BAB [6]

1990 Kata
"Kamu tau aku sekarang sedang bahagia, entah bahagia itu datang karena darimu atau karena aku memang baru benar-benar merasakan kebahagiaan?" - Rekayla - *****       REY turun dari motornya saat melihat Kayla sudah turun, laki-laki bersender di badan motor miliknya. Matanya menatap Kayla yang juga menatapnya tak kalah bingung. Rupanya gadis itu masih tidak mengerti dengan kalimat yang Rey ucapkan saat mereka di Cafe tadi, entah gadis itu yang sulit memahami atau gadis itu memang menganggap Rey main-main. Tapi Rey berani bersumpah bahwa dia tidak ingin memainkan hati Kayla, laki-laki itu benar-benar jatuh saat pertama kali bertemu gadis itu. Jadi tidak salah bukan jika kita menyebut Rey mengalami jatuh cinta pandangan pertama? "Apa!" ketus Kayla dengan kesal, Rey yang melihatnya berusaha menahan tawanya. Rey mendekat kearah Kayla dengan wajah tanpa ekspresinya, "Aku harap kamu ngerti kalo aku serius sama semuanya," bisik Rey tepat ditelinga Kayla. Kayla yang mendengarnya hanya diam tak berkutik, lagi-lagi Rey membuat jantungnya bekerja dengan cepat. "Dede!" Seruan sang bunda membuat Rey menjauhkan badannya, untung saja posisi Rey sudah tidak membisikkan Kayla. Kalau tidak pasti Liana akan memikirkan hal yang tidak-tidak nantinya. "Astaga bunda!" pekik Kayla terkejut melihat kehadiran Liana yang tak jauh darinya bersama Aideen dan Kenrick. Sepertinya dia akan diintrogasi habis-habisan malam ini ya bersama dengan Rey yang tampangnya masih datar namun tak sedatar dengan orang lain. Kayla pikir orang tuanya akan lama di Medan, tapi sekarang tamatlah riwayat Kayla. Kini Kayla dan Rey diminta untuk duduk di ruang tamu, Liana sudah menyiapkan minuman dan beberapa makanan lalu beralih duduk di samping Kenrick sedangkan Kayla duduk disebelah Aideen meninggalkan Rey yang duduk seorang diri. "Jadi siapa kamu?" suara Kenrick terdengar sangat mengintimidasi, raut wajahnya datar sama dengan Rey dan Aideen. Entah kenapa Kayla selalu dikelilingi dengan laki-laki berwajah datar. Dan sialnya semua tampan sekali. "Saya Rey om," jawab Rey dengan tenang tanpa merasa gugup sedikit pun beda dengan Kayla yang sudah mengigit bibir bawahnya. "Jangan digigit bibirnya La nanti berdarah," teguran Rey sukses membuat semua orang mengarah kearah Kayla. Kayla meneguk ludahnya, "A--ap--apaan sih," sungguh Kayla ingin menenggelamkan dirinya sekarang juga. "Jadi kamu siapanya anak saya?" tanya Kenrick lagi kembali menatap Rey, "Saya pacar anak om," "Gak ada!" bantah Kayla terdengar keras membuat Aideen menatap tajam adiknya, "Dapat izin darimana lo macarin adik gue?" kini Aideen yang bertanya dengan nada serius. Rey menghembuskan nafas, "Makanya saya datang kemari ingin langsung meminta izin sama om, tante, dan lo," jawab Rey melirik Aideen. Kenrick dan Liana cukup kaget ada yang seberani ini datang ke rumah mereka untuk meminta izin memacari putri mereka. Bahkan seumur-umur yang Kenrick tau, setiap laki-laki yang ingin memacari putrinya itu tidak akan berani sampai ke rumah karena sudah harus berhadapan dengan Aideen. "Masa SMA adek gue bukan buat pacar-pacaran segala, lo punya apa buat bahagiain adik gue? Sama-sama masih sekolah juga udah songong mau macarin adik gue," ucap Aideen, "A'a," tegur Liana menatapnya memperingati. "Betul apa yang dikatakan putra saya, tidak ada waktu untuk anak saya berpacaran segala," sambung Kenrick. Kenrick bukan melarang, hanya saja dia ingin mengetest seberapa berani Rey mendapatkan izin darinya. Karena Kenrick jamin, laki-laki yang berada di hadapannya ini pasti tidak mempunyai jawaban. "Saya memang masih bersekolah, tidak punya apapun yang bisa dijadikan point penting kebahagiaan anak anda tapi saya akan berusaha membahagiakannya. Bukan semata-mata hanya sekedar omongan, tapi saya juga akan membuktikan," jawab Rey dengan mantap bahkan mata laki-laki itu tak menunduk sama sekali. Kenrick yang mendengarnya pun cukup terkejut karena ini diluar dugaannya. "Saya tau pacaran itu dilihat dari segi mana pun tidak ada hal yang sehat, tapi jika sudah waktunya tiba kenapa tidak saya lingkarkan jari manis anak anda dengan sebuah cincin? Sebagai bukti keseriusan saya. Saya hanya ingin menjaga putri anda dan membahagiakannya dengan semampu saya. Jadi tolong izinkan saya om, tante," Kayla meneguk lidahnya dengan kasar, dirinya merasa seperti ingin dilamar saja. Bahkan dia dapat melihat keluarganya terdiam bahkan Aideen sendiri tidak bisa menyahut. "Aduh gimana nih," gumam Kayla pelan. Kenrick menoleh kearah Liana yang juga menatapnya lalu beralih ke Aideen, menghela nafas sejenak lalu kembali menatap Rey. "Saya dapat melihat keseriusan kamu meminta izin, saya mengizinkan kamu memacari anak saya," Keputusan Kenrick mampu membuat semua orang terkejut bahkan Kayla menganga tak percaya. "Papah astaga ya Allah apa-apaan, Kayla ga mau!" bantah Kayla, "Lagian Kayla ga mau pacaran sekarang," Rey yang mendengar itu tersenyum sangat tipis, dia sudah mendapatkan lampu hijau dari Kenrick jadi tidak ada alasan lagi bagi Kayla untuk menolak dirinya. "Kalo gitu saya izin pamit om, nanti saya jemput Kayla lagi buat ke sekolah bareng," ucap Rey dengan sopan membuat Liana mengernyitkan dahinya bingung, bahkan Kenricnk yang menyeruput minumannya kembali menatapnya dengan tatapan bertanya. "Ke sekolah lagi?" tanta Liana, "Iya tante, karena MPLS diadakan beberapa hari dengan acara menginap di sekolah. Jadi saya akan jemput Kayla nanti sore tante," Jawaban Rey membuat semuanya mengerti, saat Rey akan segera beranjak pergi. Suara seseorang menghentikan langkahnya. "Lo ga mau pamit sama calon abang ipar lo?" "A'A!!!!!" *****        Bibir Kayla mengerucutkan dengan lucunya, dia sedang berpangku tangan dan duduk manis di sisi ranjangnya. Di hadapannya sudah ada sang bunda yang mempersiapkan barang untuk dirinya yang akan menginap di sekolah. "Bunda kenapa banyak banget barangnya," rengek Kayla tak suka melihat ranselnya yang penuh ditambah 1 tas jinjing lagi. "Diem de, biar bunda aja. Kamu itu harus lengkap bawaannya," jawab Liana yang sudah menutupi resleting ransel anaknya itu, "Nah beres," "Bunda ini barangnya," Aideen masuk ke kamar adiknya dengan membawa kantong plastik berisi minyak kayu putih, P3K, dan perlengkapan obat-obatan lainnya. "Ya allah ini teh Dede bukan mau sebulan nginapnya ngapa banyak banget," Kayla menjerit frustasi yang dibalas kekehan Liana. "Daripada entar nyari-nyari lagi disana mending bawa sendiri," ucap Aideen dengan santai nya, "Nah denger kata A'a tuh, kamu itu gampang sakit de. Jadi mesti ekstra perlengkapannya," sahut Liana. Kayla hanya mencibir pelan mendengar dua orang di depannya yang tidak membela dirinya sama sekali. "Udah ayo turun, Rey nungguin daritadi," ucap Aideen membawa ransel dan tas jinjing adiknya. "Udah nyampe? Kirain bunda belum," Liana membereskan sisa barang yang tidak dibawa milik putrinya lalu mengajak Kayla turun ke bawah. "Kayaknya dia baru nyampe bun, lagi ngobrol sama papah tuh dibawah," jawab Rey. Ketiganya turun dari lantai atas, dari tangga pun Kayla sudah dapat melihat Rey yang duduk di sofa sedang berbicara dengan papahnya. Dua laki-laki itu terlihat seperti sudah sangat akrab bahkan sesekali terdengar tawa Kenrick maupun Rey. "Jadi Maheswara Company itu perusahaan milik papah kamu?" tanya Kenrick menatap Rey yang mengangguk mengiyakan. "Iya om, rintisan usaha kecil papah dulu. Awalnya perusahaan itu cuma perusahaan kecil ya kayak kantoran biasa lah cuma alhamdulillah sekarang udah bisa maju ikut bersaing sama perusahaan besar juga," ucap Rey tersenyum sangat tipis. Kenrick mengangguk, "Bagus itu, papah kamu sama kayak om mendirikan perusahaan dari nol bukan dari warisan. Soalnya om merasa gimana sulitnya membangun perusahaan dari nol dan jika besar karena usaha kita sendiri itu wah kebahagiaan tersendiri," kekeh Kenrick. Pria dewasa itu terlihat sekali kewibawaannya walaupun sedang pembicaraan seperti yang sedang Rey lakukan sekarang. Tapi auranya sungguh terasa dan jika dilihat pun Kenrick bisa dikatakan masih terlihat muda bahkan jika orang tidak tau Kenrick bisa dianggap masih anak kuliahan. Sangat tampan dan terlihat baby face. "Pah," Suara Liana membuat percakapan keduanya terhenti, kini mata Rey dapat menangkap tiga orang yang baru saja berjalan kearahnya. Mata laki-laki itu menatap gadis yang sedang memeluk lengan Liana, gadis yang memakai jaket denim dengan celana jeans sama seperti dirinya namun Rey memakai celana hitam. "Lama banget turunnya, ngapain?" tanya Kenrick menatap istrinya dan dua anaknya. "Si bunda nih pah, masa barang bawaan dede banyak banget. Tuh liat," Kayla menunjuk kearah Aideen yang baru saja menaruh bawaan Kayla diatas sofa. Kenrick hanya menggeleng pelan melihat semuanya. "Biar ga repot disana pah," ucap Liana, "Itu terlalu banyak sayang, sedangkan mereka nginap cuma 4 hari 3 malam doang," ucap Kenrick tersenyum menatap istrinya. Sedangkan Rey hanya mengulum senyumnya melihat perhatian Liana kepada Kayla, rasanya Rey merindukan kedua orang tuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama seminggu. Lalu mata Rey menatap Kayla kembali, gadis itu masih meliriknya dengan sinis. "Yaudah om, tante, bang. Saya izin pamit," ucap Rey dengan sopan nya tapi wajahnya tetap saja datar membuat Kayla tak habis pikir. Semuanya mengangguk kecuali Kayla, "Jagain adek gue, jangan lecet atau sampai gue denger dia sakit," ucap Aideen dengan protektifnya. "Iya bang," jawab Rey seadanya. "Hati-hati kalian," ucap Liana melihat Rey dan Kayla yang mulai beranjak dari tempatnya. Rey mengangguk dan tersenyum tipis, lalu dia beralih membawa barang bawaan Kayla. Membiarkan gadisnya berjalan lebih dulu ke mobil. Setelah memasukkan barang-barang Kayla ke bagasi mobil, laki-laki itu segera membawa mobilnya ke sekolah. Masih ada waktu satu jam lagi sebenarnya sebelum acara dimulai, jadi masih ada waktu untuk Rey bersama Kayla. "Udah makan?" tanya Rey dengan lembut membuat Kayla berdesir. Baru kali ini Kayla mendengar Rey berkata dengan lembut tanpa kesan dingin sedikit pun. "Belum, tadi sempet makan cemilan doang. Soalnya mau bantu bunda nyiapin barang," jawab Kayla, entah kenapa gadis itu menjawabnya dengan santai tidak seperti biasanya. "Yaudah makan dulu," ucap Rey membuat Kayla mengernyit, "Heh bukannya bentar lagi masuk?!" pekik Kayla. "Kata siapa?" Rey memutar setir mobilnya menuju ke tempat makan yang dekat dengan sekolah. "Lah lo jemput gue in--" "Aku-kamu La," tegur Rey meliriknya datar lalu segera memarkirkan mobilnya. "Ish!" Kayla kembali kesal melihat tingkah Rey, gadis itu memilih keluar lebih dulu dari mobil daripada menunggu Rey. "Ngapain cepet-cepet jalannya?" tanya Rey yang sudah mensejajarkan langkah keduanya. "Terserah gue lah," jawaban ketus Kayla