Author P.O.V
Laurens Corp | NYC, 21.00 A.M
Darrel tengah sibuk memeriksa beberapa berkas, namun wajah gadis galak itu tiba-tiba muncul dibenaknya. Darrel dengan cepat menggelengkan kepalanya, berusaha untuk kembali fokus tapi tiba-tiba bibirnya mengukir senyuman.
Sudah lama ia tidak merasa penasaran terhadap seorang wanita, dan sudah lama ia tidak merasa tertantang untuk menaklukkan wanita. Valerie Gladwin, dia cantik. Dan Darrel sudah mengira-ngira berapa ukuran yang dimiliki oleh Valerie, dan itu sudah sesuai dengan standarnya. Maka ia tidak menolak perjodohan ini dan menganggap Valerie adalah mainan baru miliknya.
“Valerie, not bad. Kurasa ia bisa menggantikan Anna.” Ah benar, ia lupa memeriksa kondisi gadis itu, dengan cepat ia mengambil ponsel dan menghubungi bodyguard yang bertugas menjaga Anna.
“Bagaimana kondisinya?”
…
“Dia tidak mengamuk lagi hari ini?”
…
“Dia berdandan?”
…
“Baguslah, sepertinya dia sudah ada perkembangan.”
Darrel mematikan panggilannya. Anna terus meminta untuk menemuinya dan itu amat mengganggunya. Berapa kali Anna bertemu dengan psikolog suruhan Darrel agar Anna bisa menerima keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Darrel, dan Anna belum bisa menerima itu. Padahal, Darrel tidak pernah menjanjikan status apapun dengan Anna. Keduanya melakukan itu hanya untuk bersenang-senang dan Anna bersedia untuk itu. Sekarang, kenapa gadis itu menuntut lebih? Setelah semua kejadian itu, harusnya Anna sadar bahwa ia tidak akan bisa kembali menjadi gadis favorit Darrel dan menjadi satu-satunya tempat pelampiasan untuk Darrel.
Anna Marrie, adalah model terkenal dan telah lama mengenal Darrel Laurens, keduanya bersama hanya untuk memenuhi hasrat satu sama lain, sejak awal, Darrel telah memberitahu Anna bahwa hubungan keduanya tidak akan bisa lebih dari partner s3ks. Dan Anna yang sangat mencintai Darrel menerima itu dengan terpaksa. Asalkan ia bisa bersama dengan Darrel.
Anna dibuang begitu saja oleh Darrel setelah pemerkosaan itu terjadi. Darrel tidak bisa menyentuh Anna lagi karena kejadian yang sama kembali terulang. Darrel pernah memiliki mantan kekasih yang membuatnya menjadi seperti ini, Darrel yang tidak punya hati dan selalu mempermainkan perempuan. Usai membuang mantannya, ia menemukan Anna yang bersedia bersamanya dan memberikan segalanya. Namun nasib buruk menimpa Anna, model cantik bertubuh seksi idaman semua pria, karena kejadian naas itu, Anna dibuang oleh Darrel begitu saja.
“Come on Darrel, sekarang waktunya memikirkan masa depan. Valerie cukup menarik. Jadikan ia milikmu dan kau akan mendapatkan pengganti Anna. Ah, membayangkannya saja membuatku…” Darrel merasa celananya semakin sempit. Sial, akhir-akhir ini ia sulit menemukan pelampiasan untuk kebutuhannya. Tidak ada yang sesuai dengan seleranya. Darrel menyukai gadis yang masih belum tersentuh oleh pria mana pun. Dan ia menebak, Valerie termasuk salah satunya.
Klik, pintu terbuka. Seorang pria berstelan serba hitam masuk dan membungkuk pada Darrel.
“Kau sudah menemukan informasi mengenai calon istriku?” pria bernama Reagan itu mengangguk.
“Valerie Gladwin, tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan milik ayahnya dan memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman prianya, dia bahkan ketua C’dride. Geng motor yang cukup terkenal di New York.”
“Teman pria?” entah kenapa Darrel sedikit terganggu dengan kalimat itu. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya. Apa benar, Valerie sudah tidak perawan? Ah, belum tentu.
“Ya. Sebagian besar anggota C’dride adalah pria. C’dride sering mengadakan balapan di jalanan hingga di sirkuit, C’dride bahkan memiliki sirkuit sendiri. Mereka sering menyelenggarakan balapan, sehingga nama mereka menjadi terkenal.”
“Oh ya? Gadis sekecil itu bisa memimpin geng motor seperti itu?”
Reagan mengangguk. Jujur saja ketika ia menemukan informasi itu juga membuatnya kaget. Tapi ia hanya bodyguard dan tidak ingin ikut campur lebih jauh. Ia hanya menjalankan perintah bossnya saja.
“Di mana dia saat ini?”
“di basecamp C’dride, Boss.”
“Oh ya? Semalam ini?”
“Ya.”
Darrel lalu berdiri, mengambil jasnya dan tas mahalnya lalu melangkah menuju pintu. Reagan tahu Darrel akan pergi ke basecamp C’dride. Dan entah kenapa firasatnya menjadi tidak enak. Ia lalu menelfon anak buahnya untuk mengikuti mobil Darrel. C’dride terlalu ramai untuk dihadapi oleh ia berdua. Dan Darrel bukan tipe pria kooperatif di kandang lawan, justru sebaliknya. Darrel gemar memancing keributan di area lawannya.
Sesampai di basecamp C’dride, Darrel terpaku karena basecamp C’dride tidak seperti yang ia bayangkan. Darrel membayangkan basecamp C’dride adalah bangunan tua dan gelap yang menyeramkan seperti dalam film-film.
Tapi yang ada di hadapannya saat ini adalah sebuah bar ditengah halaman yang luas dan dihias dengan sedemikian rupa. Lampu-lampu menghiasi basecamp ini, bahkan terdapat tulisan C’dride yang menyala berwarna merah.
“Apa ini bar?” Darrel turun dari mobil, merapikan dasi dan jasnya, Reagan mengikutinya dengan cepat.
“Inilah basecampnya C’dride, Boss.”
“Kenapa terlihat seperti bar?”
Mobil milik Darrel terparkir di depan halaman C’dride, karena untuk masuk ke dalam halamannya terdapat palang yang menghalangi. Bahkan terdapat dua penjaga yang berjaga di depan pintu masuk halaman C’dride.
Dan saat hendak masuk, seorang pria berjaket kulit hitam menahan Darrel.
“Anda siapa?” tanya pria itu, dan dengan percaya diri Darrel menjawab,
“Calon suami Valerie Gladwin.”
“Pfft, apa?” Pria itu menahan tawa, seolah Darrel tengah bercanda dengannya. Darrel menatapnya tak suka, sementara Reagan sudah pasang badan jika pria itu bersikap berlebihan pada bossnya.
“Apa aku terlihat bercanda denganmu?” senyum di wajah pria itu menghilang, berganti wajah beringas dan menatap Darrel dengan tak suka.
“Apa kau salah satu pria yang mengganggu Valerie, huh?” pria itu mendorong Darrel, tangannya dengan cepat ditepis oleh Reagan. Pria itu lalu mendorong Reagan. Melihat itu Darrel masuk begitu saja, ia membungkuk dan melewati palang itu lalu melangkah dengan percaya diri.
“Hey! Anda tidak bisa masuk sembarangan!” Pria itu menepis cekalan Reagan dan berlari menyusul Darrel yang sudah berada di tengah halaman markas C’dride.
Valerie yang tengah duduk di outdoor bar itu menyemburkan minumannya saat melihat sosok pria yang paling tidak ingin ia temui mendadak muncul di sini. Di basecamp C’dride, bahkan di seluruh hadapan teman-temannya.
Valerie berdiri, melihat Valerie menatap Darrel dengan tidak suka membuat Caesar, sahabat Valerie sejak remaja ikut berdiri. Valerie menghampiri Darrel, diikuti oleh Caesar dan sebagian anggota C’dride yang ada di dalam bar khusus anggota C’dride itu.
Tak lama, Reagan muncul dan berdiri di belakang Darrel.
“Ada apa anda ke sini?”
“Menjemput calon istriku pulang.”
“Apa?” Caesar menatap Darrel dengan tak suka, pria berrambut gondrong itu mengikat rambutnya, namun itu semakin memperjelas rahangnya. Harus Darrel akui, pria yang di samping Valerie cukup tampan.
