"Sebenarnya, aku ini dianggap apa? Kenapa dia semakin jauh?" tanya Jessie pada dirinya sendiri. Jessie merasa dunianya benar-benar hancur untuk saat ini. Seperti hilang arah, dan tak ada tujuan hidup. Jessie duduk di kursi taman depan rumahnya. Dengan wajah sedih, dan lemas. Datanglah Fauzan, ayah Jessie. Fauzan duduk di samping Jessie. "Ada apa, Nak?" tanya Fauzan. "Nggak papa, Pah," jawab Jessie berbohong. Fauzan tahu, jika putrinya sedang galau. Yang biasanya cerewet, dan tukang marah mendadak menjadi murung akhir-akhir ini. "Jujur sama Papah!" kata Fauzan masih berusaha membujuk Jessie. Jessie yang mendengar ucapan lembut sang ayah langsung luluh seketika, dan memeluk Fauzan. "Hiks ... A–aku benci, Pah," kata Jessie mulai membuang semua unek-uneknya. "Aku jadian sama