membuat tatapan tajam Rey kembali terlihat. "Sekali lagi ngomong lo-gue, siap-siap aja aku cium depan umum," ancam Rey membuat Kayla bergidik ngeri. Keduanya memilih duduk dan segera memesan makanan, tak ingin terlalu banyak membuang waktu. "Rey," panggilan Kayla membuat Rey berdehem pelan sebagai sahutan. "Gu--eh maksudnya aku mau nanya serius sama kamu," ucapa Kayla menggunakan aku-kamu membuat Rey menerbitkan senyumnya. Kayla yang melihat pun terpana, ini sangat jarang terjadi. "Nanya apa?" tanya Rey tetap mempertahankan senyumannya, "Ng kamu bilang kan kita resmi pacaran terus gimana kalo orang sekolah tau?" tanya Kayla. Jujur saja, seberani apapun Kayla dia mana bisa melawan para fans sekolah Rey belum lagi diluar sekolah. Bisa mati ditempat dia jika ada p*********n secara bersamaan. "Emang kenapa?" tanya Rey kembali membuat Kayla berdecak kesal, "Fans kamu itu banyak, gimana kalo mereka tau kita pacaran? Terus abis ini aku dibully rame-rame? Ga kasian?" Kayla mengerucutkan bibirnya. Rey terkekeh pelan, "Mereka ga akan sebenarani itu, ada aku yang lindungin kamu," Jawaban Rey membuat hati Kayla menghangat sebentar namun gadis itu berpikir secara logis lagi, Rey tidak akan 24 jam bersama dirinya bagaimana dia bisa menjamin keselamatan Kayla? "Kamu gak 24 jam sama aku Rey," Rey hanya tersenyum, "Semua bisa aku lakuin demi gadis aku," Setelah jawaban itu Kayla bungkam tak berani bicara lagi, kalimat Rey terlalu halus baginya. Bagaimana gadis tidak luluh apalagi dengan tatapan hangat seperti itu. "Yaudah jangan umbar kalo kita pacaran," ucap Kayla final. Rey mengernyitkan dahinya bingung, "Maksud kamu backstreet?" tanyanya lagi. Kayla mengangguk, "Ya gitu, mencegah dari tindakan yang tidak diinginkan jadi kita backstreet," "Telat," Kayla menatap Rey saat laki-laki itu mengatakan kalimatnya, "Maksud kamu?" tanyanya. "Aku udah upload instastory foto kamu di i********: aku," Jawaban enteng Rey mampu membuat Kayla ingin mati sekarang juga. Bagaimana bisa laki-laki itu dengan gampangnya mengumbar hubungan mereka. Kayla Pastika jika dia ke sekolah maka dua sahabatnya akan merecokinya berbagai macam pertanyaan dan Kayla jamin itu. "Kok ga bilang?!" pekik Kayla setelah beberapa menit terkejut. Rey mengendikan bahunya acuh, "Mending makan makanan kamu biar kita cepet ke sekolah," ucap Rey mengingatkan Kayla bahwa pesanan mereka sudah disajikan di meja mereka. Kayla meneguk ludahnya, "Aku boleh ga ga ikut nginap di sekolah? Please please?" bujuk Kayla dengan memelas. Dia takut semuanya menatapnya dengan tatapan mematikan nanti ketika sampai di sekolah. "Gak," jawaban tegas Rey membuat Kayla ingin menangis. "Entar mereka bunuh aku gimana Rey? Mereka sekap aku dalam gudang terus dimutilasi? Ayolah Rey," Rey tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak mengizinkan Kayla tidak mengikuti acara menginap sekolah. "Denger, aku gak akan pergi jauh. Aku siap siaga di samping kamu selama di sekolah, gak akan ada yang berani sama kamu, aku jamin itu," ucap Rey seakan mengerti tapi tetap saja Kayla masih dirundung rasa takut. "Percaya sama aku," Rey mengusap punggung tangan Kayla yang berada di atas meja membuat Kayla merasakan darahnya berdesir. "Dan ingat satu hal, aku posesif sama apa yang aku punya. Jadi jangan pernah dekat sama lawan jenis mana pun kecuali keluarga kamu dan aku, jangan melewati batas atau kamu dapat hukuman kecil dari aku," Suara berat Rey yang datar seperti alarm bahaya bagi Kayla bahwa gadis itu sudah dipastikan akan selalu dimata-matai Rey nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN