiri kasur. “Jadi ... bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya wanita itu. Aku terdiam cukup lama memandangi langit-langit kamar ini, tidak tahu dengan perasaanku sekarang. Semuanya tercampur aduk antara marah, kecewa, sedih, takut, dan hampa. Menarik napas sambil memejamkan kedua mata lalu memandangi wanita cantik di sampingku ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan banyak hal padanya tapi aku takut jika memercayai dirinya terlalu cepat. “Tidak apa-apa jika kau belum bisa memercayai diriku. Tapi di sini aku bisa menyimpan semua rahasiamu, Ms. Granger,”katanya seolah bisa membaca pikiranku. ”Sebagai psikiater, aku wajib melindungi pasienku apa pun yang terjadi. Anggap saja aku adalah teman barumu, oke?” “Bisakah aku bertemu dengan Emilia Watson?” pintaku dengan suara serak. “Baiklah.” ##### Emy datang sekitar satu jam setelah aku meminta dokter itu untuk menghubungi sahabatku. Dia menangis tersedu-sedu sambil merutuki dirinya telah membuatku seperti ini. Kami berdua menangis seperti anak-anak, dia memelukku dengan perasaannya yang begitu hangat sebagai seorang sahabat sekaligus saudara. Aku mengelus punggung Emy mencoba menguatkan dirinya bahwa aku kuat seperti yang dikatakan Ayah. “…berjanjilah Eliza akan menjadi kuat meski sebesar apa pun badai ingin menghancurkanmu.” “Sudahlah jangan kau menangis terus, Em.” “Kau hampir mati karena aku, Lizzie!” serunya dengan nada penuh penyesalan.” Ampuni aku … sungguh aku bukan sahabat terbaikmu.” Aku mendorong tubuhnya untuk menjauh dariku dan mencoba bangkit dari posisi tidurku sambil melepas masker oksigen membuat Emy terkejut. “Awalnya aku memang ingin mati, Em. Tapi nyatanya Tuhan tidak mengijinkanku mati sekarang. See? I’m fine, Emilia. Jangan menyalahkan dirimu hanya karena masalah kecil ini.” Masalah kecil yang belum siap kubagi untukmu. “Tap-tapi …” “Aku baik-baik saja. Jangan menganggap diriku lemah karena itu membuatku semakin terlihat lemah, Em,” kataku sambil menghapus air matanya dengan jempol kananku.”Dan … rasanya … aneh bukan melihat temanmu memiliki penyakit….” “Apa?” “Maksudku tidak toleran terhadap alkohol?’ “Kau memang seperti itu dari dulu, Eliza,” kata Emy menatapku lekat. “Hanya saja ini yang terparah dari yang kulihat sepanjang kita berteman.” Kuanggukan kepala sambil menundukkan pandanganku. Bibirku gemetar saat ingin kulontarkan pada Emy bahwa aku berbeda dengan gadis lain. Ini bukan hanya tentang alkohol tapi tentang mimpi buruk yang selama ini menghantuiku bahkan tentang penyakitku yang kambuh. Kutatap wajah Emy yang masih memandangku dengan tanda tanya. “Apa aku masih pantas menjadi sahabatmu?” lirihku dengan sedih. “Kenapa kau mengatakan hal itu?” “Karena aku….” Aku menggigit bibir bawah ragu jika mengatakan aku memiliki PTSD. “Apa? Aku selalu menjadi sahabatmu, apa pun yang terjadi.” “Aku memiliki PTSD, jika kambuh maka aku akan terlihat seperti orang gangguan jiwa,” kataku menatap Emy lekat sambil tersenyum kecut.”Apakah kau akan tetap menjadi sahabatku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN