*** Vierra menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk itu. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Apa yang baru saja ia katakan pada dosennya tadi? Vierra merutuki dirinya yang bodoh. Bukankah itu sama saja ia memberikan harapan lebih besar pada Arthur? Vierra berguling ke kanan dan kiri. Gadis itu menjerit kesal di dalam bantal agar suaranya tak terdengar sampai keluar. Vierra duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Raut wajah Vierra tampak frustasi. Namun sekelebat ingatan terlintas saat melihat senyum Arthur yang terlihat bahagia. Vierra tidak tega membuat senyum itu hilang di wajah Arthur jika ia mengatakan kalimatnya tadi hanya candaan. Vierra tahu betul, bagaimana rasa sakit yang akan menyerang Arthur jika ia mengatakannya. Perasaan bukan mainan, tapi Vierra su

