Sejak tadi. Jessie menunggu Glen di depan kelas. Gadis itu membawa kotak makan yang berisi kue coklat. Pertama kali melihat Glen, gadis itu langsung jatuh cinta. Tak peduli, jika Glen sudah berpunya atau belum. Yang ada di pikiran Jessie adalah, sebelum janur kuning melengkuh. Ia bebas berhenti Glen kapanpun.
Sosok Glen muncul, dengan gagahnya. Ketampanan lelaki itu sungguh membuat gadis manapun akan meleleh ketika menatapnya.
"Glen," sapa Jessie ramah. Glennya dengan seutas senyum.
"Glen tunggu." Jessie menarik lengan Glen. Membuat lelaki itu berhenti, dan menatap Jessie aneh.
"Mengapa?"
"Ini buat kamu," kata Jessie sambil menyodorkan kotak makan berwarna pink.
"Dalam rangka apa?" Kebingungan.
Jessie salah tingkah, gadis itu membenarkan rambutnya.
"Gak papa. Cuma buat kamu aja."
Glen menerima kado kue dari Jessie.
"Makasih, ya?"
"Sama-sama."
Akhirnya, Glen melangkah pergi, dan masuk ke kelas.
Tanpa disadari, ada pasang mata yang melihat Jessie benci. Hatinya terbakar.
"Dasar murid baru gak tau malu. Ganjen banget sama cowok gue," kata Kayla.
Jessie melangkah dengan sumpringah. Gadis itu tersenyum manis, hatinya merasa berbunga-bunga. Karena, sejak melihat Glen pertama kali ia langsung merasa suka.
Rasa kecanduan untuk merebut pacar orang, tak pernah kelar. Dulu, waktu di sekolahnya yang lama. Jessie tak memiliki teman satupun. Ia dijauhi teman-teman karena sering menjadi pelakor. Alhasil, gadis itu selalu disudutkan. Membuatnya tak betah, akhirnya pindah sekolah.
Kayla menunggu Jessie di kelas. Gadis itu sudah geram. Merasa jengkel karena Jessie berusaha mengoda Glen.
Ketika Jessie sampai. Kayla langsung menarik lengan Jessie.
"Eh ... Apaan, nih?" Jessie terkejut.
"Gue mau ngomong," kata Kayla. Ia mengajak Jessie ke kamar mandi. "
"Apaan, sih?"
"Udah, deh. Gue gak suka basa-basi, gue cuma mau peringatin lu. Gak usah gatel sama Glen. Dia itu punya gue!" sarkas Kayla.
Jessie menepis cengkraman Kayla kasar.
"Terus berusaha apa? Kalian baru pacaran! Belum juga nikah. Jadi gak usah terlalu lebay, deh."
Kayla semakin geram. Ingin rasanya menjambak.
"Lu anak baru di sini! Gak usah belagu, anjir!"
"Emang kenapa kalo gue anak baru? Emang ada Undang-Undangnya, kalo anak baru gak boleh belagu?" balas Jessie sengit.
Kayla semakin tak sabar. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Kayla menjambak rambut Jessie. Jessie mengaduh, dan rekaman jambakan Kayla.
"Gue gak suka kalo ada orang sok kecantikan kaya lu," kata Kayla.
Gue emang cantik! Semua cowok suka ke gue, balas Jessie.
"Apaan, sih? Cantikan juga gue! Lu tepos. Tete lu juga cuma busa isinya."
"Eh ... Sembarangan! Lu kali yang tepos! Gue asli, bangke!"
Dua gadis itu tak ada yang mau mengalah. Hingga, keributan mereka membuat para murid menghampiri sumber suara.
Hana datang dengan tergesa-gesa, gadis itu mencoba menerobos keramaian di depan kamar mandi perempuan.
"Berhenti! Kay, jes!" Hana mencoba melerai Jessie, dan Kayla.
"Kalian apa-apaan, sih?" bentak Hana.
Tapi, Kayla, dan Jessie masih melanjutkan aksinya.
Dengan susah payah Hana mendorong tubuh Kayla agar menjauh dari Jessie, dan usahanya berhasil.
"Dia itu mau jadi pelakor, Han! Cewek sampah," kata Kayla, dadanya naik turun.
"Lu yang sampah!"
"UDAH, STOP! Ngapain, sih?" Hana tambah emosi, lihat dua perempuan ini terus beradu mulut.
Hana menggandeng tangan Kayla agar menjauh dari Jessie. Sekaligus mengusir para murid yang sejak tadi menonton adegan baku hantam.
Untung saja, tak ada Guru yang tahu tentang kejadian ini. Jika tidak, maka Kayla, dan Jessie akan habis.
*****
Di kelas.
Kayla masih saja diam, menatap sengit ke arah Jessie. Begitu pula dengan Jessie, gadis itu menatap tajam ke arah Kayla. Hana, yang melihat video itu hanya dengan geleng kepala.
Hanya karena masalah lelaki, mereka rela jambak-jambakan.
"Udah, Kay. Gak usah diliatin. Yang penting sekarang. Lu dandan yang cantik buat Glen. Biar gak berpaling ke Jessie. Lagian, gue yakin kok. Glen setia sama, lu," kata Hana menenangkan Kayla.
"Iya, lah. Lagipula, emang Glen mau punya cewek tepos kaya pelakor itu. Seksian juga gue," ujar Kayla dengan meninggikan suara. Terdengar oleh Jessie.
Kini, jam pelajaran telah usai.
Kayla berjalan melewati Jessie yang berdiri, dengan mengibaskan rambutnya. Hingga mengenai wajah Jessie. Jessie jelas kesal, karena menurutnya, tingkah Kayla sungguh norak.
Sampai di depan kelas. Kayla melihat Alfa yang sedang berdiri di samping pintu. Sambil membawa bingkisan kecil.
"Kay," panggil Alfa.
Kayla menatap malas sahabatnya yang sudah ia lupakan itu. Padahal, dalam hati ia merasa rindu. Lagi-lagi, gengsi menjadi alasan.
"Ini dari mama," ujar Alfa sambil memberikan bingkisan itu.
Ada perasaan menyesal di hati Kayla, karena sudah terlalu sengak kepada Alfa.
"Makasih, ya," ucap Kayla mencoba tulus.
Alfa mengangguk, dan segera pergi.
Biar kutahan rindu yang menggebu.
Meskipun kutahan pilu.
Tapi, setidaknya aku masih bisa melihatmu, batin Alfa.
Glen melihat momen beberapa detik lalu. Hatinya merasa cemburu, karena Kayla bertemu Alfa. Lelaki itu langsung menghampiri Kayla, dan mengajaknya pulang.
Di mobil.
Glen hanya diam, hal itu membuat Kayla bingung. Tapi, gadis itu masih malas. Karena moodnya juga sedang tidak baik. Banyak hal yang membuat pikirannya berkecamuk.
Hingga akhirnya, mereka sampai di rumah Glen. Kayla turun begitu saja, tanpa suara sepatah katapun pada Glen. Akhirnya, membuat lelaki itu semakin kesal.
Kayla masuk ke kamar Glen, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Netranya fokus menatap langit-langit atap. Hingga, ia tak sadar jika Glen sudah berbaring di sampingnya.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Glen mengejutkan Kayla. Gadis itu langsung menghadap ke Glen.
"Aku gak papa. Aku cuma lagi kesal sama kamu."
"Aku juga kesal sama kamu," balas Glen.
Kenapa?
"Tadi, kamu ketemu sama Alfa. Aku cemburu," ujar Glen.
Kayla memutarkan bola matanya.
"Dia sahabat aku." Kayla diri.
"Sekarang dia bukan sahabat kamu. Lagipula, udah ada aku. Kenapa kamu masih deket-deket sama dia?"
Kayla emosi. Merasa Glen memojokkan dirinya. Gadis itu duduk, menatap tajam ke arah Glen.
"Siapa yang dekat-dekat? Lu kali. Deket-deket sama Jessie. Pake nerima pemberian dia segala lagi. Gue liat semuanya, bego! Ngeselin banget sih lu jadi cowok."
"Dia kan cuma temen."
"Lu itu gak tau, dia mau jadi pelakor! Awas aja, kalo sampe gue liat lu sama Jessie lagi!"
Begitulah aslinya Kayla. Ketika sedang marah. Bahasa sarkasnya keluar. Tak memandang bulu siapa lawan bicaranya saat ini.
Sifat Kayla selalu membuat Glen mengalah. Akhirnya, lelaki itu pasrah dan meminta maaf ke Kayla. Glen memeluk Kayla manja.
"Udah dong, Yank. Jangan ngambek." Glen mencoba membuat Kayla luluh. Tapi, gadis itu masih diam karena moodnya belum setabil.
Akhirnya, Glen membaringkan tubuh Kayla, dan menindihinya. Tak ada penolakan pada gadis itu.
"Jangan marah-marah terus, ntar cepet tua."
"Lagian, bikin gue kesel."
"Iya... Iya, maaf."
Glen mencium bibir Kayla. Gadis itu mengusap-usap punggung Glen.
"Aku cuma suka sama kamu," ujar Glen sambil membuka baju Kayla.
"Aku juga."
Kini mereka sudah tanpa busana. Glen semakin beringas. Lelaki itu terus mencium Kayla. Dari bibir, pipi, hingga gunung kembar gadisnya.
Gawai Kayla berbunyi. Menandakan ada notif pesan. Hal itu membuat Glen menghentikan aksinya.
Kayla membuka aplikasi berwarna hijau dan berlogo w******p. Terlihat di sana, ada nama Gina.
Nanti malam stay di club. Ada tamu spesial. Titisan para sultan.
Setelah membaca pesan itu, Kayla membuang ponselnya agar menjauh, dan menyuruh Glen melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda beberapa detik.
"Siapa?"
"Cuma teman."
Akhirnya, Glen mencium Kayla kembali.
"Ah ...."
"Uh ...."
"Pelan-pelan, Yank."
"Ini udah pelan."
Terjadi baku hantam di ranjang. Membuat akhirnya akhirnya terkulai lemas. Glen tertidur di samping Kayla. Lelaki itu menerapkan tubuh gadisnya.
“Nanti malam, aku tidur di rumah,” ujar Kayla.
Kenapa?
"Ada temanku mau nginep."
"Iya, udah. Tapi, besok nginep di sini ya?"
"Oke."
Alasan klasik ketika Kayla mendapatkan pekerjaan. Ia berharap, semoga Glen tidak ke rumah seperti beberapa waktu lalu.
*****
Beri aku suara, dan Komen.