Rasa Ingin Memiliki

1979 Kata
“Minumlah, supaya suasana hatimu sedikit lebih baik.” Bulan mengangguk kecil, menerima minuman dingin yang disodorkan Awan padanya. Rasa lelah memang masih menyambangi tubuh Bulan setelah berjalan cukup jauh, sebab taxi yang dia tumpangi mogok dan tidak ada kendaraan lain yang lewat. Entah ini disebut keberuntungan atau takdir, Awan kebetulan lewat dan menawarkan tumpangan pada Bulan. Pada awalnya, wanita itu menolak naik. Dia berpikir masih belum siap jawaban apa yang harus diberikannya jika Awan bertanya tentang hubungan mereka. Namun, teriknya matahari sekarang membuat kepalanya sedikit pening. Apa lagi semalam dia tidak tidur dengan nyenyak. “Terima kasih.” “Apa yang terjadi padamu, Lan? Apa kau baru saja menangis?” tanya Awan. Pria itu bertanya untuk pertama kali dengan nada bicaranya yang lemah lembut seperti biasanya, Bulan menggelengkan kepala pelan. “Jangan berbohong, aku tahu telah terjadi sesuatu padamu. Kita sudah saling mengenal sangat lama,” kata Awan. “Apa itu karena suamimu?” “Aku tidak bisa menceritakannya, karena ini adalah masalah pribadiku. Maaf, Wan … aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau masih mau membantuku.” Awan menghela napas kecil. “Baiklah, aku tidak akan mengusik masalahmu. Tapi, apa aku boleh bertanya tentang kita?” Bulan mengulum bibir, pegangannya pada botol minuman menguat melihat garis penasaran di mata Awan padanya. Entah pertanyaan apa itu, Bulan belum siap dengan jawabannya. Atau lebih tepatnya, dia takut dengan reaksi yang diberikan pria itu nanti. “Apa kau masih mencintaiku?” “A—apa?” Mata Bulan sedikit menyipit, pertanyaan itu sangat sensitif sekali. “Kau mendadak menikah dengan orang lain, aku yakin ada penyebabnya. Kau tidak mungkin melupakan begitu saja hubungan kita, tapi semua alasan dan sebab itu akan tidak berharga kalau kau mau berkata jujur. Apa kau masih mencintaiku?” Sekali lagi Awan bertanya, Bulan seakan dihadapkan dengan bibir jurang yang teramat dalam dan gelap. Perasaannya masih mencintai pria ini, tapi keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk bersatu kembali. “Tidak,” jawab Bulan padat. Bibirnya terasa kelu mengatakan kebohongan terbesar ini. “Aku sudah mengatakannya tadi. Kau tidak bisa berbohong dariku, Lan. Kebiasaanmu masih tetap sama ketika mulutmu mengeluarkan perkataan yang bertentangan dengan hatimu.” Bulan melepaskan remasan pada sudut dressnya, dia merasa begitu bodoh. Tidak mampu bersembunyi dari orang yang hafal dirinya luar dalam. Ketika punggung tangannya menghangat oleh genggaman pria itu, debar jantungnya sedikit lebih cepat. “Kembalilah padaku, dan kita akan memulai hidup baru bersama sesuai dengan harapan kita dulu.” “Semuanya tidak semudah seperti bayanganmu, kau tidak mengenal suamiku,” kata Bulan. Dia baru bisa membalas tatapan Awan padanya untuk meyakinkan pria itu agar mundur mulai dari sekarang. “Aku memang tidak mengenalnya, tapi aku mengenalmu!” tegas Awan. “Kalau kau bersedia, aku akan membantumu melepaskan diri darinya.” Bulan menggelengkan kepala, dia tidak ingin mendapat masalah lebih jauh. Seorang Langit Adithama adalah pria angkuh dan memiliki bayak kekuasaan. Belum tentu Awan mampu menghadapinya. “Tolonglah percaya padaku.” Pegangan tangan pria jangkung itu menguat, Bulan kembali tertunduk karena tidak mampu membalas