"Boleh aku minta izin buat masuk ke hati kamu? Ga akan lama jikalau kamu tak menginginkan aku menetap karena disini aku hanya ingin tau keadaan hati kamu sebenarnya bagaimana dan apakah perlu disembuhkan?"
- Rekayla -
*****
KAYLA mengusap keringat di pelipisnya, dia baru saja memanjat tembok belakang sekolah. Sudah dipastikan dirinya telat, entah kenapa dia bisa bangun terlalu siang. Bayangkan saja gadis itu baru bangun jam 7 pagi dan salahnya sendiri melempar jam weker berbentuk beruang ke lantai.
Lalu bundanya yang tidak membangunkannya karena berangkat pagi sekali bersama papah nya ke Medan, dia juga baru tau dari pembantu rumahnya. Orang tuanya atau A'a nya tidak memberitahu sama sekali dan dipastikan Kayla akan memasang wajah cemberutnya nanti, pasti!
Untuk Aideen sendiri, laki-laki itu sulit sekali dibangunkan bahkan sampai Kayla melempar guling ke wajahnya tetap tak menunjukkan reaksi. Awalnya Kayla sempat takut bahwa Aideen tak bernyawa, tapi untungnya d**a laki-laki itu masih turun naik.
"Ga lagi-lagi deh gue telat," gumam Kayla mengatur nafasnya dan mencoba berdiri tegak, namun baru saja gadis itu mengangkat kepala. Mata gadis itu sudah menangkap seseorang yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
Rey, sang Ketua OSIS.
"Ketemu curut lagi kan," gerutu Kayla tanpa suara, bibirnya mencebik kesal melihat manusia paling menyebalkan sudah berdiri di hadapannya.
"Ikut gue," perintah Rey menatap tajam Kayla, "Gak ah males," jawaban pongah dari Kayla membuat Rey menggeram kesal.
Perlu tenaga lebih untuk menyeret gadis itu dari sini dan memerintahkan dia seperti tadi tak akan berhasil.
"Aa!!!" jerit Kayla saat Rey tiba-tiba saja menggendongnya secara paksa dan membawanya pergi entah kemana.
"Turunin gue woi!" teriak Kayla sepanjang koridor membuat keributan yang menghasilkan tontonan banyak orang dari dalam kelas.
Bahkan para murid yang belajar menjadi memilih melihat keributan yang dibuat oleh Kayla dan Rey dibandingkan kembali fokus ke dalam pelajaran.
"Berisik," ketus Rey sembari mempercepat langkahnya.
Setelah sampai di ruang OSIS miliknya, dia menutup pintu dan melempar gadis itu ke atas sofa dengan sedikit kasar. Kayla yang merasa terlempar hanya bisa mengaduh kesakitan.
"Anjir p****t gue," adu Kayla meringis kesakitan sedangkan Rey berlagak tak peduli dan segera mengeluarkan bukunya.
"Emang cowok kaga berperikemanusiaan lo, ngomong bisa kan kalo mau kesini ga usah pake acara gendong segala. Bikin rusuh aja lo,"ketus Kayla tapi Rey tetap diam tak menyahut. "Sekarang jadi bisu lo?!"
Rey menatap Kayla dengan datar, "Berisik," lagi-lagi hanya kalimat itu yang dikeluarkan oleh Rey.
Kayla segera berdiri, dia memilih ingin segera pergi dibanding berlama-lama diruangan seperti neraka ini. "Mau kemana?" tanya Rey tanpa menatap kearah Kayla.
"Menurut lo?" Kayla memasang wajah kesal dan mulai melangkah pergi.
"Kemarin membuat masalah dengan salah satu panitia Osis, mencium pipi Ketua Osis saat menjalankan hukuman, dan hari ini terlambat datang sekolah hampir 30 menit. Mau berapa banyak lagi membuat keributan?"
Rey menutup bukunya dan berdiri menatap Kayla yang diam pada posisinya. Wajah menantang gadis itu kini bisa Rey lihat sendiri.
"Baru jadi adik kelas dan belum sampai seminggu tapi dalam waktu dua hari sudah bisa membuat pelanggaran lebih dari 3 kali. Apa ini contoh pelajar yang baik?" Kayla masih diam tak menyahut, dia masih menatap Rey dengan sinis.
Kayla hanya menyunggingkan sudut bibirnya, "Gue ga peduli," Kayla menjawab dengan santai karena dia sudah pernah mencetak rekor sebagai pemenuh buku merah di sekolahnya dulu. Jadi, tidak terlalu terkejut jika lebih dari 3 pelanggaran yang dia buat dalam kurun waktu 2 hari.
Rey menyunggingkan smirknya, gadis di depannya memang sangat menarik. Tidak ada ketakutan atau terintimidasi sama sekali.
Gadis unik batinnya.
Rey melangkah mendekati Kayla yang masih diam di posisinya, gadis itu tidak terlihat gugup sama sekali hanya memasang wajah santai nya saja.
"Mulai hari ini---" Rey membisikkan sesuatu di telinga Kayla membuat Kayla menoleh sedikit kepalanya, memandang heran Rey.
"Lo jadi pacar gue,"
*****
BRAK!!
"Anjir!!!"
Aster melempar buku yang baru saja dia ambil dengan Letta, gadis itu kaget karena Kayla yang datang-datang ke kelas mereka sambil menendang pintu yang tertutup.
"Woi anjir kasian tuh pintu, baru hari pertama nih di kelas," cibir Aster kesal kearah Kayla.
Kayla sendiri tak peduli masih memasang wajah cemberutnya dengan bibir mengerucut.
"Bodo amat gue ga peduli pokoknya gue kesel!" teriak Kayla dengan tak tau malunya membuat orang-orang yang ada di kelas melongo tak percaya.
"Kayla ga usah teriak, malu diliat yang lain," Letta menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat tingkah sahabat barunya ini.
"Napa sih napa? Lo diapain lagi ama Ketos? Ditambah hukumannya apa gimana?" tanya Aster yang sudah menetralkan jantungnya dan membawa Kayla duduk dengan tenang.
"Heh itu yang liat-liat udah lanjutin lagi bersih-bersih nya, kaga bersih gue bakar ni kelas!" ancam Aster.
Entah kenapa wali kelas mereka memilih Aster menjadi Wakil Ketua Kelas, mungkin karena sifat bar-bar gadis itu dan tidak ada yang berani dengannya kecuali Kayla sendiri, sahabatnya.
"Lo kaga bersih-bersih?" tanya Kayla masih mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"Ye si tolil, gue udah selesai bersih-bersih ama Letta setengah jam yang lalu. Lo aja yang kaga bersih-bersih daritadi, Ketua kelas macam apa lo," cibiran pedas Aster membuat Kayla mendelik tak percaya.
"Udah-udah, Kayla gimana? Mau cerita ga sama kita?" tanya Violetta dengan lembut, suara gadis itu memang paling tenang diantara ketiganya.
Kayla menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya, gadis itu bercerita sambil memasang ekspresi kesalnya. Sedangkan Letta dan Aster memasang wajah serius dan sesekali kaget tak percaya.
Memang ketiga gadis yang memiliki sifat berbeda-beda itu entah kenapa bisa menjalin persahabatan.
"Wah jan ngadi-ngadi lo La, boong dosa ya," cecar Aster merasa percaya tidak percaya, "Heh sempak gajah, gue ngapain bohong soal ginian," balas Kayla menjitak kepala Aster dengan kasar.
Sedangkan Letta hanya mengedipkan matanya beberapa kali, dia juga terkejut mendengar cerita dari Kayla. Setaunya, Ketos mereka bernama Rey itu susah di dekati bahkan belum pernah terdengar menjalin hubungan sejak dia lahir ke dunia.
Itu sih gosip yang dia dan Aster dengan saat Kayla tidak ada tadi. Percaya tidak percaya saja.
"Berarti Kayla sekarang pacarnya Rey ya?" tanya Letta dengan suara terdengar keras membuat satu kelas menoleh ke arah mereka bertiga.
Kayla menatap tajam Letta yang meringis saat tau dirinya tidak bisa mengontrol suara dengan baik.
"Siapa yang bilang Rey tadi punya pacar?"
Suara seorang gadis terdengar, semuanya langsung saja menoleh kearah pintu kelas. Disana sudah ada Dara dan satu anteknya yang selalu menemaninya, Lolita.
"Mak lampir datang lagi kan," dengus Aster muak melihat wajah Dara yang sok angkuh di depan adik kelas.
"Heh lo kan tadi yang bilang!" Dara mencengkram bahu Letta dengan kuat, membuat Letta meringis kesakitan.
Wajah gadis itu sudah memerah menahan sakit, Aster yang melihat itu tidak terima sahabatnya diberlakukan semena-mena maka dengan cepat Aster mendorong tubuh Dara hingga menabrak meja kelas yang tersusun rapi.
"Ga usah songong lo!" hardik Aster dengan menatap tajam Dara yang berada di bawahnya. Sedangkan Kayla memilih menanyakan keadaan Letta daripada melihat wajah alay dua gadis yang baru datang di kelasnya.
"Lo ga papa?" tanya Kayla menatap Letta khawatir, Letta menggeleng dan tersenyum tipis mencoba mengatakan bahwa dia masih baik-baik saja.
"Sabar ye, bentar lagi si daster yang balas. Kita cuma nonton doang Let, jadi santuy," kekeh Kayla membuat Letta meringis kembali.
Kedua sahabatnya memang selalu menyepelekan keadaan dan lebih suka melawan tindakan semena-mena daripada diam saja.
"Lo yang harusnya ngaca, baru jadi adek kelas aja belagu!" Lolita mendorong Aster dengan kuat hingga membuat Aster mundur beberapa langkah.
"Sialan lo anjir,"
Dara dengan cepat berdiri dan kembali mendorong Aster hingga terjatuh.
"Harusnya itu lo yang posisinya dibawah, dasar adek kelas ga tau diri. Biang masalah aja lo ama dua temen lo itu," ucap Dara membuat Aster tersulut emosinya.
"Aster udah, jangan dilawan," Letta membantu Aster berdiri namun dengan segera Aster maju ke depan dan menarik rambut Dara dengan kasar, mencengkram bahu gadis itu dengan sekuat tenaganya.
Dara yang diperlakukan seperti itu hanya menjerit kesakitan.
"Anjir sakit!! Aaa lepasin gue, tolongin!" jerit Dara.
Semua yang ada di kelas sudah berseru heboh dan berupaya memisahkan keduanya bahkan anak kelas lain mulai datang menonton karena tepat bel istirahat berbunyi.
"Kakak kelas modelan kayak lo gak seharusnya ada di sekolah ini," bentak Aster lalu mendorong kasar tubuh Dara hingga menabrak tembok.
Letta sudah memekik terkejut dengan perlakuan Aster yang kasar sedangkan Kayla masih duduk anteng di atas meja dengan permen tangkainya.
Kayla suka dengan tontonan seperti ini dan sedikit bersedih melihat orang-orang berupaya melepaskan mereka. Walaupun baru kenal, Kayla tau watak Aster tidak akan mengampuni lawannya dengan mudah ya seperti dirinya.
"Lepasin Dara, gadis gila!" teriak Lolita menarik bahu Aster dengan kuat agar melepaskan cengkraman tangannya di bahu Dara dan jambakannya.
Aster tidak memperdulikannya karena baginya wajah Dara yang menangis hebat ini sangat seru untuk jadi tontonan semua orang, dia tidak suka sahabatnya ditindas begitu saja padahal mereka tidak melakukan apapun.
BUGH!
"Kayla!!!"
Sampai suara dentuman kursi membuat Aster melepaskan cengkraman dan jambakannya. Dia segera menoleh ke belakang dan membelalakan matanya.
Dia dapat melihat Kayla yang terjatuh dengan patahan-patahan kursi di sekitar gadis itu. Lolita yang baru saja melempar kursi pun juga terkejut melihat keadaan Kayla ditambah Dara juga yang berdiri di sampingnya menatap tak percaya.
Semua orang menjadi diam, sedangkan Kayla hanya terkekeh pelan. Dia dapat merasakan tubuhnya terasa sakit semua dan pinggiran wajahnya juga terkena imbas dari lemparan kursi. Hidungn gadis itu pun berdarah, mungkin terkena juga.
Kayla dengan berusaha kuat menahan sakit ditubuhnya dan berdiri dengan tenang, seolah apa yang terjadi biasa saja.
"Udah?" tanya Kayla dengan wajah berantakannya.
Tidak ada yang berani menjawab, lagi-lagi seringaian Kayla membuat semua orang tak ada yang berani berkutik.
"Permisi, jangan halangi jalan,"
Suara seseorang membuat semuanya menoleh kembali ke arah pintu kecuali Kayla yang masih memandang Lolita dan Dara dengan seringaiannya.
Dari arah pintu semua orang dapat melihat tiga pangeran sekolah yang baru saja datang, siapa lagi kalau bukan Rey, Athala, dan Arkan.
"Buset fasilitas sekolah ancur," celetuk Athala melihat kursi yang sudah hancur.
Mata tajam Rey mengarah ke arah Kayla yang berdiri menyamping. Gadis itu tidak menoleh sedikit pun kearahnya. Kepalan tangan Rey dalam saku celananya makin kuat saat melihat tubuh Kayla yang sedikit kotor karena serpihan kursi dan wajah sebelah gadis itu yang juga terkena imbasnya.
Dengan langkah cepat Rey mendekati Kayla dan menarik tangan gadis itu. Semua orang terkejut, bahkan ada yang menjerit kuat melihat kejadian yang begitu cepat terjadi.
Rey dengan langkah lebarnya langsung menarik Kayla ke dalam pelukannya, bahkan mengecupi rambut gadis itu dengan lembut. Dampak bagi semua orang luar biasa bahkan ada yang menggeleng tak percaya.
"R--rey ap--" Dara tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat kejadian di hadapannya. Rasanya dia ingin segera pingsan sekarang juga.
Tatapan mata tajam Rey kini mengarah kearah Dara dan Lolita, kedua gadis itu hanya bisa terpaku.
"Habis ini temuin gue," suara dingin Rey membuat semua orang menahan nafas mereka.
Rey segera membawa Kayla pergi dari sana, pikirannya hanya satu, dia ingin segera mengobati gadis itu.
Bahkan ada rasa sesak saat melihat keadaan gadis yang baru saja dia nyatakan perasaannya.
Kayla sendiri tidak bisa melawan dan hanya mengikuti langkah kaki laki-laki itu yang menggenggam erat tangannya seolah-olah tidak ingin gadis itu sampai pergi darinya.
Tubuh Kayla serasa mati rasa sekarang, hantaman kursi dari Lolita tak main-main bahkan membuat kursi itu hancur. Kejadian itu begitu cepat.
Dia hanya ingin menyelamatkan Aster yang ingin diserang Lolita dari belakang tubuh gadis itu, Kayla yakin Lolita tak punya pikiran lain lagi selain menyingkirkan Aster dengan cara seperti itu.
Maka dengan cepat Kayla melompat dari tempatnya dan berdiri menyamping untuk menyelamatkan Aster.
Dan sialnya dia tidak tau bahwa lemparan kursi itu begitu kuat mungkin karena Lolita sangat emosi.
"Duduk," titah Rey.
Mereka berdua kini sudah sampai di rooftop sekolah. Entah kapan keduanya sampai disini dengan begitu cepat, Kayla tak mau memikirkannya.
"Tahan sedikit,"
Rey dengan perlahan mengobati luka di bagian wajah Kayla yang terkena goresan atau serpihan kursi kayu dengan pelan, sesekali meniupnya dan Kayla hanya mampu terdiam.
Tak ada ringisan atau kesakitan yang dihasilkan oleh gadis itu melainkan hanya keterdiaman. Karena asal kalian tau bahwa Kayla terpaku menatap wajah Rey dari jarak sedekat ini.
"Kenapa lo ga bisa tenang sehari aja, sesulit itu?"
Pertanyaan Rey hanya mampu Kayla jawab lewat tatapan matanya bahkan sampai kedua mata mereka bertemu Kayla tetap dalam keterdiamannya dengan detak jantung yang terus memompa dengan cepat.