Author POV
Malam harinya sekitar pukul 9 baby Xavier sudah tertidur. Yuna sudah bersiap untuk pergi keluar. Tetapi saat sedang menyusuri anak tangga tiba-tiba terdengar suara seseorang menegur nya.
"Mau kemana kamu ?" tegur orang itu dengan nada ketus.
Yuna menoleh kesumber suara, dan terkejut saat melihat Rose yang berjalan menghampirinya sambil bersidekap dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ro-Rose."
"Mau kemana kamu ? Mengendap-ngendap seperti maling. Kamu mau mencuri di rumah ini ya ?" tuduh Rose.
"Ti-tidak. A-aku hanya mau pergi ke minimarket. Aku ingin membeli sesuatu." Jawab Yuna gugup.
Rose tidak menerima jawaban Yuna, sehingga dia langsung mencengkram lengan Yuna dengan kasar.
"Jangan bohong kamu! Kamu menjadi pengasuh tuan muda karena ada maksud tersembunyi kan." Bentak Rose sambil menghentak tubuh Yuna.
"Ada apa ini ?"
Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah atas tangga. Yuna dan Rose langsung menoleh kesumber suara. Xander yang masih memakai pakaian kantornya menghampiri mereka. Dengan cepat Rose melepaskan cengkramannya dari tangan Yuna dengan kasar.
"Apa kalian tidak mendengar pertanyaan saya ?" Ucap Xander tegas.
"Maaf Tuan. Tadi saya melihat Yura mengendap-ngendap seperti pencuri. Karena saya takut dia berbuat hal aneh saya langsung mendatangi dan menegurnya." Ucap Rose sambil menunduk hormat kepada Xander.
Xander langsung melihat kearah Yuna dengan menaikan salah satu alisnya. Membuat Yuna langsung menunduk karena takut dengan tatapan tajam Xander. Tidak lama terdengar desahan panjang dari Xander.
"Rose kembali ke tempatmu." Perintah Xander.
Raut wajah Rose terlihat senang, dia mengira bahwa Xander pasti akan memecat Yura. Tanpa membantah perintah Rose berpamitan dan kembali keruangannya.
Yuna masih tetap menunduk menghindari bertatapan dengan Xander. Sampai akhirnya dia mau mengangkat wajahnya saat dia mendengar pertanyaan dari Xander.
"Kamu mau kemana ?" tanya Xander tegas tetapi lembut.
"Sa-saya hanya mau ke minimarket Tuan." Ucap Yuna gugup sambil memainkan ujung bajunya.
"Kalau begitu biar saya antar."
Yuna langsung terkejut mendengar tawaran dari Xander.
'Hah! Aduh... gawat gimana nih. Kalo Xander kekeuh nganter gua. Gimana caranya gua tukeran sama Yura.' Batin Yuna.
"Hello!" Tegur Xander sambil menjentikan jarinya didepan wajah Yuna.
"Hah! Ah! Maaf Tuan. Tapi sepertinya saya sendiri saja. Karena...." Yuna menjeda perkataan nya membuat Xander menaikan sebelah alisnya.
"... Saya mau membeli barang pribadi wanita." Sambung Yuna dengan suara pelan, tetapi Xander masih tetap bisa mendengarnya.
"Hm... Baiklah." Jawab Xander singkat untuk menutupi kecanggungan nya. Xander merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobilnya, lalu di sodorkannya kunci tersebut kearah Yuna.
"Ini. Bawa mobil saya untuk pergi kesana. Kamu bisa bawa mobil kan ?"
"Tidak Tuan. Saya jalan kaki saja. Lagipula minimarket nya juga tidak jauh." Tolak Yuna sambil menggelengkan kepalanya.
"Hm, Baiklah. Hati-hati." Jawab Xander singkat dan pergi meninggalkan Yuna.
Melihat Xander yang sudah menghilang dibalik pintu Yuna menghela nafas lega. Lalu dia langsung buru-buru pergi menuju tempat yang sudah dijanjikan bersama Yura.
*****
Yura terus mengetukan jari-jarinya di atas meja dengan perasaan geram. Dia menunggu Yuna sudah hampir satu jam di depan cafe tersebut, tetapi sampai saat ini Yuna masih belum sampai, bahkan tidak ada kabar.
"Dasar b******k. Kemana wanita sialan itu ? Berani-beraninya dia bikin gua menunggu lama seperti ini." Gerutu Yura.
Tidak lama Yura melihat Yuna yang berlari menghampirinya. Dengan kesal Yura langsung berdiri sambil menggebrak meja saat Yuna sudah berada di depannya dengan nafas yang masih tersenggal akibat berlari.
"Lo ini lama banget sih!" Hardik Yura kasar.
"Ma-maaf tadi gua hampir saja ketahuan." Cicit Yuna.
"APA! KOQ BISA!" Teriak Yura dengan wajah sangar dan mata yang melotot.
"Ma-Maaf." Cicit Yura lagi sambil mengalihkan pandangannya menatap tanah. Saat ini Yura sangat takut melihat wajah sang adik. Walaupun saat ini wajahnya ditutupi oleh masker dia sangat yakin klo wajah Yura saat ini sangat menyeramkan.
"Denger ya! Klo sampai rencana kita ketahuan, ayah bakal mati gara-gara tidak bisa operasi. Dan itu semua gara-gara kebodohan lo!" Bentak Yura sambil menoyor kepala kakak kembarnya.
Yuna yang mendengar klo Ayahnya bisa mati karena tidak bisa operasi langsung merasa sedih, sehingga tiba-tiba air matanya langsung mengalir tanpa diminta. Tentu saja Yuna tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.
"Ngapain nangis! Lenjeh banget! Minggir!" Yura langsung pergi meninggalkan Yuna yang masih sedih. Bahkan Yura masih menyempatkan diri menabrak tubuh Yuna sampai Yuna terhuyung kebelakang.
*****
Akhirnya Yura asli sudah sampai di kediaman Xander. Dia tidak perlu bersusah payah menanyakan alamat rumah Xander kepada Yuna, karena mereka sudah saling bertukar informasi tentang segala hal, dan bagaimana keseharian mereka masing-masing selama di rumah tersebut
Bahkan untuk menutup kecurigaan semua orang pakaian yang di pakai Yuna dan Yura sama. Tapi mereka melupakan satu hal yang tidak bisa mereka tutupi, yaitu sikap yang berbeda 180 derajat. Yuna wanita pasif dan lembut, sedangkan Yura wanita agresif dan kasar.
Yura melangkah dengan ringan sambil menaiki tangga, dia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Xander sang pria idamannya. Tetapi tiba-tiba, saat Yura telah menaiki anak tangga terakhir tiba-tiba saja ada yang menarik tangan nya.
"Kamu masih disini ?" tanya seorang wanita dengan geram, karena melihat Yura yang masih ada di rumah itu.
"Emangnya apa urusan lo klo gua masih disini ?!" Jawab Yura sengit sambil membalas tatapan wanita tersebut dengan tatapan tajam.
"Wah! Ngelunjak lo ya." Karena geram wanita itu langsung mengangkat tangannya dan hendak menampar Yura.
TAP!
Yura dengan sigap menangkap tangan wanita itu dan langsung memelintir dan mengunci tangan wanita itu kebelakang, sehingga membuat wanita itu teriak kesakitan.
"Argh!!! Lepas! Dasar wanita sialan." Teriak wanita itu sambil berusaha melepaskan kuncian tangan Yura.
Yura tersenyum sinis melihat wanita itu kesakitan. Lalu tidak lama Yura melihat sebuah pintu yang mulai terbuka. Dengan cepat Yura mendorong wanita itu dan langsung menampar wajahnya sendiri dengan keras.
Plak!
"Argh... kenapa kamu menamparku ?" tanya Yura lirih dengan wajah kesakitan dan mata berkaca-kaca.
Wanita yang baru saja lepas dari kuncian tangan Yura justru terkejut saat melihat aksi barusan. Tetapi saat dia ingin membalas perkataan Yura, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh suara bariton seseorang.
"ROSE! APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Rose terkejut mendengar suara teriakan Xander. Bahkan Xander berjalan dengan cepat dan menghampiri mereka. Rose membeku di tempatnya dan tidak bisa berkata apa-apa saat dirinya ditatap tajam oleh majikannya itu. Sedangkan Yura yang sedang menutupi pipinya dengan tangan itu malah tersenyum licik.
Author POV End