keyakinan yang disodorkan Awan melalui tatapannya. Sebuah sentuhan lembut dari satu tangan lain Awan mendarat di pipinya sebentar, sebelum berakhir di tengkuk Bulan agar dia bisa mengarahkan wajah wanita itu padanya. “Aku sudah bukan lagi milikmu, Wan. Ini tidak pantas,” kata Bulan menolak ketika pria itu mengincar bibir tipisnya. “Tapi hatimu milikku.” Bulan menggelengkan kepala, dia takut ada orang melihat. Namun, itu sepertinya tidak mungkin. Tempat ini cukup sepi dari orang yang berlalu-lalang, dan mereka hanya berdua saja dalam mobil. “Tidak, tolong jangan lakukan ini!” Bulan mulai merasa takut, jalur pernapasannya menyempit saat bibirnya berhasil terenggut oleh paksaan pria itu. Kedua pipinya telah basah oleh air mata yang mulai mengalir, di mana dia merasa begitu kotor dengan statusnya menyandang istri orang. “Awan, berhenti!” Tautan di bibir mereka terhenti mendadak, tapi bukan oleh tenaga yang dikeluarkan Bulan ketika mendorong tubuh Awan darinya. Melainkan ada bantuan tenaga lain yang lebih besar sehingga Awan keluar dengan paksa dari mobilnya sendiri. Tangis Bulan masih belum mengering, hatinya perih, begitu pun sudut bibir bawahnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat perbuatan pria itu. Suara-suara ribut di luar mobil membuat ketakutannya buyar, ternyata Langit yang datang. “Bulan—” Langit membuka pintu mobil di sebelah Bulan, kemudian melihat luka di bibir istrinya. “Aah, sakit ….” Bulan merintih ketika lukanya tidak sengaja tersentuh jari-jari Langit. "Kau!" Langit berteriak keras ke arah Awan dengan amarah besar. Bug! "Apa yang telah kamu lakukan pada istriku, hah?!" Teriakan Langit menukik keras. Begitu pun hantaman kepalan tangannya di rahang Awan. Bulan yang masih berada dalam mobil pun kaget karena ternyata Langit berbalik arah bagai kilat menghampiri pria yang menjadi incarannya itu. "Langit berheti! Jangan lakukan ini, Lang!" Bulan melerai. Mencoba menyingkirkan tubuh yang telah dikuasai nafsu emosi itu dengan tangannya. Pukulan Langit terus menghujani wajah Awan tanpa ampun. Suasana kacau. Tenaga Bulan tidak cukup kuat, bahkan tidak berguna. Dia hanya mampu menangis dengan hatinya yang terguncang. "Sudah kukatakan jangan pernah lagi menemui Bulan! Apa kau ingin cari mati karena berurusan denganku?!" bentak Langit. Bug! Satu hantaman berakhir. Ia menatap tajam Awan yang masih tergeletak di aspal. Wajah penuh luka itu tidak sedikit pun membuatnya iba. Bulan mengambil kesempatan itu dan mendekati suaminya di sana. "Lepaskan dia, dan aku berjanji takkan pernah menemuinya lagi," ucap Bulan. Langit mengernyit. "Aku ... akan menyerahkan hidupku asal kamu melepaskan dia sekarang." Menegaskan perkataan, Bulan menangkap raut berbeda dari wajah Langit. Sepertinya dia mulai percaya dengan ucapannya. "Apa kamu yakin, takkan pernah menemuinya lagi?" tanya Langit memastikan. Bulan terdiam, sejenak ia lihat Awan yang masih berusaha berdiri di tempatnya. Ini memang pilihan sulit, tapi tidak ada lagi cara menyelesaikan masalah ini. Awan memang salah tapi tidak juga sepenuhnya salah dan Bulan pun merasa begitu bersalah pada keduanya. Sebagai seorang istri memang tidak seharusnya ia bertemu laki-laki lain dengan alasan apapun. Dia berharap dengan keputusan ini, Awan akan baik-baik saja. "Jangan katakan itu." "Ya." Bulan memotong perkataan Awan yang menatapnya penuh harap. Keputusan sudah diambil. Ia tidak akan pernah menemuinya lagi. Langkah pasti Langit menuju Bulan dengan senyuman lebar, menutupi tubuh Bulan dengan jasnya sebagai tanda kepemilikan utuh. "Baiklah. Sekarang semuanya jelas, aku mengampunimu sebab Bulan yang memintanya," ucap Langit pada Awan. "Aku tak butuh belas kasihmu. Dilain kesempatan aku pasti akan membebaskan Bulan dari manusia sepertimu, Langit," tandas Awan dengan tatapan tajam. Ia pergi masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kemarahan Langit yang mulai tersulut kembali. Langit pun mengajak Bulan masuk ke dalam mobilnya dengan paksa. Tidak mendengarkan tangisan getir istrinya yang belum menguap sejak tadi.  "Apa kamu dengar itu? Kekasihmu ingin mengambil apa yang kumiliki. Apa itu yang kamu inginkan?!" tanya Langit bernada marah. Dia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak peduli apa pun yang ada di depan. "Tidak." "Lalu apa tujuanmu bertemu dengannya?! Apa dia harus tahu pertengkaran kita?!" "Tidak." Bulan tetap menangis. Ia pasrah, menyadari kesalahan yang ia lakukan bertemu dengan Awan di belakang Langit. "Lalu kenapa kamu harus menemuinya lagi dan lagi?!" Semakin keras suara Langit menggema dalam mobil. Bulan tersentak kaget. Decitan rem menukik dan mobil pun berhenti mendadak di pinggir jalan. Langit berusaha keras menahan luapan amarahnya sebisa mungkin. Namun, itu betakhir sia-sia. "Katakan, apa kau menyesal sudah menikah denganku, Lan?" tanya Langit lagi seraya menatap istrinya yang hanya menunduk dan berkata tidak. Ia sungguh ingin mendapat jawaban pasti dari Bulan. "A-aku ... aku ....” Tubuh Bulan tidak lagi seimbang setelah beberapa saat hanya memegangi kepalanya, dia kalah oleh rasa takut dan berbagai tekanan yang menimpanya belakangan terakhir. "Lan ... Bulan?" Mata Langit membulat sempurna. Spontan merengkuh tubuh Bulan yang tidak lagi bergerak di kedua tangannya. *** Sesampainya di rumah, Langit langsung menghubungi dokter pribadinya. Dia adalah Axel Wijaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun yang juga menjadi teman lamanya. Ketika memeriksa keadaan Bulan yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur, Axel menghela tipis, dia pun merapikan peralatannya sekaligus menuliskan resep obat. Langit di dekatnya masih menunggu dengan harap-harap cemas, tapi dia tidak terlalu menunjukkan perasaannya di hadapan Axel. “Cepat katakan padaku, apa yang terjadi? Kenapa kau malah memasang wajah menyebalkan itu, uh?” tanya Langit. “Aku hanya sedang tidak habis pikir, dia begini karena lambung. Dan itu sangat aneh saat mengingat kau adalah seorang CEO dari perusahaan ternama. Apa kau tidak sanggup memberinya makanan yang cukup?” tutur Axel. Langit berdecap pelan. “Aku tidak utuh semua omong kosong itu, Xel. Kalau tidak ada lagi yang penting, kau boleh pergi.” “Aku hanya mengkhawatirkan kebiasaanmu itu. Apa kau tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat? Tubuh wanita ini tidak seperti wanita-wanita yang sering kau datangkan ke rumah ini. Bersikaplah sedikit lembut padanya,” ujar Axel. Langit terdiam sejenak. Axel lebih tahu kebiasaannya sebelum menikahi bulan, sebab dia termasuk laki-laki yang memiliki keinginan hyper untuk urusan ranjang. “Aku hanya ingin membuatnya cepat hamil,” ujar Langit yang membuat Axel sedikit mengernyit. “Apa? Apa kau sedang bercanda?” “Tidak. Untuk wanita ini, aku tidak akan pernah melepaskannya bagaimanapun caranya. Bila perlu, carikan aku obat untuk menyuburkan kandungannya.” “Apa kau gila?” tanya Axel tidak percaya. “Ya, aku sudah tergila-gila padanya. Untuk itu cepatlah cari obat yang kuminta. Aku akan membayarmu lebih besar dari gajimu yang tidak seberapa itu!” Axel tertawa kecil menanggapi ucapan Langit. “Aku tidak bekerja untuk uang, kau tahu? kalau tidak ada orang sepertiku, kau bisa mati.” Dia pun bersiap pergi dari kamar itu, tapi sebelumnya dia kembali melihat pasiennya. “Sepertinya dia wanita baik-baik, kalau tidak, kau tidak pernah mau repot memanggilku ke sini kalau bukan untukmu sendiri.” Langit tidak menanggapi ucapan Axel, sampai laki-laki tersebut pergi dari kamarnya. Dia yang berdiri di samping tempat tidur pun mulai mendekati istrinya. Kemudian mengusap pipi Bulan penuh kelembutan.  Langit merasa, mungkin memang benar bahwa dia terlalu kasar terhadap Bulan selama pernikahan mereka. Namun, dia sungguh tidak tahu bagaimana caranya bersikap normal. Dia terlalu takut, dia terlalu mencintai wanita ini sampai dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya. Termasuk seorang laki-laki bernama Darmawan Prayoga. “Bila perlu, aku akan menyingkirkannya sampai tidak ada lagi laki-lai yang kau lihat selain aku,” gumam Langit dalam hati. Dia mengepalkan tangan cukup kuat ketika ingatannya kembali mengarah ke kejadian tadi. Bagaimana dia melihat bibbir wanitanya disentuh dan terluka, dia ingin sekali membalas perbuatan manusia itu suatu hari nanti. “Ya, ampun!”  Langit terkejut, wanita di dekatnya mendadak terbangun dan menghindarinya dengan tubuh sedikit gemetar. Bulan tertunduk tidak mau menatap wajah Langit sedikit pun. “Apa kau baik-baik saja—“ Ucapan Langit menggantung, Bulan menghindar ketika telapak tangannya ingin menyentuh bahunya. “Ada apa, uh? Jangan menghindarku.” “Kenapa? Kenapa kau bersikap baik padaku sekarang?” tanya Bulan dengan nada pelan. Namun, dia masih tidak mau menatap wajah suaminya. “Apa maksudmu? Bukankan ini sesuatu yang wajar? Aku adalah suamimu. Seharusnya kau senang mendapat perlakuan manis dariku.” Langit kembali berusaha menyentuh istrinya, kali ini berhasil. Bulan tidak menghindar lagi walau ketakutannya masih tampak jelas. “Begini lebih baik. Jadilah istri penurut, kau akan selalu aman bersamaku.” Langit mendekatkan wajah, sekaligus menarik pelan tengkuk Bulan. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi penolakan wanita ini untuknya. Namun, sedetik kemudian pegangan tangannya di tepis Bulan cukup keras. Dibarengi tatapan kebenciannya, Bulan melontarkan sebuah kalimat. “Aman? Tidak ada siapa pun yang aman jika berada di dekat iblis sepertimu,” ujar Bulan. “Apa kau senang sekarang? Kau sudah berhasil menjebloskanku ke dalam nerakamu.” “Apa kau lupa? Kau sendiri yang bersedia masuk ke dalam duniaku. Jadi apa pun yang kau lakukan itu tidak akan berguna. Apa kau mengerti itu?”  Langit mengusap rambut kecokelatan milik Bulan. Wanita itu hanya diam, menatapnya tajam sambil menitikkan air mata yang seakan tidak bisa berhenti menetes. Entah apa artinya tangisan itu, Langit tidak ingin mengerti. Dia akan tetap membuat Bulan bersamanya dan menunjukkan cinta seperti apa yang dia miliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN