Bab 1.E

1231 Kata
"Lo beneran mau lamaran, anjir?! Kapan?!" Riana langsung membungkam mulut ember Chandra. Wanita dua puluh satu tahun yang kini duduk bersamanya dalam satu meja. Beberapa pasang mata langsung menatap Riana kebingungan. Ada juga yang sepertinya penasaran. "Chandra!" Desis Riana kesal. Wanita itu menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, meminta maaf. "Jangan kenceng-kenceng ih! Kita masih di kantin!" "Ya, maaf. Syok gua, Na. Tapi yang tadi beneran?" Tanya Chandra memastikan. Riana mengangguk lesu dan sedetik kemudian tersenyum. Tangannya yang tadi membekap mulut Chandra kini mengaduk-aduk minumannya. "Terus, itu Abang lo gimana?" "Kenapa sama Abang?" "Ya, lo tau sendiri. Abang lo itu, kan, gak semudah itu ngasih adiknya. Lo emang udah lupa masalah waktu sama Satria?" Riana memberenggut kesal. Chandra berhasil mengembalikkan ingatannya mengenai kenangan terburuknya menjalin hubungan. Saat itu, ia masih mahasiswa baru. Dan Satria yang dimaksud Chandra adalah ketua BEM di kampusnya. Entah kapan lelaki itu mulai menaruh hati padanya dan bahkan meminta langsung pada Papa dan Mamanya bahwa akan menjalin hubungan dengan dirinya. Walau sedikit ragu, kedua orang tuanya memperbolehkan. Tapi Riana lupa akan Erlan. Lelaki itu kebetulan sedang dinas di luar kota. Tak bisa pulang cepat. Sampai ketika Raina dan Satria bertemu di satu tempat, Erlan datang. Menghantam pipi lelaki itu dengan keras. Membuat Satria menjadi tontonan di lapangan. Awalnya Raina tak paham kenapa bisa Erlan datang dan menghantam bogeman mentah ke pipi Satria. Sebelum akhirnya Erlan menunjukkan sebuah foto di mana Satria tengah berpegangan tangan dengan mahasiswa lainnya di kantin kampus. "Kenapa harus diingetin sih?!" Kesal Riana. "Hehe.. eh iya, kapan ih?! Gua juga pengen dateng gitu. Siapa tau dapet makanan banyak, kan?" Riana terkekeh dan mengeluarkan surat undangan yang tadi pagi pengawal Geo datang memberinya. "Malam ini?! Heh, gila! Lo gak pernah ngomong masalah apapun sama gua, ya?! Ini kenapa bisa langsung tunangan! Lo.. lo pasti punya rahasia, kan?!" "Chandra teriak lagi, Ana pindah apartemen, ya?" Chandra terkekeh geli. Wanita itu lalu memasukkan surat undangan tadi ke dalam tasnya. "Gua gak punya uang, Ana! Gua harus kasih apa sama lo?" "Cacan jadi pengantar aku aja, gimana? Soalnya Tante Kinan gak ada di sini. Jadi paling cuman Kak Iba aja. Mau, ya?" Chandra memeluk hangat tubuh Riana. "Lo baik banget, sih Na. Terhura gua." Riana tertawa mendengar ucapan Chandra. Wanita yang menjadi temannya tiga tahun terakhir. Wanita yang sangat mengetahui bagaimana sepak terjangnya dalam dunia modeling. "Tapi, Geo? Siapa? Gua gak pernah denger nama itu di lingkungan lo. Lo dijodohin?" Tebak Chandra. Sontak saja Riana langsung menggeleng. Tak mau juga jika ia sampai dijodohkan seperti novel-novel. Ia jelas akan berontak. "Terus?" "Gak tau juga. Ana gak paham. Tapi dia.. lumayan," ujar Riana kecil. Pipinya merona malu. Membayangkan wajah tegas dan berkharisma lelaki itu di depannya kemarin. "Ana?" "Eh, iya?" "Lo pasti lagi bayangin yang nggak-nggak ya??" "Ih, nggak Cacan! Apaan sih!" Chandra tertawa keras. Gadis di depannya ini sangat menggemaskan. Walau memiliki kelainan aneh dalam tubuh Riana, Chandra tetap berada di sisinya. Baik alasan yang logis maupun tidak, Chandra sudah nyaman dengan Riana. Tak lama setelah ia tertawa, Riana mengeluarkan sebuah gambar dari dalam softcase ponselnya. Lalu memberikannya pada Chandra. "Ini Geo." "Astagfirullah!" "Kenapa, Chan? Cacan kenal?" "Damagenya gak ngotak, Ana!" *** Riana mengetukkan jemari kakinya di lantai. Tangannya mendingin. Ia sangat gugup sekarang. Hujan lebat beberapa saat lalu membuat kamarnya semakin dingin. Suhu udara di kamarnya saja sudah dingin, ditambah hujan. Gadis itu masih menatap gaun merah dengan hiasan hitam di antara lekukan pinggang. Pernak-pernik berlian yang di desain sedemikian rupa tak juga menarik untuknya. Walau sangat bagus dengan ukuran yang pas, Riana tetap tak ingin memakainya. Entah karena itu baju untuk acaranya, atau orang yang memberinya. Ya, itu pemberian Geo. Lelaki itu tadi meneleponnya meminta ia memakai gaun itu dan segera difotokan. Bukannya tak ingin mencoba, tapi Riana ragu. Mengingat malam ini mereka akan segera resmi bertunangan. Duh, yang benar saja dia harus benar-benar menjadi kekasih Geo dan akan segera menjadi istri nanti?! "Ana?" Riana terlonjak kaget. Gadis itu menatap sekitar dan mengusap dadanya karena orang tersebut belum berada di dalam kamarnya. "Iya? Kenapa, Bang?" Tanyanya kencang. Tak ingin membuka pintu atau nanti lelaki itu akan marah besar melihat ia yang belum juga siap. Bahkan kini dirinya masih memakai tanktop beserta celana pendek berwarna biru. "Buka pintunya!" Titah lelaki di luar sana. Riana menggigit bibirnya takut. Ia mengetukan jarinya sebentar sebelum akhirnya terpaksa memakai gaun itu. Melepaskannya dari manekin dan mencobanya kilat. Ia bahkan tak ingin melihat wajah serta tubuhnya di kaca. Ia sangat enggan melihat bagaimana sempurnanya dirinya sekarang. "Abang buka, ya?" Dan ketika resleting berhasil tertarik ke atas, knop pintu berputar. Tak lama dari itu sebuah dorongan dari luar berhasil membuat pintu kamarnya terbuka lebar. Erlan termenung sebentar. Adiknya sempurna. Tapi kenapa rasanya ini aneh. Erlan masih tak percaya jika Geo benar-benar ingin meminang adiknya secepat ini. Bahkan mereka baru bertemu seminggu yang lalu. Di mana Riana saja tidak ingat dan tak tahu jika minggu lalu yang ia temui adalah Geo. Semuanya terasa kusam dan rumit.  Erlan masih tak mengingkan hal ini terjadi. Adiknya terlalu lemah. Ia mengakui hal itu sekarang. Riana terlalu rapuh jika harus bersanding dengan Geo yang terlihat sama dengannya. Pendiam, namun banyak aksi. "Kamu.. maksud Abang, Ana udah selesai?" Tanya Erlan lembut. Melihat senyuman manis yang terpatri di wajah adiknya, Erlan semakin enggan melepas gadis mungil yang dulu sering berdebat bersamanya. Senyuman itu tampak bebas. Tidak terbebani apapun seperti yang tengah ia pikirkan. Riana juga tampak nyaman dengan apa yang ia kenakan sekarang. Gaun panjang semata kaki tanpa lengan dan hanya sebuah tali di pundak, membuat Riana terlihat semakin cantik. Gadis itu belum memakai sepatu. Apa jadinya nanti jika Riana memakai sepatu? Beruntunglah Geo sampai Riana mau menikah dengan lelaki itu tanpa adanya paksaan. "Belum. Ini mau ambil sepatu sama tas dulu. Abis gitu baru ke bawah," jawab Riana seadanya. Erlan menghela napas panjang dan mendekati Riana. Menatap lekat bola mata biru safir yang sama dengannya. Melihat sebuah keraguan yang kecil menggoncang tubuh Erlan. Apa adiknya juga tak yakin dengan semuanya? "Kamu jawab jujur. Kamu beneran mau tunangan sekarang?" Riana mengangguk cepat. "Dan bersama Geo?" Riana kembali mengangguk. "Tanpa ada paksaan atau perjanjian sebelumnya?" Ragu, Riana kembali mengangguk. Kali ini kepalanya mengangguk kecil. Takut jika nanti Kakaknya mengerti. Ini memang bukan paksaan, tapi ada unsur perjanjian. Walau sebenarnya tak bisa juga disebut perjanjian. Karena ia dan Geo belum mengesahkan masalah perjanjian itu dan memilih paham masing-masing tanpa harus kembali menjelaskan. "Ana gak bohong sama Abang?" Menelan salivanya kuat, Riana akhirnya menggeleng. "Itu tanda kamu gak bohong atau benar ada sesuatu?" Tuhan! Riana tak kuat jika diinterogasi Kakaknya. Ia sangat takut dan gugup. Amarah Kakaknya mudah keluar dan sulit mereda. Di sini juga tidak ada Adiba yang mungkin saja bisa menenangkan Erlan ketika lelaki itu marah. Riana tak berani menjawab. Jantungnya memompa cepat. Bibirnya semakin terasa sakit karena ia gigit sekeras yang ia bisa. Menghalau rasa takut akibat tatapan Erlan. "Lho? Kalian berdua belum juga turun? Ayo, cepetan! Ini bentar lagi jam setengah tujuh! Nanti kita terlambat!" Riana mengambil napas sebanyak yang ia bisa. Tuhan masih sayang padanya. Terbukti karena sekarang Mamanya ada di pintu dengan wajah yang khawatir. Setidaknya kali ini ia bisa lepas dari Erlan. Entah jika nanti-nanti. Mungkin Erlan benar-benar menghabisinya. "Aku masih ada urusan sama Ana, Ma." "Nanti aja ya, Abang? Sekarang kita gak mungkin bikin keluarga kita sama keluarga mereka malu cuman karena dateng telat, kan?" "Iya, Mama. Ana bentar lagi selesai. Mau ambil sepatu dan tas dulu."  "Iya,  cepetan, ya!" Riana sangat berterimakasih pada Mamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN