"Ana, makan yuk!" "Ana.. ini Mama sayang." "Riana.." Sahutan itu terus menerus terdengar dari pintu kamar Riana. Gadis yang baru saja merasakan dunia hancur sehancur-hancurnya. Mata sembab, hidung memerah, pipi basah dan bahkan bibir yang kembali luka. Wajahnya benar-benar berantakan dan seperti tak terurus. Bahkan baju tadi siang masih terpakai sampai malam ini. Keputusan sepihak dari calon tunangannya membuat gadis itu langsung jatuh. Bukan mengenai harga dirinya atau mungkin mimpinya yang akan jatuh. Tapi ini tentang dirinya yang sudah memiliki perasaan aneh. Ia tidak mengerti kenapa bisa selemah ini hanya karena kehilangan sosok Geo. Terserah dengan mimpinya yang akan hancur dan mungkin harga dirinya yang akan turun. Dia masih punya perusahaan Kakeknya. Dan lagi, Abangnya pasti