“Anda belum tahu? Valerie Gladwin, adalah calon istriku. Ah, perkenalkan, Darrel Laurens.” Darrel menjulurkan tangannya, tentu saja tidak di sambut oleh Caesar. Pria itu terkejut, Darrel Laurens? Billionare muda kaya raya itu? Pria b******k yang selalu meniduri wanita itu? Akan menjadi suami Valerie? Yang benar saja! Ia tidak akan rela itu terjadi.
“Apa itu benar, Val?”
Valerie mengepalkan tangannya. Kemunculan Darrel di basecampnya amat memalukan untuknya. Harga dirinya seolah hilang begitu saja. Pentolan C’dride, Valerie yang penuh dengan kegilaan akan menikah? Wanita setengah pria bagi teman-temannya ini akan segera menikah?
Terdengar suara bisik-bisik di belakang, beberapa mengagumi siapa calon suami Valerie, beberapa tidak menyetujui Valerie akan menikah karena takut C’dride akan terkena imbasnya.
“Val?” panggil Caesar lagi, Valerie tidak menjawab.
“Nanti akan kujelaskan, aku pergi dulu.” Valerie lalu pergi sambil menarik dasi Darrel dengan kasar, Darrel sempat menyeringai dengan wajah penuh kemenangan pada Caesar.
Tiba di depan halaman basecamp C’dride, di balik tembok itu Valerie mendorong dan mengunci Darrel dengan tangan kanannya. Matanya menatap Darrel dengan penuh amarah.
“Apa-apaan ini? Ngapain anda ke sini?!”
“Aku hanya tidak suka, calon istriku bergaul dengan banyak pria hingga selarut ini.”
“It’s not your f**k*ng bussiness!”
“Ofcourse yes! You’re my wife, soon.”
Valerie meninju tembok itu lalu berbalik. Sial, cara Darrel menatapnya sungguh merendahkan harga dirinya. Tatapan pria yang tengah menginginkan senggama. Sialan. Apa Darrel memang pria semesum itu?
“Ayo pulang.” Darrel meraih tangan Valerie, bermaksud untuk menggandengnya namun ditepis dengan kasar oleh Valerie.
“Pulang aja sana sendiri! Aku bisa pulang sendiri!”
Melihat Valerie berjalan menjauh darinya Darrel segera menggendong Valerie seperti karung beras dan membawanya ke mobil. Melihat itu Reagan yang berdiri tak jauh dari keduanya dengan sigap membukakan pintu mobil.
“Lepas! Lepas brengs3k! Atau aku teriak dan teman-temanku akan menghajarmu!”
“Silahkan, bodyguard saya juga tidak kalah banyak di tempat ini. Benar Reagan?”
“Ya Boss. Ada sekitar dua puluhan yang stand by disekitar tempat ini.”
Valerie menelan ludah. Darrel benar-benar pria sinting.
“Hey! Lepasin Valerie!” Caesar dan teman-temannya muncul, Darrel tidak peduli. Ia memasukkan Valerie ke dalam kursi penumpang dengan kasar karena Valerie terus memukul punggungnya.
Melihat Caesar dan teman-temannya mengerumuni Darrel, para bodyguard yang berjaga di sekitar segera melepas tembakan ke atas langit, memberi peringatan pada Caesar dan yang lainnya untuk mundur.
“It’s okay, Caesar. Aku akan pulang dengannya, titip motorku ya,” ujar Valerie. Ia pasrah. Darrel menang kali ini. Ia tidak ingin teman-temannya terluka karenanya.
“Sh*t!” maki Caesar saat melihat rombongan mobil serba hitam itu pergi meninggalkan basecamp.
“Harus kita beri pelajaran pria sombong itu,” ujar salah satu anggota C’dride.
“Kita tunggu perintah Val,” sahut Caesar sembari melangkah masuk menuju bar. Ia perlu minuman untuk menenangkan emosinya.
Sepanjang perjalanan, Valerie hanya diam. Di dalam otaknya ia memikirkan berbagai cara untuk membuat pria di sampingnya ini hilang dalam sekejab, seperti kedatangannya yang tiba-tiba, pria ini juga bisa menghilang tiba-tiba bukan?
“Apa yang sedang kau pikirkan, honey?”
“Hentikan panggilan menjijikkan itu.”
“Kenapa? Bukannya kau memang semanis madu? Maksudku, bibirmu.”
“Kau mau mati di sini? Aku tidak peduli bodyguardmu ada di sekelilingmu!”
Valerie melayangkan cubitan maut ke pinggang Darrel, namun dengan cepat Darrel mencekal tangan Valerie, menguncinya kedua tangannya dengan posisi Darrel yang tiba-tiba berdiri setengah membungkuk hingga wajahnya sangat dekat dengan Valerie. Reagan mengurangi laju mobilnya saat melihat posisi Darrel seperti itu.
“Oh ya? Sepertinya, kau yang akan mati di tempat ini.” Darrel mendekatkan wajahnya, seakan hendak mencium Valerie. Valerie panik dan menjauhkan wajahnya dari devil di hadapannya, sial, wajah devil ini terlalu tampan untuk ia hindari.
‘Baiklah Valerie, kau harus berani, jangan biarkan pria ini lebih dominan dipernikahan ini!’ Valerie bermonolog, ia lalu membuka matanya lebar-lebar dan membalas tatapan Darrel yang ternyata sengaja menggodanya, pria itu tidak berniat menciumnya. Pria itu malah menikmati ekspresi takut di wajahnya. Sial.
“Kenapa berhenti? Kau berniat melakukan ini di sini? Baiklah, pertama lepaskan dulu tanganmu.”
Darrel terdiam, tanpa sadar ia melepas cekalannya. Valerie lalu melepas jaket kulitnya, perlahan ia membuka kancing kemeja putihnya, ya kebetulan hari ini ia mengenakan kemeja karena harus ke kantor ayahnya terlebih dulu sebelum bertemu dengan C’dride.
Darrel menelan ludah. Valerie benar-benar menantangnya. Darrel belum beranjak dari posisinya meski kakinya sudah pegal menahan tubuhnya, ia lalu berpegangan pada sandaran kursi tanpa menyadari bahwa ia seperti mengurung Valerie dengan lengannya.
Sedangkan Valerie, terus mengumpat di dalam hati karena menyesal telah menantang Darrel. Pria itu tidak melepas pandangannya hingga kancing terakhir kemejanya. Sudah terlanjur Valerie. Terlanjur!
Valerie menyibak kemejanya, memamerkan bra hitam dan gundukan indah yang sungguh di luar perkiraan Darrel. Darrel menelan ludah. Detik berikutnya ia sadar bahwa ada pria lain di dalam mobil ini. Ia tidak ingin berbagi pemandangan indah ini dengan pria lain.
“Jangan coba-coba menoleh ke belakang kalau masih mau hidup, Reagan!”
“Baik Boss.” Tanpa dipesan juga Reagan tidak berniat untuk menoleh. Padahal bossnya sudah sering melakukan di dalam mobil dan tidak pernah berpesan untuk tidak melihat. Tapi kali ini berbeda, apa bossnya kali ini sungguh menginginkan wanita bar-bar ini?
“Apa? Kenapa diam?”
“Jangan memancingku, atau kau akan menyesalinya nanti.” Darrel menyambar jaket yang Valerie letak sembarang lalu menutupi d**a Valerie dengan jaketnya dan kembali duduk.
“Perasaan macam apa ini?” tanya Darrel pada dirinya sendiri sambil menatap ke jendela, enggan mengajak Valerie berbincang apalagi menatap gadis gila itu. Sial, apa ia terjebak dengan permainanya sendiri? Bukannya ia yang berniat menggoda Valerie? Kenapa malah digoda dan tergoda oleh Valerie begini?
Harus Darrel akui, tubuh Valerie sangat indah. Putih, bersih tanpa noda. Apalagi, gundukan indah yang ia lihat tadi terlihat masih kencang dan bulat. s**t, kenapa ia tidak bisa mengenyahkan pikirannya dari pemandangan tadi?
Melihat Darrel terdiam dan terlihat gelisah, Valerie tahu bahwa kelemahan Darrel ada di tubuhnya. Baik, ia akan memanfaatkan itu untuk membuat Darrel jauh lebih menderita dari pada ini. Ah, ada yang lebih penting yang harus ia pikirkan. Bagaimana caranya agar ia tidak virgin lagi?