Bulan akhirnya menginjakkan kaki di depan pintu rumah kedua orang tuanya, dengan air mata yang dipaksa mengering, dengan segudang alasan yang akan diberikan kepada seluruh keluarganya di dalam sana. Sungguh, dia tidak pernah menyangka kehidupannya akan dijungkirbalikkan seperti ini. Sebuah momen kehamilan pertama yang sudah jelas tidak akan datang dua kali, harus dia lewati dengan sebuah masalah besar. Kepercayaan untuk suaminya telah hancur, melebur bersama kenangan manis mereka. Tidak tersisa sedikit pun dalam ingatan Bulan. Dia juga pulang ke rumah orang tuanya setelah memaksa pergi, walau Langit menahan dan tidak mengizinkannya. Bulan telanjur kecewa, marah dan tidak bisa tahan melihat wajah orang yang telah menghancurkan kehidupannya. Setelah berdiri selama dua menit penuh di depan

