Bagian 7

971 Kata
Merenung, dan melamun itu sedang dilakukan gadis cantik yang sekarang tengah menyesap p****g rokok. Terlihat kacau, dan tak bersemangat hidup. Ingin sekali menyerah, melupakan semuanya. Namun, tetap bertahan bertahan agar tetap bertahan. Jika bukan karena demi sang ibu, ia tidak akan melakukan hal segila itu. Yang ia rasakan saat ini adalah penyesalan, sekaligus marah. Ia rapuh, ia butuh sandaran. Selain itu, kompilasi juga dijauhi oleh sahabat yang sangat ia sayangi, sakit rasanya. "Kenapa dengan takdir gue? Kenapa nasib gue gak sebagus mereka?" ocehnya. "Kapan gue bahagia? Gue tertekan." Kali ini ia benar-benar tidak bisa membendung air mata lagi. "Hidup gue udah buruk dari dulu, kenapa makin tambah buruk. Tuhan gak adil!" Ia tersenyum miring, gadis itu membuang rokoknya, lalu menginjaknya. Kini ia berada di atas balkon sekolah berlantai 4. Ia berfikir jika ia akan segera berhenti. Ia sudah tidak sanggup hancur, masa denpanya sudah hancur. Gadis semakin mendekati pagar balkon. Ia tersenyum akan berakhir dengan tenang, Gadis itu akan diangkat. "Selamat tinggal, duniaku yang jahat." 1 2 3 "Kayla!" teriak seseorang. Gadis itu menoleh, penasaran dengan seseorang yang diundangnya. "Mau apa lu ke sini !?" "Kamu mau ngapai, hah? Jangan bodoh." Alfa menarik lengan Kayla. Sangat cepat, agar gadis di sini tidak dilewati. Kayla berontak, dan ingin segera melompat. Ia meronta agar dilepas. "Lepasin gue, b*****t!" Kayla tambah menjadi, kompilasi Alfa memeluknya dari belakang. Kemudian menggeret Kayla secara paksa, agar menjauh dari pagar balkon. "Lepasin gue! Lepasin gue!" Air mata gadis itu bercucuran, menunjukkan bahwa ia sangat rapuh. "Hentikan! Jangan lakukan hal bodoh! Semua masalah bisa dilepaskan. Kamu mau apa? Mau lompat? Otakmu dangkal banget." Kayla mengubah posisinya, kini ia menghadap ke Alfa. "Apa yang harus diselesaikan? Sudah diselesaikan hidup gue. Lu itu gak tau masalah gue. Mendingan gak usah ikut campur. Ini urusan gue!" "Senang kamu punya pemikiran yang sehat. Otaknya, digunain untuk berfikir yang jernih." "Lu tau gak sih? Hidup gue udah hancur. Terus apa yang harus gue banggain lagi? Gue itu sampah, gak guna. b******k, cewek gak bener, terus buat apa gue hidup?" Tubuh Kayla merosot ke bawah. Sekan sudah tak ada kekuatan untuk berdiri. Alfa ikut berjongkok di bawah. Ia menangkup wajah Kayla, ia tahu saat ini sahabatnyamenyimpan beban yang sangat besar. Cukup membuat Alfa merasa bersalah, karena telah mendiamkan Kayla beberapa hari ini. Tingkat kepekaan Alfa sangat tajam, sehingga ia tahu perasaan seseorang walau hanya melihat mimik wajah, dan ekspresinya saja. Sejak Kayla berangkat ke sekolah, Alfa sudah memperhatikan tingkah gadis itu, hingga ia memutuskan untuk mengikuti Kayla, ia mengumpat ketika Kalya menuju balkon sekolah agar gadis itu tidak tahu bahwa Alfa telah mengikutinya. "Segala sesuatu bisa diselesaikan dengan cara baik-baik." "Apa yang harus diselesaikan dengan cara baik-baik? Sedangkan gue udah hancurin hidup gue sendiri? Mau berharap apa lagi?" "Kamu ngomong apa sih?" bentak Alfa. Pemuda itu memeluk Kayla erat, Kayla membalas pelukan Alfa. Ia menangis sesegukan, ia merasa rapuh. “Emang lu peduli?” bentak Kayla. "Jangan bilang kaya gitu, ada aku di sini, aku siap menjagamu kapanpun, aku siap jadi penompang hidupmu. Jangan pernah merasa sendiri,” kata Alfa mencoba menenangkan. Tangis Kayla semakin pecah. "Gu ... Gue, udah gak perawan. Hidup gue dah hancur. Hiks," katanya. Alfa menangkup wajah Kayla. "Apa yang hancur?Semua bisa diperbaiki,” jawab Alfa. Alfa menuntun Kayla, dan mengajaknya ke UKS. Kerapuhan membuat Kayla lupa akan sakitnya. Tak sadar, jika dirinya mengalami demam. Semua mata tertuju pada Alfa, dan kayla. Karena Alfa mengandeng Kayla, sedangkan Kayla menutupi wajahnya dengan menggunakan jaket yang ia kenakan. Kini mereka telah sampai, Alfa membaringkan Kayla di matras. Namun, Kayla malah duduk, mencekal lengan Alfa yang hendak pergi. “Kenapa cuekin gue?” tanya Kayla dengan wajah sendu. Alfa memerhatikan raut wajah sang sahabat, nampak ada sorot kerinduan di kedua netranya. “Gak usah dibahas, juga kamu tau alasanya,” jawab Alfa. Kayla menunduk, apapun alasannya, semua yang Kayla lakukan karena terpaksa.Alfa mengenggam erat tangan Kayla. Rasa kecewa masih ada di hati Alfa. Namun, bagaimana lagi semua sudah terjadi. Alvin datang, diikuti Hana dengan raut wajah panik dan cemas. “Kay, ya ampun. Lu kenapa? Apa yang sakit?” tanya Hana heboh, namun Kayla tak menjawab. Hanya diam, dengan raut wajah kosong. Hana tahu Kayla masuk UKS, karena Kirana teman sekelas Alfa, Alvin yang memberi tahu. Hana menyenggol bahu Alfa, seolah menyuruh Alfa untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga dengan Alvin, lelaki itu terus menatap Alfa, menunggu agar menceritakan semuanya. Alfa menghela napas. “Dia mau loncat, dari lantai empat tadi,” kata Alfa. “Hah?” ucap Alvin, dan Hana kompak. Hana menghampiri Kayla, menggoyangkan tubuh gadis itu. “Apa-apaan lu, hah? Udah gak waras? Kalo ada masalah ngomong, g****k! Jangan Cuma diem, jadi kaya gini, kan?” ucap Hana, emosinya sudah menggebu. Alvin berusaha menenangkan Hana. Kayla masih bungkam, pandangannya masih kosong. Kemudian suasana menjadi hening selama beberapa menit. Tapi, tak lama kemudian... “Gue, sampah,” kata Kayla. Alfa, Alvin, dan Hana menoleh ke arah Kayla. Alfa menatap Kayla dengan raut cemas. Hana, dan Alvin menatap Kayla dengan raut wajah bingung. Mereka menunggu Kayla menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi. “Gue bukan orang baik, gue munafik, dan gue kotor,” kata Kayla. Hana menghampiri Kayla dan mengelus lengan sahabatnya itu. “Selama ini, kalian gak tau, kan? Apa kerjaan gue? Apa yang gue rasai?” tanya Kayla. Alvin, dan Hana menggeleng. Alfa hanya menatap Kayla, karena sudah mengetahui masalah Kayla terlebih dahulu. “Kerjaan gue adalah, jadi penari striptis. Terserah, kalian mau jijik apa nggak! Gue gak peduli,” kata Kayla. Hana menangis, hatinya merasa kecewa, dan Hancur. Sahabat yang ia sayangi, ternyata lebih sulit dari dirinya. Kini Hana memeluk Kayla erat. Dua gadis itu menangis. Alfa, dan Alvin mengusap netranya yang berair, karena melihat pemandangan ini. Aku tak tahu, apakah masih bisa bertahan? Atau akan berakhir sampai di sini. Sementara, keadaan tidak mendukungku bahagia. Aku suka hidup di atas jarum. Perihnya sangat terasa, menghasilkan sakit yang sangat luar biasa. Aku rapuh, rapuh jiwa, hati, dan pikiran. Aku lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN