Bab 4

1022 Kata
Michele mengangguk."Benar, Miss. Tapi, aku berjanji...ini tidak akan mengganggu konsentrasiku selama pelajaran berlangsung." "Apa ada masalah, Miss Brown?" Tanya Adam. Audrey menggeleng cepat."Tidak ada masalah, Adam. Silahkan duduk di tempatmu karena aku akan segera memulai materinya." Hati Audrey terasa nyeri, ia kembali memikirkan kejadian semalam. Ia sudah tidur dengan Adam yang ternyata memiliki kekasih. Lalu bagaimana dengan dirinya yang sudah menyerahkan mahkotanya pada pria sialan itu. Audrey merutuki dirinya sendiri, memukuli kepalanya dengan kesal. "Anda baik-baik saja, Miss Brown?" Suara Adam kembali terdengar. Audrey berusaha menormalkan sikapnya."Ya. Tentu. Kita mulai saja." Audrey berusaha agar dirinya tidak terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tapi, tatapan Adam yang begitu mengintimidasinya, kadang membuatnya tak fokus dalam bicara. Para mahasiswa sampai bingung dibuatnya. "Miss, apa Anda sedang kurang sehat?" Nicole memastikan, pasalnya dosennya itu seperti tidak fokus. "Jika Anda sedang sakit, kita lanjutkan saja kelas tambahan ini besok, Miss Brown. Kami tidak ingin terjadi sesuatu padamu," kata Michele. Audrey mengangguk."Ya. Sebaiknya memang kita akhiri saja kelas ini. Saya harus segera beristirahat." Mereka semua mengangguk mengerti dan keluar kelas satu persatu. Lagi-lagi, Adam memberikannya tatapan yang tak menyenangkan. Sulit diartikan oleh Audrey. "Ada apa?" Tanya Audrey saat Adam berhenti tepat di depan mejanya. "Aku rasa kau tidak bisa melupakan kejadian semalam. Benar?" Tebak Adam. Audrey mendecih kesal."Aku hanya sedang menyesali kebodohanku, Adam." Adam menarik tangan Audrey hingga tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Adam."Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku." "Adam, ayo!" Tiba-tiba Michele muncul dan menatap kekasihnya itu sedang memeluk sang Dosen."Kalian..." Adam melepaskan pelukannya, lalu meninggalkan Audrey begitu saja. Pria itu tak mengatakan apa-apa, kini ia menghilang. Michele masih mematung di tempat, menatap Audrey bingung. "Permisi!" Katanya sambil membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang bingung. Audrey menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia mulai stres menghadapi hari ini. Audrey memijit pelipisnya dengan pikiran yang gak tenang pasca kejadian di kelas bersama Adam. "Kau kenapa?" Tanya Bianca, rekan sesama pengajar di Perguruan Tinggi ini. "Hanya sedang sakit kepala. Mungkin aku terlambat makan," jawab Audrey. Ia pura-pura menyibukkan diri dengan memeriksa isi tas. “Apa kau sibuk malam ini, Drey?" Bianca menatap Audrey yang masih saja sibuk dengan tasnya. Entah apa yang sedang ia cari. "Tidak." Bianca tersenyum."Kalau begitu kau harus menemaniku pergi." "Pergi? Kemana?" "Ke sebuah acara penting. Ulang tahun wali kota. Kebetulan aku diundang secara khusus karena orangtuaku dekat dengan mereka. Aku ingin mengajakmu pergi ke sana malam ini." Audrey menghela napas."Apa tidak akan apa-apa kalau aku ikut? Itu undangan hanya untukmu bukan?" "Iya benar. Undangan itu untuk dua orang. Aku ingin mengajakmu karena aku tak punya kekasih." Bianca terkekeh. Audrey memutar bola matanya."Baiklah, tapi sepertinya aku harus mencari pakaian terbaikku di lemari." "Jangan risau. Aku akan meminjamkannya untukmu. Asal kau mau menemaniku, Drey." Bianca tersenyum penuh arti. Audrey mengangguk saja. Ia rasa tak ada salahnya menemani Bianca. Ia juga butuh refreshing. Setelah pulang mengajar, mereka berdua langsung menuju rumah Bianca. Tentunya setelah meminta izin pada Bibi Evelyn terlebih dahulu. Rumah Bianca sangat besar. Ia merupakan anak dari salah satu pejabat di kota ini. "Sebaiknya kau pilih saja dulu gaun mana yang kau suka. Aku akan menyuruh pelayanku untuk mengambilkan makanan," ucap Bianca setelah mengantarkan Audrey ke kamar. Audrey tengah berada di sebuah ruangan berukuran 5x5 meter.  Ruangan itu berisi lemari-lemati besar khusus pakaian Bianca. Gadis itu menatap deretan pakaian mewah, ia bingung harus memilih yang mana. Sampai akhirnya Bianca datang. "Kau belum menemukan gaun yang kau suka?" Audrey menggeleng."Aku bingung." "Baiklah aku akan memilihkan untukmu." Bianca menggeser penutup lemari dan sibuk memilih. Pelayan Bianca datang membawakan minuman dan makanan kecil. Audrey langsung meneguknya sedikit. "Lihat ini bagus," kata Bianca menunjukkan sebuah gaun yang menurut Audrey sangat indah. Audrey menggeleng."Rasanya itu terlalu mewah. Aku seperti mau menikah saja." Bianca terkekeh."Baiklah kalau kau tidak suka. Pakai yang ini saja." Ia kembali menunjukkan sebuah gaun selutut bewarna navy, terlihat simple tapi elegan. "Aku suka itu."  Audrey mengangguk puas. Bianca tersenyum, ia bergaung bersama Audrey untuk menikmati cemilan yang dibawakan pelayan tadi. Mereka bisa berisitirahat sejenak sebelum pergi ke pesta malam nanti. Bianca dan Audrey terlihat sangat sibuk memoles wajah mereka. Bahkan Audrey yang biasanya hanya memakai bedak tipis kini harus mendapat sentuhan full make up. Mereka berdua sangat cantik. Dengan mengendarai mobil mewah, mereka berdua berangkat. Audrey tak menyangka akan pergi ke acara pesta yang sangat mewah. Sebuah hotel termewah di kota ini menjadi saksi hiruk-pikuknya Ulang tahun sang Wali kota. Audrey merasa terasing karena ia tak mengenal siapa pun di sini. Berbeda dengan Bianca yang memang mengenal mereka semua dengan baik. "Bianca, aku pergi mencari angin dulu," kata Audrey saat semuanya tengah berbincang-bincang. Bianca yang sedang sibuk bicara dengan salah satu anak pejabat kota tersentak kaget."Oh, Okay." Audrey berjalan saja, ia pun tak menyadari kemana kakinya melangkah. "Oh, Darren, Faster!" Audrey menghentikan langkahnya saat melewati sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Audrey sendiri baru menyadari ia berada di sebuah koridor dengan jumlah pintu yang sangat sedikit. Ia terlihat bingung karena memasuki jalur yang salah. Ia harus segera pergi dari sana sebelum ketahuan. "Oh, Ashley. Kau begitu nikmat!" Suara pria itu terdengar. Langkah Audrey terhenti. Jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu. Ia memberikan diri mengintip ke dalam kamar. Kaki Audrey langsung lemas, saat melihat seorang wanita cantik itu tengah berada di bawah sang Walikota. Menghujamkan miliknya berkali-kali pada Ashley. "Ashley," gumam Audrey. Ashley adalah tunangan Zac, wanita itu mengkhianati sahabatnya. Mata Audrey terasa panas, hatinya berdenyut. Kemudian ia tersadar dan segera pergi dari sana. "Hei sedang apa kau di sini?" Seorang pria berbadan besar menatapnya tajam. Audrey meneguk salivanya. Tatapan pria itu seakan ingin membunuhnya."A.. aku tersesat." "Kau...mata-mata ya?" Pria itu menghentakkan tubuh Audrey ke dinding. Audrey menggeleng."A...Aku." "Dia bersamaku!" Pria bertubuh besar itu dan Audrey menoleh bersamaan ke sumber suara. Pria yang mengenakan jas yang sangat pas dengan tubuhnya itu berjalan ke arah Audrey. "Kemana saja kau? Aku mencarimu, sayang." Adam meraih tubuh Audrey ke dalam pelukannya. Pria itu mengangguk hormat."Maafkan saya, Tuan." Adam mengangguk. Kemudian ia membawa Audrey dari sana dan kembali ke keramaian. "Te...terima kasih." Napas Audrey terlihat tak teratur karena ia masih takut. Adam tersenyum. Pria itu tampak begitu tampan malam ini."Iya, Miss Brown. Apa yang sedang kau lakukan di sini. Apa kau tamu undangan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN