"Mama, Abra gak mau batal nikah." Disia mengusap air mata anaknya. Lelaki itu kini terbaring di ranjang dengan keadaan mata tertutup karena tidur. Setelah drama panjang yang di mana Geo berakhir semakin menangis, Disia memutuskan untuk meminta anaknya berbaring di ranjang. Ia berjanji akan menamani lelaki itu. Bahkan sampai sekarang terlelap, Disia masih berada di sini. Matanya ikut berkaca-kaca melihat bagaimana kening Geo yang tidak mau berhenti mengkerut. Ia usap kening itu perlahan, namun tak menghasilkan apapun. Anaknya pasti masih memikirkan hal itu. "Dia udah tidur?" Tanya Alzam ketika selesai dengan urusannya di kamar mereka. Disia hanya mengangguk kecil. Enggan pergi dari sisi anak tunggalnya. Putra pertama dan terakhir mereka. Sebuah titipan dari Tuhan yang begitu berharga. "

